Home / Romansa / Hanyut dalam Dekapan Sahabatku / Bab 5: Terjebak dalam Ruang Sempit

Share

Bab 5: Terjebak dalam Ruang Sempit

last update Last Updated: 2026-02-05 16:27:26

“Tahan pintunya! Tolong, tahan sebentar!”

Rhea berseru sambil berlari melintasi lobi Chayton Group dengan napas tersengal.

Tumit sepatunya berbunyi nyaring di atas lantai marmer, berpacu dengan pintu lift logam yang mulai bergeser menutup.

Di detik terakhir, sebuah tangan dengan lengan kemeja putih yang disetrika sempurna menahan sensor pintu.

Pintu itu kembali terbuka, dan Rhea segera melompat masuk dengan wajah memerah karena malu dan kelelahan.

“Terima kasih, aku—”

Kalimat Rhea terhenti di udara saat mendongak dan langsung membeku melihat sosok yang menahan pintu itu ternyata bukan karyawan biasa, melainkan Justin.

Pria itu berdiri tegak di sudut lift sambil memegang tas kerja kulit premium dengan ekspresi yang jauh lebih dingin daripada udara AC di dalam kotak logam tersebut.

“Lain kali, datanglah sepuluh menit lebih awal agar kamu tidak perlu berakting seperti pelari maraton di lobi kantorku, Rhea,” ucap Justin tanpa sedikit pun meliriknya.

Rhea hanya bisa menelan ludah sambil berdiri kaku di sisi yang berlawanan. Pintu tertutup rapat, dan lift mulai bergerak naik menuju lantai tiga puluh lima.

Keheningan di dalam sana terasa begitu padat hingga Rhea merasa bisa membelahnya dengan pisau. Dia menatap deretan angka lantai yang menyala, berdoa dalam hati agar lift ini bergerak secepat kilat.

Namun, doa itu tampaknya tidak dikabulkan.

Glek!

Sebuah bunyi logam yang kasar terdengar dari atas langit-langit lift. Seluruh kotak logam itu berguncang hebat, membuat Rhea kehilangan keseimbangan dan nyaris tersungkur jika dia tidak berpegangan pada besi pengaman.

Detik berikutnya, pergerakan lift berhenti mendadak. Seluruh lampu utama mati total, menyisakan kegelapan pekat sebelum akhirnya lampu darurat berwarna kemerahan menyala remang-remang, memberikan atmosfer yang mencekam sekaligus intim.

Rhea merasakan dadanya mulai sesak. Klaustrofobia ringannya mulai bereaksi.

Ruangan yang sempit, kegelapan, dan fakta bahwa mereka terjebak di ketinggian ratusan kaki membuat oksigen di sekitarnya seolah menghilang.

“Justin ... liftnya berhenti,” bisik Rhea dengan suara gemetar.

Justin masih tampak tenang, setidaknya secara lahiriah.

Dia lalu melangkah menuju panel kontrol dan menekan tombol darurat berkali-kali.

“Hanya masalah teknis kecil. Jangan berlebihan,” sahutnya datar, meski rahangnya tampak mengeras.

“Justin, aku tidak bisa bernapas dengan baik,” Rhea menyandarkan punggungnya ke dinding dan tangannya meremas blazer hitamnya sendiri. Keringat dingin mulai muncul di keningnya.

Penglihatannya sedikit kabur, dan warna merah dari lampu darurat membuat kepalanya berdenyut.

Justin berbalik, dan saat itulah dia melihat Rhea yang mulai gemetar hebat. Mata wanita itu melebar, menatap kosong ke lantai, dengan napas yang pendek dan terputus-putus.

Kegelisahan yang selama ini Justin sembunyikan di balik topeng esnya mendadak retak. Dia tahu persis apa yang sedang terjadi.

Rhea benci ruang sempit sejak mereka kecil, sejak mereka pernah tidak sengaja terkunci di gudang sekolah saat bermain petak umpet.

“Rhea? Lihat aku,” suara Justin berubah, tidak lagi tajam, melainkan rendah dan penuh otoritas yang menenangkan.

Rhea tidak menjawab. Ia mulai merosot ke lantai, namun sebelum lututnya menyentuh karpet, sepasang tangan kokoh menangkap lengannya dengan kuat.

Justin menariknya kembali berdiri, lalu dengan gerakan cepat namun posesif, dia membawa Rhea ke sudut lift dan menekan tubuh wanita itu agar bersandar pada dinding logam yang dingin.

Justin tidak melepaskannya. Dia justru merapatkan tubuhnya dan memposisikan dirinya tepat di depan Rhea hingga tidak ada celah tersisa. Dada bidangnya bersentuhan dengan dada Rhea yang naik-turun tak beraturan.

“Diam, Rhea. Tarik napas,” perintah Justin pelan lalu meletakkan kedua tangannya di dinding lift, tepat di sisi kiri dan kanan kepala Rhea, mengurung wanita itu dalam dunianya sendiri. “Ikuti irama napasku. Sekarang.”

Rhea mendongak, matanya bertemu dengan mata gelap Justin yang kini tampak begitu dalam di bawah cahaya kemerahan.

Aroma parfum maskulin Justin yang khas, campuran kayu cendana dan citrus yang segar mulai merasuki indra penciumannya, perlahan menggantikan rasa takutnya dengan sensasi lain yang lebih mendebarkan.

“Justin ….”

“Jangan bicara. Fokus padaku,” bisik Justin.

Rhea mencoba mengikuti perintah itu. Dia mulai mengatur napasnya sesuai dengan naik-turunnya dada Justin yang menempel pada tubuhnya.

Dalam jarak sedekat ini, Rhea bisa merasakan panas tubuh Justin, kekuatan yang memancar dari lengan pria itu, dan tatapan intens yang seolah sedang menelanjangi jiwanya.

Ketakutan akan ruang sempit itu perlahan memudar, digantikan oleh ketegangan seksual yang begitu pekat hingga terasa elektrik.

Justin tidak menjauh. Sebaliknya, dia justru semakin mencondongkan wajahnya. Matanya berpindah dari mata Rhea menuju bibir wanita itu yang sedikit terbuka.

Di tengah kegelapan yang diselimuti cahaya merah temaram itu, Justin seolah lupa pada semua amarah dan harga diri yang ia bangun selama sepuluh tahun terakhir.

Dunianya mengecil, hanya menyisakan Rhea di hadapannya. Tangan kanan Justin bergerak perlahan, jari-jemarinya yang panjang gemetar saat hendak membelai pipi Rhea yang merona.

Ibu jari Justin hampir saja menyentuh permukaan kulit Rhea, sebuah sentuhan yang mungkin akan menghancurkan semua dinding pertahanan di antara mereka.

Rhea memejamkan matanya, seolah tengah menanti sentuhan itu dengan jantung yang berdentum liar.

Denting!

Lampu utama lift tiba-tiba menyala terang benderang, membutakan mata mereka sesaat.

Bunyi mesin yang kembali beroperasi terdengar, dan lift mulai bergerak naik kembali dengan mulus.

Justin tersentak, seolah baru saja tersadar dari sihir yang berbahaya.

Dia menarik tangannya kembali dengan cepat dan mundur dua langkah lalu merapikan jasnya yang sebenarnya sama sekali tidak berantakan.

Dia membuang muka dan memilih untuk menatap pintu lift yang perak mengilat dengan ekspresi yang kembali membeku, seolah kejadian satu menit lalu tidak pernah terjadi.

Pintu lift terbuka di lantai tiga puluh lima. Justin melangkah keluar terlebih dahulu tanpa menoleh sedikit pun.

Namun, sebelum dia benar-benar pergi meninggalkan Rhea yang masih terpaku di dalam lift, dia berhenti sejenak di ambang pintu.

“Kendalikan dirimu, Rhea,” ucap Justin tanpa berbalik, dengan nada suara yang kembali dingin seperti es. “Napasmu terlalu berisik, dan itu mengganggu konsentrasiku.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hanyut dalam Dekapan Sahabatku   Bab 6: Harga Diri yang Dipertaruhkan

    “Strategi ini tidak hanya fokus pada profit jangka pendek, tapi juga membangun loyalitas konsumen melalui pendekatan emosional yang personal. Saya yakin, Chayton Group bisa menjadi pemimpin pasar jika kita berani mengambil langkah ini.”Rhea menutup presentasinya dengan napas yang tertata. Dia lalu berdiri tegak di ujung meja rapat jati yang panjang, di hadapan belasan manajer senior dan jajaran direksi.Dia telah menghabiskan malam untuk menyempurnakan setiap slide, memastikan setiap angka dan grafik tidak bercela. Untuk sesaat, suasana hening. Beberapa manajer tampak mengangguk setuju, terkesan dengan ketajaman analisis staf baru itu.Namun, keheningan itu segera dirobek oleh suara gesekan pena di atas kertas. Di ujung meja, Justin duduk di kursi kebesarannya, menatap layar proyektor dengan ekspresi yang sulit dibaca.“Sangat emosional,” ucap Justin pelan, namun suaranya menggema di seluruh ruang rapat yang kedap suara itu.Dia meletakkan penanya, lalu menatap Rhea dengan tatapan ya

  • Hanyut dalam Dekapan Sahabatku   Bab 5: Terjebak dalam Ruang Sempit

    “Tahan pintunya! Tolong, tahan sebentar!”Rhea berseru sambil berlari melintasi lobi Chayton Group dengan napas tersengal.Tumit sepatunya berbunyi nyaring di atas lantai marmer, berpacu dengan pintu lift logam yang mulai bergeser menutup.Di detik terakhir, sebuah tangan dengan lengan kemeja putih yang disetrika sempurna menahan sensor pintu.Pintu itu kembali terbuka, dan Rhea segera melompat masuk dengan wajah memerah karena malu dan kelelahan.“Terima kasih, aku—”Kalimat Rhea terhenti di udara saat mendongak dan langsung membeku melihat sosok yang menahan pintu itu ternyata bukan karyawan biasa, melainkan Justin.Pria itu berdiri tegak di sudut lift sambil memegang tas kerja kulit premium dengan ekspresi yang jauh lebih dingin daripada udara AC di dalam kotak logam tersebut.“Lain kali, datanglah sepuluh menit lebih awal agar kamu tidak perlu berakting seperti pelari maraton di lobi kantorku, Rhea,” ucap Justin tanpa sedikit pun meliriknya.Rhea hanya bisa menelan ludah sambil be

  • Hanyut dalam Dekapan Sahabatku   Bab 4: Fragmen Ingatan di Balik Monitor

    “Bukan, Justin. Ini bukan soal menguji keberuntungan, apalagi soal menghancurkan diri,” ucapnya sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat agar Justin berhenti menuduhnya dengan hal-hal gila.“Aku melamar di sini karena Chayton Group adalah satu-satunya harapan terakhirku. Aku butuh pekerjaan ini untuk memenuhi kebutuhan hidupku dan keluargaku. Hanya ini yang aku punya.”Justin tertegun. Cengkeramannya pada pinggiran meja sedikit mengendur, meski sorot matanya masih sekaku batu. “Keluargamu? Apa maksudmu? Bukankah ayahmu memiliki firma hukum yang besar?”Rhea tersenyum pahit, sebuah tawa getir yang terdengar menyedihkan. “Itu cerita lama. Enam tahun yang lalu, tepat setelah aku lulus kuliah, ayahku bangkrut.“Semuanya habis, Justin. Rumah, tabungan, bahkan kesehatan Ayah ikut memburuk karena stres. Sejak saat itu, aku yang harus menopang semuanya.”Rhea melangkah maju satu langkah, tidak lagi peduli pada jarak intimidasi yang diciptakan Justin.“Aku hanya berharap kamu tidak memecatk

  • Hanyut dalam Dekapan Sahabatku   Bab 3: Sindiran Keras

    “Rhea! Kamu sudah cek bagian lampiran grafik pertumbuhan kuartal kedua? Pak Justin paling tidak suka kalau ada data yang tidak sinkron!”Suara pekikan salah satu rekan satu divisinya hanya dibalas Rhea dengan anggukan cepat tanpa menoleh.Jemarinya menari liar di atas keyboard, tengah mengetikkan baris-baris analisis yang otaknya proses dengan kecepatan cahaya.Keringat dingin mulai merembes di balik blazer mahalnya. Panik bukan lagi kata yang tepat; Rhea merasa sedang berlari di atas tali tipis di atas jurang. Map tebal dari Justin bukan sekadar tugas, itu adalah surat pernyataan perang.“Tinggal lima belas halaman lagi, ayolah, Rhea, kamu bisa,” bisiknya pada diri sendiri.Ruang kantor Strategi Kreatif yang biasanya tenang kini terasa seperti medan tempur bagi Rhea.Suara detak jarum jam di dinding terasa seperti bom waktu yang siap meledak tepat di jam dua belas siang.Di tengah hiruk-pikuk pikirannya yang sedang membedah angka-angka akuisisi, interkom di mejanya berbunyi nyaring,

  • Hanyut dalam Dekapan Sahabatku   Bab 2: Tekanan yang Memilukan

    Pagi hari yang membuat Rhea semangat karena hari ini dia resmi jadi bagian dari perusahaan ternama di kota itu.Rhea berdiri di lobi, merapikan blazer hitamnya untuk kesepuluh kalinya pagi itu. Ia merasa seperti semut yang mencoba memanjat gunung es.“Selamat pagi, Ibu Rhea Jasminda Kairine? Saya dari tim HRD, mari saya antar ke lantai 35,” sapa seorang wanita dengan senyum yang dipoles sempurna.Rhea mengangguk sambil mencoba menyembunyikan tangannya yang sedikit dingin.Dia telah menghabiskan malam dengan meyakinkan diri bahwa pertemuannya dengan Justin di reuni hanyalah kebetulan buruk yang tidak akan terulang.Kota ini besar. Perusahaan ini raksasa. Tidak mungkin seorang CEO atau Senior Manager sekelas Justin akan mengurusi karyawan level menengah seperti dirinya, bukan?“Divisi Strategi Kreatif berada langsung di bawah pengawasan Senior Manager kita,” jelas staf HRD itu saat lift meluncur mulus ke atas. “Beliau orang yang sangat disiplin. Saya harap Anda sudah sarapan mental.”Rh

  • Hanyut dalam Dekapan Sahabatku   Bab 1: Pertemuan Kembali dengan Versi yang Berbeda

    “Kamu tahu, Rhea? Di gedung semegah ini, hal yang paling murah adalah kenangan. Semuanya dipoles agar tampak indah, padahal aslinya berdebu.”Kalimat itu diucapkan oleh Sarah, teman SMA Rhea yang hingga kini masih berteman baik sambil menyesap champagne. Namun, Rhea tidak benar-benar mendengarkan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu. Matanya tertuju pada pantulan dirinya di cermin besar Grand Ballroom Hotel Mulia. Gaun navy blue yang melekat di tubuhnya tampak sempurna, tapi dia merasa seperti penyusup.Suara musik jazz yang mengalun lembut dan tawa renyah para alumni yang kini telah menjadi “orang sukses” hanya terdengar seperti dengung statis di telinganya.Rhea merasa asing. Sepuluh tahun ternyata cukup untuk mengubah teman-teman yang dulu berbagi bungkusan keripik di kantin menjadi orang asing yang saling memamerkan kartu nama.Tiba-tiba, suasana ballroom yang bising mendadak senyap secara bertahap, dimulai dari pintu masuk utama. Rhea mengikuti arah pandang orang-orang.Seoran

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status