LOGINMenceritakan seorang gadis bernama Clarissa Putri. Dia selalu memiliki harapan untuk menjadi orang sukses yang bisa membahagiakan kedua orang tua nya. Dia anak yang pintar yang selalu mendapatkan beasiswa dari tempat dia sekolah. Dia terlahir dari keluarga yang sederhana, tetapi dia tidak pernah merasa malu justru dia jadikan motivasi dalam hidupnya Di pertengahan jalan dia harus di hadapkan dengan kematian orang tua nya akibat kecelakaan, dan dia harus mengurus adiknya yang masih kecil. Harapannya yang membawa dirinya menginjakkan kaki nya di kota Jakarta dan menjadikan dirinya menjadi orang sukses dan juga dia bertemu dengan jodohnya seorang Ceo dari Hendrawan Wijaya Group. Akankan dia mendapatkan harapan yang sangat indah dalam menjalani kehidupannya?? Kerikil-kerikil dan lika - liku akan dia alami Selamat menikmati karya aku.. Semoga kalian menyukai... Jangan lupa beri dukungan untuk aku
View More"Let go of me, please!"
Despite her dizziness and weakness, Arwena fought hard against the man who was dragging her out of the bar.
She kicked and pushed him desperately, hoping to break free. But no matter how hard she tried, he refused to let go. His grip on her waist tightened, and he was practically carrying her.
"Stop fighting if you don't want to get hurt," he said, his voice sharp and commanding. He grabbed her face roughly, forcing her to meet his cold, menacing gaze.
Arwena's cries faltered for a moment, her chest heaving with fear. Tears streamed down her cheeks, and her heart pounded so hard that she couldn’t hear anything else.
Without warning, he grabbed her neck and slammed her onto the hood of a car. Her scream was cut short when the cold metal pressed against her back, leaving her breathless and stunned.
"Please, let me go. I don't want this," she begged, her voice trembling with desperation. Her hands pushed at him weakly, shaking as she turned her gaze away from his looming presence.
"Stop acting like you're some innocent virgin," he sneered, his voice full of malice. "On the dance floor, you looked like you were inviting every guy to come and fvck you."
Arwena's stomach churned at his words, and her disgust deepened as he pressed his body against hers.
"Let me go! I don't want this!" she yelled, her voice breaking with fear. She continued to struggle, but her strength was fading fast.
"You don't want this?" he mocked, his tone dripping with cruel amusement. "Then maybe you shouldn't have danced like you did." He leaned closer, brushing his nose against her neck and cheek. The way he sniffed her made her skin crawl.
"Please, no! I'm begging you. Stop this!" Arwena cried, her voice cracking as she slapped him with everything she had left. But the slap barely affected him. It only seemed to aggravate him.
"Stop fighting," he growled, fumbling with his belt. "This won't take long, and I'll make sure we both enjoy it."
He kissed her roughly, his lips smothering her sobs. Arwena's strength finally gave out. Her body trembled as despair and hopelessness settled deep inside her. Her sobs softened into weak whimpers.
As the man pressed against her, her thoughts drifted away from the agony she had been trying to escape. She had come to the bar hoping to forget. Hoping to drown her sorrows in alcohol.
Her ex-boyfriend’s cruel words echoed in her head. “It’s your fault I cheated, Arwena. You pushed me to find someone else. I’m a man; I have needs, needs you refused to give.”
She couldn’t stop the questions crashing into her. Was it really her fault? Did she push him away? Would he have stayed faithful if she had given him what he wanted?
***
Flashback
"Why her, Jake?" Arwena asked, tears streaming down her cheeks.
"Farah, why? You were my best friend, like a sister. How could you do this to me?"
Farah’s cold response cut through her. "Don’t blame me, Arwena. If you had been a better girlfriend, Jake wouldn’t have come to me."
"Jake, I thought you loved me," Arwena whispered, her voice trembling.
"I did," Jake replied coldly. "But loving you became boring. You’re suffocating. Why should I wait when someone else is ready to give me everything?"
End of Flashback
***
Her heart burned with rage at Jake, at Farah, and at herself.
"Let go of me!" she screamed again, pushing against the man groping her with the last of her strength.
"Shut up!" he snapped, raising his hand as if to strike her.
Before he could do anything, he let out a sharp cry of pain.
Arwena opened her eyes, dazed and disoriented. Her attacker was no longer holding her. He lay sprawled on the ground in front of the car, groaning.
A man stood over him, fists clenched. In the glare of the headlights, Arwena saw him deliver blow after blow to her attacker.
"Don't move if you want to live," the man said, his voice cold and commanding.
Arwena’s legs gave out, and she collapsed to the ground. Her trembling hands covered her ears as she tried not to hear the sounds of the fight. Her body shook uncontrollably as tears streamed down her face.
"Mr. Tandre, what’s going on?" a voice asked.
"Where the hell were you?" the man demanded angrily.
"Sorry, Mr. Tandre... nature called," the other man said, his gaze shifting from Arwena back to the attacker.
"Take that bastard to the police station," Tandre ordered, his tone sharp and final.
Arwena could hear everything, but she was too weak to speak. She sat there, staring blankly at the man who had saved her.
"Miss, it’s fine now. You’re safe," Tandre said gently as he knelt beside her. His voice was steady but full of concern.
He placed a light hand on her shoulder. "It’s alright. It’s over," he said quietly.
She looked at his hand, then slowly lifted her head. When their eyes met, it felt as if the weight of her fear and pain began to fade, little by little.
"Come with me," he said softly. "I’ll take you far away from here. You don’t have to stay in this place anymore."
Clarissa bangun pagi-pagi sekali. Karna hari ini dia akan mulai masuk kerja di laundry. Oleh karena itu dia akan menyiapkan terlebih dahulu membuat makanan, rencananya dia akan membuat balado telor dan juga menggoreng tempe untuk sarapan pagi mereka dan adiknya makan siang dan sore. Setelah mandi dan sholat, dirinya memutuskan untuk langsung masak. "Wah wangi banget mba... Masak apa mba ? " Ucap adiknya sambil melirik ke arah wajan. Dana sudah terbiasa bangun pagi, karna sebelum almarhum ayahnya meninggal dirinya selalu di ajak ayah untuk sholat ke mesjid sehingga dirinya sudah terbiasa untuk bangun pagi sebelum waktunya shubuh. Setelah masakan matang, mereka langsung sarapan bareng. Clarissa juga menyiapkan bekal untuk makan siang dia nanti di tempat kerja. Clarissa selalu belanja sayur dan lauk lainnya satu minggu sekali untuk stock di kulkas. Meskipun hanya makanan sederhana, dirinya sangat bersyukur karna adik dan dirinya masih bisa maka
Setelah kepergian ayah dan ibu nya, kini dirinya hanya tinggal berdua dengan adiknya. Dan dia harus bisa menggantikan peran ayah dan ibu nya untuk adiknya. Kini Clarissa sudah menjalankan kehidupan normal kembali, bersekolah seperti biasa.Tetapi untuk sekarang dirinya harus menanggung beban yang sangat berat, sebisa mungkin untuk bertahan hidup dan tetap bersekolah dirinya dan adiknya. Harapannya yang bisa menjadi orang sukses yang selalu mengingatkan dirinya untuk kuat dan bertahan menjalani kehidupan ke depannya. Karna sesuai pesan ayahnya dirinya harus kuat menjalani kehidupan untuk meraih cita-citanya.Acara tahlilan kedua orang tuanya sudah selesai sampe 7 hari, dan untuk acara 40 hari orang tuanya akan di adakan di rumah neneknya di Pekalongan. Semua keluarga sudah sibuk dengan aktifitas nya masing-masing.Setiap pagi sebelum berangkat sekolah dia selalu membuatkan sarapan untuk adik dan dirinya. Mereka selalu merasa bersyukur menikmatin
Setelah jenazah datang, tidak memakan waktu sangat lama. Pihak keluarga memutuskan untuk di makamkan. Semua urusan pemakaman telah di siapkan. Pihak keluarga sepakat untuk menguburkan jenazah di daerah dekat rumah Clarissa, jadi anak-anaknya bisa dengan mudah menengok makam keluarganya.Clarissa mencoba untuk menguatkan dirinya, meskipun sebenarnya dia merasa lemah tak berdaya. Tetapi adiknya lah yang membuat dirunya harus tegar dalam menerimaan kenyataan yang sangat pahit. Aku harus bertahan demi adikku. Aku harus melanjutkan harapan dan cita-cita kedua orang tuaku. Aku harus bisa menjadi orang sukses sesuai harapanku.Clarissa terus bergandengan dengan Tante Mira menuju pusara makam kedua orang tuanya. Mungkin apabila tidak ada adiknya, dia pasti lebih memilih ikut bersama Ayah dan Ibunya. Tetapi demi adik semata wayang, dia harus kuat menjalankan kehidupan selanjutnya tanpa kedua orang tuanya.Proses pemakaman selesai, semua keluarga termasu
Orang tua Clarissa saat itu sedang tertidur di dalam bis yang mereka tumpangi. Ibu nya terbangun lebih dulu karna merasakan jalan nya bis yang sangat aneh seperti kehilangan kendali, dan selang berapa detik Ayah juga langsung terjaga dari tidur mendengar semua penumpang berteriak ketakutan. Meskipun kondektur bis sudah menyarankan untuk tetap tenang, karna supir sedang berusaha semaksimal mungkin. Supir pun merasa kebingungan, mengapa tiba-tiba bis yang dia kemudikan menjadi blong rem nya, padahal sebelumnya baik-baik saja. " Ya allah... mas aku takut. " Ungkap Ibu sambil menangis dan memeluk suaminya. " Istigfar, mengucap Allah akbar, dan bersahadat terus Bu. Berdoa semoga kita di beri umur panjang, jika Allah masih berkehendak. " Ayah mengingatkan dan menenangkan istrinya. Kring... Kring... Ibu jadi teringat anak-anak mereka, sebelumnya pikirannya sangat kalut sampai melupakan segalanya. Sedangkan Ayah sebenarnya sudah memaha












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.