LOGIN
Apartemen itu selalu sunyi. Bagi Arion, keheningan adalah sebuah kemewahan yang ia bangun dengan keringat dan pengorbanan. Suara yang mengisi ruangan hanyalah dengungan pendingin ruangan, irama konstan dari ketukan halus keyboard, dan gemericik air hujan yang memantul di kaca jendela, seolah alam pun ikut menenangkan dunianya.
Arion duduk tegak di depan meja belajarnya, menatap layar laptop dengan mata yang nyaris tak berkedip. Cahaya putih kebiruan dari layar itu menerangi wajahnya yang kaku, menyorot garis rahang yang keras dan bibir yang terkatup rapat.
Di sekelilingnya, ruangan tampak begitu bersih, rapi, nyaris steril dari barang-barang yang tidak perlu. Buku-buku tersusun rapi di rak, disusun berdasarkan subjek dan ukuran, pakaian dilipat sempurna di lemari, dan setiap perabot tertata dengan jarak yang pas. Tidak ada satu pun yang mengganggu harmoni.
Inilah dunianya. Sebuah benteng pribadi yang ia bangun dengan susah payah, batu demi batu, jauh dari kebisingan, jauh dari drama, dan jauh dari kata "keluarga" yang baginya sudah kehilangan maknanya. Keluarga baginya hanyalah janji rapuh, sebuah ikatan yang mudah retak hanya karena ego dan pengkhianatan. Ia telah memutuskan hubungan itu sejak lama, atau setidaknya, ia mencoba.
Ketika akhirnya kedamaian yang ia cintai itu pecah saat layar ponselnya menyala, memancarkan nama yang sudah lama tak ingin ia lihat. Nama itu seperti bel peringatan, sebuah pengingat akan masa lalu yang ingin ia kubur dalam-dalam.
Arion menarik napas panjang, jari-jarinya sempat ragu sebelum menyentuh tombol hijau, seolah menunda detik-detik kehancuran yang akan datang.
"Ya?" suaranya datar, tanpa emosi, sebuah perisai yang selalu ia gunakan saat berbicara dengan pria itu.
"Arion, Ayah titip adik kamu, ya. Dia tinggal sama kamu," suara ayahnya terdengar santai, seolah mengumumkan sesuatu yang sepele. Tidak ada nada meminta maaf, tidak ada penjelasan, hanya perintah.
Alis Arion mengerut. "Adik?" suaranya meninggi, sebuah tanda bahwa perisainya mulai retak. "Memangnya aku punya adik?"
"Namanya Shana, itu adik tiri kamu," jawaban itu meluncur tanpa jeda, seakan-akan sudah dipikirkan jauh-jauh hari. "Besok sore dia sampai di apartemenmu. Ayah rasa urusan kuliah dan keamanannya lebih terjamin kalau dia sama kamu."
Arion berdiri dari kursinya, tangannya mengepal di sisi tubuh. "Kenapa harus di apartemenku? Bukankah ayah bisa menyewakan tempat lain?"
"Itu lho, adik kamu kan masuk kampus di dekat situ. Pokoknya jagain baik-baik," sahut sang ayah, menghindari semua pertanyaan Arion. Setelah itu, telepon terputus begitu saja. Tanpa basa-basi. Tanpa ucapan selamat tinggal.
Arion menatap layar ponselnya yang kini gelap, rahangnya mengeras, urat di lehernya menegang. Ia ingin membanting benda itu ke lantai, menghancurkannya berkeping-keping, sama seperti hatinya yang dulu dihancurkan.
Kata-kata ayahnya berputar di kepala.
Dadanya terasa sesak, seolah ada beban berat yang menindih. Sejak kapan ia punya adik? Sejak kapan pernikahan kedua ayahnya jadi urusan yang harus ia tanggung? Baginya, semua itu hanya pengkhianatan.
Janji keluarga yang rapuh, ikatan yang mudah retak. Dan sekarang, ia harus berbagi ruang dengan orang asing yang tiba-tiba dipanggilnya "adik." Menyebalkan. Sangat menyebalkan. Ia merasa seperti sebuah objek, alat yang digunakan ayahnya untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
Keesokan harinya, bel pintu apartemen berbunyi. Arion baru saja menyeduh kopi, menikmati aroma pahit yang menenangkan, ketika terdengar suara ceria menyapanya.
"Hi Kak Arion! Aku Shana! Sementara ini aku tinggal di sini dulu ya. Aku janji gak akan ngerecokin kamu kok."
Pintu baru setengah terbuka, tapi gadis itu sudah mendorong masuk dengan semangat. Senyumnya lebar, matanya berbinar, seolah tidak ada dinding yang bisa menghentikannya. Sebelum Arion sempat mengucapkan sepatah kata pun, Shana sudah melangkah masuk dengan langkah ringan seperti angin.
Tas besar jatuh di sofa dengan suara keras, jaket terlempar begitu saja ke sandaran kursi, seolah apartemen steril ini adalah rumah masa kecilnya. Shana lalu menyalakan TV tanpa ragu, memilih drama Korea dengan volume keras. Tawa cemprengnya segera memenuhi ruang tamu.
Arion hanya bisa berdiri mematung di ambang pintu, menatap kehancuran yang terjadi di depan matanya. Tornado. Begitulah kesan pertama yang terlintas di kepalanya. Sementara dirinya adalah hujan tenang yang dingin, gadis itu datang dengan badai, membawa kekacauan dan suara ke dalam bentengnya.
"Kak, ada kopi enggak?" suara Shana terdengar dari dapur. Ia sudah membuka-buka laci tanpa izin, seolah rumah itu miliknya sejak lahir.
Arion menunjuk ke arah rak atas tanpa menoleh. "Di situ." Jawabannya pendek, dingin, hanya sekadar formalitas.
Shana tidak menggubris nada itu. Ia terus berceloteh, tertawa sendiri melihat adegan drama. Bagi Arion, setiap suara itu seperti jarum yang menusuk-nusuk telinganya. Malam itu ia duduk lagi di meja belajarnya, mencoba fokus pada skripsi. Tapi suara TV, dentuman tawa, bahkan suara sendok yang jatuh dari dapur membuat pikirannya pecah berkeping-keping.
Ketika akhirnya Shana masuk ke kamar yang baru ia rapikan (dulu hanyalah gudang kecil), Arion masih bisa bernapas lega. Keheningan kembali. Ia menyandarkan kepala, memejamkan mata. "Setidaknya, malam ini aku bisa tidur," gumamnya.
Namun, pukul dua dini hari, Arion terbangun. Ada hawa dingin yang tiba-tiba menyeruak masuk serasa menusuk tulangnya. Gorden kamarnya terbuka, cahaya bulan menelusup masuk, menebar sinar pucat ke seluruh ruangan. Ia bangkit, berjalan ke jendela untuk menutup tirai. Tapi langkahnya terhenti. Ada perasaan aneh. Seperti ada kehadiran lain.
Dengan waspada, Arion menoleh. Matanya langsung melebar. Di atas kasurnya—ada Shana.
Gadis itu berbaring meringkuk, mengenakan piyama flanel biru dengan motif sederhana. Rambut panjangnya berantakan menutupi sebagian wajah. Napasnya teratur, bibirnya sedikit terbuka, wajahnya polos dalam tidur. Aroma sampo floral menguar lembut, menyatu dengan bantal Arion.
Arion terdiam. Bagaimana mungkin? Pintu kamarnya kan terkunci. Ia yakin tidak mungkin lupa.
Ia melangkah pelan mendekat, seperti predator yang mengintai mangsanya. Wajahnya tegang, matanya menyipit penuh curiga. Tapi sebelum ia sempat berpikir panjang, tubuh Shana bergeliat perlahan. Tangannya bergerak mencari sesuatu, meraba-raba bantal di sebelahnya. Dan tanpa sadar—jari-jarinya menyentuh tangan Arion.
Arion terperanjat. Sentuhan itu hangat, lembut. Sekilas saja, tapi cukup untuk membuat jantungnya berdegup keras. Ia buru-buru menarik tangannya, wajahnya menegang. "Ini… apa-apaan?" gumamnya pelan.
Ia menatap Shana lagi. Dalam tidur, wajah gadis itu tampak begitu tenang, seakan-akan dunia tidak pernah menyakitinya. Tidak ada yang tahu bahwa kehadirannya adalah sebuah masalah.
Arion mengguncang-guncang bahu Shana. "Bangun… Hey bangun!" Suaranya rendah tapi tegas.
Tidak ada respons. Ia mencoba lagi, kali ini lebih keras. Shana hanya menggerakkan kelopak mata, tapi tidak terbuka. Wajahnya justru terlihat gelisah, bibirnya bergetar pelan.
Tiba-tiba, Shana bangkit duduk. Matanya tetap terpejam, tubuhnya limbung. Tanpa aba-aba, ia menubruk dada Arion, bersandar erat seolah mencari perlindungan.
Pelukan itu mengejutkan Arion. Tubuh Shana yang kecil tapi hangat. Wajahnya menempel di leher Arion, napasnya lembut menyapu kulitnya. Aroma manis sampo yang masih segar menusuk indera. Arion membeku. Jantungnya berdetak makin kencang, keringat dingin mulai merebak di pelipisnya. Tangannya terkatup di udara, tidak tahu harus mendorong atau menahan.
"Jangan pergi…" suara lirih Shana terdengar, pecah dan bergetar. "Jangan tinggalin aku lagi."
Arion terdiam. Kata-kata itu menancap dalam, menusuk bagian terdalam yang sudah lama ia kunci rapat-rapat. Tangannya bergetar. Ia seharusnya menolak, melepaskan gadis itu, berteriak. Tapi yang keluar hanyalah napas berat yang tertahan.
Shana semakin erat memeluknya, kepalanya menempel di dada Arion. Jantungnya berdebar begitu kencang, seakan membongkar rahasia yang ia sembunyikan dari semua orang. Arion bisa merasakan setiap tarikan napas Shana, bisa mencium harum rambutnya yang menyusup terlalu dalam.
Lalu, tiba-tiba—Shana mengangkat wajahnya. Masih dengan mata terpejam, bibirnya hampir menyentuh rahang Arion. Hanya jarak sekian senti. Arion membeku. Tubuhnya menegang.
Sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, bibir Shana bergerak pelan, nyaris membisikkan sesuatu lagi.
"Jangan tinggalin aku…"
Arion terperangkap. Ia tidak bisa mundur, tidak bisa maju. Hanya bisa menatap wajah adik tirinya yang begitu dekat, sementara dunia di sekitarnya terasa hening. Lalu—suara pintu kamar klik pelan, seakan terkunci dari dalam.
Namun jemarinya masih gemetar kecil.Laras menatap Roy dengan dada yang semakin tidak tenang.Ia belum pernah melihat laki-laki itu sehancur ini.Bahkan dulu—saat mereka kehilangan segalanya—Roy masih terlihat lebih kuat dibanding sekarang.“Roy…”panggil Laras lagi pelan.Kali ini Roy akhirnya menoleh.Namun tatapan matanya kosong.Lelah.Dan penuh sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.“Aku harus pergi.”Kalimat itu keluar cepat.Seolah ia tidak punya waktu lagi untuk duduk diam.Laras langsung mengerutkan kening.“Tapi kita belum selesai ngomong.”“Aku tahu.”Roy mengusap wajah kasar.Napasnya berat.“Semuanya terlalu berantakan sekarang.”Laras memperhatikan pria di depannya lama.Lalu perlahan berkata,“Orang tadi ada hubungannya sama alasan kamu ninggalin aku dulu?”Pertanyaan itu membuat Roy langsung diam.Sunyi.Panjang.Dan dari diam itulah—Laras akhirnya mendapatkan jawabannya.Mata perempuan itu langsung bergetar kecil.“Jadi memang ada sesuatu…”Roy memalingkan wajah.Raha
Denting ponsel itu terdengar berulang.Nyaring.Mengganggu.Dan langsung membuat hati Roy tidak nyaman.Laras menoleh kecil.Tatapannya tertuju pada ponsel di atas meja.Layar menyala cerah.Berkedip-kedip menuntut perhatian.Roy mengernyit tipis.Ia ragu beberapa detik.Jemarinya menggantung di udara.Ia memang jarang mengangkat nomor asing.Terlalu banyak urusan bisnis lama di masa lalunya.Hal itu membuatnya selalu curiga pada panggilan tak dikenal.Tapi kali ini berbeda.Perasaannya semakin tidak enak.Firasat buruk mendadak mencengkeram dadanya.Panggilan itu terus masuk.Tidak berhenti.Satu hancur, satu kembali memanggil.Seolah orang di seberang sana memaksa.Benar-benar memaksa ingin bicara dengannya.Tidak ada ruang untuk penolakan.Roy akhirnya meraih ponsel itu.Lalu mengangkatnya pelan.Ia menempelkannya ke telinga.“Halo.”Suaranya datar.Mencoba menyembunyikan getaran batin.Beberapa detik berlalu.Tidak ada suara.Hanya sunyi yang ganjil.Lalu terdengar napas samar.Be
Napas Shana perlahan tertahan di tenggorokan.Karena cara Arion menatapnya sekarang—bukan lagi seperti seseorang yang sedang bercanda.Bukan juga tatapan seorang teman.Tatapan itu terlalu dalam.Terlalu serius.Dan terlalu hangat untuk bisa ia hindari.“Aku nolak semua ini…” suara Arion rendah, nyaris seperti bisikan.“…karena dari awal aku udah nggak bisa lihat perempuan lain.”Jantung Shana langsung seperti jatuh bebas.Matanya membesar sedikit.Sementara Arion—masih menatapnya tanpa berpaling sedikit pun.Shana bisa melihat pantulan dirinya sendiri di mata laki-laki itu.Begitu dekat.Begitu jelas.Dan itu membuat pertahanan kecil yang sejak tadi ia bangun perlahan runtuh satu per satu.“Ka… Kak Arion…”suaranya mengecil.Nyaris gemetar.Namun Arion justru bergerak semakin dekat.Pelan.Sangat pelan.Seolah memberi kesempatan bagi Shana untuk mundur kalau memang tidak menginginkannya.Tapi masalahnya—Shana tidak sanggup bergerak.Ia hanya bisa diam.Membiarkan debar jantungnya
Siang itu—matahari sebenarnyasedang bagus-bagusnya.Langit cerah.Udara juga tidakterlalu panas.Namun entah kenapa—apartemen itu terasaseperti dipenuhi sesuatu yang menggantung di udara.Sesuatu yang tidakterlihat.Tapi cukup berat untukmembuat dua penghuninya sama-sama malas keluar rumah.Kuliah hari ituakhirnya hanya jadi formalitas yang mereka abaikan.Shana duduk selonjorandi karpet ruang tamu sambil memeluk erat bantal kecil di pangkuannya.Mencari kenyamanan yang mendadak hilang dari hatinya.Sementara Arion dudukdi sofa di belakangnya.Laptop terbuka dimeja.Tapi sejak tadi tidakbenar-benar disentuh.Pikiran mereka sedangterlalu riuh untuk hanya sekedar peduli pada tugas kampus.“Jadi…”Shana memecahkeheningan. Suaranya agak serak.“…si bocah pom bensinitu akhirnya ngomong juga?”Arion mendengus kecil,ada sisa lelah di helaan napasnya.“Jangan panggil diabocah pom bensin.”“Lah emang bukan?”“Bukan.”“Terus apa?”Arion melirik datar,namun ada binar geli yang
Kafe itu belum terlalu ramai.Roy membeku.Pertanyaan itu tidak keluar dengan nada tinggi.Tidak ada bentakan.Tidak ada tangisan histeris.Namun justru karena Laras mengucapkannya dengan suara yang begitu pelan—rasanya jauh lebih menghancurkan.“…yang dikorbankan dari dulu selalu Shana. Kenapa?”Roy tidak langsung menjawab.Tatapannya jatuh ke jemari Laras yang saling menggenggam erat di atas meja.Jari-jari itu sedikit gemetar.Dan setelah sekian tahun terlewati—Roy akhirnya benar-benar melihat lelah yang selama ini dipikul perempuan di depannya.Laras bukan hanya membesarkan Shana sendirian.Ia juga membesarkan luka sendirian.Roy mengembuskan napas berat.Panjang.Namun udara yang masuk ke paru-parunya terasa tetap tidak cukup.“Aku nggak pernah bermaksud ngorbanin dia…”suara Roy serak.Laras tertawa kecil.Pahit.“Tapi itu yang terjadi.”Roy langsung terdiam lagi.Karena sekali lagi—Laras benar.Dan kebenaran memang sering kali tidak membutuhkan teriakan untuk menghancurkan s
Kafe itu belum terlalu ramai.Masih lewat pukul sepuluh pagi.Beberapa meja di dekat jendela terisi pekerja kantoran yang sibuk dengan laptop dan kopi mereka masing-masing.Sementara di sudut paling belakang—Laras duduk tegak dengan jemari saling bertaut di atas meja yang terasa dingin.Wajahnya terlihat tenang.Namun hanya orang yang benar-benar mengenalnya yang tahu—Jika sebenarnya perempuan itu sedang sangat tegang.Di sampingnya duduk seorang perempuan paruh baya berpakaian sederhana.Mbak Sumi.Pembantu rumah yang sudah lama ikut bersama Laras.Mbak Sumi melirik pelan ke arah majikannya.“Ibu yakin mau ngobrol di sini?”Laras mengangguk kecil.“Di sini aja.”Jawabannya pelan.Pendek.Yetap saja ada sesuatu dalam nada suaranya yang terdengar seperti sedang menjaga dirinya sendiri agar tidak goyah.Sejujurnya—Laras sengaja membawa Mbak Sumi.Bukan tanpa alasan.Ia tidak mau datang sendirian menemui mantan suaminya.Tidak setelah bertahun-tahun.Tidak setelah semua luka yang mere







