Se connecter“Bukan, Justin. Ini bukan soal menguji keberuntungan, apalagi soal menghancurkan diri,” ucapnya sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat agar Justin berhenti menuduhnya dengan hal-hal gila.
“Aku melamar di sini karena Chayton Group adalah satu-satunya harapan terakhirku. Aku butuh pekerjaan ini untuk memenuhi kebutuhan hidupku dan keluargaku. Hanya ini yang aku punya.”
Justin tertegun. Cengkeramannya pada pinggiran meja sedikit mengendur, meski sorot matanya masih sekaku batu. “Keluargamu? Apa maksudmu? Bukankah ayahmu memiliki firma hukum yang besar?”
Rhea tersenyum pahit, sebuah tawa getir yang terdengar menyedihkan. “Itu cerita lama. Enam tahun yang lalu, tepat setelah aku lulus kuliah, ayahku bangkrut.
“Semuanya habis, Justin. Rumah, tabungan, bahkan kesehatan Ayah ikut memburuk karena stres. Sejak saat itu, aku yang harus menopang semuanya.”
Rhea melangkah maju satu langkah, tidak lagi peduli pada jarak intimidasi yang diciptakan Justin.
“Aku hanya berharap kamu tidak memecatku. Jika kamu masih mengingat sedikit saja tentang masa kecil kita, tolong ingat bahwa aku punya dua adik yang harus aku sekolahkan.
“Mereka masih butuh biaya besar, dan aku tidak punya tempat bersandar selain pekerjaanku di sini. Jadi, tolong, perlakukan aku sebagai karyawanmu yang paling keras kepala jika perlu, tapi jangan buang aku.”
Keheningan yang mencekam kembali menyergap. Justin menatap Rhea seolah sedang melihat orang asing yang baru saja membongkar rahasia negara.
Rahangnya mengeras, ada kilatan emosi yang melintas cepat di matanya, mungkin rasa kasihan, mungkin juga amarah yang teredam oleh rasa bersalah.
Namun, Justin tetaplah Justin yang sekarang. Dia membuang muka dan kembali ke kursinya dengan gerakan kaku.
“Keluar,” ucap Justin pendek. “Lanjutkan pekerjaanmu.”
Rhea terdiam sejenak, menanti respons yang lebih manusiawi, namun Justin sudah kembali menatap layar monitornya seolah Rhea telah lenyap dari ruangan itu. Tanpa kata lagi, Rhea berbalik dan melangkah keluar dengan bahu yang merosot.
Malam pun tiba. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam. Area kantor Strategi Kreatif sudah sepi; rekan-rekan kerjanya sudah pulang satu per satu sejak dua jam yang lalu.
Hanya tersisa Rhea yang masih bergulat dengan baris-baris data di bawah cahaya lampu mejanya yang temaram. Kepalanya berdenyut, namun ia tidak berani berhenti sebelum tugas dari Justin tuntas sepenuhnya.
Di ujung koridor, cahaya dari ruangan Justin masih menyala. Pria itu tampaknya juga belum berniat untuk beristirahat.
Rhea berdiri untuk meregangkan otot lehernya yang kaku. Saat dia berjalan menuju meja fotokopi yang terletak tak jauh dari ruangan eksekutif, dia melewati meja asisten Justin yang kosong.
Matanya tidak sengaja menangkap sesuatu. Salah satu laci di meja konsol besar milik Justin yang ada di koridor luar sedikit terbuka, seolah-olah pengaitnya rusak atau seseorang lupa menutupnya dengan rapat.
Karena insting kerapiannya, Rhea mendekat untuk mendorong laci itu. Namun, pandangannya tertuju pada sebuah benda di dalam laci yang tidak sengaja terlihat.
Di antara tumpukan map dan pulpen premium, terselip sebuah foto usang yang warnanya sudah mulai menguning di bagian pinggir.
Jantung Rhea berdegup kencang lalu menarik foto itu dengan pelan. Itu adalah foto mereka berdua saat berusia lima belas tahun, duduk di pinggir sungai setelah nekat membolos latihan musik.
Justin dalam foto itu sedang tertawa lebar, tawa yang belum pernah Rhea lihat lagi sekarang, sambil merangkul pundak Rhea yang tampak malu-malu.
Rhea tersenyum tipis tanpa sadar. Kerinduan yang menyesakkan dada tiba-tiba menyergapnya. “Kamu yang dulu ke mana, Justin?” bisiknya lirih.
“Apa yang sedang kamu lakukan?”
Suara bariton yang tajam itu membuat Rhea melompat kaget bahkan foto di tangannya hampir terjatuh.
Justin berdiri tepat di belakangnya, wajahnya gelap karena amarah yang memuncak. Sebelum Rhea sempat bersuara, Justin sudah melangkah maju dan merebut foto itu dengan kasar dari tangan Rhea.
Tubuh Justin yang menjulang tinggi membuat Rhea terdesak ke belakang hingga punggungnya menempel pada meja konsol.
Mereka berdiri sangat dekat, bahkan lebih dekat daripada sebelumnya. Di antara tumpukan dokumen dan suasana kantor yang remang-remang, napas Rhea mulai memburu.
Dia bisa merasakan hawa panas yang terpancar dari tubuh Justin.
“Siapa yang memberimu izin menyentuh laci pribadiku?” geram Justin.
“Aku ... aku hanya ingin menutup lacinya, Justin. Aku tidak sengaja melihatnya,” jawab Rhea terbata-bata, dengan tatapan matanya terpaku pada dada bidang Justin yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya.
Justin menatap foto di tangannya sejenak, lalu meremasnya dengan cengkeraman yang kuat sebelum menyimpannya kembali ke dalam laci dan menutupnya dengan dentuman keras.
Dia mencondongkan tubuhnya dan mengurung Rhea dengan kedua tangannya yang menumpu pada meja di sisi kiri dan kanan tubuh wanita itu.
“Dengar baik-baik, Rhea. Jangan pernah menyentuh barang pribadiku lagi. Jangan pernah mencoba mencari celah untuk masuk ke ruang pribadiku,” ucap Justin dengan nada yang penuh penekanan.
“Kamu di sini untuk bekerja, bukan untuk bernostalgia atau meratapi masa lalu yang sudah tidak ada artinya.”
Rhea merasakan perih di matanya. “Aku tidak bermaksud—”
“Cukup,” potong Justin lalu menjauhkan tubuhnya secara tiba-tiba, seolah-olah bersentuhan terlalu lama dengan aura Rhea adalah sebuah kesalahan besar.
Dia berbalik dan berjalan menuju ruangannya tanpa menoleh lagi.
Rhea menarik napas yang terasa berat, mencoba menata kembali detak jantungnya yang berantakan.
Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia mulai membereskan tasnya. Ia merasa tidak bisa lagi berada di kantor ini lebih lama malam ini. Segala tekanan emosional ini jauh lebih melelahkan daripada beban kerja yang menumpuk.
Saat Rhea sudah mengenakan tasnya dan berjalan melewati pintu ruangan Justin yang sedikit terbuka untuk menuju lift, langkahnya terhenti.
Suara Justin terdengar dari dalam, pelan namun sangat tajam, menembus keheningan malam yang sunyi.
“Rhea.”
Rhea menoleh dan melihat siluet Justin yang berdiri membelakanginya di balik meja kerja.
“Mulai besok, jangan pernah pakai parfum bunga melati itu lagi ke kantor ini.”
Rhea sontak tertegun. Parfum melati lembut yang dia pakai adalah aroma favoritnya sejak remaja, aroma yang dulu selalu membuat Justin betah bersandar di pundaknya saat mereka menonton film bersama.
“Kenapa, Pak?” tanya Rhea lirih.
Justin berbalik sedikit, hanya menampakkan profil samping wajahnya yang tegas di bawah cahaya lampu meja.
“Aromanya mengganggu konsentrasiku,” ucap Justin dingin sebelum menutup pintu ruangannya dengan suara klik yang final.
Rhea berdiri membeku di koridor yang sepi, lalu menyentuh lehernya sendiri, tempat dia menyemprotkan parfum itu pagi tadi.
Jika aromanya begitu mengganggu, kenapa Justin bisa mengenalinya dengan begitu cepat bahkan setelah sepuluh tahun berlalu?
“Kamu masih ingat, kan, Justin?” bisik Rhea pada dinding kosong, sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam lift yang terbuka.
“Ini bukan cincin yang dipilihkan oleh sekretaris atau asisten. Aku memesan ini sendiri tiga bulan yang lalu, bahkan sebelum aku tahu pasti kamu akan kembali ke hidupku,” Justin mengambil cincin itu.“Jangan biarkan ketakutanmu menang atas cinta kita lagi. Berikan aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku bisa menjagamu lebih baik dari siapa pun.”Rhea menatap cincin itu, lalu beralih menatap wajah Justin yang penuh dengan harapan. Rasa ragu itu masih ada di sudut hatinya, namun kekuatan yang terpancar dari mata Justin seolah memberikan energi baru baginya untuk berani melangkah.“Apakah kamu yakin semuanya akan baik-baik saja?” tanya Rhea sekali lagi, mencari kepastian terakhir.“Aku menjaminnya dengan nyawaku sendiri, Rhea. Selama kamu di sampingku, tidak ada yang bisa menyentuhmu. Aku akan menjadi perisaimu, dan aku akan menjadi rumahmu,” Justin menggenggam jari manis kiri Rhea.“Jadi, maukah kamu menikah denganku dan membuat sepuluh tahun yang hilang itu terasa tidak berarti lagi
Angin malam yang berembus di balkon lantai tiga puluh dua itu terasa dingin, namun dekapan Justin di pinggang Rhea memberikan kehangatan yang kontras.Cahaya lampu kota Jakarta yang berkelap-kelip di bawah mereka tampak seperti hamparan berlian yang tak berujung, tetapi fokus Justin hanya tertuju pada wanita yang kini bersandar di dadanya. Dia memutar tubuh Rhea secara perlahan agar mereka bisa saling berhadapan.“Rhea,” panggil Justin dengan suara rendah dan serak.“Iya?” Rhea mendongak, menatap mata hitam pekat yang selalu berhasil melumpuhkan logikanya.“Sepuluh tahun itu waktu yang terlalu lama untuk sebuah penantian yang terpaksa. Aku tidak mau menunggu satu detik pun lebih lama lagi setelah semua kekacauan ini mereda,” Justin meraih tangan Rhea, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari.“Ayo kita menikah. Sesegera mungkin.”Rhea terdiam sejenak. Jantungnya berdegup kencang, namun ada rasa sesak yang tiba-tiba menyeruak di dadanya.Dia melepaskan tangannya dari genggaman Justi
“Aku tidak butuh dukungan dari seseorang yang menghancurkan hidupku. Mulai hari ini, Mama tidak punya akses ke satu sen pun uang Chayton Group. Mama juga dilarang masuk ke gedung ini tanpa izin tertulis dariku.“Semua staf di rumah akan aku ganti dengan orang-orangku. Mama tetap bisa tinggal di sana, tapi Mama tidak punya kuasa atas apa pun.”“Kamu ingin memenjarakanku di rumahku sendiri?!”“Aku hanya memberikan Mama waktu untuk berpikir. Mungkin dengan hidup dalam kesederhanaan, Mama bisa belajar bagaimana rasanya menjadi manusia yang punya empati,” Justin memberikan ultimatumnya.“Dan satu hal lagi. Jika Mama berani mendekati Rhea atau mencoba melakukan hal aneh padanya lagi, aku tidak akan segan-segan menyerahkan bukti-bukti penggelapan dana kantor yang selama ini Mama lakukan ke pihak kepolisian. Aku punya semua catatannya, Ma. Jangan tantang aku.”Violet menatap Justin dengan pandangan tidak percaya. Dia menyadari bahwa putranya yang dulu bisa dia atur, kini telah berubah menjadi
Justin berdiri diam di belakang meja kerjanya yang luas seraya menatap ke luar jendela besar yang menampilkan deretan gedung pencakar langit Jakarta.Namun, matanya tidak benar-benar melihat pemandangan itu. Pikirannya masih terpaku pada pengakuan Rhea beberapa saat yang lalu. Rasa bersalah, amarah, dan benci bercampur menjadi satu di dalam dadanya, menciptakan tekanan yang menyesakkan.Dia meraih telepon kantor, menekan tombol panggil cepat menuju departemen keuangan keluarga Mahendra yang dikelola oleh orang kepercayaannya.“Halo, Pak Hendra?” suara Justin terdengar dingin dan datar, hampir tanpa emosi.“Iya, Pak Justin. Ada yang bisa saya bantu?”“Blokir semua kartu kredit dan debit atas nama Violet Mahendra sekarang juga. Tanpa pengecualian. Hentikan semua aliran dana bulanan ke rekening pribadinya. Jika ada tagihan apa pun yang datang atas nama Mama mulai detik ini, jangan ada satu pun yang dibayar oleh perusahaan atau aset keluarga.”Di seberang telepon, terdengar jeda yang cuku
Seketika itu juga, Violet tersentak. Ekspresi kemarahannya mendadak berubah menjadi kegugupan yang coba dia sembunyikan di balik topeng keangkuhannya. Dia membuang muka, tidak berani menatap mata Justin secara langsung.“Semua orang tahu itu, Justin. Kau patah hati berbulan-bulan, siapa yang tidak sadar?” jawab Violet dengan nada yang dipaksakan santai.“Tidak, Ma. Jangan mencoba membodohiku,” Justin meraih bahu ibunya, memaksanya untuk kembali menatapnya.“Saat itu, aku hanya bilang pada Mama bahwa kami kehilangan kontak. Aku tidak pernah bilang pada siapa pun bahwa Rhea 'meninggalkanku'.“Bahkan Daniel pun tidak tahu detailnya karena dia sedang di luar negeri saat kejadian itu. Jadi, aku tanya sekali lagi ... dari mana Mama tahu soal Rhea yang meninggalkan aku?!”Violet menepis tangan Justin dengan kasar. “Daniel yang memberitahuku! Ya, Daniel pernah bercerita padaku beberapa tahun lalu!”Justin tersenyum campah, sebuah senyum yang penuh dengan rasa jijik. “Itu tidak masuk akal, Ma.
Suara sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai marmer koridor eksekutif Chaytin Group terdengar seperti detak jam yang memburu, tajam dan penuh penekanan.Violet Mahendra melangkah dengan dagu terangkat, mengenakan setelan desainer yang memancarkan aura kekuasaan yang dipaksakan.Begitu dia berbelok ke arah meja sekretaris di depan pintu besar ruang CEO, langkahnya mendadak terhenti.Matanya langsung melotot lebar. Di sana, duduk dengan tenang sambil memeriksa beberapa berkas di tabletnya, adalah wanita yang paling dia benci di dunia ini. Rhea.Rhea menyadari kehadiran seseorang di depannya. Dia mendongak, lalu segera berdiri dengan sikap profesional yang sempurna.Dia mengenakan kemeja putih tulang dan rok pensil yang membuatnya terlihat sangat elegan namun tetap rendah hati.“Selamat pagi, Bu Violet. Ada yang bisa saya bantu?” sapa Rhea dengan suara yang tenang, meski di dalam hatinya dia merasakan gelombang kegelisahan yang luar biasa.Violet tidak menjawab sapaan itu. Dia justr
Suara guntur menggelegar, menggetarkan kaca-kaca lobi Chayton Group yang menjulang tinggi.Di luar, langit berubah menjadi abu-abu pekat, menumpahkan air dengan intensitas yang seolah ingin menenggelamkan kota.Rhea berdiri di depan pintu kaca otomatis seraya menatap layar ponselnya dengan putus as
“Strategi ini tidak hanya fokus pada profit jangka pendek, tapi juga membangun loyalitas konsumen melalui pendekatan emosional yang personal. Saya yakin, Chayton Group bisa menjadi pemimpin pasar jika kita berani mengambil langkah ini.”Rhea menutup presentasinya dengan napas yang tertata. Dia lalu
“Tahan pintunya! Tolong, tahan sebentar!”Rhea berseru sambil berlari melintasi lobi Chayton Group dengan napas tersengal.Tumit sepatunya berbunyi nyaring di atas lantai marmer, berpacu dengan pintu lift logam yang mulai bergeser menutup.Di detik terakhir, sebuah tangan dengan lengan kemeja putih
“Rhea! Kamu sudah cek bagian lampiran grafik pertumbuhan kuartal kedua? Pak Justin paling tidak suka kalau ada data yang tidak sinkron!”Suara pekikan salah satu rekan satu divisinya hanya dibalas Rhea dengan anggukan cepat tanpa menoleh.Jemarinya menari liar di atas keyboard, tengah mengetikkan b







