LOGINMenceritakan seorang gadis bernama Clarissa Putri. Dia selalu memiliki harapan untuk menjadi orang sukses yang bisa membahagiakan kedua orang tua nya. Dia anak yang pintar yang selalu mendapatkan beasiswa dari tempat dia sekolah. Dia terlahir dari keluarga yang sederhana, tetapi dia tidak pernah merasa malu justru dia jadikan motivasi dalam hidupnya Di pertengahan jalan dia harus di hadapkan dengan kematian orang tua nya akibat kecelakaan, dan dia harus mengurus adiknya yang masih kecil. Harapannya yang membawa dirinya menginjakkan kaki nya di kota Jakarta dan menjadikan dirinya menjadi orang sukses dan juga dia bertemu dengan jodohnya seorang Ceo dari Hendrawan Wijaya Group. Akankan dia mendapatkan harapan yang sangat indah dalam menjalani kehidupannya?? Kerikil-kerikil dan lika - liku akan dia alami Selamat menikmati karya aku.. Semoga kalian menyukai... Jangan lupa beri dukungan untuk aku
View MoreBab 1
“Kak, puasin aku dong!”
Seorang gadis bertubuh tinggi semampai berdiri dengan pose sensual di hadapan Dani. Jemari lentiknya perlahan melepaskan tali lingerie yang ia kenakan.
Pakaian tidur tipis itu terbuka perlahan. Kainnya yang licin pun terlepas dari bahu, lalu jatuh begitu saja di lantai. Kini tubuh gadis itu hanya berbalut sepasang underwear berwarna hitam, memperlihatkan dadanya yang lumayan besar meskipun tubuhnya langsing.
“Rara, apa yang kamu lakukan?"
Dani membelalak, tubuhnya mematung di tempat. Bahkan matanya nyaris tak berkedip melihat adik tirinya yang kini sudah setengah telanjang di hadapannya.
"Memangnya kenapa? Apa Kak Dani nggak mau puasin aku? Kak Dani nggak tergoda sama tubuh aku?” Tiba-tiba tangan Rara melepaskan pengait bra yang ada di bagian depan.
Begitu benda berbentuk kacamata itu terbuka, ia lemparkan begitu saja ke lantai. Dengan langkah gemulai dan menggoda, ia berjalan meliuk-liuk menghampiri Dani yang kini sudah panas dingin.
“Jangan malu-malu, Kak Dani. Aku tau kalau Kak Dani juga menginginkannya. Ayo, sentuh ini, Kak,” goda Rara seraya memegang tangan Dani dan mengarahkan ke dadanya yang kini sudah tanpa penutup.
Tangan Dani rasanya gemetar dan berkeringat dingin ketika telapak tangannya menyentuh benda bulat kenyal itu.
Ia tak menyangka, baru beberapa hari tinggal di rumah ayahnya, Dani sudah mendapatkan tantangan kenikmatan seperti ini.
Beberapa hari sebelumnya ....
Dani, pemuda berusia 25 tahun itu baru saja pulang dari kebun belakang rumah ketika tiba-tiba ponsel usangnya berdering. Ada nomor tak dikenal muncul di layar.
“Siapa ini?”
Awalnya dia malas mengangkat, tapi karena panggilannya terus masuk, akhirnya dia terpaksa tekan tombol hijau itu.
"Halo,” sahut Dani malas.
“Halo, Dani. Ini Tante Rina.”
Dani langsung diam. Dia tau nama itu. Ibu tirinya, Tante Rina.
Ia ingat, bahwa Surya, ayahnya pernah memperkenalkan wanita itu ke kampung, tetapi Dani hanya acuh dan meninggalkan mereka waktu itu.
“Ada apa menelfon?" tanya Dani dengan suara datar, nadanya sama sekali tidak ramah.
“Ayah kamu sakit, Dan,” lanjut wanita itu dengan suara pelan. “Kondisinya parah. Kalau bisa, kamu datanglah ke kota. Ini permintaan terakhir dari ayahmu.”
Dani tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras. Telinganya terasa panas mendengar kata-kata yang baginya adalah perintah itu.
Sudah bertahun-tahun dia hidup tanpa sosok ayah. Setelah menceraikan ibunya, ayahnya seperti melupakan mereka begitu saja. Dani masih ingat bagaimana ibunya sering menangis diam-diam di malam hari, sampai akhirnya mereka memilih pindah ke desa dan tinggal bersama nenek.
Sementara ayahnya membeli rumah baru di kota, yang katanya rumah itu sangat mewah dan besar. Dani sendiri tak pernah tau bagaimana wujud rumah itu.
Tak lama, ia mendengar ayahnya menikah lagi dengan seorang janda anak 2. Ibunya shock dan larut dalam kesedihan sampai akhirnya meninggal dunia.
Setelah ibunya meninggal, hidup Dani semakin terpuruk. Dia hanya tinggal berdua dengan neneknya di rumah sederhana peninggalan kakeknya. Ayahnya sempat datang bersama ibu tirinya itu karena ingin menjemput Dani, tetapi dia menolak keras.
Kini saat mendengar kabar bahwa ayahnya sakit, yang muncul di hati Dani bukan rasa sedih, melainkan rasa kesal dan kebencian.
“Buat apa aku datang? Dia juga tidak pernah peduli sama aku dan ibu,” jawab Dani datar.
“Terserah kamu, Dani. Tante cuma menyampaikan.” Di seberang sana terdengar helaan napas panjang, sepertinya ia kesal.
Telepon itu pun akhirnya terputus. Dani melemparkan ponselnya begitu saja ke atas meja.
“Memangnya dia pikir dia siapa, bisa menyuruh-nyuruh aku seperti itu?"
Malam harinya, Dani duduk di teras rumah sambil melamun. Neneknya yang sedang membersihkan daun singkong pun menoleh pelan. Tak biasanya Dani banyak diam seperti itu.
Ia sering murung setelah kepergian ibunya. Namun, perlahan Dani kembali bangkit dan menjadi pemuda desa yang ceria dan senang bersosialisasi dengan tetangga.
“Kamu kenapa dari tadi diam saja, Dan?”
Dani menoleh pada neneknya. Ia pun akhirnya menceritakan semuanya, tentang telepon dari ibu tirinya yang mengabarkan kalau ayahnya sakit keras.
"Sampai mati pun, aku nggak akan pernah mau pergi kesana, Nek,” sungut Dani kesal.
Namun neneknya justru menghela napas pelan seraya mengusap bahunya dengan lembut.
“Pergilah, Nak."
“Hah?" Dani mengernyit. “Buat apa, Nek?”
“Jangan begitu, Dani. Nanti kamu menyesal kalau ayahmu sampai meninggal sebelum kamu sempat ketemu.”
“Tapi dia sudah meninggalkan aku dan ibu ….”
“Bagaimanapun juga, dia tetap ayah kamu," potong neneknya lembut.
Dani terdiam. Angin malam berhembus pelan melewati halaman rumah mereka yang sederhana. Suara jangkrik terdengar bersahutan, tapi pikiran Dani justru makin berisik dan kalut.
“Kamu tidak harus memaafkan semuanya sekarang, tapi setidaknya datanglah. Kalau memang ini akhir dari hidup ayahmu, berikan pengabdian terakhir sebagai seorang anak.”
Ucapan itu terus terngiang di kepala Dani semalaman. Ia nyaris tak bisa tidur karena memikirkan kata-kata sang nenek.
Keesokan paginya, Dani akhirnya memasukkan beberapa baju ke dalam tas ransel lusuh miliknya. Ia sudah memutuskan untuk pergi ke kota.
Neneknya juga membantu menyiapkan bekal seadanya untuk perjalanan ke kota.
“Anggap saja ini pengabdian terakhirku sebagai seorang anak.”
*
Akhirnya Dani tiba di kota dengan menaiki sebuah travel. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di rumah besar milik ayahnya itu, ia sudah merasa suasananya aneh.
Ibu tirinya menyambut dengan senyum tipis, tapi tatapannya terasa sulit dijelaskan. Begitu juga dengan kedua anak gadis ibu tirinya. Mereka berdiri di dekat tangga sambil memperhatikan Dani tanpa berkedip.
Tatapan mereka membuat Dani tidak nyaman. Apalagi rumah itu terasa asing baginya.
“Ayahmu ada di kamar,” ujar ibu tirinya pelan.
Dani tak menjawab, dan hanya berjalan malas menuju kamar di lantai atas.
Saat pintu dibuka, dia melihat ayahnya terbaring lemah di atas ranjang. Tubuh pria itu terlihat jauh lebih kurus dibanding terakhir kali Dani mengingatnya.
Untuk beberapa saat, suasana menjadi canggung. Tidak ada pelukan haru ataupun air mata. Dani hanya berdiri di dekat ranjang sambil menatap pria yang selama ini terasa seperti orang asing baginya sendiri.
“Dani, akhirnya kamu datang juga. Duduklah dekat ayah!" Surya meminta putranya itu duduk lebih dekat.
Tanpa menjawab, Dani hanya duduk begitu saja. Dengan suara lemah, pria itu mulai bicara pelan mengenai banyak hal, termasuk soal warisan jika suatu saat nanti dirinya meninggal.
“Semua sudah Ayah atur, dan kamu punya hak paling utama," ujar pria tua itu dengan terbata-bata.
Namun Dani tampak cuek mendengarnya. Baginya, uang dan harta bukan alasan dia datang ke kota. Bahkan sebenarnya dia hanya terpaksa datang ke rumah ini.
“Aku tidak memikirkan itu,” jawab Dani singkat.
Ayahnya terlihat diam beberapa saat sebelum menghela napas panjang. Ia sadar, bahwa luka di hati putranya ternyata belum sembuh.
Setelah percakapan itu selesai, Dani keluar dari kamar dengan pikiran yang masih bercampur aduk. Namun baru beberapa langkah di lorong, dia langsung berhenti.
Kedua adik tirinya sudah berdiri di sana seolah sengaja menunggunya.
Mereka mengenakan pakaian rumah yang sangat terbuka dan minim. Salah satu mengenakan lingerie transparan, hingga memperlihatkan bra dan celana dalamnya.
Sedangkan yang satunya mengenakan kaos crop top ketat, yang dipadukan dengan hot pants. Lekuk tubuhnya yang seksi itu terlihat kemana-mana.
Dani refleks memalingkan pandangan sesaat. Tiba-tiba keduanya mendekat hingga Dani terkejut. Ia melangkah mundur, tetapi tubuhnya terantuk dinding.
“Wah, Kak Dani ternyata ganteng juga ya,” goda salah satunya, sambil terus memepet tubuh Dani ke dinding.
“Kalian mau apa, hah? Menjauh dariku!" sentak Dani sambil terus membuang muka, tetapi kedua adik tirinya itu malah semakin menghimpit tubuh Dani.
Mereka menyentuh dada, lengan, dan bahu Dani dengan sentuhan yang sensual.
“Ssstt! Kak Dani jangan galak-galak dong! Apa kak Dani mau lihat sesuatu?" tanya salah satunya, yang tiba-tiba menarik tali lingerie nya di hadapan Dani.
Clarissa bangun pagi-pagi sekali. Karna hari ini dia akan mulai masuk kerja di laundry. Oleh karena itu dia akan menyiapkan terlebih dahulu membuat makanan, rencananya dia akan membuat balado telor dan juga menggoreng tempe untuk sarapan pagi mereka dan adiknya makan siang dan sore. Setelah mandi dan sholat, dirinya memutuskan untuk langsung masak. "Wah wangi banget mba... Masak apa mba ? " Ucap adiknya sambil melirik ke arah wajan. Dana sudah terbiasa bangun pagi, karna sebelum almarhum ayahnya meninggal dirinya selalu di ajak ayah untuk sholat ke mesjid sehingga dirinya sudah terbiasa untuk bangun pagi sebelum waktunya shubuh. Setelah masakan matang, mereka langsung sarapan bareng. Clarissa juga menyiapkan bekal untuk makan siang dia nanti di tempat kerja. Clarissa selalu belanja sayur dan lauk lainnya satu minggu sekali untuk stock di kulkas. Meskipun hanya makanan sederhana, dirinya sangat bersyukur karna adik dan dirinya masih bisa maka
Setelah kepergian ayah dan ibu nya, kini dirinya hanya tinggal berdua dengan adiknya. Dan dia harus bisa menggantikan peran ayah dan ibu nya untuk adiknya. Kini Clarissa sudah menjalankan kehidupan normal kembali, bersekolah seperti biasa.Tetapi untuk sekarang dirinya harus menanggung beban yang sangat berat, sebisa mungkin untuk bertahan hidup dan tetap bersekolah dirinya dan adiknya. Harapannya yang bisa menjadi orang sukses yang selalu mengingatkan dirinya untuk kuat dan bertahan menjalani kehidupan ke depannya. Karna sesuai pesan ayahnya dirinya harus kuat menjalani kehidupan untuk meraih cita-citanya.Acara tahlilan kedua orang tuanya sudah selesai sampe 7 hari, dan untuk acara 40 hari orang tuanya akan di adakan di rumah neneknya di Pekalongan. Semua keluarga sudah sibuk dengan aktifitas nya masing-masing.Setiap pagi sebelum berangkat sekolah dia selalu membuatkan sarapan untuk adik dan dirinya. Mereka selalu merasa bersyukur menikmatin
Setelah jenazah datang, tidak memakan waktu sangat lama. Pihak keluarga memutuskan untuk di makamkan. Semua urusan pemakaman telah di siapkan. Pihak keluarga sepakat untuk menguburkan jenazah di daerah dekat rumah Clarissa, jadi anak-anaknya bisa dengan mudah menengok makam keluarganya.Clarissa mencoba untuk menguatkan dirinya, meskipun sebenarnya dia merasa lemah tak berdaya. Tetapi adiknya lah yang membuat dirunya harus tegar dalam menerimaan kenyataan yang sangat pahit. Aku harus bertahan demi adikku. Aku harus melanjutkan harapan dan cita-cita kedua orang tuaku. Aku harus bisa menjadi orang sukses sesuai harapanku.Clarissa terus bergandengan dengan Tante Mira menuju pusara makam kedua orang tuanya. Mungkin apabila tidak ada adiknya, dia pasti lebih memilih ikut bersama Ayah dan Ibunya. Tetapi demi adik semata wayang, dia harus kuat menjalankan kehidupan selanjutnya tanpa kedua orang tuanya.Proses pemakaman selesai, semua keluarga termasu
Orang tua Clarissa saat itu sedang tertidur di dalam bis yang mereka tumpangi. Ibu nya terbangun lebih dulu karna merasakan jalan nya bis yang sangat aneh seperti kehilangan kendali, dan selang berapa detik Ayah juga langsung terjaga dari tidur mendengar semua penumpang berteriak ketakutan. Meskipun kondektur bis sudah menyarankan untuk tetap tenang, karna supir sedang berusaha semaksimal mungkin. Supir pun merasa kebingungan, mengapa tiba-tiba bis yang dia kemudikan menjadi blong rem nya, padahal sebelumnya baik-baik saja. " Ya allah... mas aku takut. " Ungkap Ibu sambil menangis dan memeluk suaminya. " Istigfar, mengucap Allah akbar, dan bersahadat terus Bu. Berdoa semoga kita di beri umur panjang, jika Allah masih berkehendak. " Ayah mengingatkan dan menenangkan istrinya. Kring... Kring... Ibu jadi teringat anak-anak mereka, sebelumnya pikirannya sangat kalut sampai melupakan segalanya. Sedangkan Ayah sebenarnya sudah memaha






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.