共有

Bab 2

作者: Jasmine Flower
Malam itu, Lukas kembali dengan wadah termos berisi sup labu. Dia duduk di hadapanku seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa hari itu, lalu meletakkan sendok di tanganku. “Makanlah. Bayi kita membutuhkannya.”

Aku makan dua suapan. Supnya terasa hangat, tetapi semua bagian di dalam diriku terasa membeku. "Kapan kau dan Bella memulai semua ini?"

Jari-jari Lukas mencengkeram gelasnya lebih erat. "Di malam ulang tahunmu," katanya. "Aku mabuk di pesta Keluarga Voltera. Bella bilang kami sudah menghabiskan malam bersama. Beberapa minggu kemudian, dia memberitahuku bahwa dia hamil."

Sembilan bulan yang lalu, pada hari ulang tahunku, dia memang menghilang. Aku bahkan sampai mencari di sepanjang jalan tepi danau, kota, pom bensin, dan setiap jalan terpencil sampai fajar menyingsing. Keesokan paginya, dia pulang dengan wajah kelelahan dan mengatakan bahwa dia telah terjebak badai salju saat ingin mengambil hadiahku dan kemudian tersesat.

Dia mengeluarkan sebuah kotak musik perak kecil dari dalam mantelnya. Di atas tutupnya, ada ukiran kalimat, [Untuk Arina-ku, dan untuk semua pagi yang belum kita lalui bersama].

Aku sudah terjaga sepanjang malam, merasa ketakutan dan juga marah, tetapi hadiah itu langsung meluluhkan hatiku sebelum sempat menyalahkannya.

Sekarang aku tahu kalau ternyata dia tidak tersesat. Dia berada di pesta pribadi Keluarga Voltera, menegosiasikan sebuah pernikahan dengan Bella. Mungkin, dia juga berada di tempat tidur wanita itu.

Aku menatap pria yang telah kucintai selama tiga tahun itu. "Lukas, apa kau bisa tidak usah menikah dengannya?"

Dia tertawa getir. "Kalau aku tidak menikahinya, apa yang kau harapkan dariku? Menikahimu?"

"Bella itu putri Michael Voltera. Di belakangnya ada bisnis perdagangan senjata, dermaga, senator, dan bank. Tapi, apa yang kau punya?" Alisnya berkerut saat dia menatapku. "Arina, kau menanam bunga, membuat selai .... Kau membangun kehidupan kecil yang bersih dari sesuatu yang hampir kosong. Tapi rumah utama Keluarga Moreno tidak sama dengan rumah di tepi danau. Setiap kata di sana dipertaruhkan dengan darah dan uang."

"Jadi, tiga tahun hubungan kita masih kalah dengan sebuah nama keluarga?"

Dia pun terdiam. Ketika kembali berbicara, suaranya merendah. "Dalam keluarga mafia, cinta baru datang setelah kekuasaan. Tanpa status sebagai Bos Mafia, aku tidak akan bisa melindungi siapa pun."

Kram yang sangat tajam tiba-tiba terasa di perut bagian bawahku hingga tubuhku membungkuk menahan sakit.

Wajah Lukas langsung berubah. Dia meraihku, dan aku mencengkeram lengannya saat keringat dingin mulai mengucur di kulitku. "Kurasa aku akan melahirkan. Bawa aku ke rumah sakit sekarang."

Namun, dia tidak bergerak.

Aku menatapnya, dan sebuah kecurigaan yang mengerikan mulai merayap di benakku.

Lukas menghindari tatapanku. “Aku memasukkan sesuatu ke dalam supmu. Dosis kecil untuk menekan kontraksi. Jangan takut, itu tidak akan menyakiti bayi kita. Itu hanya untuk menunda waktu kelahiran selama beberapa hari.”

Untuk sesaat, yang bisa kudengar hanyalah suara berdenging yang nyaring di telingaku. "Kau memberiku obat?"

"Bella bilang dokter spesialis menggunakan ini untuk kehamilan beresiko tinggi," katanya. “Ini hanya untuk menunda waktu beberapa hari saja. Anaknya harus lahir duluan agar seluruh keluarga mau menerimanya sebagai ahli waris sahku. Begitu Bella melahirkan, aku akan langsung membawamu ke rumah sakit. Bayi kita akan baik-baik saja.”

Rasa sakit itu datang lagi, dan kali ini lebih cepat dan lebih hebat. Aku mencengkeram tepi meja sampai kuku-kukuku bengkok. “Lukas, ini sakit sekali. Ini tidak normal. Kau harus membawaku ke dokter sekarang juga.”

“Aku tidak sedang berpura-pura.” Air mata mengaburkan pandanganku. “Kumohon. Percayalah padaku sekali saja. Panggilkan dokter.”

Rahangnya mengencang, seolah-olah rasa sakitku ini menjadi hal yang merepotkan. “Arina, jangan gunakan ini untuk memaksaku. Semakin banyak suara yang kau buat, semakin besar kemungkinan Keluarga Voltera mengetahui tentangmu. Kalau itu sampai terjadi, bahkan aku pun tidak bisa melindungimu.”

Aku meraih tangannya dengan sisa kekuatan dan memaksakan setiap kata keluar dari mulutku. "Lukas Moreno, dengarkan aku baik-baik. Aku bukan wanita biasa seperti yang kau kira. Namaku Arina Castelo. Aku putri Vino Castelo. Hubungi dokter pribadi ayahku sekarang juga dan selamatkan anak kita."

Wajahnya memerah.

"Cukup!" Dia menarik tangannya. "Harus ada batasan saat berbohong. Apa kau tahu yang terjadi pada orang-orang yang berpura-pura menjadi bagian dari Keluarga Castelo?"

Dia berdiri, kilatan amarah dan kesedihan bercampur di sorot matanya. "Tenanglah. Setelah Bella melahirkan dengan selamat, aku sendiri yang akan kembali dan membawamu ke rumah sakit."

Pintu pun tertutup di belakangnya.

Aku merosot ke lantai, satu tangan menekan perut, dan secercah harapan terakhir yang rapuh di dalam diriku pun akhirnya sirna.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Harga Sebuah Ambisi : Status dan Tahta   Bab 7

    Tiga bulan kemudian, ayah akhirnya setuju untuk mengizinkanku pindah dari rumah utama.Awalnya, dia menolak keras. Kemudian, aku duduk di ruang kerjanya sepanjang sore dengan Maria di pelukanku. Pada akhirnya, dia kalah oleh satu kuapan mengantuk dari cucunya. Dia lalu menandatangani surat persetujuan itu dengan wajah muram dan menugaskan dua tim keamanan tambahan, bahkan sebelum aku sempat berterima kasih padanya.Aku kembali memilih tempat di tepi danau, tetapi bukan rumah yang dulu. Yang ini berdiri dekat dengan kediaman Keluarga Castelo, dengan bukit di belakangnya, dan hamparan air di depannya, serta deretan pohon mapel perak di sepanjang jalan.Aku membangun sebuah rumah kayu baru, memasang pagar putih, dan memenuhi halaman dengan tanaman tomat, min, dan bunga matahari. Setiap beberapa hari, ayah akan mengirimkan satu truk penuh berisi barang-barang, ada susu formula, pakaian bayi, kaca anti peluru, sampai sistem keamanan baru ... seolah-olah dia bermaksud memindahkan seluruh isi

  • Harga Sebuah Ambisi : Status dan Tahta   Bab 6

    Sebulan kemudian, tubuhku sudah cukup pulih untuk bisa berjalan menuruni tangga.Ayah sengaja membangun sebuah rumah kaca kecil di belakang kediaman kami. Di dalamnya terdapat tanaman tomat, kemangi, dan stroberi."Kau suka bercocok tanam, kan?" katanya dari ambang pintu. Suaranya terdengar canggung seperti seorang Ketua Komisi Tinggi dunia mafia yang ditakuti ketika sedang mencoba bersikap lembut. "Tanam apa pun yang kau mau. Kalau ini masih tidak cukup, Papa akan lebarkan lagi."Aku melihat tanah gembur yang telah dibajak itu dan mulai tertawa. Kemudian tawa itu mendadak berhenti, dan air mata kembali mengalir di wajahku.Ayah langsung mengerutkan kening. "Kau tidak suka? Papa akan minta orang bongkar dan membuat ulang.""Tidak perlu." Aku menyeka pipiku. "Aku sangat suka."Dan, aku bersungguh-sungguh mengatakannya.Aku tidak pernah benar-benar menginginkan sebuah tahta, mahkota, atau pun ruangan penuh pria yang menundukkan kepala mereka di hadapanku. Aku hanya menginginkan sebuah la

  • Harga Sebuah Ambisi : Status dan Tahta   Bab 5

    Saat kami kembali ke kediaman Keluarga Castelo, waktu sudah malam.Ketika pergi tiga tahun lalu, aku pikir kediaman ini seperti sebuah sangkar emas. Namun sekarang, saat mobil melaju melewati gerbang besi dan melihat lampu menyala di jendela rumah utama, aku merasakan sesuatu yang sudah lama tidak kurasakan.Aku sudah pulang.Ayah tidak memarahiku. Dia berdiri di luar dinding kaca ruangan pusat medis dan mengamati bayi mungil di dalam inkubator itu untuk waktu yang sangat lama, matanya tampak merah."Siapa namanya?" tanya ayahku.Aku melihat kepalan tangan putriku dari balik kaca. "Maria ... Maria Castelo."Ayah mengangguk, suaranya terdengar serak. "Bagus. Dia menggunakan marga keluarga kita."Dokter mengatakan bahwa Maria berhasil selamat karena penanganan medis bisa dilakukan tepat waktu. Dia masih harus terus diobservasi, tetapi masa kritisnya telah berlalu. Sedangkan untukku, efek obat-obatan, kehilangan banyak darah, dan operasi sesar darurat telah merusak tubuhku. Proses pemulih

  • Harga Sebuah Ambisi : Status dan Tahta   Bab 4

    Aula pernikahan itu menjadi sunyi senyap.Buket bunga Bella bergetar di tangan dan wajah Lukas menjadi pucat pasi di tempatnya berdiri.Lalu, aku muncul dari balik tubuh ayahku, duduk di kursi roda dan didorong oleh dokter pribadi.Aku mengenakan gaun beludru hitam dengan selendang bulu putih yang melingkar di bahu. Mahkota yang telah menjadi bahan gosip selama tiga hari itu, Mahkota Bintang Castelo, tampak tersemat indah di rambutku. Di bawah siraman cahaya lampu, berlian-berlian itu tampak berkilauan seperti salju yang dingin.Kotak cincin terlepas dari tangan Lukas dan jatuh ke lantai. Suara benturannya kecil, tetapi semua orang bisa mendengarnya dengan jelas."Arina?"Aku berhenti tepat di depannya dan menatapnya dengan tenang. "Selamat atas pernikahanmu, Tuan Lukas Moreno."Bella merobek tudung pengantinnya. "Apa kau gila? Kau berani sekali berpura-pura menjadi seorang Castelo dan mengacaukan pernikahanku?"Kepala pengawal ayahku melangkah maju. "Buka matamu lebar-lebar. Lambang K

  • Harga Sebuah Ambisi : Status dan Tahta   Bab 3

    Rumah persembunyian itu menjadi sunyi senyap setelah kepergian Lukas.Rasa sakit menjalar dari perut ke punggung bawahku hingga saat bernapas terasa seperti sebuah siksaan berat. Darah hangat mulai mengalir di pahaku. Aku bersandar di dinding dan menyeret diriku sedikit demi sedikit menuju rak buku, jari-jariku yang gemetaran berhasil menemukan sampul usang dari sebuah buku resep masakan.Tersembunyi di dalam sampul itu adalah sebuah pemancar darurat yang telah kubawa saat meninggalkan rumah. Ayahku pernah mengatakan bahwa jika aku menekannya, maka Keluarga Castelo akan langsung menemukanku.Dulu, aku menyebut ayahku sebagai sosok gila yang suka mengendalikan. Sekarang aku mengerti bahwa tidak setiap sangkar dibuat untuk mengurungmu. Beberapa di antaranya dibangun oleh orang-orang yang tahu betul bahwa dunia ini penuh dengan bahaya.Aku menekan tombol itu. Lampu merahnya berkedip tiga kali di telapak tanganku.Beberapa menit kemudian, terdengar suara kunci pintu.Untuk sesaat, aku semp

  • Harga Sebuah Ambisi : Status dan Tahta   Bab 2

    Malam itu, Lukas kembali dengan wadah termos berisi sup labu. Dia duduk di hadapanku seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa hari itu, lalu meletakkan sendok di tanganku. “Makanlah. Bayi kita membutuhkannya.”Aku makan dua suapan. Supnya terasa hangat, tetapi semua bagian di dalam diriku terasa membeku. "Kapan kau dan Bella memulai semua ini?"Jari-jari Lukas mencengkeram gelasnya lebih erat. "Di malam ulang tahunmu," katanya. "Aku mabuk di pesta Keluarga Voltera. Bella bilang kami sudah menghabiskan malam bersama. Beberapa minggu kemudian, dia memberitahuku bahwa dia hamil."Sembilan bulan yang lalu, pada hari ulang tahunku, dia memang menghilang. Aku bahkan sampai mencari di sepanjang jalan tepi danau, kota, pom bensin, dan setiap jalan terpencil sampai fajar menyingsing. Keesokan paginya, dia pulang dengan wajah kelelahan dan mengatakan bahwa dia telah terjebak badai salju saat ingin mengambil hadiahku dan kemudian tersesat.Dia mengeluarkan sebuah kotak musik perak kecil dari dala

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status