LOGINPagi hari yang membuat Rhea semangat karena hari ini dia resmi jadi bagian dari perusahaan ternama di kota itu.
Rhea berdiri di lobi, merapikan blazer hitamnya untuk kesepuluh kalinya pagi itu. Ia merasa seperti semut yang mencoba memanjat gunung es.
“Selamat pagi, Ibu Rhea Jasminda Kairine? Saya dari tim HRD, mari saya antar ke lantai 35,” sapa seorang wanita dengan senyum yang dipoles sempurna.
Rhea mengangguk sambil mencoba menyembunyikan tangannya yang sedikit dingin.
Dia telah menghabiskan malam dengan meyakinkan diri bahwa pertemuannya dengan Justin di reuni hanyalah kebetulan buruk yang tidak akan terulang.
Kota ini besar. Perusahaan ini raksasa. Tidak mungkin seorang CEO atau Senior Manager sekelas Justin akan mengurusi karyawan level menengah seperti dirinya, bukan?
“Divisi Strategi Kreatif berada langsung di bawah pengawasan Senior Manager kita,” jelas staf HRD itu saat lift meluncur mulus ke atas. “Beliau orang yang sangat disiplin. Saya harap Anda sudah sarapan mental.”
Rhea terkekeh hambar. “Saya lebih khawatir soal sarapan fisik saya yang tadi hanya sempat makan selembar roti, Mbak.”
Staf HRD itu hanya tersenyum tipis, jenis senyum yang seolah mengatakan, 'Semoga beruntung, kamu akan membutuhkannya.'
Pintu lift berdenting terbuka dan memperlihatkan lantai eksekutif yang sunyi, kecuali suara halus mesin kopi dan denting sepatu di atas lantai granit.
Rhea dibawa menuju pintu kayu ek gelap di ujung koridor. Tanpa mengetuk, staf itu membukakan pintu dan mempersilakan Rhea masuk.
Ruangan yang sangat luas, namun terasa menyesakkan karena aura yang ada di dalamnya.
Di balik meja kerja mahoni yang megah, sebuah kursi kulit berukuran besar membelakanginya, menghadap langsung ke jendela kaca raksasa yang menampilkan panorama kota.
“Selamat pagi, Pak. Ini staf baru untuk posisi Analis Strategi, Rhea Jasminda,” lapor staf HRD itu sebelum undur diri dengan cepat, seolah takut terkena radiasi dari orang yang duduk di kursi itu.
Keheningan menyergap. Sementara Rhea masih berdiri mematung. Wangi kayu cendana dan aroma maskulin yang sangat familiar mulai memenuhi indra penciumannya.
Wangi yang sama dengan yang ia hirup di ballroom hotel malam itu.
“Tepat waktu,” ucapnya dengan nada rendah dan berat.
Kursi itu berputar perlahan. Justin Evando Chayton duduk di sana, dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan kronograf yang harganya mungkin bisa membeli rumah masa kecil Rhea.
Dia tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun. Tidak ada alis yang terangkat, tidak ada binar pengakuan. Dia menatap Rhea seolah wanita itu hanyalah salah satu baris angka dalam laporan tahunannya.
“Duduk, Sekretaris Kairine.”
Rhea menelan ludah sambil menarik kursi di depan meja Justin. “Pak ... Justin? Saya tidak menyangka bahwa—”
“Bahwa aku bosmu?” potong Justin cepat lalu menyandarkan punggungnya, sambil menautkan jemarinya di atas meja.
“Dunia ini kecil bagi orang yang punya ambisi, Rhea. Dan sangat sempit bagi mereka yang hanya mengandalkan keberuntungan.”
Rhea berdehem, mencoba mengembalikan profesionalitasnya. “Saya di sini karena kualifikasi saya, Pak. Saya melewati tiga tahap wawancara tanpa tahu siapa pemilik posisi ini.”
“Bagus. Karena jika aku yang mewawancaraimu secara langsung, aku ragu kamu akan sampai di tahap kedua,” ucap Justin tanpa kedipan.
Ucapannya bahkan terdengar tajam di telinga Rhea, namun ekspresinya datar seolah dia sedang membicarakan cuaca.
Rhea merasakan wajahnya memanas. “Justin, soal malam itu di reuni ... aku tidak bermaksud—”
“Malam itu?” Justin sedikit memiringkan kepalanya.
“Maaf, aku tidak ingat pernah berbicara denganmu di reuni. Ingatanku hanya mencatat hal-hal yang produktif.”
Dia lalu mencondongkan tubuh ke depan, membuat Rhea refleks menyandar.
“Dengarkan aku baik-baik. Di luar sana, orang mungkin mengenalku sebagai teman masa kecilmu atau apalah label usang yang kamu simpan di kepalamu. Tapi di dalam gedung ini, masa lalu adalah sampah yang sudah didaur ulang. Dia tidak punya nilai.”
Rhea menggigit bibir dalamnya. Sampah? Rasa perih itu kembali datang dan lebih tajam dari semalam.
Dia ingin berteriak bahwa dia masih menyimpan surat-surat kecil yang Justin selipkan di tasnya dulu, tapi tatapan pria itu seolah mengunci suaranya.
“Kamu di sini sebagai bawahan. Tidak ada hak istimewa, tidak ada makan siang nostalgia,” lanjut Justin dengan nada suara yang kini setajam silet.
“Kamu harus membuktikan bahwa kamu bukan sekadar beban administratif yang masuk ke sini karena kebetulan.”
Justin membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah map plastik tebal yang tampak sangat berat dan membantingnya ke depan Rhea hingga menimbulkan suara debum yang menggema.
“Itu adalah data kompetitor untuk proyek akuisisi bulan depan. Aku ingin analisis perbandingannya, proyeksi risiko, dan strategi mitigasinya ada di mejaku sebelum jam makan siang,” perintahnya dingin sambil kembali menatap layar monitornya, seolah keberadaan Rhea sudah tidak lagi menarik.
Rhea melirik jam tangannya. “Itu hanya tersisa tiga jam, Pak. Sementara datanya setebal kamus.”
Justin berhenti mengetik, lalu menoleh sedikit dengan tatapan yang bisa membekukan air terjun.
“Kamu punya dua pilihan, Rhea. Selesaikan sebelum jam makan siang dengan sempurna, atau silakan ambil tasmu sekarang dan jangan harap ada hari kedua di perusahaan ini. Aku tidak punya waktu untuk orang yang hobi mengeluh.”
Rhea menarik napas panjang sambil mencengkeram map itu hingga jemarinya memutih. Dia akhirnya berdiri sambil menatap Justin yang bahkan sudah tidak melihatnya lagi.
“Baik, Pak. Akan saya selesaikan,” ucap Rhea dengan nada yang bergetar namun tegas.
Saat Rhea berbalik menuju pintu, suara Justin kembali terdengar, lebih pelan namun penuh tekanan.
“Dan satu lagi, Rhea. Jangan buat aku menyesal karena tidak memecatmu saat kamu melangkah masuk ke ruangan ini tadi.”
“Strategi ini tidak hanya fokus pada profit jangka pendek, tapi juga membangun loyalitas konsumen melalui pendekatan emosional yang personal. Saya yakin, Chayton Group bisa menjadi pemimpin pasar jika kita berani mengambil langkah ini.”Rhea menutup presentasinya dengan napas yang tertata. Dia lalu berdiri tegak di ujung meja rapat jati yang panjang, di hadapan belasan manajer senior dan jajaran direksi.Dia telah menghabiskan malam untuk menyempurnakan setiap slide, memastikan setiap angka dan grafik tidak bercela. Untuk sesaat, suasana hening. Beberapa manajer tampak mengangguk setuju, terkesan dengan ketajaman analisis staf baru itu.Namun, keheningan itu segera dirobek oleh suara gesekan pena di atas kertas. Di ujung meja, Justin duduk di kursi kebesarannya, menatap layar proyektor dengan ekspresi yang sulit dibaca.“Sangat emosional,” ucap Justin pelan, namun suaranya menggema di seluruh ruang rapat yang kedap suara itu.Dia meletakkan penanya, lalu menatap Rhea dengan tatapan ya
“Tahan pintunya! Tolong, tahan sebentar!”Rhea berseru sambil berlari melintasi lobi Chayton Group dengan napas tersengal.Tumit sepatunya berbunyi nyaring di atas lantai marmer, berpacu dengan pintu lift logam yang mulai bergeser menutup.Di detik terakhir, sebuah tangan dengan lengan kemeja putih yang disetrika sempurna menahan sensor pintu.Pintu itu kembali terbuka, dan Rhea segera melompat masuk dengan wajah memerah karena malu dan kelelahan.“Terima kasih, aku—”Kalimat Rhea terhenti di udara saat mendongak dan langsung membeku melihat sosok yang menahan pintu itu ternyata bukan karyawan biasa, melainkan Justin.Pria itu berdiri tegak di sudut lift sambil memegang tas kerja kulit premium dengan ekspresi yang jauh lebih dingin daripada udara AC di dalam kotak logam tersebut.“Lain kali, datanglah sepuluh menit lebih awal agar kamu tidak perlu berakting seperti pelari maraton di lobi kantorku, Rhea,” ucap Justin tanpa sedikit pun meliriknya.Rhea hanya bisa menelan ludah sambil be
“Bukan, Justin. Ini bukan soal menguji keberuntungan, apalagi soal menghancurkan diri,” ucapnya sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat agar Justin berhenti menuduhnya dengan hal-hal gila.“Aku melamar di sini karena Chayton Group adalah satu-satunya harapan terakhirku. Aku butuh pekerjaan ini untuk memenuhi kebutuhan hidupku dan keluargaku. Hanya ini yang aku punya.”Justin tertegun. Cengkeramannya pada pinggiran meja sedikit mengendur, meski sorot matanya masih sekaku batu. “Keluargamu? Apa maksudmu? Bukankah ayahmu memiliki firma hukum yang besar?”Rhea tersenyum pahit, sebuah tawa getir yang terdengar menyedihkan. “Itu cerita lama. Enam tahun yang lalu, tepat setelah aku lulus kuliah, ayahku bangkrut.“Semuanya habis, Justin. Rumah, tabungan, bahkan kesehatan Ayah ikut memburuk karena stres. Sejak saat itu, aku yang harus menopang semuanya.”Rhea melangkah maju satu langkah, tidak lagi peduli pada jarak intimidasi yang diciptakan Justin.“Aku hanya berharap kamu tidak memecatk
“Rhea! Kamu sudah cek bagian lampiran grafik pertumbuhan kuartal kedua? Pak Justin paling tidak suka kalau ada data yang tidak sinkron!”Suara pekikan salah satu rekan satu divisinya hanya dibalas Rhea dengan anggukan cepat tanpa menoleh.Jemarinya menari liar di atas keyboard, tengah mengetikkan baris-baris analisis yang otaknya proses dengan kecepatan cahaya.Keringat dingin mulai merembes di balik blazer mahalnya. Panik bukan lagi kata yang tepat; Rhea merasa sedang berlari di atas tali tipis di atas jurang. Map tebal dari Justin bukan sekadar tugas, itu adalah surat pernyataan perang.“Tinggal lima belas halaman lagi, ayolah, Rhea, kamu bisa,” bisiknya pada diri sendiri.Ruang kantor Strategi Kreatif yang biasanya tenang kini terasa seperti medan tempur bagi Rhea.Suara detak jarum jam di dinding terasa seperti bom waktu yang siap meledak tepat di jam dua belas siang.Di tengah hiruk-pikuk pikirannya yang sedang membedah angka-angka akuisisi, interkom di mejanya berbunyi nyaring,
Pagi hari yang membuat Rhea semangat karena hari ini dia resmi jadi bagian dari perusahaan ternama di kota itu.Rhea berdiri di lobi, merapikan blazer hitamnya untuk kesepuluh kalinya pagi itu. Ia merasa seperti semut yang mencoba memanjat gunung es.“Selamat pagi, Ibu Rhea Jasminda Kairine? Saya dari tim HRD, mari saya antar ke lantai 35,” sapa seorang wanita dengan senyum yang dipoles sempurna.Rhea mengangguk sambil mencoba menyembunyikan tangannya yang sedikit dingin.Dia telah menghabiskan malam dengan meyakinkan diri bahwa pertemuannya dengan Justin di reuni hanyalah kebetulan buruk yang tidak akan terulang.Kota ini besar. Perusahaan ini raksasa. Tidak mungkin seorang CEO atau Senior Manager sekelas Justin akan mengurusi karyawan level menengah seperti dirinya, bukan?“Divisi Strategi Kreatif berada langsung di bawah pengawasan Senior Manager kita,” jelas staf HRD itu saat lift meluncur mulus ke atas. “Beliau orang yang sangat disiplin. Saya harap Anda sudah sarapan mental.”Rh
“Kamu tahu, Rhea? Di gedung semegah ini, hal yang paling murah adalah kenangan. Semuanya dipoles agar tampak indah, padahal aslinya berdebu.”Kalimat itu diucapkan oleh Sarah, teman SMA Rhea yang hingga kini masih berteman baik sambil menyesap champagne. Namun, Rhea tidak benar-benar mendengarkan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu. Matanya tertuju pada pantulan dirinya di cermin besar Grand Ballroom Hotel Mulia. Gaun navy blue yang melekat di tubuhnya tampak sempurna, tapi dia merasa seperti penyusup.Suara musik jazz yang mengalun lembut dan tawa renyah para alumni yang kini telah menjadi “orang sukses” hanya terdengar seperti dengung statis di telinganya.Rhea merasa asing. Sepuluh tahun ternyata cukup untuk mengubah teman-teman yang dulu berbagi bungkusan keripik di kantin menjadi orang asing yang saling memamerkan kartu nama.Tiba-tiba, suasana ballroom yang bising mendadak senyap secara bertahap, dimulai dari pintu masuk utama. Rhea mengikuti arah pandang orang-orang.Seoran







