Share

Bab 3

Author: Ipak Munthe
last update publish date: 2026-08-23 16:24:05

Seseorang yang sebelumnya begitu sibuk bermesraan dengan seorang wanita tiba-tiba menoleh.

Deg!

Indah terkejut.

Beno.

Dia adalah ayahnya.

Jari-jari Indah mencengkeram satu sama lain. Dadanya terasa sesak, tetapi ia berusaha tetap tenang.

'Indah, orang tuamu saja seperti ini. Lalu kenapa kamu harus berbeda?' batinnya sambil tersenyum miris.

"Ya?" tanya Indah, seolah tak ada rasa takut sama sekali.

Suasana di ruangan itu seketika berubah tegang. Semua mata tertuju kepada Indah seakan menanti kejadian berikutnya.

"Pak Beno, apa Anda pernah ditemani oleh Indah?" tanya Fera.

Jelas terlihat Fera merasa khawatir. Ia takut Indah pernah menjadi pelanggan Beno dan sengaja menyembunyikannya.

Tanpa mereka ketahui, keduanya adalah ayah dan anak. Hubungan yang seharusnya tidak mungkin terjadi seperti ini.

Beno menatap Indah beberapa saat. Wajahnya terlihat tegang.

Ia tidak mungkin mengakui bahwa wanita yang berdiri di hadapannya adalah putrinya. Terlebih lagi, Adrian ada di sana. Jika Adrian sampai mengetahui bahwa Indah adalah putrinya, tentu hal itu akan membuat Beno dipandang rendah.

"Anda mengenal Indah?" tanya Fera makin penasaran.

"Tidak. Saya permisi," kata Beno singkat.

"Pak Beno," panggil Rama.

Namun Beno tidak berhenti.

"Sampai jumpa besok, Pak," katanya sebelum benar-benar meninggalkan ruangan.

Sebelum pergi, tatapan tajamnya sempat mengarah kepada Indah.

Namun, apakah Indah peduli?

Tidak. Sama sekali tidak.

Fera kemudian mendekati Indah dan berbisik pelan. "Indah, pastikan Pak Adrian senang. Ini demi masa depan club kita."

Indah mengangguk paham.

Fera lalu mengangkat alisnya, memberi kode agar Indah segera mendekati Adrian.

Indah kembali mengangguk. Ia menarik napas pelan, kemudian berjalan ke arah Adrian dan duduk di sampingnya.

Pria itu masih terlihat tenang, seolah kedatangan Indah sama sekali tidak mengganggunya.

Indah meliriknya sekilas, lalu tersenyum tipis. "Selamat malam, Pak Adrian," sapanya.

Tidak ada respons sama sekali.

Indah kemudian menuangkan minuman ke dalam gelas dan menyerahkannya kepada Adrian.

"Silakan, Pak," kata Indah.

Adrian menatap gelas tersebut, lalu mengalihkan pandangannya kepada Indah. Tanpa mengatakan apa pun, ia menerima gelas itu dan meneguk minumannya perlahan.

Indah hanya diam di sampingnya, menunggu apa yang akan dilakukan pria itu selanjutnya.

"Masih perawan?" tanya Adrian tiba-tiba.

"Masih," jawab Indah tanpa ragu.

Adrian terdiam sejenak, lalu langsung bangkit dari duduknya. "Ikut!"

Ia meraih tangan Indah dan mengajaknya pergi bersamanya.

Teman Adrian sampai melongo melihatnya. Ia tampak tidak menyangka Adrian akan langsung membawa Indah pergi.

Sementara itu, Fera justru tersenyum lega. Baginya, ini pertanda baik.

***

Kamar hotel itu begitu luas dan mewah. Lampu-lampu temaram menerangi ruangan, menciptakan suasana hangat sekaligus sedikit menegangkan.

Di balik jendela besar, gemerlap lampu kota terlihat begitu indah dari ketinggian. Tirai berwarna gelap menjuntai hingga menyentuh lantai, sementara aroma parfum Adrian masih terasa samar di udara.

Indah berdiri di tengah kamar, matanya menyapu setiap sudut ruangan. Suasana yang begitu tenang justru membuat detak jantungnya terdengar semakin jelas.

Adrian menutup pintu di belakang mereka.

Klik.

Indah perlahan menoleh.

Kini hanya ada mereka berdua di dalam kamar itu.

Lalu Adrian duduk di sofa, ia menatap Indah yang masih diam saja.

"Kemari," Adrian menjentikkan jarinya memintan Indah untuk mendekat.

Indah menggangguk kemudian mendekati Adrian, tapi tiba-tiba tangan Adrian menariknya hingga duduk di atas pangkuannya.

Indah terkesiap, tapi ia tahu ini adalah pekerjaannya sekarang.

"Buka!" perintah Adrian.

Indah langsung membuka kancing kemeja Adrian, ia tahu ini untuk pertama kalinya. Akan tetapi ia tidak ragu, mulai sekarang inilah dirinya dengan pekerjaan hinanya.

Ia melihat dada Adrian dengan perut kotak-kotaknya, ia baru sadar ternyata Adrian tidak setua ayahnya.

Ah, merusak suasana saja. Indah cepat-cepat membuang isi pikirannya tentang orang tuanya. Ia menyentuh dada Adrian dengan lembut.

"Setelah malam ini anggap saja kita tidak saling mengenal," kata Adrian seolah sudah memberikan peringatan sejak awal.

"Setuju, Tuan," jawab Indah dengan senyuman.

Lalu Adrian pun melumat bibirnya, Indah pun membalasnya seakan tak gentar sama sekali.

Lalu tangan Adrian mulai berkeliaran, menelusuri sekujur tubuh Indah. Menjelajah dengan liar.

"Ssssttt..." Indah mendesah tanpa ia sadari.

Sensasi ini terlalu asing namun tak mudah untuk diabaikan, dan mungkin ini adalah cara yang bisa membuatnya bahagia.

Ia tak akan pernah menyesalinya.

Tidak akan.

"Apa kau yakin masih perawan?" tanya Adrian memastikan.

"Tuan, jika aku tidak perawan anda tidak perlu membayarku, bahkan bisa menghukumku," ucap Indah tersenyum nakal.

"Aku tidak suka sisa," kata Adrian lagi.

Indah pun tersenyum lalu kembali melumat bibir Adrian.

Adrian pun kembali melakukannya, ia membawa Indah ke ranjang dengan kakinya yang melingkar di pinggang pria itu.

Panas, gelap, desah, hasrat berkumpul menjadi satu. Dua orang asing yang menyatu dalam keganasan malam.

Tak ada yang lemah apa lagi menyerah, Indah memilih untuk menikmati karena inilah cara untuk membahagiakan dirinya.

Nyatanya dekapan hangat ini mampu membuatnya bahagia, dunia malam ini ternyata tidak buruk untuk hidupnya yang buruk.

"Ssstttt...uh..."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 7

    Suara dentuman musik menggema, Indah duduk di kursi bar tender. Sama seperti sebelumnya, ia ditemani dengan rokoknya. Ia menatap layar ponselnya sejenak, lalu ia pun tersenyum. Hampir satu minggu ia tak pulang ke rumah. Tapi tak ada yang bertanya tentang dirinya. Baik Ayah ataupun ibunya mereka hanya sibuk dengan dunia mereka sendiri, ketika kembali mereka hanya menuntutnya menjadi anak baik. Miris. "Apa yang aku harapkan?" gumamnya prustasi. Lalu seseorang pun duduk di sampingnya, dan bartender pun memberikan segelas minuman. Pria itu memantik rokoknya dan menatap Indah. Indah meliriknya dari samping, lalu tersenyum, Adrian pun membalas senyuman itu. "Apa kabar?" tanya Adrian. "Baik," jawab Indah lalu menatap sekitarnya, ia mengangkat gelasnya lalu menemuinya. Diam untuk sesaat, ia menghisap rokoknya dan asap pun keluar. Jelas ia sudah terbiasa dengan itu semua. "Ada yang sedang kau tunggu?" tanya Adrian. Indah menggeleng, "Aku hanya takut istrimu melihat kita

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 6

    Pagi harinya. Indah terbangun, ia melihat pria itu sedang memakai dasinya dan Indah pun segera mendudukkan tubuhnya tak lupa menarik selimut menutupi tubuhnya. "Aku merasa kau sangat menyenangkan, bagaimana kalau aku bantu keluar dari tempat itu dan menjadi simpananku?" tanya pria itu. Simpanan? Indah bukan tersenyum getir, tapi tersenyum menahan tawa dibuatnya. Bahkan ia tak tertarik sama sekali. "Kenapa? Kau bisa melakukan apapun, tapi hanya aku yang kau layani," kata pria itu lagi. "Tuan, saat diranjang kita adalah dua orang yang penuh cinta. Tapi setelah itu kita hanya dua orang asing, itu aturan mainnya," jawab Indah sambil terkekeh kecil. "Begini saja, simpan kontakku...nanti hubungi aku kalau kau berubah pikiran," ucap pria itu. Indah pun mengangguk dan mereka bertukar nomer ponsel. "Aditia," kata pria itu menyebutkan namanya. "Oke," kata Indah dan menyimpan nomor kontak pria itu. "Ingat, jika kau setuju kau akan ikut aku setiap kali perjalanan dinas teruta

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 5

    Tiga hari kemudian. Indah membuka matanya perlahan, ia pikir sudah mati setelah dikurang tanpa makan dan minum. Bahkan minin penerangan. Ternyata tidak, ia masih di dunia ini dan kini sedang dirawat di rumah sakit. Ia tersenyum getir tak mentangka hidupnya benar-benar sangat menyedihkan, ia tersenyum menatap jendela kamar. Tap tap tap... Terdengar suara langkah kaki, ternyata yang datang adalah ibunya. Ani datang dengan wajah marah, tak ada kehangatan apa lagi kekhawatiran sebagai rasa sayang yang diharapkan oleh Indah. Tatapannya penuh kebencian, penghakiman tanpa pernah bertanya tentang perasaannya. "Anak kurang ajar! Bukannya kuliah malah jual diri di klub malam! Kapan kamu bisa jadi anak membanggakan?!" geramnya. Mata Indah terasa penuh, ia menahan air mata mendengarnya. Kenapa mereka tidak pernah bertanya sesakit apa selama ini ia melewati semuanya sendiri? Melawan hari-hari yang tak pernah indah seperti namanya sendiri. Lalu. Ani melemparkan sejumlah uang

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 4

    Pagi harinya, Indah terbangun. Ia masih tidur dalam posisi tengkurap, sementara Adrian tidur dengan menjadikan tubuh Indah sebagai sandaran. Indah bergerak perlahan. Gerakannya membuat Adrian ikut terjaga. Brak! Pintu kamar tiba-tiba terbuka dan menampakkan seorang wanita. Adrian langsung bangkit. Tatapannya berubah tajam melihat siapa yang berani masuk ke kamarnya tanpa izin. Sementara itu, Indah mendudukkan tubuhnya dan menatap wanita yang berdiri di ambang pintu. "Dasar pelakor!" teriak wanita itu sambil menatap Indah penuh kemarahan. Indah terkejut. Ia segera turun dari ranjang dan menatap wanita itu dengan bingung. "Adrian, kamu gila, ya?! Ternyata benar kamu selingkuh?!" ucap Tere dengan marah. Dadanya naik turun menahan emosi. Tere berjalan mendekati Adrian lalu mendorong dadanya. "Kamu jahat!" teriaknya. "Tere, cukup!" sentak Adrian. Namun Tere menggeleng, jelas tidak terima dengan apa yang dilihatnya. Ia kemudian berbalik dan berjalan menghampiri Indah.

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 3

    Seseorang yang sebelumnya begitu sibuk bermesraan dengan seorang wanita tiba-tiba menoleh. Deg! Indah terkejut. Beno. Dia adalah ayahnya. Jari-jari Indah mencengkeram satu sama lain. Dadanya terasa sesak, tetapi ia berusaha tetap tenang. 'Indah, orang tuamu saja seperti ini. Lalu kenapa kamu harus berbeda?' batinnya sambil tersenyum miris. "Ya?" tanya Indah, seolah tak ada rasa takut sama sekali. Suasana di ruangan itu seketika berubah tegang. Semua mata tertuju kepada Indah seakan menanti kejadian berikutnya. "Pak Beno, apa Anda pernah ditemani oleh Indah?" tanya Fera. Jelas terlihat Fera merasa khawatir. Ia takut Indah pernah menjadi pelanggan Beno dan sengaja menyembunyikannya. Tanpa mereka ketahui, keduanya adalah ayah dan anak. Hubungan yang seharusnya tidak mungkin terjadi seperti ini. Beno menatap Indah beberapa saat. Wajahnya terlihat tegang. Ia tidak mungkin mengakui bahwa wanita yang berdiri di hadapannya adalah putrinya. Terlebih lagi, Adrian ada d

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 2

    Indah melangkah ke luar, ia berdiri di depan pintu gerbang sesaat. Ia menarik nafas dan menghapus air matanya. Indah berjalan ke rumah yang bersebelahan dengan rumahnya, ia masuk dan melihat bibiknya sedang membersihkan halaman. "Indah?" panggilnya. "Tante," Indah langsung memeluk wanita paruh baya itu, dia adalah Kakak kandung ibunya. Ia menangis keras karena tak mampu menahan rasa sakitnya dan Tantenya tau keponakannya itu pasti sedang tidak baik-baik saja. "Kamu masuk dulu," kata wanita itu. "Ma, ngapain sih bawa dia kesini?" tanya wanita seusia Indah dia Dela, sepupu Indah sendiri dan tatapannya terlihat sinis. "Dela," tegur Arini. "Ma, dia itu cuma nyusahin, jangankan kita, Tante Ani aja nggak suka sana dia. Dia itu cuma beban tau, Ma. Pembawa sial!" cibirnya. Plak. Arini menampar mulut putrinya, ia sangat geram dengan ulah anaknya itu. "Kenapa kamu tidak punya sopan santu?!" geram Arini. "Pa," adu Dela pada Papanya. Papanya pun bangkit dan menatap tajam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status