Lea tidak tahu ke mana Jonas membawanya, tetapi saat mereka berbelok ke jalan yang lebih ramai, matanya menangkap tulisan Rue d'Or di sebuah papan nama.Begitu menginjakkan kaki di sana, Lea melangkah perlahan, matanya menyapu deretan butik mewah dengan etalase kaca yang berkilauan. Jalanan ini adalah lambang kemewahan, tempat orang-orang dari kelas atas berkeliaran dengan percaya diri. Namun di tengah gemerlap itu, Lea justru merasa sedikit canggung berada di sana.Jonas berjalan di sisinya dengan tenang seperti biasa. Sesekali tatapannya menyapu sekitar, memastikan tidak ada hal yang mencurigakan.Saat melewati sebuah butik dengan tampilan elegan, Lea tanpa sadar memperlambat langkahnya. Di balik kaca besar itu, ia melihat deretan gaun indah tergantung dengan sempurna. Setiap potongannya memancarkan keanggunan dan kemewahan yang memanjakan mata.“Masuklah jika Anda ingin melihat-lihat,” kata Jonas seolah bisa membaca pikirannya.Lea ragu sejenak, lalu akhirnya mendorong pintu kaca d
Matahari telah mencapai titik tertingginya di langit ketika Lea dan Jonas menyadari bahwa mereka telah berjalan terlalu lama. Waktu berlalu tanpa mereka sadari. Keduanya terbawa oleh suasana kota yang hidup dan percakapan ringan yang membuat Lea merasa sejenak bebas dari beban yang selama ini menyesakkannya.Namun, suasana itu mendadak berubah ketika Jonas merasakan ponselnya bergetar di saku jasnya. Ia merogohnya dengan santai, tetapi begitu melihat nama yang tertera di layar, langkahnya seketika terhenti.“Dari Kayden Easton.” Jonas mengumumkan.Ia meneguk ludah ketika tatapannya kembali ke layar, dan tanpa membuang waktu, ia segera menerima panggilan itu. Percakapan yang terjadi begitu singkat, hanya beberapa kata dari Kayden yang membuat ekspresi Jonas semakin kaku. Setelah menutup telepon, ia segera menoleh pada Lea dengan sorot mata yang kini lebih tajam dan mendesak.“Kita harus kembali. Sekarang.”Lea menatapnya dengan cemas. Namun, saat melihat ketegangan di wajah Jonas, ia me
Gadis kaya itu menatap Lea dengan penuh kecurigaan. Lea bisa melihat bagaimana matanya menyipit, seperti mencoba menganalisis situasi.“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya gadis kaya itu.Lea tidak langsung menjawab. Ia justru menatap Kayden yang bersandar di bahu gadis itu—kepala pria itu sedikit terangkat, tetapi matanya jelas setengah terpejam karena mabuk berat.Setelah menarik napas, Lea mendekat, lalu meraih lengan Kayden dengan gerakan tegas.“Aku yang seharusnya bertanya,” ucapnya. Suaranya terdengar tenang, tetapi tajam. “Kenapa kamu yang membawanya pulang? Apa urusanmu dengannya?”Gadis kaya itu tampak terkejut sejenak sebelum bibirnya melengkung dalam senyum mengejek. “Tuan Easton butuh seseorang untuk menjaganya. Aku hanya membantunya pulang.”Lea terkekeh kecil, tetapi tanpa jejak humor. “Oh, jadi kamu merasa peduli? Atau kamu hanya mencari alasan untuk mengikutinya sampai ke mari?”Ekspresi gadis kaya itu berubah. Senyumannya memudar sedikit, tetapi ia cepat memulihkan
Keesokan paginya ….Kayden mengerjap pelan saat cahaya matahari menembus kelopak matanya. Rasa berat masih menggantung di pelupuknya ketika ia bangkit dari tempat tidur. Rambutnya berantakan dan kemejanya tampak kusut di tubuhnya.Tanpa banyak berpikir, ia berjalan keluar kamar dengan langkah malas. Begitu sampai di ambang pintu, pandangannya langsung jatuh pada sosok Lea yang tengah berdiri di dapur.Wanita itu tampak sibuk mengaduk teh dalam diam, sementara punggungnya menghadap ke arahnya. Cahaya matahari pagi menyorot sisi wajahnya, memberi kesan lembut yang entah mengapa sulit diabaikan.Kayden seharusnya tidak peduli. Ia tahu itu. Tapi kakinya bergerak lebih dekat tanpa perintah.Dalam satu gerakan lambat, tangannya melingkar di pinggang Lea.Lea tersentak, hampir saja menjatuhkan sendok dari tangannya saat Kayden memeluknya dari belakang. “Ka-kak Ipar—” ucapnya tergagap.“Hm ….” Kayden hanya bergumam rendah, kepalanya menyelip di bahu Lea dengan mata yang masih setengah tertutu
Lea duduk di antara para audiens, bersebelahan dengan Jonas, sementara pandangannya tertuju ke panggung di depan. Di sana, Kayden duduk dengan postur santai, mengenakan setelan abu-abu gelap yang membingkai tubuhnya dengan sempurna. Sikapnya tenang, penuh percaya diri, dan tanpa ekspresi yang berlebihan.Di sampingnya, seorang wanita cantik dengan gaun elegan dan senyum menawan duduk sebagai pembawa acara. Ia adalah Amelie Moreau, seorang jurnalis terkenal yang kerap mewawancarai tokoh-tokoh berpengaruh di dunia bisnis.Lea memperhatikan ekspresi wanita itu. Dari caranya menatap Kayden, dari senyuman halus yang seakan dipilih dengan sempurna, Lea bisa merasakan bahwa pembawa acara itu memiliki ketertarikan lebih terhadap pria di sampingnya.Dan Kayden?Seperti biasa, ia bersikap seolah-olah semua ini bukan masalah besar.“Sebuah kehormatan bisa berbincang dengan Anda hari ini, Tuan Easton,” ujar Amelie dengan suara lembut yang nyaris menggoda. “Di usia yang masih muda, Anda telah menj
Lea masih setengah sadar ketika matanya perlahan terbuka. Ia mengedip beberapa kali, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya yang temaram di kamar. Namun ada sesuatu yang terasa berbeda.Keberadaan hangat di sampingnya.Tangannya masih tersembunyi di bawah selimut, tetapi kehangatan asing di sampingnya terasa begitu nyata. Bukan ilusi kantuk. Bukan sekadar perasaan. Sesuatu—atau seseorang—ada di sana, membuat napasnya tercekat seketika.Lea sontak membelalakkan mata dan menoleh perlahan. Jantungnya hampir berhenti saat mendapati Kayden berbaring di sisi lain tempat tidur sedang menatapnya dengan santai.“Astaga!” pekiknya terkejut, lalu buru-buru bangkit duduk.Lea menegang sambil menatap pria itu dengan tak percaya. Namun sebelum sempat membuka mulut untuk mempertanyakan keberadaan pria itu di kamarnya, Kayden lebih dulu berbicara.“Kita pergi sebentar sebelum ke bandara,” katanya mengumumkan.Lea masih terpaku sementara otaknya berusaha mencerna situasi. “Apa?” tanyanya dengan sediki
Bandara New York.Keramaian langsung menyambut begitu Lea dan Kayden melangkah keluar dari ruang kedatangan. Suasana khas bandara dengan suara pengumuman penerbangan, langkah kaki yang tergesa-gesa, dan gemuruh roda koper memenuhi telinga mereka.Lea mengeluarkan ponselnya begitu merasakan getaran dari dalam tasnya. Nama Astrid Galen terpampang jelas di layar, membuat napasnya tersendat seketika.Tangannya sedikit gemetar saat ia menerima panggilan itu. “Halo?”“Aku ingin kamu datang ke rumah sekarang,” suara Astrid terdengar tegas di seberang.Lea menelan ludah. “Tapi, aku baru saja tiba—”“Aku tidak peduli.” Nada suara wanita itu penuh tekanan. “Datang sekarang.”Sambungan langsung terputus sebelum Lea bisa mengatakan apa pun.Ia masih memegang ponselnya dengan erat dan perasaannya berkecamuk. Jantungnya berdebar tak menentu, sementara pikirannya berusaha menebak-nebak alasan Astrid memanggilnya.Kayden yang sejak tadi berdiri di sampingnya, melirik Lea sekilas sebelum berjalan menuj
Beberapa hari berlalu dan tekanan dari Astrid semakin menjadi. Setiap kali Lea berpikir ia bisa bernapas sedikit lebih lega, telepon atau pesan dari wanita itu kembali masuk dan mengingatkan tujuan yang telah ditetapkan untuknya. Keinginan Astrid agar ia segera hamil kini menjadi beban yang menekan pikirannya setiap harinya.Lea semakin sulit berkonsentrasi. Bahkan saat di tempat kerja, di mana seharusnya ia bisa mengalihkan perhatiannya, pikirannya tetap terpaku pada satu hal. Bagaimana ia bisa memenuhi tuntutan Astrid? Bagaimana ia bisa mewujudkan sesuatu yang bahkan hampir mustahil?Hari ini pun tak berbeda. Ketika Annika mengajaknya makan siang di kantin, Lea hanya mengangguk tanpa benar-benar memerhatikan saat rekannya itu berbicara.“Kamu kenapa sih?” tanya Annika setelah beberapa saat Lea hanya mengaduk makanannya tanpa benar-benar menyuapinya ke mulut.Lea tersentak dari lamunannya. “Hm? Apa?”Annika mendesah, lalu meletakkan sendoknya ke piring. “Aku sudah bicara cukup lama d
Langit Santorini memancarkan semburat oranye keemasan saat senja menuruni cakrawala. Laut biru membentang luas di hadapan mereka, sementara angin laut yang hangat menyapu perlahan kulit mereka.Di balkon vila pribadi yang menghadap laut, Lea bersandar di dada Kayden, dibalut gaun putih tipis dengan rambut tergerai lembut tertiup angin.“Aku masih tidak percaya kita sudah menikah,” bisik Lea, jemarinya menggenggam tangan Kayden yang melingkari pinggangnya dari belakang.Kayden menunduk, mencium pelipis Lea dengan pelan. “Kalau begitu, aku harus lebih sering mengingatkanmu.”Lea terkekeh kecil. “Dengan apa? Ciuman? Pelukan? Atau ... sesuatu yang lain?”Kayden tertawa pelan di telinganya. “Semua itu. Dan lebih.”Ia membalik tubuh Lea perlahan agar menghadap padanya. Mata mereka bertemu, dan sesaat dunia terasa hening. Jemari Kayden mengusap lembut rahang Lea, kemudian menyelip ke belakang lehernya.“Kamu tahu,” ucap Kayden pelan, “sejak pertama kali melihatmu, aku tahu kamu akan menghanc
Gedung megah itu berdiri anggun di jantung Manhattan, seluruh dinding kacanya memantulkan cahaya matahari sore yang perlahan menurun.Dikelilingi taman pribadi dan air mancur yang menjulang di tengah pelataran marmer putih, lokasi itu dipilih Kayden sendiri.Tempat eksklusif yang tak pernah dibuka untuk umum, hanya untuk perayaan yang benar-benar berarti.Sore itu, ballroom dengan dinding kaca sepenuhnya berubah menjadi taman impian. Kelopak mawar putih berjatuhan dari langit-langit kaca, sementara pilar-pilar klasik dihiasi anggrek dan bunga lili yang dirangkai dengan kristal halus.Suara denting harpa mengalun lembut di latar, mengisi ruang dengan kemegahan tanpa kesan berlebihan. Hanya tamu pilihan yang hadir. Orang-orang yang benar-benar berarti dalam hidup Lea dan Kayden.Julianne tampak anggun dengan gaun berwarna champagne, berdiri di sisi kursi tamu bersama Indi dan Rhaelil. Silas mengenakan tuksedo hitam pekat, berdiri di dekat altar sebagai pendamping utama Kayden.Kaelyn Br
Lea menatap Kayden dengan mata membulat, tak percaya pada apa yang baru saja terjadi di hadapannya. Seluruh pikirannya membeku sejenak, digantikan oleh satu gelombang emosi yang tak tertahan—kaget, haru, bahagia, semuanya berbaur jadi satu.Cincin berlian itu berkilau indah. Namun bukan kilau cincin yang membuat hatinya bergetar hebat, melainkan pria yang saat ini berlutut di hadapannya.“Kayden …,” bisik Lea, matanya mulai basah.Kayden tetap menatapnya penuh keyakinan. “Aku tahu semua yang kamu lewati tidak mudah, dan aku tidak bisa mengubah masa lalu. Tapi hari ini, dan setiap hari setelah ini, aku ingin menjadi orang yang berdiri di sampingmu. Menjadi rumahmu, pelindungmu, teman sekaligus kekasihmu.”Lea menutup mulutnya, berusaha menahan isak yang mulai pecah.“Aku tahu kamu kuat tanpaku, Little Rose. Tapi izinkan aku menjadi orang yang membuat hidupmu sedikit lebih ringan. Lebih hangat. Selamanya,” ucap Kayden lembut namun tegas.Tangan Lea bergetar saat menutupi dadanya, tak sa
Pagi itu, langit New York tampak cerah.Lea duduk santai di atas sofa, melipat kedua kakinya dan membiarkan tubuhnya bersandar nyaman ke sisi Kayden. Ia mengenakan kaus tipis dan celana santai. Dan sebotol air mineral setengah kosong tergeletak di meja kopi di depannya.Suara pembawa acara berita lokal mengisi keheningan apartemen dari layar televisi.“Breaking news. Astrid Galen resmi ditahan tanpa jaminan atas dakwaan percobaan pembunuhan terhadap Lea Rose Thompson,” suara pembawa berita terdengar tajam. “Selain itu, bukti penggelapan dana dan pencucian uang yang melibatkan yayasan keluarga Thompson kini menyeret nama suaminya, Liam Thompson, dalam penyelidikan lanjutan.”Napas Lea tercekat sesaat. Ia menatap layar televisi dengan jantung yang berdebar tak terkendali. Akhirnya... hari itu datang juga.Kayden yang duduk di sebelahnya lantas mencondongkan tubuh sedikit, kemudian mengulur tangan dan membelai lengan Lea perlahan.Di televisi, potongan video memperlihatkan Astrid mengena
Lea sedang menikmati minuman soda rasa jeruk ketika ponselnya bergetar. Ia melihat nama di layar. Mama.Dengan gerakan tenang, ia meletakkan kaleng soda di atas meja dan menyambungkan panggilan.“Halo, Ma?” sapanya.Suara ibunya terdengar tenang di seberang, menyatu dengan dengung samar mesin mobil. Julianne sedang dalam perjalanan kembali ke hotel.“Sebastian Langley sudah mulai goyah,” katanya tanpa basa-basi. “Dia berpura-pura ragu, tapi nada suaranya, pilihan katanya, semua menunjukkan hal yang sama. Dia tertarik. Kalau semuanya sesuai rencana, Astrid hanya tinggal menunggu waktu sebelum ia tak punya tempat lagi untuk berdiri.”Lea menyandarkan punggung ke kursi, tatapannya fokus ke luar jendela.“Bagus,” gumamnya. “Aku sudah cukup lama menunggu momen ini.”Julianne terdengar menarik napas di seberang sebelum melanjutkan dengan nada lebih hangat. “Anggap saja ini bagian kecil dari penebusan atas kesalahan masa laluku, Lea. Karena dulu aku meninggalkanmu di rumah itu. Hidup bersama
Setelah keluar dari ruang interogasi, Sebastian menerima pesan singkat.[Kita perlu bicara. Ini tentang Astrid. Hotel Aurelle, suite 907. – J.R.]Sebastian menatap layar ponselnya lama. Rahangnya mengeras.Inisial itu saja sudah cukup menjelaskan segalanya.“Akhirnya aku berurusan dengan orang sepertinya,” gumamnya pelan.Ia menyelipkan ponsel kembali ke saku jas, lalu melangkah pergi. Ia tahu, pertemuan itu akan mempersulit kasus yang seharusnya bisa selesai dengan mudah.Beberapa jam kemudian, Sebastian Langley datang tepat waktu.Julianne sudah duduk di sana, segelas bourbon setengah penuh di tangannya. Ia tak bangkit. Hanya menatap Sebastian dengan tatapan yang membuat siapa pun merasa sedang duduk di depan hakim, bukan seorang pengacara.Sebastian berdiri di tengah ruangan. Ia tampak tegang, tapi tak benar-benar menunjukkannya.“Aku tahu kamu akan datang,” kata Julianne tanpa basa-basi.Sebastian duduk, lalu membuka jasnya sedikit. “Dan aku tahu kamu takkan tinggal diam. Jadi, ki
Pagi itu, Astrid baru saja keluar dari rumahnya dengan langkah tenang dan senyum percaya diri. Angin musim semi menerpa rambutnya yang terurai sempurna. Namun senyumnya langsung memudar saat melihat dua mobil polisi berhenti di halaman depan.Detik berikutnya, dua petugas keluar, langkah mereka cepat dan tegas.“Astrid Galen?” tanya salah satu petugas dengan suara dingin dan berwibawa.Astrid mengerutkan kening. Ia berhenti, menatap mereka dengan sorot tak suka. “Ya?” jawabnya, alisnya terangkat dan nada suaranya penuh keangkuhan.“Kami memiliki surat perintah penangkapan untuk Anda.” Petugas itu menunjukkan dokumen dengan segel resmi.Astrid membaca cepat. Matanya membelalak ketika membaca tuduhan yang tertera—penyalahgunaan kekuasaan, pemalsuan dokumen, dan pembunuhan berencana.“Apa ini lelucon? Siapa yang menyuruh kalian?!” suara Astrid meninggi, nadanya berubah tajam. “Kalian sadar siapa aku?! Aku bisa membuat kalian kehilangan pekerjaan hanya dengan satu panggilan!”Petugas teta
Setelah makan malam selesai...Di luar ruang makan privat, Kayden menyentuh ringan lengan Lea untuk menahannya tetap di tempat. Yang lain sudah lebih dulu keluar.“Aku perlu tahu sesuatu,” ucapnya pelan.Lea menoleh. “Ada apa?”“Silas.” Kayden menatap Lea tajam. “Sejak kapan kalian sedekat itu?”Lea mengernyit, sedikit bingung. “Aku tinggal di kediaman Ravenwood selama setahun. Dia orang yang sopan.”“Dia terlalu tahu banyak tentangmu,” tukas Kayden. “Dan cara dia memandangmu barusan, itu bukan sekadar sopan.”Lea menghela napas. “Kami tinggal serumah cukup lama. Wajar kalau dia tahu beberapa hal.”“Dan Rhael?” tanya Kayden tanpa memberi jeda. “Sejak kapan dia juga jadi bagian dari lingkaran dekatmu?”Nada bicara Kayden terdengar tenang, tapi ada tekanan yang jelas terasa di wajahnya.Lea menatapnya tajam. “Mereka bukan ancaman. Tidak ada yang berubah, Kayden.”Kayden tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap wajah Lea, seolah mencari tanda-tanda bahwa wanita itu berbohong. Tangannya
Ruang Makan Privat – Sebuah Restoran Mewah di Midtown ManhattanPintu kaca geser terbuka perlahan. Lea melangkah masuk lebih dulu, diikuti oleh Kayden yang berjalan di belakangnya dengan langkah tenang. Ruangan itu bernuansa hangat dengan meja makan bundar yang ditata rapi dengan linen putih.Julianne menyambut mereka dengan senyum hangat, sementara Rhael hanya melirik sekilas tanpa menunjukkan ekspresi berarti.“Ma,” sapa Lea sembari menghampiri dan memeluk Julianne dengan lembut.Julianne membalas pelukan itu. “Kamu tampak lebih segar dari terakhir kali kita bertemu.”Lea tersenyum singkat, lalu menoleh ke arah Rhael. “Kamu juga datang.”“Aku tidak datang untukmu,” sahut Rhael pelan, lalu bersandar santai ke kursi. “Aku hanya penasaran ingin melihat siapa pria yang membuatmu tak bisa berpaling ke lain hati.”Lea menahan napas sejenak sebelum menoleh ke arah Kayden. “Ma, Rhael … ini Kayden.”Kayden mengangguk sopan dan melangkah maju. “Senang akhirnya bisa bertemu denganmu secara lan