ログイン
Tiga bulan kemudian, ayah akhirnya setuju untuk mengizinkanku pindah dari rumah utama.Awalnya, dia menolak keras. Kemudian, aku duduk di ruang kerjanya sepanjang sore dengan Maria di pelukanku. Pada akhirnya, dia kalah oleh satu kuapan mengantuk dari cucunya. Dia lalu menandatangani surat persetujuan itu dengan wajah muram dan menugaskan dua tim keamanan tambahan, bahkan sebelum aku sempat berterima kasih padanya.Aku kembali memilih tempat di tepi danau, tetapi bukan rumah yang dulu. Yang ini berdiri dekat dengan kediaman Keluarga Castelo, dengan bukit di belakangnya, dan hamparan air di depannya, serta deretan pohon mapel perak di sepanjang jalan.Aku membangun sebuah rumah kayu baru, memasang pagar putih, dan memenuhi halaman dengan tanaman tomat, min, dan bunga matahari. Setiap beberapa hari, ayah akan mengirimkan satu truk penuh berisi barang-barang, ada susu formula, pakaian bayi, kaca anti peluru, sampai sistem keamanan baru ... seolah-olah dia bermaksud memindahkan seluruh isi
Sebulan kemudian, tubuhku sudah cukup pulih untuk bisa berjalan menuruni tangga.Ayah sengaja membangun sebuah rumah kaca kecil di belakang kediaman kami. Di dalamnya terdapat tanaman tomat, kemangi, dan stroberi."Kau suka bercocok tanam, kan?" katanya dari ambang pintu. Suaranya terdengar canggung seperti seorang Ketua Komisi Tinggi dunia mafia yang ditakuti ketika sedang mencoba bersikap lembut. "Tanam apa pun yang kau mau. Kalau ini masih tidak cukup, Papa akan lebarkan lagi."Aku melihat tanah gembur yang telah dibajak itu dan mulai tertawa. Kemudian tawa itu mendadak berhenti, dan air mata kembali mengalir di wajahku.Ayah langsung mengerutkan kening. "Kau tidak suka? Papa akan minta orang bongkar dan membuat ulang.""Tidak perlu." Aku menyeka pipiku. "Aku sangat suka."Dan, aku bersungguh-sungguh mengatakannya.Aku tidak pernah benar-benar menginginkan sebuah tahta, mahkota, atau pun ruangan penuh pria yang menundukkan kepala mereka di hadapanku. Aku hanya menginginkan sebuah la
Saat kami kembali ke kediaman Keluarga Castelo, waktu sudah malam.Ketika pergi tiga tahun lalu, aku pikir kediaman ini seperti sebuah sangkar emas. Namun sekarang, saat mobil melaju melewati gerbang besi dan melihat lampu menyala di jendela rumah utama, aku merasakan sesuatu yang sudah lama tidak kurasakan.Aku sudah pulang.Ayah tidak memarahiku. Dia berdiri di luar dinding kaca ruangan pusat medis dan mengamati bayi mungil di dalam inkubator itu untuk waktu yang sangat lama, matanya tampak merah."Siapa namanya?" tanya ayahku.Aku melihat kepalan tangan putriku dari balik kaca. "Maria ... Maria Castelo."Ayah mengangguk, suaranya terdengar serak. "Bagus. Dia menggunakan marga keluarga kita."Dokter mengatakan bahwa Maria berhasil selamat karena penanganan medis bisa dilakukan tepat waktu. Dia masih harus terus diobservasi, tetapi masa kritisnya telah berlalu. Sedangkan untukku, efek obat-obatan, kehilangan banyak darah, dan operasi sesar darurat telah merusak tubuhku. Proses pemulih
Aula pernikahan itu menjadi sunyi senyap.Buket bunga Bella bergetar di tangan dan wajah Lukas menjadi pucat pasi di tempatnya berdiri.Lalu, aku muncul dari balik tubuh ayahku, duduk di kursi roda dan didorong oleh dokter pribadi.Aku mengenakan gaun beludru hitam dengan selendang bulu putih yang melingkar di bahu. Mahkota yang telah menjadi bahan gosip selama tiga hari itu, Mahkota Bintang Castelo, tampak tersemat indah di rambutku. Di bawah siraman cahaya lampu, berlian-berlian itu tampak berkilauan seperti salju yang dingin.Kotak cincin terlepas dari tangan Lukas dan jatuh ke lantai. Suara benturannya kecil, tetapi semua orang bisa mendengarnya dengan jelas."Arina?"Aku berhenti tepat di depannya dan menatapnya dengan tenang. "Selamat atas pernikahanmu, Tuan Lukas Moreno."Bella merobek tudung pengantinnya. "Apa kau gila? Kau berani sekali berpura-pura menjadi seorang Castelo dan mengacaukan pernikahanku?"Kepala pengawal ayahku melangkah maju. "Buka matamu lebar-lebar. Lambang K
Rumah persembunyian itu menjadi sunyi senyap setelah kepergian Lukas.Rasa sakit menjalar dari perut ke punggung bawahku hingga saat bernapas terasa seperti sebuah siksaan berat. Darah hangat mulai mengalir di pahaku. Aku bersandar di dinding dan menyeret diriku sedikit demi sedikit menuju rak buku, jari-jariku yang gemetaran berhasil menemukan sampul usang dari sebuah buku resep masakan.Tersembunyi di dalam sampul itu adalah sebuah pemancar darurat yang telah kubawa saat meninggalkan rumah. Ayahku pernah mengatakan bahwa jika aku menekannya, maka Keluarga Castelo akan langsung menemukanku.Dulu, aku menyebut ayahku sebagai sosok gila yang suka mengendalikan. Sekarang aku mengerti bahwa tidak setiap sangkar dibuat untuk mengurungmu. Beberapa di antaranya dibangun oleh orang-orang yang tahu betul bahwa dunia ini penuh dengan bahaya.Aku menekan tombol itu. Lampu merahnya berkedip tiga kali di telapak tanganku.Beberapa menit kemudian, terdengar suara kunci pintu.Untuk sesaat, aku semp
Malam itu, Lukas kembali dengan wadah termos berisi sup labu. Dia duduk di hadapanku seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa hari itu, lalu meletakkan sendok di tanganku. “Makanlah. Bayi kita membutuhkannya.”Aku makan dua suapan. Supnya terasa hangat, tetapi semua bagian di dalam diriku terasa membeku. "Kapan kau dan Bella memulai semua ini?"Jari-jari Lukas mencengkeram gelasnya lebih erat. "Di malam ulang tahunmu," katanya. "Aku mabuk di pesta Keluarga Voltera. Bella bilang kami sudah menghabiskan malam bersama. Beberapa minggu kemudian, dia memberitahuku bahwa dia hamil."Sembilan bulan yang lalu, pada hari ulang tahunku, dia memang menghilang. Aku bahkan sampai mencari di sepanjang jalan tepi danau, kota, pom bensin, dan setiap jalan terpencil sampai fajar menyingsing. Keesokan paginya, dia pulang dengan wajah kelelahan dan mengatakan bahwa dia telah terjebak badai salju saat ingin mengambil hadiahku dan kemudian tersesat.Dia mengeluarkan sebuah kotak musik perak kecil dari dala







