Home / Romansa / Hanyut dalam Dekapan Sahabatku / Bab 4: Fragmen Ingatan di Balik Monitor

Share

Bab 4: Fragmen Ingatan di Balik Monitor

last update Last Updated: 2026-02-05 16:19:08

“Bukan, Justin. Ini bukan soal menguji keberuntungan, apalagi soal menghancurkan diri,” ucapnya sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat agar Justin berhenti menuduhnya dengan hal-hal gila.

“Aku melamar di sini karena Chayton Group adalah satu-satunya harapan terakhirku. Aku butuh pekerjaan ini untuk memenuhi kebutuhan hidupku dan keluargaku. Hanya ini yang aku punya.”

Justin tertegun. Cengkeramannya pada pinggiran meja sedikit mengendur, meski sorot matanya masih sekaku batu. “Keluargamu? Apa maksudmu? Bukankah ayahmu memiliki firma hukum yang besar?”

Rhea tersenyum pahit, sebuah tawa getir yang terdengar menyedihkan. “Itu cerita lama. Enam tahun yang lalu, tepat setelah aku lulus kuliah, ayahku bangkrut.

“Semuanya habis, Justin. Rumah, tabungan, bahkan kesehatan Ayah ikut memburuk karena stres. Sejak saat itu, aku yang harus menopang semuanya.”

Rhea melangkah maju satu langkah, tidak lagi peduli pada jarak intimidasi yang diciptakan Justin.

“Aku hanya berharap kamu tidak memecatku. Jika kamu masih mengingat sedikit saja tentang masa kecil kita, tolong ingat bahwa aku punya dua adik yang harus aku sekolahkan.

“Mereka masih butuh biaya besar, dan aku tidak punya tempat bersandar selain pekerjaanku di sini. Jadi, tolong, perlakukan aku sebagai karyawanmu yang paling keras kepala jika perlu, tapi jangan buang aku.”

Keheningan yang mencekam kembali menyergap. Justin menatap Rhea seolah sedang melihat orang asing yang baru saja membongkar rahasia negara.

Rahangnya mengeras, ada kilatan emosi yang melintas cepat di matanya, mungkin rasa kasihan, mungkin juga amarah yang teredam oleh rasa bersalah.

Namun, Justin tetaplah Justin yang sekarang. Dia membuang muka dan kembali ke kursinya dengan gerakan kaku.

“Keluar,” ucap Justin pendek. “Lanjutkan pekerjaanmu.”

Rhea terdiam sejenak, menanti respons yang lebih manusiawi, namun Justin sudah kembali menatap layar monitornya seolah Rhea telah lenyap dari ruangan itu. Tanpa kata lagi, Rhea berbalik dan melangkah keluar dengan bahu yang merosot.

Malam pun tiba. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam. Area kantor Strategi Kreatif sudah sepi; rekan-rekan kerjanya sudah pulang satu per satu sejak dua jam yang lalu.

Hanya tersisa Rhea yang masih bergulat dengan baris-baris data di bawah cahaya lampu mejanya yang temaram. Kepalanya berdenyut, namun ia tidak berani berhenti sebelum tugas dari Justin tuntas sepenuhnya.

Di ujung koridor, cahaya dari ruangan Justin masih menyala. Pria itu tampaknya juga belum berniat untuk beristirahat.

Rhea berdiri untuk meregangkan otot lehernya yang kaku. Saat dia berjalan menuju meja fotokopi yang terletak tak jauh dari ruangan eksekutif, dia melewati meja asisten Justin yang kosong.

Matanya tidak sengaja menangkap sesuatu. Salah satu laci di meja konsol besar milik Justin yang ada di koridor luar sedikit terbuka, seolah-olah pengaitnya rusak atau seseorang lupa menutupnya dengan rapat.

Karena insting kerapiannya, Rhea mendekat untuk mendorong laci itu. Namun, pandangannya tertuju pada sebuah benda di dalam laci yang tidak sengaja terlihat.

Di antara tumpukan map dan pulpen premium, terselip sebuah foto usang yang warnanya sudah mulai menguning di bagian pinggir.

Jantung Rhea berdegup kencang lalu menarik foto itu dengan pelan. Itu adalah foto mereka berdua saat berusia lima belas tahun, duduk di pinggir sungai setelah nekat membolos latihan musik.

Justin dalam foto itu sedang tertawa lebar, tawa yang belum pernah Rhea lihat lagi sekarang, sambil merangkul pundak Rhea yang tampak malu-malu.

Rhea tersenyum tipis tanpa sadar. Kerinduan yang menyesakkan dada tiba-tiba menyergapnya. “Kamu yang dulu ke mana, Justin?” bisiknya lirih.

“Apa yang sedang kamu lakukan?”

Suara bariton yang tajam itu membuat Rhea melompat kaget bahkan foto di tangannya hampir terjatuh.

Justin berdiri tepat di belakangnya, wajahnya gelap karena amarah yang memuncak. Sebelum Rhea sempat bersuara, Justin sudah melangkah maju dan merebut foto itu dengan kasar dari tangan Rhea.

Tubuh Justin yang menjulang tinggi membuat Rhea terdesak ke belakang hingga punggungnya menempel pada meja konsol.

Mereka berdiri sangat dekat, bahkan lebih dekat daripada sebelumnya. Di antara tumpukan dokumen dan suasana kantor yang remang-remang, napas Rhea mulai memburu.

Dia bisa merasakan hawa panas yang terpancar dari tubuh Justin.

“Siapa yang memberimu izin menyentuh laci pribadiku?” geram Justin.

“Aku ... aku hanya ingin menutup lacinya, Justin. Aku tidak sengaja melihatnya,” jawab Rhea terbata-bata, dengan tatapan matanya terpaku pada dada bidang Justin yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya.

Justin menatap foto di tangannya sejenak, lalu meremasnya dengan cengkeraman yang kuat sebelum menyimpannya kembali ke dalam laci dan menutupnya dengan dentuman keras.

Dia mencondongkan tubuhnya dan mengurung Rhea dengan kedua tangannya yang menumpu pada meja di sisi kiri dan kanan tubuh wanita itu.

“Dengar baik-baik, Rhea. Jangan pernah menyentuh barang pribadiku lagi. Jangan pernah mencoba mencari celah untuk masuk ke ruang pribadiku,” ucap Justin dengan nada yang penuh penekanan.

“Kamu di sini untuk bekerja, bukan untuk bernostalgia atau meratapi masa lalu yang sudah tidak ada artinya.”

Rhea merasakan perih di matanya. “Aku tidak bermaksud—”

“Cukup,” potong Justin lalu menjauhkan tubuhnya secara tiba-tiba, seolah-olah bersentuhan terlalu lama dengan aura Rhea adalah sebuah kesalahan besar.

Dia berbalik dan berjalan menuju ruangannya tanpa menoleh lagi.

Rhea menarik napas yang terasa berat, mencoba menata kembali detak jantungnya yang berantakan.

Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia mulai membereskan tasnya. Ia merasa tidak bisa lagi berada di kantor ini lebih lama malam ini. Segala tekanan emosional ini jauh lebih melelahkan daripada beban kerja yang menumpuk.

Saat Rhea sudah mengenakan tasnya dan berjalan melewati pintu ruangan Justin yang sedikit terbuka untuk menuju lift, langkahnya terhenti.

Suara Justin terdengar dari dalam, pelan namun sangat tajam, menembus keheningan malam yang sunyi.

“Rhea.”

Rhea menoleh dan melihat siluet Justin yang berdiri membelakanginya di balik meja kerja.

“Mulai besok, jangan pernah pakai parfum bunga melati itu lagi ke kantor ini.”

Rhea sontak tertegun. Parfum melati lembut yang dia pakai adalah aroma favoritnya sejak remaja, aroma yang dulu selalu membuat Justin betah bersandar di pundaknya saat mereka menonton film bersama.

“Kenapa, Pak?” tanya Rhea lirih.

Justin berbalik sedikit, hanya menampakkan profil samping wajahnya yang tegas di bawah cahaya lampu meja.

“Aromanya mengganggu konsentrasiku,” ucap Justin dingin sebelum menutup pintu ruangannya dengan suara klik yang final.

Rhea berdiri membeku di koridor yang sepi, lalu menyentuh lehernya sendiri, tempat dia menyemprotkan parfum itu pagi tadi.

Jika aromanya begitu mengganggu, kenapa Justin bisa mengenalinya dengan begitu cepat bahkan setelah sepuluh tahun berlalu?

“Kamu masih ingat, kan, Justin?” bisik Rhea pada dinding kosong, sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam lift yang terbuka.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hanyut dalam Dekapan Sahabatku   Bab 6: Harga Diri yang Dipertaruhkan

    “Strategi ini tidak hanya fokus pada profit jangka pendek, tapi juga membangun loyalitas konsumen melalui pendekatan emosional yang personal. Saya yakin, Chayton Group bisa menjadi pemimpin pasar jika kita berani mengambil langkah ini.”Rhea menutup presentasinya dengan napas yang tertata. Dia lalu berdiri tegak di ujung meja rapat jati yang panjang, di hadapan belasan manajer senior dan jajaran direksi.Dia telah menghabiskan malam untuk menyempurnakan setiap slide, memastikan setiap angka dan grafik tidak bercela. Untuk sesaat, suasana hening. Beberapa manajer tampak mengangguk setuju, terkesan dengan ketajaman analisis staf baru itu.Namun, keheningan itu segera dirobek oleh suara gesekan pena di atas kertas. Di ujung meja, Justin duduk di kursi kebesarannya, menatap layar proyektor dengan ekspresi yang sulit dibaca.“Sangat emosional,” ucap Justin pelan, namun suaranya menggema di seluruh ruang rapat yang kedap suara itu.Dia meletakkan penanya, lalu menatap Rhea dengan tatapan ya

  • Hanyut dalam Dekapan Sahabatku   Bab 5: Terjebak dalam Ruang Sempit

    “Tahan pintunya! Tolong, tahan sebentar!”Rhea berseru sambil berlari melintasi lobi Chayton Group dengan napas tersengal.Tumit sepatunya berbunyi nyaring di atas lantai marmer, berpacu dengan pintu lift logam yang mulai bergeser menutup.Di detik terakhir, sebuah tangan dengan lengan kemeja putih yang disetrika sempurna menahan sensor pintu.Pintu itu kembali terbuka, dan Rhea segera melompat masuk dengan wajah memerah karena malu dan kelelahan.“Terima kasih, aku—”Kalimat Rhea terhenti di udara saat mendongak dan langsung membeku melihat sosok yang menahan pintu itu ternyata bukan karyawan biasa, melainkan Justin.Pria itu berdiri tegak di sudut lift sambil memegang tas kerja kulit premium dengan ekspresi yang jauh lebih dingin daripada udara AC di dalam kotak logam tersebut.“Lain kali, datanglah sepuluh menit lebih awal agar kamu tidak perlu berakting seperti pelari maraton di lobi kantorku, Rhea,” ucap Justin tanpa sedikit pun meliriknya.Rhea hanya bisa menelan ludah sambil be

  • Hanyut dalam Dekapan Sahabatku   Bab 4: Fragmen Ingatan di Balik Monitor

    “Bukan, Justin. Ini bukan soal menguji keberuntungan, apalagi soal menghancurkan diri,” ucapnya sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat agar Justin berhenti menuduhnya dengan hal-hal gila.“Aku melamar di sini karena Chayton Group adalah satu-satunya harapan terakhirku. Aku butuh pekerjaan ini untuk memenuhi kebutuhan hidupku dan keluargaku. Hanya ini yang aku punya.”Justin tertegun. Cengkeramannya pada pinggiran meja sedikit mengendur, meski sorot matanya masih sekaku batu. “Keluargamu? Apa maksudmu? Bukankah ayahmu memiliki firma hukum yang besar?”Rhea tersenyum pahit, sebuah tawa getir yang terdengar menyedihkan. “Itu cerita lama. Enam tahun yang lalu, tepat setelah aku lulus kuliah, ayahku bangkrut.“Semuanya habis, Justin. Rumah, tabungan, bahkan kesehatan Ayah ikut memburuk karena stres. Sejak saat itu, aku yang harus menopang semuanya.”Rhea melangkah maju satu langkah, tidak lagi peduli pada jarak intimidasi yang diciptakan Justin.“Aku hanya berharap kamu tidak memecatk

  • Hanyut dalam Dekapan Sahabatku   Bab 3: Sindiran Keras

    “Rhea! Kamu sudah cek bagian lampiran grafik pertumbuhan kuartal kedua? Pak Justin paling tidak suka kalau ada data yang tidak sinkron!”Suara pekikan salah satu rekan satu divisinya hanya dibalas Rhea dengan anggukan cepat tanpa menoleh.Jemarinya menari liar di atas keyboard, tengah mengetikkan baris-baris analisis yang otaknya proses dengan kecepatan cahaya.Keringat dingin mulai merembes di balik blazer mahalnya. Panik bukan lagi kata yang tepat; Rhea merasa sedang berlari di atas tali tipis di atas jurang. Map tebal dari Justin bukan sekadar tugas, itu adalah surat pernyataan perang.“Tinggal lima belas halaman lagi, ayolah, Rhea, kamu bisa,” bisiknya pada diri sendiri.Ruang kantor Strategi Kreatif yang biasanya tenang kini terasa seperti medan tempur bagi Rhea.Suara detak jarum jam di dinding terasa seperti bom waktu yang siap meledak tepat di jam dua belas siang.Di tengah hiruk-pikuk pikirannya yang sedang membedah angka-angka akuisisi, interkom di mejanya berbunyi nyaring,

  • Hanyut dalam Dekapan Sahabatku   Bab 2: Tekanan yang Memilukan

    Pagi hari yang membuat Rhea semangat karena hari ini dia resmi jadi bagian dari perusahaan ternama di kota itu.Rhea berdiri di lobi, merapikan blazer hitamnya untuk kesepuluh kalinya pagi itu. Ia merasa seperti semut yang mencoba memanjat gunung es.“Selamat pagi, Ibu Rhea Jasminda Kairine? Saya dari tim HRD, mari saya antar ke lantai 35,” sapa seorang wanita dengan senyum yang dipoles sempurna.Rhea mengangguk sambil mencoba menyembunyikan tangannya yang sedikit dingin.Dia telah menghabiskan malam dengan meyakinkan diri bahwa pertemuannya dengan Justin di reuni hanyalah kebetulan buruk yang tidak akan terulang.Kota ini besar. Perusahaan ini raksasa. Tidak mungkin seorang CEO atau Senior Manager sekelas Justin akan mengurusi karyawan level menengah seperti dirinya, bukan?“Divisi Strategi Kreatif berada langsung di bawah pengawasan Senior Manager kita,” jelas staf HRD itu saat lift meluncur mulus ke atas. “Beliau orang yang sangat disiplin. Saya harap Anda sudah sarapan mental.”Rh

  • Hanyut dalam Dekapan Sahabatku   Bab 1: Pertemuan Kembali dengan Versi yang Berbeda

    “Kamu tahu, Rhea? Di gedung semegah ini, hal yang paling murah adalah kenangan. Semuanya dipoles agar tampak indah, padahal aslinya berdebu.”Kalimat itu diucapkan oleh Sarah, teman SMA Rhea yang hingga kini masih berteman baik sambil menyesap champagne. Namun, Rhea tidak benar-benar mendengarkan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu. Matanya tertuju pada pantulan dirinya di cermin besar Grand Ballroom Hotel Mulia. Gaun navy blue yang melekat di tubuhnya tampak sempurna, tapi dia merasa seperti penyusup.Suara musik jazz yang mengalun lembut dan tawa renyah para alumni yang kini telah menjadi “orang sukses” hanya terdengar seperti dengung statis di telinganya.Rhea merasa asing. Sepuluh tahun ternyata cukup untuk mengubah teman-teman yang dulu berbagi bungkusan keripik di kantin menjadi orang asing yang saling memamerkan kartu nama.Tiba-tiba, suasana ballroom yang bising mendadak senyap secara bertahap, dimulai dari pintu masuk utama. Rhea mengikuti arah pandang orang-orang.Seoran

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status