LOGIN“Strategi ini tidak hanya fokus pada profit jangka pendek, tapi juga membangun loyalitas konsumen melalui pendekatan emosional yang personal. Saya yakin, Chayton Group bisa menjadi pemimpin pasar jika kita berani mengambil langkah ini.”
Rhea menutup presentasinya dengan napas yang tertata. Dia lalu berdiri tegak di ujung meja rapat jati yang panjang, di hadapan belasan manajer senior dan jajaran direksi.
Dia telah menghabiskan malam untuk menyempurnakan setiap slide, memastikan setiap angka dan grafik tidak bercela. Untuk sesaat, suasana hening. Beberapa manajer tampak mengangguk setuju, terkesan dengan ketajaman analisis staf baru itu.
Namun, keheningan itu segera dirobek oleh suara gesekan pena di atas kertas. Di ujung meja, Justin duduk di kursi kebesarannya, menatap layar proyektor dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Sangat emosional,” ucap Justin pelan, namun suaranya menggema di seluruh ruang rapat yang kedap suara itu.
Dia meletakkan penanya, lalu menatap Rhea dengan tatapan yang membuat keberanian wanita itu menciut seketika.
“Tapi sayangnya, bisnis tidak dijalankan dengan perasaan, Rhea. Apa kamu pikir konsumen akan membeli produk kita hanya karena mereka merasa 'tersentuh'?”
Rhea berdehem, mencoba tetap tenang. “Maksud saya bukan hanya perasaan, Pak. Data menunjukkan bahwa brand engagement meningkat dua puluh persen saat—”
“Data yang mana?” potong Justin cepat dengan suaranya yang naik satu oktaf.
“Data di halaman lima belas? Kamu mencantumkan proyeksi pertumbuhan tanpa mempertimbangkan fluktuasi kurs mata uang asing bulan depan. Itu kesalahan amatir. Apa kamu tidak melakukan riset dasar sebelum berani berdiri di sini?”
Wajah Rhea memanas. “Saya sudah mempertimbangkannya, Pak. Ada di lampiran terakhir—”
“Jangan membantah!” Justin memukul meja dengan telapak tangannya, memang tidak keras, namun cukup untuk membuat seisi ruangan berjengit.
“Logika strategimu berlubang seperti keju swiss. Kamu terlalu banyak membuang waktu untuk narasi yang indah tapi kosong secara substansi. Jika aku mengikuti idemu, perusahaan ini akan kehilangan miliaran dalam waktu satu kuartal.”
Satu per satu manajer di ruangan itu mulai menundukkan kepala, karena tidak berani menatap drama yang terjadi.
Justin terus mencecar Rhea, mencari celah terkecil dari penggunaan font yang dianggap tidak profesional hingga urutan slide yang menurutnya tidak logis. Setiap kritikannya terasa seperti sembilu yang menyayat harga diri Rhea.
Rhea mengepalkan tangannya di balik podium, hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri agar ia tidak meledak di sana.
Matanya mulai terasa panas, genangan air mata mulai mendesak keluar, namun dia menolaknya mentah-mentah. Dia tidak akan menangis di depan pria ini. Tidak di depan publik.
‘Kenapa kamu sekejam ini, Justin?’ batin Rhea hancur.
Di dalam benaknya, sebuah kesimpulan pahit mulai terbentuk. Ini bukan soal pekerjaan.
Ini adalah eksekusi publik. Rhea bisa merasakan setiap kata pedas Justin adalah bentuk balas dendam yang tertunda selama sepuluh tahun.
Justin mungkin masih percaya pada rumor konyol saat SMA dulu, bahwa Rhea pergi meninggalkannya karena pria lain.
Justin yang sekarang sedang menggunakan kekuasaannya untuk menghukum Rhea, menunjukkan bahwa pria yang dulu ia tinggalkan kini adalah raja yang bisa menghancurkannya kapan saja.
“Cukup. Saya tidak ingin melihat sampah ini lagi,” Justin menutup map dokumen Rhea dengan kasar dan mendorongnya ke tengah meja.
“Rombak semuanya. Jika besok pagi revisinya belum ada di mejaku dengan standar yang benar-benar profesional, jangan repot-repot datang ke kantor.”
Rapat dibubarkan dengan suasana canggung yang kental.
Justin berdiri tanpa melihat ke arah Rhea, lalu melangkah keluar ruangan dengan aura dominan yang membekukan udara di belakangnya.
Para manajer lain segera berhamburan keluar seolah takut tertular kemarahan sang bos besar.
Rhea masih berdiri di tempatnya seraya menatap layar proyektor yang kini hanya menampilkan warna putih kosong. Tubuhnya sedikit gemetar.
Dia mulai mengemasi laptop dan berkas-berkasnya dengan gerakan mekanis, berusaha menahan isak tangis yang mulai naik ke tenggorokannya.
“Rhea? Kamu baik-baik saja?”
Rhea menoleh dan melihat seorang rekan kerja senior, Widya, yang masih tertinggal di ruangan. Widya mendekat lalu menepuk pundak Rhea dengan tatapan iba sekaligus bingung.
“Aku baik-baik saja, Mbak. Pak Justin memang sangat disiplin. Jadi, wajar kalau dia sangat teliti soal ini,” jawab Rhea dengan senyum yang sangat dipaksakan.
Widya menghela napas lalu menengok ke arah pintu untuk memastikan Justin benar-benar sudah pergi, lalu dia condongkan tubuhnya ke arah Rhea, dan berbisik dengan nada yang penuh rahasia.
“Dengar, aku sudah bekerja di sini selama lima tahun, Rhea. Bahkan sebelum Pak Justin jadi CEO. Aku sudah melihat banyak orang membuat kesalahan yang jauh lebih besar dari analisismu tadi.
“Tapi aku belum pernah melihat Pak Justin kehilangan kendali dan menyerang seseorang secara personal sehebat itu di depan umum.”
Rhea mengerutkan kening lalu menghela napas kasar. “Mungkin karena kinerjaku memang buruk, Mbak.”
Widya menggeleng dengan tatapan matanya menatap Rhea dengan penuh selidik yang membuat Rhea merasa telanjang.
“Bukan itu. Pak Justin biasanya hanya bersikap dingin dan acuh tak acuh jika kinerjamu buruk. Dia tidak akan membuang energi untuk marah-marah jika dia tidak peduli. Tapi tadi? Dia seperti sedang mencari perhatianmu dengan cara yang salah.”
Widya berhenti sejenak, lalu membisikkan kalimat yang membuat jantung Rhea berhenti berdetak sesaat.
“Bos biasanya tidak akan se-agresif itu pada bawahannya, kecuali pada dua jenis orang: orang yang sangat dia benci, atau orang yang sebenarnya sangat dia pedulikan. Menurutmu, kamu masuk kategori yang mana?”
“Strategi ini tidak hanya fokus pada profit jangka pendek, tapi juga membangun loyalitas konsumen melalui pendekatan emosional yang personal. Saya yakin, Chayton Group bisa menjadi pemimpin pasar jika kita berani mengambil langkah ini.”Rhea menutup presentasinya dengan napas yang tertata. Dia lalu berdiri tegak di ujung meja rapat jati yang panjang, di hadapan belasan manajer senior dan jajaran direksi.Dia telah menghabiskan malam untuk menyempurnakan setiap slide, memastikan setiap angka dan grafik tidak bercela. Untuk sesaat, suasana hening. Beberapa manajer tampak mengangguk setuju, terkesan dengan ketajaman analisis staf baru itu.Namun, keheningan itu segera dirobek oleh suara gesekan pena di atas kertas. Di ujung meja, Justin duduk di kursi kebesarannya, menatap layar proyektor dengan ekspresi yang sulit dibaca.“Sangat emosional,” ucap Justin pelan, namun suaranya menggema di seluruh ruang rapat yang kedap suara itu.Dia meletakkan penanya, lalu menatap Rhea dengan tatapan ya
“Tahan pintunya! Tolong, tahan sebentar!”Rhea berseru sambil berlari melintasi lobi Chayton Group dengan napas tersengal.Tumit sepatunya berbunyi nyaring di atas lantai marmer, berpacu dengan pintu lift logam yang mulai bergeser menutup.Di detik terakhir, sebuah tangan dengan lengan kemeja putih yang disetrika sempurna menahan sensor pintu.Pintu itu kembali terbuka, dan Rhea segera melompat masuk dengan wajah memerah karena malu dan kelelahan.“Terima kasih, aku—”Kalimat Rhea terhenti di udara saat mendongak dan langsung membeku melihat sosok yang menahan pintu itu ternyata bukan karyawan biasa, melainkan Justin.Pria itu berdiri tegak di sudut lift sambil memegang tas kerja kulit premium dengan ekspresi yang jauh lebih dingin daripada udara AC di dalam kotak logam tersebut.“Lain kali, datanglah sepuluh menit lebih awal agar kamu tidak perlu berakting seperti pelari maraton di lobi kantorku, Rhea,” ucap Justin tanpa sedikit pun meliriknya.Rhea hanya bisa menelan ludah sambil be
“Bukan, Justin. Ini bukan soal menguji keberuntungan, apalagi soal menghancurkan diri,” ucapnya sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat agar Justin berhenti menuduhnya dengan hal-hal gila.“Aku melamar di sini karena Chayton Group adalah satu-satunya harapan terakhirku. Aku butuh pekerjaan ini untuk memenuhi kebutuhan hidupku dan keluargaku. Hanya ini yang aku punya.”Justin tertegun. Cengkeramannya pada pinggiran meja sedikit mengendur, meski sorot matanya masih sekaku batu. “Keluargamu? Apa maksudmu? Bukankah ayahmu memiliki firma hukum yang besar?”Rhea tersenyum pahit, sebuah tawa getir yang terdengar menyedihkan. “Itu cerita lama. Enam tahun yang lalu, tepat setelah aku lulus kuliah, ayahku bangkrut.“Semuanya habis, Justin. Rumah, tabungan, bahkan kesehatan Ayah ikut memburuk karena stres. Sejak saat itu, aku yang harus menopang semuanya.”Rhea melangkah maju satu langkah, tidak lagi peduli pada jarak intimidasi yang diciptakan Justin.“Aku hanya berharap kamu tidak memecatk
“Rhea! Kamu sudah cek bagian lampiran grafik pertumbuhan kuartal kedua? Pak Justin paling tidak suka kalau ada data yang tidak sinkron!”Suara pekikan salah satu rekan satu divisinya hanya dibalas Rhea dengan anggukan cepat tanpa menoleh.Jemarinya menari liar di atas keyboard, tengah mengetikkan baris-baris analisis yang otaknya proses dengan kecepatan cahaya.Keringat dingin mulai merembes di balik blazer mahalnya. Panik bukan lagi kata yang tepat; Rhea merasa sedang berlari di atas tali tipis di atas jurang. Map tebal dari Justin bukan sekadar tugas, itu adalah surat pernyataan perang.“Tinggal lima belas halaman lagi, ayolah, Rhea, kamu bisa,” bisiknya pada diri sendiri.Ruang kantor Strategi Kreatif yang biasanya tenang kini terasa seperti medan tempur bagi Rhea.Suara detak jarum jam di dinding terasa seperti bom waktu yang siap meledak tepat di jam dua belas siang.Di tengah hiruk-pikuk pikirannya yang sedang membedah angka-angka akuisisi, interkom di mejanya berbunyi nyaring,
Pagi hari yang membuat Rhea semangat karena hari ini dia resmi jadi bagian dari perusahaan ternama di kota itu.Rhea berdiri di lobi, merapikan blazer hitamnya untuk kesepuluh kalinya pagi itu. Ia merasa seperti semut yang mencoba memanjat gunung es.“Selamat pagi, Ibu Rhea Jasminda Kairine? Saya dari tim HRD, mari saya antar ke lantai 35,” sapa seorang wanita dengan senyum yang dipoles sempurna.Rhea mengangguk sambil mencoba menyembunyikan tangannya yang sedikit dingin.Dia telah menghabiskan malam dengan meyakinkan diri bahwa pertemuannya dengan Justin di reuni hanyalah kebetulan buruk yang tidak akan terulang.Kota ini besar. Perusahaan ini raksasa. Tidak mungkin seorang CEO atau Senior Manager sekelas Justin akan mengurusi karyawan level menengah seperti dirinya, bukan?“Divisi Strategi Kreatif berada langsung di bawah pengawasan Senior Manager kita,” jelas staf HRD itu saat lift meluncur mulus ke atas. “Beliau orang yang sangat disiplin. Saya harap Anda sudah sarapan mental.”Rh
“Kamu tahu, Rhea? Di gedung semegah ini, hal yang paling murah adalah kenangan. Semuanya dipoles agar tampak indah, padahal aslinya berdebu.”Kalimat itu diucapkan oleh Sarah, teman SMA Rhea yang hingga kini masih berteman baik sambil menyesap champagne. Namun, Rhea tidak benar-benar mendengarkan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu. Matanya tertuju pada pantulan dirinya di cermin besar Grand Ballroom Hotel Mulia. Gaun navy blue yang melekat di tubuhnya tampak sempurna, tapi dia merasa seperti penyusup.Suara musik jazz yang mengalun lembut dan tawa renyah para alumni yang kini telah menjadi “orang sukses” hanya terdengar seperti dengung statis di telinganya.Rhea merasa asing. Sepuluh tahun ternyata cukup untuk mengubah teman-teman yang dulu berbagi bungkusan keripik di kantin menjadi orang asing yang saling memamerkan kartu nama.Tiba-tiba, suasana ballroom yang bising mendadak senyap secara bertahap, dimulai dari pintu masuk utama. Rhea mengikuti arah pandang orang-orang.Seoran







