Home / Romansa / Hasrat Kakak Tiri / Bab 1. Benteng yang Hancur

Share

Hasrat Kakak Tiri
Hasrat Kakak Tiri
Author: Gibran Dangumaos

Bab 1. Benteng yang Hancur

last update Last Updated: 2025-09-30 11:20:32

Apartemen itu selalu sunyi. Bagi Arion, keheningan adalah sebuah kemewahan yang ia bangun dengan keringat dan pengorbanan. Suara yang mengisi ruangan hanyalah dengungan pendingin ruangan, irama konstan dari ketukan halus keyboard, dan gemericik air hujan yang memantul di kaca jendela, seolah alam pun ikut menenangkan dunianya. 

Arion duduk tegak di depan meja belajarnya, menatap layar laptop dengan mata yang nyaris tak berkedip. Cahaya putih kebiruan dari layar itu menerangi wajahnya yang kaku, menyorot garis rahang yang keras dan bibir yang terkatup rapat. 

Di sekelilingnya, ruangan tampak begitu bersih, rapi, nyaris steril dari barang-barang yang tidak perlu. Buku-buku tersusun rapi di rak, disusun berdasarkan subjek dan ukuran, pakaian dilipat sempurna di lemari, dan setiap perabot tertata dengan jarak yang pas. Tidak ada satu pun yang mengganggu harmoni.

Inilah dunianya. Sebuah benteng pribadi yang ia bangun dengan susah payah, batu demi batu, jauh dari kebisingan, jauh dari drama, dan jauh dari kata "keluarga" yang baginya sudah kehilangan maknanya. Keluarga baginya hanyalah janji rapuh, sebuah ikatan yang mudah retak hanya karena ego dan pengkhianatan. Ia telah memutuskan hubungan itu sejak lama, atau setidaknya, ia mencoba.

Ketika akhirnya kedamaian yang ia cintai itu pecah saat layar ponselnya menyala, memancarkan nama yang sudah lama tak ingin ia lihat. Nama itu seperti bel peringatan, sebuah pengingat akan masa lalu yang ingin ia kubur dalam-dalam. 

Arion menarik napas panjang, jari-jarinya sempat ragu sebelum menyentuh tombol hijau, seolah menunda detik-detik kehancuran yang akan datang.

"Ya?" suaranya datar, tanpa emosi, sebuah perisai yang selalu ia gunakan saat berbicara dengan pria itu.

"Arion, Ayah titip adik kamu, ya. Dia tinggal sama kamu," suara ayahnya terdengar santai, seolah mengumumkan sesuatu yang sepele. Tidak ada nada meminta maaf, tidak ada penjelasan, hanya perintah.

Alis Arion mengerut. "Adik?" suaranya meninggi, sebuah tanda bahwa perisainya mulai retak. "Memangnya aku punya adik?"

"Namanya Shana, itu adik tiri kamu," jawaban itu meluncur tanpa jeda, seakan-akan sudah dipikirkan jauh-jauh hari. "Besok sore dia sampai di apartemenmu. Ayah rasa urusan kuliah dan keamanannya lebih terjamin kalau dia sama kamu."

Arion berdiri dari kursinya, tangannya mengepal di sisi tubuh. "Kenapa harus di apartemenku? Bukankah ayah bisa menyewakan tempat lain?"

"Itu lho, adik kamu kan masuk kampus di dekat situ. Pokoknya jagain baik-baik," sahut sang ayah, menghindari semua pertanyaan Arion. Setelah itu, telepon terputus begitu saja. Tanpa basa-basi. Tanpa ucapan selamat tinggal.

Arion menatap layar ponselnya yang kini gelap, rahangnya mengeras, urat di lehernya menegang. Ia ingin membanting benda itu ke lantai, menghancurkannya berkeping-keping, sama seperti hatinya yang dulu dihancurkan. 

Kata-kata ayahnya berputar di kepala. 

Dadanya terasa sesak, seolah ada beban berat yang menindih. Sejak kapan ia punya adik? Sejak kapan pernikahan kedua ayahnya jadi urusan yang harus ia tanggung? Baginya, semua itu hanya pengkhianatan. 

Janji keluarga yang rapuh, ikatan yang mudah retak. Dan sekarang, ia harus berbagi ruang dengan orang asing yang tiba-tiba dipanggilnya "adik." Menyebalkan. Sangat menyebalkan. Ia merasa seperti sebuah objek, alat yang digunakan ayahnya untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

Keesokan harinya, bel pintu apartemen berbunyi. Arion baru saja menyeduh kopi, menikmati aroma pahit yang menenangkan, ketika terdengar suara ceria menyapanya.

"Hi Kak Arion! Aku Shana! Sementara ini aku tinggal di sini dulu ya. Aku janji gak akan ngerecokin kamu kok."

Pintu baru setengah terbuka, tapi gadis itu sudah mendorong masuk dengan semangat. Senyumnya lebar, matanya berbinar, seolah tidak ada dinding yang bisa menghentikannya. Sebelum Arion sempat mengucapkan sepatah kata pun, Shana sudah melangkah masuk dengan langkah ringan seperti angin. 

Tas besar jatuh di sofa dengan suara keras, jaket terlempar begitu saja ke sandaran kursi, seolah apartemen steril ini adalah rumah masa kecilnya. Shana lalu menyalakan TV tanpa ragu, memilih drama Korea dengan volume keras. Tawa cemprengnya segera memenuhi ruang tamu.

Arion hanya bisa berdiri mematung di ambang pintu, menatap kehancuran yang terjadi di depan matanya. Tornado. Begitulah kesan pertama yang terlintas di kepalanya. Sementara dirinya adalah hujan tenang yang dingin, gadis itu datang dengan badai, membawa kekacauan dan suara ke dalam bentengnya.

"Kak, ada kopi enggak?" suara Shana terdengar dari dapur. Ia sudah membuka-buka laci tanpa izin, seolah rumah itu miliknya sejak lahir.

Arion menunjuk ke arah rak atas tanpa menoleh. "Di situ." Jawabannya pendek, dingin, hanya sekadar formalitas.

Shana tidak menggubris nada itu. Ia terus berceloteh, tertawa sendiri melihat adegan drama. Bagi Arion, setiap suara itu seperti jarum yang menusuk-nusuk telinganya. Malam itu ia duduk lagi di meja belajarnya, mencoba fokus pada skripsi. Tapi suara TV, dentuman tawa, bahkan suara sendok yang jatuh dari dapur membuat pikirannya pecah berkeping-keping.

Ketika akhirnya Shana masuk ke kamar yang baru ia rapikan (dulu hanyalah gudang kecil), Arion masih bisa bernapas lega. Keheningan kembali. Ia menyandarkan kepala, memejamkan mata. "Setidaknya, malam ini aku bisa tidur," gumamnya.

Namun, pukul dua dini hari, Arion terbangun. Ada hawa dingin yang tiba-tiba menyeruak masuk serasa menusuk tulangnya. Gorden kamarnya terbuka, cahaya bulan menelusup masuk, menebar sinar pucat ke seluruh ruangan. Ia bangkit, berjalan ke jendela untuk menutup tirai. Tapi langkahnya terhenti. Ada perasaan aneh. Seperti ada kehadiran lain.

Dengan waspada, Arion menoleh. Matanya langsung melebar. Di atas kasurnya—ada Shana.

Gadis itu berbaring meringkuk, mengenakan piyama flanel biru dengan motif sederhana. Rambut panjangnya berantakan menutupi sebagian wajah. Napasnya teratur, bibirnya sedikit terbuka, wajahnya polos dalam tidur. Aroma sampo floral menguar lembut, menyatu dengan bantal Arion.

Arion terdiam. Bagaimana mungkin? Pintu kamarnya kan terkunci. Ia yakin tidak mungkin lupa.

Ia melangkah pelan mendekat, seperti predator yang mengintai mangsanya. Wajahnya tegang, matanya menyipit penuh curiga. Tapi sebelum ia sempat berpikir panjang, tubuh Shana bergeliat perlahan. Tangannya bergerak mencari sesuatu, meraba-raba bantal di sebelahnya. Dan tanpa sadar—jari-jarinya menyentuh tangan Arion.

Arion terperanjat. Sentuhan itu hangat, lembut. Sekilas saja, tapi cukup untuk membuat jantungnya berdegup keras. Ia buru-buru menarik tangannya, wajahnya menegang. "Ini… apa-apaan?" gumamnya pelan.

Ia menatap Shana lagi. Dalam tidur, wajah gadis itu tampak begitu tenang, seakan-akan dunia tidak pernah menyakitinya. Tidak ada yang tahu bahwa kehadirannya adalah sebuah masalah.

Arion mengguncang-guncang bahu Shana. "Bangun… Hey bangun!" Suaranya rendah tapi tegas.

Tidak ada respons. Ia mencoba lagi, kali ini lebih keras. Shana hanya menggerakkan kelopak mata, tapi tidak terbuka. Wajahnya justru terlihat gelisah, bibirnya bergetar pelan.

Tiba-tiba, Shana bangkit duduk. Matanya tetap terpejam, tubuhnya limbung. Tanpa aba-aba, ia menubruk dada Arion, bersandar erat seolah mencari perlindungan.

Pelukan itu mengejutkan Arion. Tubuh Shana yang kecil tapi hangat. Wajahnya menempel di leher Arion, napasnya lembut menyapu kulitnya. Aroma manis sampo yang masih segar menusuk indera. Arion membeku. Jantungnya berdetak makin kencang, keringat dingin mulai merebak di pelipisnya. Tangannya terkatup di udara, tidak tahu harus mendorong atau menahan.

"Jangan pergi…" suara lirih Shana terdengar, pecah dan bergetar. "Jangan tinggalin aku lagi."

Arion terdiam. Kata-kata itu menancap dalam, menusuk bagian terdalam yang sudah lama ia kunci rapat-rapat. Tangannya bergetar. Ia seharusnya menolak, melepaskan gadis itu, berteriak. Tapi yang keluar hanyalah napas berat yang tertahan.

Shana semakin erat memeluknya, kepalanya menempel di dada Arion. Jantungnya berdebar begitu kencang, seakan membongkar rahasia yang ia sembunyikan dari semua orang. Arion bisa merasakan setiap tarikan napas Shana, bisa mencium harum rambutnya yang menyusup terlalu dalam.

Lalu, tiba-tiba—Shana mengangkat wajahnya. Masih dengan mata terpejam, bibirnya hampir menyentuh rahang Arion. Hanya jarak sekian senti. Arion membeku. Tubuhnya menegang. 

Sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, bibir Shana bergerak pelan, nyaris membisikkan sesuatu lagi.

"Jangan tinggalin aku…"

Arion terperangkap. Ia tidak bisa mundur, tidak bisa maju. Hanya bisa menatap wajah adik tirinya yang begitu dekat, sementara dunia di sekitarnya terasa hening. Lalu—suara pintu kamar klik pelan, seakan terkunci dari dalam.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hasrat Kakak Tiri   41. Garis Tembak

    Suara lift berdenting pelan. Terlalu pelan untuk menandingi degup jantung Arion yang baru saja diserang Rika barusan. Ia tetap berdiri di ruang tamu, bahu naik-turun, tatapan kosong ke lantai, seperti seseorang yang baru saja diseret keluar dari mimpi buruk masa lalu… lalu dilempar ke mimpi buruk yang baru.Ia belum sempat memproses ucapan Rika—belum sempat memproses tatapan Shana tadi—ketika getaran ponselnya mengiris keheningan.Satu pesan.Pendek.Tapi mematikan.“Aku di bawah. Aku naik sekarang. Ada yang tertinggal.” — NayaArion langsung menegakkan tubuhnya.“Tidak. Tidak sekarang. Sial…”Ia menutup wajah dengan kedua tangan.“Kenapa semua orang harus muncul di hari yang sama?!”Pintu kamar Shana terbuka sedikit—hanya celah tipis.“Ka?”Arion kaget setengah mati. “Shana, jangan keluar dulu.”Shana melihat wajah Arion—masih kacau, masih tegang—dan meski gengsinya tinggi, instingnya tetap bekerja.“Kak… ada apa lagi?”“Pokoknya jangan keluar. Tolong.”Nada Arion rendah, hampir memo

  • Hasrat Kakak Tiri   40. Gengsi

    Cahaya siang menabrak dinding putih apartemen Arion ketika suara ketukan keras memenuhi ruangan.Arion membeku di tempat.Shana keluar sedikit dari ambang pintu kamarnya—tidak penuh, setengah badan saja, seolah ia masih mencari alasan logis buat nongol… padahal jantungnya sudah lari duluan. Yang membuatnya berhenti adalah wajah Arion. Terlihat pucat, tegang, dan seperti kehilangan sepersekian detik waktu.Ia belum pernah melihat Arion sekaget dan sepucat itu.Bahkan saat ayahnya datang tadi siang pun tidak se dramatis ini.Arion berdiri mematung, seperti seseorang yang baru saja mendengar nama yang seharusnya mati di masa lalu.Ketukan kedua terdengar.Dan satu suara menyusul, datar tapi menusuk:“Kamu pikir aku nggak akan tahu soal ini, Arion?”Arion menutup mata sekejap.“Rika…” bisiknya. “Sial.”Shana mengerutkan dahi.Rika? Siapa?Pintu terbuka, dan Rika melangkah masuk. Tanpa menunggu izin. Cara ia berdiri saja sudah menjelaskan jikaia pernah menjadi bagian dari hidup Arion.Bag

  • Hasrat Kakak Tiri   Bab 39. Wanita Selalu Tidak Salah

    Ada orang yang saat marah, suaranya meledak. Teriakan tajam, mengiris udara. Ada yang butuh gestur kasar: membanting benda, menutup pintu dengan bunyi debuman yang membuat dinding bergetar.Shana... justru sebaliknya. Dan itulah yang membuat Arion semakin gila.Sejak pintu kamar itu terkunci tanpa suara, apartemen terasa menyusut, mengecil hingga mencekik. Bahkan dengungan AC yang biasa menenangkan kini terdengar seperti bisikan dingin yang menuduh. Arion mondar-mandir, setiap langkahnya terasa berat dan sia-sia. Matanya terpaku pada pintu kayu itu, seolah ia sedang menatap pintu kandang yang ia buka sendiri, membiarkan makhluk buas—atau lebih tepatnya, makhluk yang tersakiti—bersembunyi di dalamnya.“Kendalinya di dia sekarang, ya…” gumamnya, memijat tengkuknya yang menegang. Ototnya terasa kaku. “Sampai kapan pun dia mau. Sampai aku luluh, atau dia pergi.”Mendengar suara dari balik pintu? Mustahil.Diam.Bukan diam karena ketiadaan. Ini adalah keheningan yang penuh, diisi oleh amar

  • Hasrat Kakak Tiri   38. Introgasi Ayah Arion

    Ada momen-momen tertentu di hidup seseorang ketika suara ketukan pintu terdengar lebih keras daripada teriakan. Bukan karena volumenya, tapi karena apa yang mungkin menunggu di baliknya. Dan kali ini, bukan hanya Arion yang takut membukanya. Shana ikut menahan napas, seolah paru-parunya berbagi udara dengan Arion.Mereka bertukar pandang. Di mata Arion, ada peringatan dan permohonan. Di mata Shana, ada ketakutan yang dihiasi lapisan baja ketenangan.“Stay di sini,” bisik Arion, suaranya serak.Shana mengangguk. Kepala ikut, tapi hati menolak. Ia tahu, apa pun yang terjadi setelah ini akan mengusik sesuatu yang baru saja ia tata dalam hidupnya.Arion berjalan. Setiap langkahnya berat, seakan ia sedang menuju meja operasi—meja vonis.Ia membuka pintu, perlahan.Ayah Arion berdiri di sana. Wajahnya tegas, rahangnya terkunci, tapi matanya memancarkan keteduhan khas seorang ayah yang sedang marah—bukan karena benci, tapi karena kekhawatiran yang gagal ia kendalikan.“Masuk, Yah,” kata Ario

  • Hasrat Kakak Tiri   37. "Apakah Kamu Sayang Aku"

    Kadang yang paling sunyi bukanlah malam, bukan pula kesepian—melainkan ketika dua orang berada dalam ruangan yang sama… tapi berpikir untuk berlari ke arah yang berlawanan.Dan pagi itu, Arion merasakannya untuk pertama kalinya.Shana keluar dari kamar mandi pelan-pelan. Rambutnya masih menetes, wajahnya tampak segar… atau setidaknya ia berusaha terlihat begitu. Kaos putih tipis yang ia kenakan menempel sedikit di bahu basahnya.Arion yang duduk di sofa langsung berdiri begitu melihatnya.“Sha… kita bisa ngomong sebentar?”Shana berhenti.Tersenyum kecil. Senyum sopan—senyum yang biasanya ia pakai untuk orang asing yang menawarkan brosur.“Tentu, Kak. Mau ngomong apa?”Arion menelan ludah. “Tentang tadi.”Shana mengangkat alis. “Tadi yang mana?”Arion langsung gugup. “Yang… ya… kamu datang, terus aku… aku lagi—”“Olahraga?” potong Shana cepat, namun dengan raut polos.Arion terdiam.Shana tersenyum lagi. “Iya, aku lihat. Kamu pegang barbel, kan?”Arion ingin menjelaskan, tetapi kalima

  • Hasrat Kakak Tiri   Bab 36. New Shana

    Pintu itu belum terbuka, tapi lorongnya sudah terasa aneh—tebal oleh udara yang menahan napas, mencekam, seperti jeda sebelum petir menyambar. Seluruh dunia terasa menunggu tabrakan dua hati yang rapuh.Dan Shana, berdiri tepat di tengah-tengah jeda itu, bukan lagi seorang gadis yang mencari tempat berlindung.Ia adalah seseorang yang baru saja kehilangan sebuah ilusi, sehelai demi sehelai, tanpa suara.Kunci pintu berputar.Suara logamnya menciut, menusuk gendang telinga. Terlalu keras untuk sebuah putaran kunci yang seharusnya biasa saja.Shana mengangkat dagunya sedikit. Senyum kecil yang dipaksakan itu tetap ada, menempel, jernih seperti lem bening yang hampir tak terlihat. Bukan senyum bahagia, bukan juga patah hati. Lebih seperti perkenalan diri dengan sebuah kekuatan baru.Pintu terbuka sebatas bahu, tidak sepenuhnya.Arion muncul di celah itu—wajahnya basah oleh keringat tipis, rambutnya acak-acakan, napasnya masih terburu-buru. Shana tahu persis mengapa. Ia bahkan tidak perlu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status