Home / Romansa / Hanyut dalam Dekapan Sahabatku / Bab 1: Pertemuan Kembali dengan Versi yang Berbeda

Share

Hanyut dalam Dekapan Sahabatku
Hanyut dalam Dekapan Sahabatku
Author: Salwa Maulidya

Bab 1: Pertemuan Kembali dengan Versi yang Berbeda

last update Last Updated: 2026-02-05 15:45:28

“Kamu tahu, Rhea? Di gedung semegah ini, hal yang paling murah adalah kenangan. Semuanya dipoles agar tampak indah, padahal aslinya berdebu.”

Kalimat itu diucapkan oleh Sarah, teman SMA Rhea yang hingga kini masih berteman baik sambil menyesap champagne. Namun, Rhea tidak benar-benar mendengarkan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu. 

Matanya tertuju pada pantulan dirinya di cermin besar Grand Ballroom Hotel Mulia. Gaun navy blue yang melekat di tubuhnya tampak sempurna, tapi dia merasa seperti penyusup.

Suara musik jazz yang mengalun lembut dan tawa renyah para alumni yang kini telah menjadi “orang sukses” hanya terdengar seperti dengung statis di telinganya.

Rhea merasa asing. Sepuluh tahun ternyata cukup untuk mengubah teman-teman yang dulu berbagi bungkusan keripik di kantin menjadi orang asing yang saling memamerkan kartu nama.

Tiba-tiba, suasana ballroom yang bising mendadak senyap secara bertahap, dimulai dari pintu masuk utama. Rhea mengikuti arah pandang orang-orang.

Seorang pria masuk.

Langkahnya mantap, setiap ketukan sepatunya di atas lantai marmer seolah menuntut ruang. Dia mengenakan setelan charcoal grey custom-made yang membungkus bahu kokohnya dengan sempurna.

Tidak ada lagi Justin Evando Chayton yang kurus, berkacamata, dan selalu mengekor di belakang Rhea untuk meminta bantuan tugas matematika.

Pria di depan sana adalah perwujudan kuasa; rahangnya tegas, rambutnya ditata rapi ke belakang, dan auranya begitu dominan hingga udara di sekitar terasa menipis.

“Itu ... Justin?” bisik Sarah tertahan. “Ya Tuhan, dia benar-benar menjadi penguasa Chayton Group sekarang, ya?” ucapnya dengan mata berbinar memuji ketampanan pria yang kini telah berusia dua puluh sembilan tahun itu.

Jantung Rhea berdegup kencang hingga terasa sakit di pangkal tenggorokannya. Dia mencoba bersembunyi di balik pilar, namun terlambat.

Saat Justin memindai ruangan dengan tatapan malasnya, matanya berhenti tepat di wajah Rhea.

Detik itu, waktu seolah berhenti.

Tidak ada senyum. Tidak ada binar ramah yang dulu selalu menyambut Rhea setiap pagi. Mata Justin sedingin es, tajam seperti pisau yang siap menguliti lapisan pertahanan Rhea.

Dia menatap Rhea seolah wanita itu hanyalah sebutir debu yang tidak sengaja tertiup ke dalam pesta mewahnya.

Hanya dua detik, namun cukup untuk membuat seluruh sendi Rhea lemas.

Justin kemudian memalingkan wajah dan melanjutkan pembicaraan dengan seorang pengusaha tua tanpa sedikit pun niat untuk menghampirinya.

‘Dia tidak mengenalku? Atau dia sengaja menghapusku?’ batin Rhea perih.

Memori itu mendadak menyeruak. Sepuluh tahun lalu, di bawah pohon akasia sekolah, Justin pernah memegang tangannya dengan gemetar.

“Rhea, jangan pernah pergi terlalu jauh dariku. Aku tidak tahu bagaimana caranya bernapas tanpamu,” bisiknya saat itu.

Rasa hangat dari jemari Justin kala itu adalah satu-satunya hal yang Rhea bawa dalam mimpinya selama satu dekade.

Namun sekarang, pria yang sama menatapnya seolah dia adalah kuman yang menjijikkan.

“Rhea? Kamu pucat sekali,” tegur Sarah. “Kamu kenapa, hm? Sakit?” tanya Sarah lagi.

“Aku ... aku butuh udara segar, Sar. Permisi. Aku keluar sebentar.”

Rhea hampir tersandung gaunnya sendiri saat dia memutar badan dan berjalan cepat menuju pintu keluar.

Dia tidak sanggup berada di ruangan yang sama dengan versi Justin yang ini. Versi yang dingin, asing, dan membencinya tanpa kata-kata setelah Rhea memutuskan untuk menjauh darinya tanpa sebab. Begitu pikir Justin.

Langkahnya tergesa-gesa melewati karpet merah ballroom. Saat dia mencapai pintu jati besar yang terbuka, dia merasakan sebuah sensasi panas yang menjalar di tengkuknya.

Dia tahu perasaan ini. Ini adalah perasaan saat seseorang sedang mengawasinya dengan intensitas yang tidak wajar.

Tanpa sadar, Rhea menoleh sedikit sebelum menghilang di balik pintu. Di kejauhan, di antara kepulan asap cerutu dan gelas-gelas kristal, Justin masih berdiri di tempat yang sama.

Pria itu tidak lagi berbicara dengan lawan bicaranya. Dia sedang berdiri tegak sambil memegang gelas whiskey dengan cengkeraman kuat, dan matanya tertuju lurus, sedalam lautan hitam pada punggung Rhea yang bergetar.

Rhea segera memalingkan wajah dan berlari menuju lobi dengan napas tersengal. Di bawah lampu kristal yang berkilau, dia menyadari satu hal: pelariannya baru saja dimulai.

“Lari sejauh apa pun yang kamu mau, Rhea,” sebuah suara berat dan rendah mendadak terngiang di benaknya, seolah Justin baru saja membisikkannya tepat di telinganya. “Tapi kamu lupa, kota ini sekarang adalah milikku.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hanyut dalam Dekapan Sahabatku   Bab 6: Harga Diri yang Dipertaruhkan

    “Strategi ini tidak hanya fokus pada profit jangka pendek, tapi juga membangun loyalitas konsumen melalui pendekatan emosional yang personal. Saya yakin, Chayton Group bisa menjadi pemimpin pasar jika kita berani mengambil langkah ini.”Rhea menutup presentasinya dengan napas yang tertata. Dia lalu berdiri tegak di ujung meja rapat jati yang panjang, di hadapan belasan manajer senior dan jajaran direksi.Dia telah menghabiskan malam untuk menyempurnakan setiap slide, memastikan setiap angka dan grafik tidak bercela. Untuk sesaat, suasana hening. Beberapa manajer tampak mengangguk setuju, terkesan dengan ketajaman analisis staf baru itu.Namun, keheningan itu segera dirobek oleh suara gesekan pena di atas kertas. Di ujung meja, Justin duduk di kursi kebesarannya, menatap layar proyektor dengan ekspresi yang sulit dibaca.“Sangat emosional,” ucap Justin pelan, namun suaranya menggema di seluruh ruang rapat yang kedap suara itu.Dia meletakkan penanya, lalu menatap Rhea dengan tatapan ya

  • Hanyut dalam Dekapan Sahabatku   Bab 5: Terjebak dalam Ruang Sempit

    “Tahan pintunya! Tolong, tahan sebentar!”Rhea berseru sambil berlari melintasi lobi Chayton Group dengan napas tersengal.Tumit sepatunya berbunyi nyaring di atas lantai marmer, berpacu dengan pintu lift logam yang mulai bergeser menutup.Di detik terakhir, sebuah tangan dengan lengan kemeja putih yang disetrika sempurna menahan sensor pintu.Pintu itu kembali terbuka, dan Rhea segera melompat masuk dengan wajah memerah karena malu dan kelelahan.“Terima kasih, aku—”Kalimat Rhea terhenti di udara saat mendongak dan langsung membeku melihat sosok yang menahan pintu itu ternyata bukan karyawan biasa, melainkan Justin.Pria itu berdiri tegak di sudut lift sambil memegang tas kerja kulit premium dengan ekspresi yang jauh lebih dingin daripada udara AC di dalam kotak logam tersebut.“Lain kali, datanglah sepuluh menit lebih awal agar kamu tidak perlu berakting seperti pelari maraton di lobi kantorku, Rhea,” ucap Justin tanpa sedikit pun meliriknya.Rhea hanya bisa menelan ludah sambil be

  • Hanyut dalam Dekapan Sahabatku   Bab 4: Fragmen Ingatan di Balik Monitor

    “Bukan, Justin. Ini bukan soal menguji keberuntungan, apalagi soal menghancurkan diri,” ucapnya sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat agar Justin berhenti menuduhnya dengan hal-hal gila.“Aku melamar di sini karena Chayton Group adalah satu-satunya harapan terakhirku. Aku butuh pekerjaan ini untuk memenuhi kebutuhan hidupku dan keluargaku. Hanya ini yang aku punya.”Justin tertegun. Cengkeramannya pada pinggiran meja sedikit mengendur, meski sorot matanya masih sekaku batu. “Keluargamu? Apa maksudmu? Bukankah ayahmu memiliki firma hukum yang besar?”Rhea tersenyum pahit, sebuah tawa getir yang terdengar menyedihkan. “Itu cerita lama. Enam tahun yang lalu, tepat setelah aku lulus kuliah, ayahku bangkrut.“Semuanya habis, Justin. Rumah, tabungan, bahkan kesehatan Ayah ikut memburuk karena stres. Sejak saat itu, aku yang harus menopang semuanya.”Rhea melangkah maju satu langkah, tidak lagi peduli pada jarak intimidasi yang diciptakan Justin.“Aku hanya berharap kamu tidak memecatk

  • Hanyut dalam Dekapan Sahabatku   Bab 3: Sindiran Keras

    “Rhea! Kamu sudah cek bagian lampiran grafik pertumbuhan kuartal kedua? Pak Justin paling tidak suka kalau ada data yang tidak sinkron!”Suara pekikan salah satu rekan satu divisinya hanya dibalas Rhea dengan anggukan cepat tanpa menoleh.Jemarinya menari liar di atas keyboard, tengah mengetikkan baris-baris analisis yang otaknya proses dengan kecepatan cahaya.Keringat dingin mulai merembes di balik blazer mahalnya. Panik bukan lagi kata yang tepat; Rhea merasa sedang berlari di atas tali tipis di atas jurang. Map tebal dari Justin bukan sekadar tugas, itu adalah surat pernyataan perang.“Tinggal lima belas halaman lagi, ayolah, Rhea, kamu bisa,” bisiknya pada diri sendiri.Ruang kantor Strategi Kreatif yang biasanya tenang kini terasa seperti medan tempur bagi Rhea.Suara detak jarum jam di dinding terasa seperti bom waktu yang siap meledak tepat di jam dua belas siang.Di tengah hiruk-pikuk pikirannya yang sedang membedah angka-angka akuisisi, interkom di mejanya berbunyi nyaring,

  • Hanyut dalam Dekapan Sahabatku   Bab 2: Tekanan yang Memilukan

    Pagi hari yang membuat Rhea semangat karena hari ini dia resmi jadi bagian dari perusahaan ternama di kota itu.Rhea berdiri di lobi, merapikan blazer hitamnya untuk kesepuluh kalinya pagi itu. Ia merasa seperti semut yang mencoba memanjat gunung es.“Selamat pagi, Ibu Rhea Jasminda Kairine? Saya dari tim HRD, mari saya antar ke lantai 35,” sapa seorang wanita dengan senyum yang dipoles sempurna.Rhea mengangguk sambil mencoba menyembunyikan tangannya yang sedikit dingin.Dia telah menghabiskan malam dengan meyakinkan diri bahwa pertemuannya dengan Justin di reuni hanyalah kebetulan buruk yang tidak akan terulang.Kota ini besar. Perusahaan ini raksasa. Tidak mungkin seorang CEO atau Senior Manager sekelas Justin akan mengurusi karyawan level menengah seperti dirinya, bukan?“Divisi Strategi Kreatif berada langsung di bawah pengawasan Senior Manager kita,” jelas staf HRD itu saat lift meluncur mulus ke atas. “Beliau orang yang sangat disiplin. Saya harap Anda sudah sarapan mental.”Rh

  • Hanyut dalam Dekapan Sahabatku   Bab 1: Pertemuan Kembali dengan Versi yang Berbeda

    “Kamu tahu, Rhea? Di gedung semegah ini, hal yang paling murah adalah kenangan. Semuanya dipoles agar tampak indah, padahal aslinya berdebu.”Kalimat itu diucapkan oleh Sarah, teman SMA Rhea yang hingga kini masih berteman baik sambil menyesap champagne. Namun, Rhea tidak benar-benar mendengarkan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu. Matanya tertuju pada pantulan dirinya di cermin besar Grand Ballroom Hotel Mulia. Gaun navy blue yang melekat di tubuhnya tampak sempurna, tapi dia merasa seperti penyusup.Suara musik jazz yang mengalun lembut dan tawa renyah para alumni yang kini telah menjadi “orang sukses” hanya terdengar seperti dengung statis di telinganya.Rhea merasa asing. Sepuluh tahun ternyata cukup untuk mengubah teman-teman yang dulu berbagi bungkusan keripik di kantin menjadi orang asing yang saling memamerkan kartu nama.Tiba-tiba, suasana ballroom yang bising mendadak senyap secara bertahap, dimulai dari pintu masuk utama. Rhea mengikuti arah pandang orang-orang.Seoran

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status