LOGINMobil berhenti di depan gerbang besi tempa yang berdiri kokoh di antara pepohonan pinus, kabut tipis menyelimuti jalan setapak berbatu yang mengarah ke bangunan utama.
"Sudah sampai?" Manisha melepas sabuk pengamannya, menatap keluar jendela. "Ayo turun," Rama mematikan mesin lalu bergegas turun lebih dulu, berjalan memutar ke sisi Manisha sebelum wanita itu sempat membuka pintunya sendiri. Pintu terbuka dari luar. "Hati-hati, jalannya berbatu." Rama mengulurkan tangannya. Manisha menatap tangan itu sejenak. Dia memilih turun sendiri tanpa menyentuhnya. "Aku bisa jalan sendiri, Rama." "Aku tahu kau bisa." Rama menarik tangannya kembali tanpa tersinggung dan melepas jasnya, menyampirkannya begitu saja di bahu Manisha. "Dingin. Pakai ini." "Kau selalu begini pada semua wanita?" "Belum pernah." Rama tersenyum kecil, mulai berjalan lebih dulu ke arah pintu utama. "Kau yang pertama." “Semua pria pemain mengatakan hal yang sama,” ejek Manisha. Rama membuka pintu lebar-lebar, mempersilakan Manisha masuk terlebih dahulu. Begitu pintu utama terbuka, hangat langsung menyambut. Lantai marmer krem berpadu karpet bulu tebal berwarna gading membentang dari pintu masuk hingga ruang duduk utama. "Wah!" Manisha berhenti sejenak di ambang pintu, matanya menyapu ruangan. "Kau bilang ini kencan tidak resmi tetapi ini lebih mewah dari restoran manapun yang pernah aku datangi." "Ini villaku yang biasa digunakan untuk melepas penat." Rama melangkah masuk, membiarkan Manisha mengikuti dengan langkahnya sendiri. "Kantor cuma tempat aku bekerja. Di sini, aku bisa menjadi diriku sendiri." Langit-langit tinggi menampilkan balok kayu ekspos yang sengaja dibiarkan alami, memberi kesan hangat di tengah kemewahan yang tidak berlebihan. Perapian batu besar menjadi pusat ruangan, apinya sudah menyala, dipersiapkan pelayan sebelum mereka tiba. "Duduklah dulu." Rama menunjuk sofa panjang di depan perapian, menunggu Manisha memilih tempatnya sendiri sebelum ikut duduk di kursi berlengan kulit cokelat tua di seberangnya, menjaga jarak yang wajar. Manisha melepas jas Rama dari bahunya, melipatnya rapi, kemudian meletakkannya di sandaran sofa, bukan mengembalikannya langsung. "Kau tidak duduk lebih dekat?" "Aku ingin, tapi kau belum bilang boleh." Rama menyandarkan punggungnya, menatap api yang menari di depan mereka. "Jadi aku duduk di sini saja, sampai diperbolehkan." Di salah satu sudut, jendela kaca setinggi dua lantai memperlihatkan pemandangan lembah gelap yang dihiasi kerlip lampu rumah penduduk jauh di bawah, seolah menyatu dengan langit berbintang. Manisha menoleh ke arah jendela itu sebentar, lalu kembali menatap Rama. "Aku tidak menyangka ternyata seleramu seperti ini," gumam Manisha, lebih kepada diri sendiri daripada pertanyaan untuk Rama, sambil akhirnya memilih duduk di sofa, tangannya menghangatkan diri di dekat api. "Kecewa?" "Tidak juga." Manisha menyandarkan punggungnya. "Aku tadi menebak, kau akan membawaku ke restoran." "Restoran mahal itu untuk kencan resmi." Rama duduk di kursi sebelahnya. "Ini kencan tidak resmi. Kau sendiri yang bilang begitu." "Aku memang tidak suka." "Kenapa?" Rama menatap penuh perhatian. "Dari semalam aku penasaran. Kau ini sangat beda dari perempuan yang pernah aku temui." "Beda bagaimana?" "Yang lain berlomba-lomba membuatku terkesan. Kau malah sibuk menolakku." Manisha tertawa kecil, tapi matanya tidak benar-benar ikut tertawa. "Karena aku pernah jadi mainan seseorang yang pandai memakai topeng." Rama diam sejenak. "Siapa dia?" "Bukan urusanmu." Manisha menatap api. "Yang jelas, sejak itu aku buat aturan. Buatku itu semacam perlindungan." "Aturan apa?" "Aturan Main. Aku lebih suka membuat peraturan sebelum bermain lebih jauh." Manisha menoleh, senyumnya tipis tapi tajam. "Kau serius?" Rama mengernyit. "Aku baru mengenalmu beberapa hari dan sudah menantangku main tebak-tebakan?" "Aku tidak menantangmu main tebak-tebakan." Manisha berdiri, berjalan mendekati pagar kayu di ujung teras. "Aku menantangmu untuk buktikan kau berbeda dari yang lain." "Bagaimana caranya aku buktikan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu?" "Itu masalahmu." Manisha memunggunginya, suaranya terbawa angin malam. "Bukan masalahku." Rama berdiri, ikut melangkah mendekat, berhenti tepat di sampingnya. "Kau selalu seperti ini sama semua orang, atau spesial buatku saja?" "Belum ada yang bertahan cukup lama untuk tahu jawabannya." "Berapa lama biasanya mereka bertahan?" "Tidak sampai malam pertama." Manisha menoleh, menatapnya lurus-lurus. "Kau sendiri sudah hampir gagal di garden pavilion kemarin." "Aku tidak gagal. Aku cuma belum tahu peraturannya." "Itu justru masalahnya." Manisha melangkah mendekat, berhenti di depan Rama, memaksanya sedikit menunduk untuk tetap sejajar dengan tatapannya. "Kau pikir semua hal bisa kau selesaikan kalau kau sudah tahu peraturannya. Padahal yang terpenting adalah menjalankan aturan mainnya." "Jadi maksudmu, aku harus belajar sambil jalan?" "Kalau kau memang niat." Manisha mundur satu langkah, tersenyum, kali ini lebih puas dengan dirinya sendiri. "Jadi, Pramadya Harsa Danudirja. Kau mau ikut aturanku atau tidak?" Rama menatapnya lama, mencoba mencari petunjuk apa pun di balik wajah tenang itu. Tidak ada. Manisha benar-benar tidak berniat memberi tahu apa-apa. "Kalau aku bilang tidak?" "Maka kita berhenti di sini." Manisha mengangkat bahu, ringan, seolah tidak masalah baginya. "Aku akan menganggap malam ini cuma kencan tidak resmi yang gagal." "Kalau aku bilang ya?" "Maka kau akan tahu, kenapa aku sebegini hati-hati dengan orang sepertimu." Manisha melangkah semakin dekat. "Tapi ingat, Rama. Aku tidak akan mengulang peringatan ini dua kali." Sudut bibirnya tertarik tipis. "Jadi? Ya atau tidak?" Rama diam sejenak, memandangi Manisha lamat-lamat lalu menjawab. "Baik, aku ikut." "Kau yakin?" "Kalau aku bilang tidak yakin, kau akan berhenti menawarkan?" "Tidak." Manisha tersenyum puas. "Tapi setidaknya aku senang kau jujur." "Jadi sekarang, apa aturannya?" "Aku tahu kau akan bertanya itu." Manisha berjalan mundur menuju pintu villa. "Mari kita bahas peraturannya. Kau siap?" "Aku sangat siap." Rama hampir berteriak. Manisha tersenyum manis. Seolah menjebak dan membius Rama dengan pesonanya. "Selamat datang di permainan.""Sinta, kamu tidak boleh pergi," ucap Rama, suaranya tegas, membuat baik Manisha maupun Sinta sama-sama terkejut menatapnya."Apa?" Sinta menatap tidak percaya. "Tapi aku sudah putuskan ini yang terbaik.""Kamu tidak punya keluarga, tidak punya tempat lain untuk pergi, Sinta. Kalau kamu keluar dari sini sekarang, kemana kamu akan tinggal? Kembali ke kontrakan yang atapnya bocor? Kembali kerja serabutan tanpa jaminan apa-apa?"Manisha berdiri mematung, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Rama, apa maksud kamu?""Maksud aku, Sha, aku tidak bisa membiarkan dia kembali ke kondisi yang sama seperti sebelumnya," jawab Rama, menoleh sebentar ke arah istrinya sebelum kembali menatap Sinta. "Aku sudah bertanggung jawab sejauh ini. Aku tidak akan berhenti di tengah jalan.""Rama," suara Manisha bergetar, "kamu dengar, kan? Sinta sendiri yang bilang mau pergi, demi pernikahan kita. Kenapa kamu malah melarang dia?""Karena ini bukan solusi, Sha! Kalau dia pergi tanpa tujuan yang j
"Kamu tidak boleh ke sana, Sha," ucap Rama, suaranya masih parau, pipinya masih memerah bekas tamparan Manisha. "Malam ini, kamu lagi kacau. Aku tidak mau kalian bertemu dalam kondisi seperti ini.""Aku harus ketemu dia sekarang, Rama!" Manisha berdiri, matanya masih basah tapi tatapannya keras, penuh keteguhan yang tidak lagi bisa ditawar. "Aku lelah menunggu kamu siap cerita. Aku lelah menunggu waktu yang tepat menurut kamu. Sekarang aku yang nentuin waktunya.""Sha, ini tengah malam. Villa itu jauh, jalannya berkelok, aku tidak mau kamu—""Aku tidak peduli jam berapa, Rama! Aku tidak peduli jauh sekalipun! Antarkan aku sekarang, atau aku akan cari sendiri!"Rama menatap Manisha lama, mengenali keteguhan yang sama seperti dulu. Saat istrinya nekat mencari tahu sendiri meski sudah dilarang berkali-kali. Ia tahu, kalau ia tetap menolak, Manisha akan tetap pergi dengan atau tanpa dirinya, dan itu jauh lebih berbahaya."Baik," ucap Rama akhirnya, suaranya berat. "Aku antar. Tapi kamu ha
"Rama, jawab aku," desak Manisha, suaranya kini nyaris berbisik. Dipenuhi ketakutan yang tidak lagi bisa ia sembunyikan. "Kamu punya perempuan lain, ya?"Rama spontan menatap Manisha setelah menunduk cukup lama. Dadanya naik turun menahan sesuatu yang sudah terlalu lama ia pendam sendirian. Kedua tangannya dicengkram kuat seperti mencoba menahan diri. Sepasang matanya yang biasa begitu tegas kini basah. Bergetar menahan sesuatu yang jauh lebih rapuh dari amarah."Bukan perempuan lain, Sha," ucap Rama akhirnya Suaranya pecah di tengah kalimat. "Ini Sinta."Ruangan seketika hening. Sunyi yang begitu tebal hingga Manisha bisa mendengar detak jantungnya sendiri berpacu keras di telinga. Bahkan bisa mendengar detik jam dinding yang biasanya tidak pernah ia sadari. Kata itu, nama itu, menghantam lebih keras dari apa pun yang pernah ia bayangkan selama berbulan-bulan penuh ketakutan dan kecurigaan."Sinta?" bisik Manisha bergetar hebat. Air mata sudah menggenang tanpa sempat ia tahan. Mengal
Dua minggu setelah vonis Wirawan dijatuhkan, hidup Rama dan Manisha perlahan mulai kembali ke ritme yang lebih tenang. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama, karena Manisha mulai menyadari sesuatu yang berbeda dari kebiasaan suaminya belakangan ini.Rama semakin sering pulang larut, bukan lagi karena rapat dengan tim legal soal kasus Wirawan yang sudah selesai. Melainkan dengan alasan yang semakin samar setiap kali Manisha bertanya."Rama, kamu dari mana lagi malam-malam begini?" tanya Manisha ketika Rama pulang jam sepuluh malam. Jasnya lusuh dan wajahnya lelah."Ada urusan pekerjaan, Sha. Proyek baru yang sedang aku kerjakan.""Proyek apa? Bukannya kasus Wirawan sudah selesai dan proyek Hartono juga sudah ditangani?""Proyek lain, Sha. Nanti aku ceritain kalau udah pasti."Jawaban seperti itu terus berulang selama beberapa hari, membuat Manisha semakin gelisah tanpa bisa menjelaskan alasannya dengan pasti. Ia mencoba menepis kecurigaan itu, mengingatkan dirinya sendiri bahwa R
Kabar dari Leila soal Sinta yang masih hidup membuat malam itu terasa panjang bagi Manisha. Namun keesokan paginya, hidup harus tetap berjalan dan hari itu adalah hari peradilan resmi Pak Wirawan yang selama ini menjadi dalang di balik dua kebakaran yang mengancam nyawa mereka.Rama mendapat telepon dari kepolisian pagi-pagi sekali, memintanya datang ke kantor polisi untuk memberikan keterangan tambahan sekaligus menyaksikan proses penangkapan yang sudah direncanakan sejak semalam."Sha, aku harus ke kantor polisi sekarang," ucap Rama sudah mengenakan jasnya dengan tergesa."Aku ikut, Rama.""Sha, ini bisa jadi situasi yang tidak nyaman. Wirawan orangnya licik, dia bisa saja cari cara buat memperkeruh suasana.""Aku tidak peduli, Rama. Aku ingin lihat sendiri orang yang sudah membuat hidup kita berantakan selama ini."Rama akhirnya mengalah, membawa Manisha bersamanya dengan ditemani dua pengawal tambahan untuk berjaga-jaga. Sesampainya di kantor polisi, mereka disambut oleh penyidik
Beberapa hari setelah kebakaran di kantor, tim penyelidik gabungan dari kepolisian dan detektif pribadi yang disewa Rama akhirnya menemukan titik terang. Rama dan Manisha memenuhi panggilan penyidik untuk mengetahui perkembangan informasi. "Pak Rama, kami sudah bandingkan pola kebakaran di kantor dengan kebakaran rumah Bapak beberapa waktu lalu," ucap penyidik itu sambil membuka map berisi laporan. "Modusnya mirip, sama-sama menggunakan celah kecil yang sengaja diciptakan untuk terlihat seperti kecelakaan." "Jadi ini orang yang sama, Pak?" tanya Rama. "Kami yakin begitu. Tim kami sudah berhasil melacak salah satu tersangka lewat rekaman CCTV di sekitar kantor Bapak." Penyidik itu menunjukkan foto seorang pria paruh baya. Wajahnya asing bagi Manisha, tetapi begitu Rama melihatnya, dia sudah tahu siapa sosok yang tengah memancing segala teror di hidupnya. "Ini Pak Wirawan," desis Rama, suaranya penuh kemarahan yang tertahan. "Pesaing bisnis saya dari perusahaan properti sebelah







