Mag-log inPemakaman Ethan diadakan tiga hari kemudian setelah dilakukan otopsi.Aku berdiri di depan peti mati kecil berwarna putih, dihiasi bunga-bunga yang aku pilih sendiri - bunga matahari, kesukaan Ethan. Di dalam peti itu, anakku terbaring dengan tenang, tangannya yang kecil memegang dinosaurus plastik kesayangannya, yang aku letakkan di sampingnya sebelum peti ditutup.Aku tidak menangis. Aku sudah kehabisan air mata. Yang tersisa hanyalah hampa yang begitu dalam, seperti lubang hitam di dadaku yang menelan semua perasaan.Adrian dan Sebastian berdiri di sampingku, diam. Mereka mengenakan jas hitam, wajah mereka tegang dan penuh kesedihan. Beberapa pelayan dari mansion datang, menunduk, tidak berani menatapku. Aku tidak peduli.Aku hanya menatap peti mati itu, mengingat senyum Ethan, tawanya, cara dia memanggilku "Mommy" dengan suara kecilnya yang manis."Ethan," bisikku, suaraku nyaris tak terdengar. "Aku janji, aku akan menemukan siapa yang melakukan ini padamu. Aku janji mereka akan
Adrian berjanji akan segera menghubungi pengacara Leon, tapi aku tidak bisa menunggu. Ada sesuatu yang menggelayuti pikiranku, Ethan. Aku sudah meninggalkannya terlalu lama. Aku sudah menitipkannya pada pelayan di mansion, pada wanita tua yang selalu ramah dan penuh perhatian. Tapi dengan Clara yang sudah mengambil alih segalanya, aku tidak tahu apakah Ethan masih aman."Ana, kau harus istirahat dulu," kata Sebastian, tangannya di bahuku. "Kau tidak bisa terus seperti ini.""Ethan. Aku harus menjemput Ethan. Dia ada di mansion. Clara bisa melakukan apa saja padanya.""Aku akan mengantarmu," kata Adrian.Aku menggeleng. "Aku akan pergi sendiri. Kalian berdua urus pengacara. Kita tidak bisa membiarkan Clara mengambil semua yang Leon perjuangkan."Adrian dan Sebastian saling berpandangan, lalu Adrian mengangguk. "Baik. Tapi telepon kami jika ada masalah. Janji.""Aku janji."Aku naik taksi menuju mansion. Di dalam mobil, tanganku terus gemetar. Aku mencoba menelepon pelayan yang aku per
Aku menghabiskan setiap momen di samping Leon, duduk di kursi plastik yang dingin di samping tempat tidurnya di ICU. Tubuhnya terhubung ke berbagai mesin yang berdesis dan berdetak, monitor jantung menampilkan garis hijau yang naik turun dengan ritme yang tidak pernah terasa cukup stabil bagiku.Leon tidak sadarkan diri, tidak bergerak, hanya sesekali jari-jarinya bergerak seperti dia berusaha meraih sesuatu dalam mimpinya.Aku memegang tangannya setiap hari. Aku berbicara padanya. Aku menceritakan tentang Ethan, tentang bagaimana dia bertanya setiap pagi, "Kapan Ayah pulang?"Adrian dan Sebastian bergiliran menjagaku. Mereka membawakan makanan yang aku tidak bisa makan, secangkir kopi yang dingin sebelum aku menyentuhnya. Mereka duduk di ruang tunggu, wajah mereka lelah, tapi mereka tidak pernah pergi."Apa kau sudah tidur?" tanya Sebastian suatu malam, tangannya di pundakku."Aku tidak bisa," kataku, mataku tidak lepas dari Leon. "Bagaimana aku bisa tidur ketika dia terbaring di sin
Keadaan Leon memburuk dengan cepat.Seminggu setelah kunjungan ke museum, aku melihat perubahan yang tidak bisa aku abaikan. Leon lebih sering memegang dadanya, napasnya lebih pendek, dan kulitnya semakin pucat. Dia masih berusaha tersenyum, masih berusaha menjadi ayah yang sempurna untuk Ethan, tapi aku bisa melihat dia berjuang.Kamis malam, aku terbangun oleh suara batuk yang keras. Leon duduk di tepi tempat tidur, tangannya menekan dadanya, wajahnya basah oleh keringat. Lampu kamar masih redup, tapi aku bisa melihat betapa buruk kondisinya."Leon!" aku duduk dengan cepat, tanganku meraih bahunya. "Kau tidak baik-baik saja. Aku akan menelepon ambulans.""Tidak, aku hanya...""KAU TIDAK BAIK-BAIK SAJA!" teriakku, panik. "Aku tidak peduli apa kata dokter atau siapa pun. Aku tidak akan membiarkanmu mati di sini!"Aku meraih ponselku, jari-jariku gemetar saat menekan nomor darurat. Leon mencoba meraih tanganku, tapi tangannya lemas, dan dia jatuh kembali ke tempat tidur, matanya terpej
Hari minggu tiba.Aku turun dari tempat tidur, mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda yang Leon belikan untukku beberapa hari yang lalu. Aku tidak pernah memintanya, tapi dia membelikannya entah bagaimana, dan ketika aku melihatnya tergantung di lemari. Gaun itu sederhana, tidak mewah, tapi indah untuk bentuk tubuhku yang sekarang.Di ruang makan, Ethan sudah duduk di kursinya, memakan sereal dengan lahap. Leon duduk di sampingnya, menatap Ethan dengan senyum yang tidak pernah hilang dari wajahnya sejak hasil tes DNA keluar. Aku bisa melihat betapa Leon berusaha menjadi ayah yang baik, hadir di setiap momen, menikmati setiap detik bersama anaknya."Mom!" teriak Ethan begitu melihatku. "Daddy bilang kita pergi ke museum hari ini!""Apa kau senang?""Sangat senang! Aku mau lihat dinosaurus!"Leon tertawa, suaranya hangat. "Aku janji, hari ini kita lihat dinosaurus sepuasnya."Kami sarapan bersama. Ethan berbicara tanpa henti tentang dinosaurus, tentang tulang-tulang raksasa yang d
Aku menatap Leon, matanya masih merah, wajahnya masih basah oleh air mata. Kata-katanya tentang Clara terngiang di kepalaku—tentang bagaimana Clara memilih Richard, tentang bagaimana Leon merasa dikhianati oleh putri sambungnya sendiri. Aku bisa melihat rasa sakit di balik matanya yang tenang, luka yang dia sembunyikan di balik ketegasan dan kekuatan.Tapi ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku. Sesuatu yang lebih dalam dari sekedar ketakutan akan pernikahan. Sesuatu yang selama ini aku pendam, yang aku kubur begitu dalam di bawah semua rasa sakit dan trauma."Apa artinya pernikahan bagimu, Leon?" tanyaku.Leon menatapku, sedikit terkejut dengan pertanyaan itu."Apa maksudmu?""Aku serius. Apa artinya pernikahan? Bagiku, pernikahan hanyalah jerat seumur hidup. Sebuah sangkar yang aku masuki dengan sukarela, tapi begitu pintunya tertutup, aku tidak bisa keluar lagi. Aku kehilangan kebebasanku. Aku kehilangan diriku sendiri."Leon membuka mulutnya, tapi aku terus bicara. Aku tidak bis
Dua hari berlalu. Aku berusaha menghindari Tuan Leon dan tamu-tamunya. Aku bekerja lebih keras dari biasanya. Aku membersihkan setiap sudut mansion, mencuci pakaian Clara hingga wangi, bahkan menyapu halaman yang tidak pernah aku sentuh sebelumnya. Aku berharap dengan bekerja keras, semuanya akan
Aku menghentikan langkah.Tubuhku kaku seperti patung. Kata-kata Tuan Leon menusuk dari belakang, tajam dan dingin, seperti ujung pisau yang ditempelkan di leher."Siapa yang mengajarimu bersikap tidak sopan seperti itu?"Aku tidak berani menoleh. Mataku terasa panas. Air mata menggenang di pelupuk
Barang miliknya.Aku bukan barang dan aku bukan milik siapapun.Tuan Leon melepaskan tangannya dari perutku perlahan, kemudian dia berjalan kembali ke meja billiard, mengambil stik yang tadi diletakkannya, dan melanjutkan permainan seolah tidak ada yang terjadi.Seolah dia tidak baru saja menyelama
Aku menghela napas panjang, perintah Clara adalah perintah. Jika tidak datang, dia akan marah. Aku sudah hafal betapa buruknya amarah itu, benda-benda bisa terbang, kata-katanyabisa lebih tajam dari pisau, dan aku bisa diusir dari rumah besar ini.Jadi aku berjalan menyusuri koridor panjang mansion







