LOGIN“Rhea! Kamu sudah cek bagian lampiran grafik pertumbuhan kuartal kedua? Pak Justin paling tidak suka kalau ada data yang tidak sinkron!”
Suara pekikan salah satu rekan satu divisinya hanya dibalas Rhea dengan anggukan cepat tanpa menoleh.
Jemarinya menari liar di atas keyboard, tengah mengetikkan baris-baris analisis yang otaknya proses dengan kecepatan cahaya.
Keringat dingin mulai merembes di balik blazer mahalnya. Panik bukan lagi kata yang tepat; Rhea merasa sedang berlari di atas tali tipis di atas jurang. Map tebal dari Justin bukan sekadar tugas, itu adalah surat pernyataan perang.
“Tinggal lima belas halaman lagi, ayolah, Rhea, kamu bisa,” bisiknya pada diri sendiri.
Ruang kantor Strategi Kreatif yang biasanya tenang kini terasa seperti medan tempur bagi Rhea.
Suara detak jarum jam di dinding terasa seperti bom waktu yang siap meledak tepat di jam dua belas siang.
Di tengah hiruk-pikuk pikirannya yang sedang membedah angka-angka akuisisi, interkom di mejanya berbunyi nyaring, membuat jantungnya hampir melompat keluar dari rongga dada.
“Ke ruanganku sekarang. Tinggalkan pekerjaanmu sejenak.”
Itu suara Justin. Begitu dingin, datar, dan tidak menerima bantahan. Rhea memejamkan mata sejenak, menghirup napas dalam, lalu berdiri dengan tungkai yang sedikit lemas.
Dia lalu melangkah menuju ruangan kedap suara di ujung koridor itu lagi, merasa seperti terpidana mati yang dipanggil menuju tiang gantungan.
Saat dia membuka pintu, Justin bahkan tidak mendongak dari layar monitornya. Dia hanya menunjuk sebuah mesin kopi otomatis yang berdiri elegan di sudut ruangan dengan dagunya.
“Buatkan aku kopi. Hitam, tanpa krimer,” perintah Justin singkat.
Rhea tertegun. “Tapi Pak, laporan yang Anda minta—”
“Laporan itu akan tetap di sana sampai jam dua belas. Sekarang, aku butuh kopi. Apa instruksiku kurang jelas?”
Rhea mengatupkan bibirnya rapat-rapat lalu melangkah menuju meja konter kecil di sudut ruangan.
Di sana berjajar berbagai jenis biji kopi premium, namun matanya langsung tertuju pada satu toples biji kopi Arabica dengan tingkat pemanggangan medium.
Tanpa sadar, jemarinya bergerak secara mekanis. Dia tidak menggunakan takaran standar kantor. Memorinya mengambil alih kendali tubuhnya.
Dia menggiling biji kopi itu, mencium aroma pekat yang menyeruak, dan mencampurkannya dengan takaran gula yang sangat spesifik, satu setengah sendok teh kecil, tidak kurang, tidak lebih.
Ini adalah ramuan rahasia yang dulu selalu dia buatkan untuk Justin saat mereka begadang belajar bersama untuk ujian masuk universitas.
Dulu, Justin selalu mengeluh kopi hitam itu terlalu pahit jika tanpa sentuhan tangan Rhea.
Justin yang dulu akan duduk di sampingnya, menjewer telinganya dengan jahil jika kopi itu terlalu panas, atau sengaja menyesapnya perlahan sambil menatap Rhea dengan binar jenaka yang hangat.
Justin yang dulu adalah pelindungnya dari kegelapan, seorang remaja laki-laki yang akan memberikan jaketnya saat Rhea kedinginan.
Rhea melirik pria di belakang meja mahoni itu. Justin yang sekarang adalah tembok es. Bahunya lebih lebar, kemejanya licin tanpa cela, dan raut wajahnya terkunci dalam ekspresi bosan yang meremehkan.
Tidak ada lagi sisa-sisa kehangatan dari remaja laki-laki yang pernah berjanji tidak akan pernah membiarkannya menangis.
‘Apa yang membuatnya jadi dingin seperti ini?’ ucapnya dalam hati.
Sebenarnya Rhea ingin mencaritahu tentang sepuluh tahun setelah mereka berpisah. Namun, sepertinya bukan waktu yang tepat sebab kini Rhea hanya seorang bawahan di atas kendali pria itu.
Menyingkirkan pertanyaan yang membelenggunya, Rhea berjalan mendekat lalu meletakkan cangkir porselen putih itu di atas meja kerja Justin dengan gerakan hati-hati agar tidak menimbulkan denting.
“Kopi Anda, Pak.”
Justin menghentikan gerakan tangannya di atas mouse. Untuk pertama kalinya sejak Rhea masuk, pria itu mengalihkan pandangannya pada cangkir yang mengepulkan uap tipis itu.
Justin meraih gagang cangkir, membawanya ke depan bibir, dan menyesapnya pelan.
Gerakan Justin tiba-tiba membeku.
Mata pria itu terpejam sesaat. Rhea bisa melihat jakun Justin bergerak saat ia menelan cairan hitam itu.
Ada jeda panjang yang mencekam di mana hanya suara detak jam yang terdengar. Justin menatap kopi itu seolah-olah cairan di dalamnya mengandung hantu dari masa lalu mereka.
Brak!
Justin meletakkan cangkir itu ke atas meja dengan kasar, hingga sedikit cairannya tumpah mengotori permukaan meja yang mengilat.
Dia menatap Rhea dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara amarah yang tertahan dan rasa sakit yang berusaha ia tekan dalam-dalam.
“Terlalu manis,” ucap Justin dengan nada suaranya yang lebih rendah dan tajam dari sebelumnya.
“Aku bukan anak kecil lagi, Rhea. Aku tidak butuh gula untuk menutupi rasa pahit dalam hidupku.”
Rhea tersentak, mundur satu langkah. “Maaf, Pak. Saya hanya berpikir—”
“Itu masalahmu. Kamu terlalu banyak berpikir tentang hal-hal yang sudah mati,” potong Justin.
Dia lalu berdiri, bersandar pada pinggiran mejanya yang kokoh, dan memperkecil jarak antara mereka hingga Rhea bisa mencium aroma kopi dan parfum maskulin yang begitu mengintimidasi dari tubuh Justin.
Ruangan kedap suara itu tiba-tiba terasa begitu sempit. Rhea merasa oksigen di sekitarnya tersedot habis.
Dia tidak berani memalingkan wajah, namun dia juga tidak kuat menahan intensitas tatapan mata Justin yang seolah sedang membedah isi kepalanya.
Justin mencondongkan wajahnya, suaranya nyaris seperti bisikan yang bergetar di telinga Rhea. “Katakan padaku satu hal. Setelah sepuluh tahun menghilang tanpa kabar, setelah rumor-rumor pria itu membuatmu melarikan diri dariku ....”
Justin berhenti sejenak, matanya menatap tepat ke dalam manik mata Rhea yang mulai berkaca-kaca.
“Kenapa kamu melamar di sini? Ingin menguji keberuntunganmu, atau memang kamu ingin aku menghancurkanmu perlahan?”
“Strategi ini tidak hanya fokus pada profit jangka pendek, tapi juga membangun loyalitas konsumen melalui pendekatan emosional yang personal. Saya yakin, Chayton Group bisa menjadi pemimpin pasar jika kita berani mengambil langkah ini.”Rhea menutup presentasinya dengan napas yang tertata. Dia lalu berdiri tegak di ujung meja rapat jati yang panjang, di hadapan belasan manajer senior dan jajaran direksi.Dia telah menghabiskan malam untuk menyempurnakan setiap slide, memastikan setiap angka dan grafik tidak bercela. Untuk sesaat, suasana hening. Beberapa manajer tampak mengangguk setuju, terkesan dengan ketajaman analisis staf baru itu.Namun, keheningan itu segera dirobek oleh suara gesekan pena di atas kertas. Di ujung meja, Justin duduk di kursi kebesarannya, menatap layar proyektor dengan ekspresi yang sulit dibaca.“Sangat emosional,” ucap Justin pelan, namun suaranya menggema di seluruh ruang rapat yang kedap suara itu.Dia meletakkan penanya, lalu menatap Rhea dengan tatapan ya
“Tahan pintunya! Tolong, tahan sebentar!”Rhea berseru sambil berlari melintasi lobi Chayton Group dengan napas tersengal.Tumit sepatunya berbunyi nyaring di atas lantai marmer, berpacu dengan pintu lift logam yang mulai bergeser menutup.Di detik terakhir, sebuah tangan dengan lengan kemeja putih yang disetrika sempurna menahan sensor pintu.Pintu itu kembali terbuka, dan Rhea segera melompat masuk dengan wajah memerah karena malu dan kelelahan.“Terima kasih, aku—”Kalimat Rhea terhenti di udara saat mendongak dan langsung membeku melihat sosok yang menahan pintu itu ternyata bukan karyawan biasa, melainkan Justin.Pria itu berdiri tegak di sudut lift sambil memegang tas kerja kulit premium dengan ekspresi yang jauh lebih dingin daripada udara AC di dalam kotak logam tersebut.“Lain kali, datanglah sepuluh menit lebih awal agar kamu tidak perlu berakting seperti pelari maraton di lobi kantorku, Rhea,” ucap Justin tanpa sedikit pun meliriknya.Rhea hanya bisa menelan ludah sambil be
“Bukan, Justin. Ini bukan soal menguji keberuntungan, apalagi soal menghancurkan diri,” ucapnya sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat agar Justin berhenti menuduhnya dengan hal-hal gila.“Aku melamar di sini karena Chayton Group adalah satu-satunya harapan terakhirku. Aku butuh pekerjaan ini untuk memenuhi kebutuhan hidupku dan keluargaku. Hanya ini yang aku punya.”Justin tertegun. Cengkeramannya pada pinggiran meja sedikit mengendur, meski sorot matanya masih sekaku batu. “Keluargamu? Apa maksudmu? Bukankah ayahmu memiliki firma hukum yang besar?”Rhea tersenyum pahit, sebuah tawa getir yang terdengar menyedihkan. “Itu cerita lama. Enam tahun yang lalu, tepat setelah aku lulus kuliah, ayahku bangkrut.“Semuanya habis, Justin. Rumah, tabungan, bahkan kesehatan Ayah ikut memburuk karena stres. Sejak saat itu, aku yang harus menopang semuanya.”Rhea melangkah maju satu langkah, tidak lagi peduli pada jarak intimidasi yang diciptakan Justin.“Aku hanya berharap kamu tidak memecatk
“Rhea! Kamu sudah cek bagian lampiran grafik pertumbuhan kuartal kedua? Pak Justin paling tidak suka kalau ada data yang tidak sinkron!”Suara pekikan salah satu rekan satu divisinya hanya dibalas Rhea dengan anggukan cepat tanpa menoleh.Jemarinya menari liar di atas keyboard, tengah mengetikkan baris-baris analisis yang otaknya proses dengan kecepatan cahaya.Keringat dingin mulai merembes di balik blazer mahalnya. Panik bukan lagi kata yang tepat; Rhea merasa sedang berlari di atas tali tipis di atas jurang. Map tebal dari Justin bukan sekadar tugas, itu adalah surat pernyataan perang.“Tinggal lima belas halaman lagi, ayolah, Rhea, kamu bisa,” bisiknya pada diri sendiri.Ruang kantor Strategi Kreatif yang biasanya tenang kini terasa seperti medan tempur bagi Rhea.Suara detak jarum jam di dinding terasa seperti bom waktu yang siap meledak tepat di jam dua belas siang.Di tengah hiruk-pikuk pikirannya yang sedang membedah angka-angka akuisisi, interkom di mejanya berbunyi nyaring,
Pagi hari yang membuat Rhea semangat karena hari ini dia resmi jadi bagian dari perusahaan ternama di kota itu.Rhea berdiri di lobi, merapikan blazer hitamnya untuk kesepuluh kalinya pagi itu. Ia merasa seperti semut yang mencoba memanjat gunung es.“Selamat pagi, Ibu Rhea Jasminda Kairine? Saya dari tim HRD, mari saya antar ke lantai 35,” sapa seorang wanita dengan senyum yang dipoles sempurna.Rhea mengangguk sambil mencoba menyembunyikan tangannya yang sedikit dingin.Dia telah menghabiskan malam dengan meyakinkan diri bahwa pertemuannya dengan Justin di reuni hanyalah kebetulan buruk yang tidak akan terulang.Kota ini besar. Perusahaan ini raksasa. Tidak mungkin seorang CEO atau Senior Manager sekelas Justin akan mengurusi karyawan level menengah seperti dirinya, bukan?“Divisi Strategi Kreatif berada langsung di bawah pengawasan Senior Manager kita,” jelas staf HRD itu saat lift meluncur mulus ke atas. “Beliau orang yang sangat disiplin. Saya harap Anda sudah sarapan mental.”Rh
“Kamu tahu, Rhea? Di gedung semegah ini, hal yang paling murah adalah kenangan. Semuanya dipoles agar tampak indah, padahal aslinya berdebu.”Kalimat itu diucapkan oleh Sarah, teman SMA Rhea yang hingga kini masih berteman baik sambil menyesap champagne. Namun, Rhea tidak benar-benar mendengarkan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu. Matanya tertuju pada pantulan dirinya di cermin besar Grand Ballroom Hotel Mulia. Gaun navy blue yang melekat di tubuhnya tampak sempurna, tapi dia merasa seperti penyusup.Suara musik jazz yang mengalun lembut dan tawa renyah para alumni yang kini telah menjadi “orang sukses” hanya terdengar seperti dengung statis di telinganya.Rhea merasa asing. Sepuluh tahun ternyata cukup untuk mengubah teman-teman yang dulu berbagi bungkusan keripik di kantin menjadi orang asing yang saling memamerkan kartu nama.Tiba-tiba, suasana ballroom yang bising mendadak senyap secara bertahap, dimulai dari pintu masuk utama. Rhea mengikuti arah pandang orang-orang.Seoran







