LOGINSeseorang yang sebelumnya begitu sibuk bermesraan dengan seorang wanita tiba-tiba menoleh.
Deg! Indah terkejut. Beno. Dia adalah ayahnya. Jari-jari Indah mencengkeram satu sama lain. Dadanya terasa sesak, tetapi ia berusaha tetap tenang. 'Indah, orang tuamu saja seperti ini. Lalu kenapa kamu harus berbeda?' batinnya sambil tersenyum miris. "Ya?" tanya Indah, seolah tak ada rasa takut sama sekali. Suasana di ruangan itu seketika berubah tegang. Semua mata tertuju kepada Indah seakan menanti kejadian berikutnya. "Pak Beno, apa Anda pernah ditemani oleh Indah?" tanya Fera. Jelas terlihat Fera merasa khawatir. Ia takut Indah pernah menjadi pelanggan Beno dan sengaja menyembunyikannya. Tanpa mereka ketahui, keduanya adalah ayah dan anak. Hubungan yang seharusnya tidak mungkin terjadi seperti ini. Beno menatap Indah beberapa saat. Wajahnya terlihat tegang. Ia tidak mungkin mengakui bahwa wanita yang berdiri di hadapannya adalah putrinya. Terlebih lagi, Adrian ada di sana. Jika Adrian sampai mengetahui bahwa Indah adalah putrinya, tentu hal itu akan membuat Beno dipandang rendah. "Anda mengenal Indah?" tanya Fera makin penasaran. "Tidak. Saya permisi," kata Beno singkat. "Pak Beno," panggil Rama. Namun Beno tidak berhenti. "Sampai jumpa besok, Pak," katanya sebelum benar-benar meninggalkan ruangan. Sebelum pergi, tatapan tajamnya sempat mengarah kepada Indah. Namun, apakah Indah peduli? Tidak. Sama sekali tidak. Fera kemudian mendekati Indah dan berbisik pelan. "Indah, pastikan Pak Adrian senang. Ini demi masa depan club kita." Indah mengangguk paham. Fera lalu mengangkat alisnya, memberi kode agar Indah segera mendekati Adrian. Indah kembali mengangguk. Ia menarik napas pelan, kemudian berjalan ke arah Adrian dan duduk di sampingnya. Pria itu masih terlihat tenang, seolah kedatangan Indah sama sekali tidak mengganggunya. Indah meliriknya sekilas, lalu tersenyum tipis. "Selamat malam, Pak Adrian," sapanya. Tidak ada respons sama sekali. Indah kemudian menuangkan minuman ke dalam gelas dan menyerahkannya kepada Adrian. "Silakan, Pak," kata Indah. Adrian menatap gelas tersebut, lalu mengalihkan pandangannya kepada Indah. Tanpa mengatakan apa pun, ia menerima gelas itu dan meneguk minumannya perlahan. Indah hanya diam di sampingnya, menunggu apa yang akan dilakukan pria itu selanjutnya. "Masih perawan?" tanya Adrian tiba-tiba. "Masih," jawab Indah tanpa ragu. Adrian terdiam sejenak, lalu langsung bangkit dari duduknya. "Ikut!" Ia meraih tangan Indah dan mengajaknya pergi bersamanya. Teman Adrian sampai melongo melihatnya. Ia tampak tidak menyangka Adrian akan langsung membawa Indah pergi. Sementara itu, Fera justru tersenyum lega. Baginya, ini pertanda baik. *** Kamar hotel itu begitu luas dan mewah. Lampu-lampu temaram menerangi ruangan, menciptakan suasana hangat sekaligus sedikit menegangkan. Di balik jendela besar, gemerlap lampu kota terlihat begitu indah dari ketinggian. Tirai berwarna gelap menjuntai hingga menyentuh lantai, sementara aroma parfum Adrian masih terasa samar di udara. Indah berdiri di tengah kamar, matanya menyapu setiap sudut ruangan. Suasana yang begitu tenang justru membuat detak jantungnya terdengar semakin jelas. Adrian menutup pintu di belakang mereka. Klik. Indah perlahan menoleh. Kini hanya ada mereka berdua di dalam kamar itu. Lalu Adrian duduk di sofa, ia menatap Indah yang masih diam saja. "Kemari," Adrian menjentikkan jarinya memintan Indah untuk mendekat. Indah menggangguk kemudian mendekati Adrian, tapi tiba-tiba tangan Adrian menariknya hingga duduk di atas pangkuannya. Indah terkesiap, tapi ia tahu ini adalah pekerjaannya sekarang. "Buka!" perintah Adrian. Indah langsung membuka kancing kemeja Adrian, ia tahu ini untuk pertama kalinya. Akan tetapi ia tidak ragu, mulai sekarang inilah dirinya dengan pekerjaan hinanya. Ia melihat dada Adrian dengan perut kotak-kotaknya, ia baru sadar ternyata Adrian tidak setua ayahnya. Ah, merusak suasana saja. Indah cepat-cepat membuang isi pikirannya tentang orang tuanya. Ia menyentuh dada Adrian dengan lembut. "Setelah malam ini anggap saja kita tidak saling mengenal," kata Adrian seolah sudah memberikan peringatan sejak awal. "Setuju, Tuan," jawab Indah dengan senyuman. Lalu Adrian pun melumat bibirnya, Indah pun membalasnya seakan tak gentar sama sekali. Lalu tangan Adrian mulai berkeliaran, menelusuri sekujur tubuh Indah. Menjelajah dengan liar. "Ssssttt..." Indah mendesah tanpa ia sadari. Sensasi ini terlalu asing namun tak mudah untuk diabaikan, dan mungkin ini adalah cara yang bisa membuatnya bahagia. Ia tak akan pernah menyesalinya. Tidak akan. "Apa kau yakin masih perawan?" tanya Adrian memastikan. "Tuan, jika aku tidak perawan anda tidak perlu membayarku, bahkan bisa menghukumku," ucap Indah tersenyum nakal. "Aku tidak suka sisa," kata Adrian lagi. Indah pun tersenyum lalu kembali melumat bibir Adrian. Adrian pun kembali melakukannya, ia membawa Indah ke ranjang dengan kakinya yang melingkar di pinggang pria itu. Panas, gelap, desah, hasrat berkumpul menjadi satu. Dua orang asing yang menyatu dalam keganasan malam. Tak ada yang lemah apa lagi menyerah, Indah memilih untuk menikmati karena inilah cara untuk membahagiakan dirinya. Nyatanya dekapan hangat ini mampu membuatnya bahagia, dunia malam ini ternyata tidak buruk untuk hidupnya yang buruk. "Ssstttt...uh...""Bos, jangan hancurkan hubungan anda dan Ibu Indah yang sudah ada kemajuan ini," bisik Robby. Adrian pun menatap Robby sesaat, lalu berjalan masuk ke dalam vila. Robby merasa lebih tenang sekarang, sebenarnya siapa yang memiliki masalah? Kenapa ia harus sepanik ini? Ah kacau.Sang Bos yang cemburu ia ikut pusing, pusing menyelamatkan bonus bulannya. *** Indah merasa sangat lega karena untuk hari ini syuting berjalan dengan sangat lancar, dan syuting akan segera selesai. Ia berharap film ini akan meledak di pasaran. Film pertama ini tentu banyak sekali mengajarkan perjuangan awal penuh kesan. "Indah," Brian pun duduk di kursi sebelahnya. "Ya?" Indah menoleh. "Nih, cobain," Brian kembali memberikan makanan masakan yang dikirimkan sang Mama seperti yang ia katakan sebelumnya. "Wah, terimakasih," kata Indah. Brian pun mengangguk, "Indah, sebenarnya aku punya maksud sama kamu," kata Brian. "Aku?" Indah menatap bingung. Brian menggangguk lalu melihat sekitarnya, suas
"Kenapa mukanya?" tanya Maya. Ara yang duduk bersebelahan dengan Maya pun menatapnya sinis, tapi kemudian merebahkan kepalanya pada meja tanpa ingin menjawab. Sedangkan Indah yang duduk bersebelahan dengan mereka mulai merasa malu, ia memilih mengunyah makanannya. "Kalian kenapa sih?" tanya Maya makin penasaran. "Aku nggak bisa tidur gara-gara dia," Ara menunjuk Indah. "Kenapa?" Indah tetap diam, tapi di kursi lainnya tanpa sengaja ia melihat Adrian tengah meliriknya diiringi sedikit senyuman. Ia juga membalasnya tapi kemudian ia juga kembali fokus pada makannya berpura-pura tidak ada apa-apa. Tak lama kemudian Mita pun muncul dan mengedarkan pandangan, tapi kursi kosong hanya tersisa disamping Indah saja. Terpaksa ia pun duduk di sana. "Kamu kenapa?" Tanya Maya karena keduanya teman sekamar. Tapi Mita malah terlihat tidak senang dan justru melirik Indah dengan tajam, sebab karena gagal mengerjai Indah hingga ia seperti ini. Bahkan semalaman Mita tidak bisa tid
Di luar kamar Mita sudah memegang gagang pintu, tetapi ada tangan yang menghentikannya. Lalu ia pun menoleh. "Kak Ria?" Mita mungkin masih belum percaya bahwa sahabat Kakaknya ada di depan matanya. Kemudian ia pun menghempas tangan Rio, lalu menoleh ke samping, meminta seseorang yang ikut bersamanya segera pergi. "Tunggu!" Rio menghentikan langkah pria itu. Mita meneguk saliva susah payah, "pergi!" perintahnya cepat. Tapi saat pria itu akan melangkah lagi Rio mengambil sesuatu yang dibawa pria itu dan melihatnya. Ular. Meski tidak terlalu besar tapi tetap saja itu adalah hewan yang membahayakan. Ketika itu pria asing itu langsung melahirkan diri. Mita bingung harus bagaimana. Pergi. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk sekarang ini. Tapi Rio sudah meraih tangannya kemudian menariknya. "Kak Rio, kamu mau apa? Jangan kurang ajar!" Tapi Rio tidak peduli, ia pun membawa Mita masuk ke dalam kamarnya. Tak lupa mengunci pintu. "Kak Rio, jangan macam-macam! Kalau ak
"Aku, permisi," Maya segera berlari menuju pintu keluar lalu pergi secepatnya. Sedangkan Ara masih berdiri ditempatnya dengan leher terasa dicekik, ia ingin ikut pergi tapi kemana? Semua kamar di vila sudah penuh, kecuali tidur di ruang tamu. Itu tidak mungkin, tali ingin menahan Maya di kamar lebih tidak mungkin. "Santai saja, lakukan yang mau kamu lakukan," kata Adrian. Hah? Bagaimana mungkin Adrian bisa bicara demikian? Ini sungguh sangat tidak mungkinkan? "I-iya," Ara mengangguk cepat lalu ia masuk ke dalam toilet, ia bisa duduk disana sambil bermain ponsel menunggu Adrian pergi. *** "Mas, kamu kok disini?" tanya Indah. Duar. Suara petir kembali menggelegar, membuatnya membeku. Adrian kembali memeluknya erat, seolah menenangkan Indah. 'Indah, kamu nggak usah lebay. Ini cuma petir, memangnya kenapa?' batinnya. "Mas, kamu pergi sana. Kenapa kesini," protes Indah. "Kenapa? Aku kangen sama kamu, aku ini suamimu. Aku sekarang mikir jika pernikahan ini nggak
"Bos, Anda mau pergi sekarang?" tanya Robby ketika melihat Adrian sudah mengambil ponselnya. Adrian pun menatap Robby dengan sinis, "Besok!" Robby pun menundukkan wajahnya karena takut pada Adrian, 'Cuaca tidak bisa ditentukan oleh cerahnya matahari,' batinnya. Adrian melirik jam tangannya. "Masih ada waktu." "Kalau begitu, kenapa sudah siap-siap?" "Aku mau memastikan tempatnya aman." Robby mengerutkan kening. "Tempat apa, Bos?" Adrian menatapnya datar. "Bawah pohon jeruk." Oh." Robby mengangguk pelan. Ternyata bosnya benar-benar sudah tidak bisa diselamatkan. "Jangan sampai ada yang melihat," pesan Adrian. "Siap, Bos." Adrian pun keluar dari kamar dengan langkah penuh percaya diri. Sementara itu, Robby hanya bisa menggelengkan kepala. "Benar-benar puber terlambat." *** Adrian sudah berada di belakang vila. Sesuai pesannya, ia menunggu di bawah pohon jeruk yang tumbuh tidak jauh dari bangunan utama. Sesekali ia melirik jam tangannya. Sudah hampir s
Adrian terus melangkah di lorong panjang itu, tujuannya sekarang tentu saja Indah. Tapi kemudian ia pun menghentikan langkah kakinya dan menoleh pada Robby. "Ada sesuatu, Bos?" tanya Robby was-was. "Buat dia lenyap dari industri hiburan!" perintahnya. "Hah?" Robby terkejut mendengarnya, masalah benar-benar semakin besar sekarang. Adrian kemudian kembali melanjutkan langkah kakinya dan Robby segera mengejarnya karena sudah tertinggal cukup jauh. "Bos, kalau itu terjadi bagaimana dengan film ini. Bagaimana dengan Ibu Indah?" tanyanya dengan suara nyaris berisik, bahkan matanya mengedar karena takut ada yang mendengar. Adrian pun menghentikan langkah kakinya. Robby juga tentunya ikut menghentikan langkah kakinya, tapi tentunya ada perasaan waspada sekarang. Apa yang akan terjadi padanya sekarang, 'Bu Indah, tolong...' batinnya menjerit. "Kalau begitu lupakan!" Adrian pun kembali melanjutkan langkah kakinya. Namun, Robby merasa lebih lega paling tidak ia tidak terkena







