Share

Bab 2

Author: Ipak Munthe
last update publish date: 2026-08-23 15:36:02

Indah melangkah ke luar, ia berdiri di depan pintu gerbang sesaat. Ia menarik nafas dan menghapus air matanya.

Indah berjalan ke rumah yang bersebelahan dengan rumahnya, ia masuk dan melihat bibiknya sedang membersihkan halaman.

"Indah?" panggilnya.

"Tante," Indah langsung memeluk wanita paruh baya itu, dia adalah Kakak kandung ibunya.

Ia menangis keras karena tak mampu menahan rasa sakitnya dan Tantenya tau keponakannya itu pasti sedang tidak baik-baik saja.

"Kamu masuk dulu," kata wanita itu.

"Ma, ngapain sih bawa dia kesini?" tanya wanita seusia Indah dia Dela, sepupu Indah sendiri dan tatapannya terlihat sinis.

"Dela," tegur Arini.

"Ma, dia itu cuma nyusahin, jangankan kita, Tante Ani aja nggak suka sana dia. Dia itu cuma beban tau, Ma. Pembawa sial!" cibirnya.

Plak.

Arini menampar mulut putrinya, ia sangat geram dengan ulah anaknya itu.

"Kenapa kamu tidak punya sopan santu?!" geram Arini.

"Pa," adu Dela pada Papanya.

Papanya pun bangkit dan menatap tajam Indah, "Pergi kamu, jangan sampai aku menyeretmu!" Ucapanya penuh kemarahan.

"Pa, kamu bicara apa?" tanya Arini berusaha untuk membela Indah.

"Kamu menampar putri kita demi dia?" ucap Wira.

"Dela kelewatan, Pa," jawab Arini.

"Om, Tante, jangan bertengkar...Indah pergi aja, Indah minta maaf," kata Indah lalu melangkah pergi secepatnya.

"Indah," panggil Arini.

Namun, Indah secepatnya pergi tanpa menoleh lagi. Ia takut membuat rumah tangga Tantenya berantakan.

Di dunia ini ia benar-benar tak punya tempat bersandar, padahal keinginannya sederhana saja. Yaitu memiliki rumah untuk pulang, bukan hanya sekedar rumah bangunan namun tak ada tempat untuk bersandar.

***

Indah duduk di depan bar. Ia mengisap rokoknya dalam-dalam, lalu meneguk minumannya. Ia sudah terbiasa dengan kehidupan seperti ini sejak duduk di bangku sekolah menengah atas.

Awalnya ia canggung, tapi lama-lama ia terbiasa dan nyaman sebab ia membutuhkan tempat untuk tenang meskipun mungkin itu terlalu merugikan dirinya.

"Indah."

Seseorang duduk di sampingnya.

Dia Fera, pengelola club malam tempat Indah bekerja. Hampir semua orang di sana mengenal wanita itu sebagai Mami.

"Ada apa, Mi?" tanya Indah.

"Selama ini kamu di sini hanya bekerja sebagai pengantar minuman. Apa kamu nggak tertarik mengambil pekerjaan lain? Bayarannya lumayan," tawar Fera.

Indah menoleh. Ia tidak suka berbasa-basi.

"Indah masih perawan, Mi. Dia berani bayar berapa?" tanyanya to the point.

Fera tersenyum. Ia tahu Indah memang seperti itu, selalu bicara terus terang tanpa berputar-putar.

"Lima puluh juta," jawab Fera.

"Seratus juta. Deal."

"Kamu ini..." Fera terkekeh.

"Mami setuju segitu, aku mau," kata Indah, lalu kembali mengisap rokoknya.

"Oke, Sayang. Tapi pria ini sangat berpengaruh. Kamu benar-benar yakin?" Fera kembali mengingatkan. "Kalau dia sampai marah, klub kita bisa tutup."

Indah mengembuskan asap rokoknya perlahan. "Bayarannya aman, Mami juga tenang. Aku akan melakukan pekerjaanku dengan babaik," ucapnya yakin.

Fera menatap Indah beberapa saat sebelum mengangguk. "Baiklah. Tapi ingat, jangan sampai ada masalah."

Indah hanya mengangguk, kemudian kembali menatap gelas di tangannya.

"Kalau begitu, temani tamu di VVIP Room 03," kata Fera.

Indah mematikan rokoknya di atas asbak.

"Indah, Mami harap kamu tidak mengecewakan dia. Kalau dia puas, kamu dapat bonus," ujar Fera sambil menatapnya.

"Siap, Mi," jawab Indah.

Ia bangkit dari duduknya, lalu merapikan pakaiannya sebelum berjalan menuju VVIP Room 03.

Langkahnya tetap tenang, meskipun jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Ini bukan pertama kalinya ia menghadapi tamu penting, tetapi kali ini terasa berbeda.

Indah berhenti di depan pintu VVIP Room 03. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya mendorong pintu.

Dan ia melihat tiga orang pria disana, seorang pria tengah duduk memangku seorang wanita. Keduanya bermesraan hingga membuat Indah tak melihat pasti itu siapa.

Sedangkan di sebelahnya seorang pria dengan kemeja merah, lalu disebelahnya lagi. Seorang pria dewasa dengan kemeja hitam lengannya dilipat sampai ke siku.

Dari ketiga pria ini ia tak tahu harus melayani yang mana.

"Indah, layanin Tuan Adrian Mahesa," kata Fera yang muncul di belakang Indah.

Ia menatap arah tatap Fera, ternyata pria itu yang mengenakan kemeja hitam.

"Kamu?" kata seseorang yang sebelumnya tak terlihat wajahnya karena sibuk bermesraan dan sekarang Indah juga melihatnya dengan jelas.

Dia adalah Beno ayah Indah sendiri.

Deg.

Suasana benar-benar menegang sempurna, siapa sangka ayah dan anak itu bertemu di tempat seperti ini.

Tempat hiburan malam, dimana Indah bekerja dan ayahnya mencari kesenangan disana.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 7

    Suara dentuman musik menggema, Indah duduk di kursi bar tender. Sama seperti sebelumnya, ia ditemani dengan rokoknya. Ia menatap layar ponselnya sejenak, lalu ia pun tersenyum. Hampir satu minggu ia tak pulang ke rumah. Tapi tak ada yang bertanya tentang dirinya. Baik Ayah ataupun ibunya mereka hanya sibuk dengan dunia mereka sendiri, ketika kembali mereka hanya menuntutnya menjadi anak baik. Miris. "Apa yang aku harapkan?" gumamnya prustasi. Lalu seseorang pun duduk di sampingnya, dan bartender pun memberikan segelas minuman. Pria itu memantik rokoknya dan menatap Indah. Indah meliriknya dari samping, lalu tersenyum, Adrian pun membalas senyuman itu. "Apa kabar?" tanya Adrian. "Baik," jawab Indah lalu menatap sekitarnya, ia mengangkat gelasnya lalu menemuinya. Diam untuk sesaat, ia menghisap rokoknya dan asap pun keluar. Jelas ia sudah terbiasa dengan itu semua. "Ada yang sedang kau tunggu?" tanya Adrian. Indah menggeleng, "Aku hanya takut istrimu melihat kita

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 6

    Pagi harinya. Indah terbangun, ia melihat pria itu sedang memakai dasinya dan Indah pun segera mendudukkan tubuhnya tak lupa menarik selimut menutupi tubuhnya. "Aku merasa kau sangat menyenangkan, bagaimana kalau aku bantu keluar dari tempat itu dan menjadi simpananku?" tanya pria itu. Simpanan? Indah bukan tersenyum getir, tapi tersenyum menahan tawa dibuatnya. Bahkan ia tak tertarik sama sekali. "Kenapa? Kau bisa melakukan apapun, tapi hanya aku yang kau layani," kata pria itu lagi. "Tuan, saat diranjang kita adalah dua orang yang penuh cinta. Tapi setelah itu kita hanya dua orang asing, itu aturan mainnya," jawab Indah sambil terkekeh kecil. "Begini saja, simpan kontakku...nanti hubungi aku kalau kau berubah pikiran," ucap pria itu. Indah pun mengangguk dan mereka bertukar nomer ponsel. "Aditia," kata pria itu menyebutkan namanya. "Oke," kata Indah dan menyimpan nomor kontak pria itu. "Ingat, jika kau setuju kau akan ikut aku setiap kali perjalanan dinas teruta

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 5

    Tiga hari kemudian. Indah membuka matanya perlahan, ia pikir sudah mati setelah dikurang tanpa makan dan minum. Bahkan minin penerangan. Ternyata tidak, ia masih di dunia ini dan kini sedang dirawat di rumah sakit. Ia tersenyum getir tak mentangka hidupnya benar-benar sangat menyedihkan, ia tersenyum menatap jendela kamar. Tap tap tap... Terdengar suara langkah kaki, ternyata yang datang adalah ibunya. Ani datang dengan wajah marah, tak ada kehangatan apa lagi kekhawatiran sebagai rasa sayang yang diharapkan oleh Indah. Tatapannya penuh kebencian, penghakiman tanpa pernah bertanya tentang perasaannya. "Anak kurang ajar! Bukannya kuliah malah jual diri di klub malam! Kapan kamu bisa jadi anak membanggakan?!" geramnya. Mata Indah terasa penuh, ia menahan air mata mendengarnya. Kenapa mereka tidak pernah bertanya sesakit apa selama ini ia melewati semuanya sendiri? Melawan hari-hari yang tak pernah indah seperti namanya sendiri. Lalu. Ani melemparkan sejumlah uang

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 4

    Pagi harinya, Indah terbangun. Ia masih tidur dalam posisi tengkurap, sementara Adrian tidur dengan menjadikan tubuh Indah sebagai sandaran. Indah bergerak perlahan. Gerakannya membuat Adrian ikut terjaga. Brak! Pintu kamar tiba-tiba terbuka dan menampakkan seorang wanita. Adrian langsung bangkit. Tatapannya berubah tajam melihat siapa yang berani masuk ke kamarnya tanpa izin. Sementara itu, Indah mendudukkan tubuhnya dan menatap wanita yang berdiri di ambang pintu. "Dasar pelakor!" teriak wanita itu sambil menatap Indah penuh kemarahan. Indah terkejut. Ia segera turun dari ranjang dan menatap wanita itu dengan bingung. "Adrian, kamu gila, ya?! Ternyata benar kamu selingkuh?!" ucap Tere dengan marah. Dadanya naik turun menahan emosi. Tere berjalan mendekati Adrian lalu mendorong dadanya. "Kamu jahat!" teriaknya. "Tere, cukup!" sentak Adrian. Namun Tere menggeleng, jelas tidak terima dengan apa yang dilihatnya. Ia kemudian berbalik dan berjalan menghampiri Indah.

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 3

    Seseorang yang sebelumnya begitu sibuk bermesraan dengan seorang wanita tiba-tiba menoleh. Deg! Indah terkejut. Beno. Dia adalah ayahnya. Jari-jari Indah mencengkeram satu sama lain. Dadanya terasa sesak, tetapi ia berusaha tetap tenang. 'Indah, orang tuamu saja seperti ini. Lalu kenapa kamu harus berbeda?' batinnya sambil tersenyum miris. "Ya?" tanya Indah, seolah tak ada rasa takut sama sekali. Suasana di ruangan itu seketika berubah tegang. Semua mata tertuju kepada Indah seakan menanti kejadian berikutnya. "Pak Beno, apa Anda pernah ditemani oleh Indah?" tanya Fera. Jelas terlihat Fera merasa khawatir. Ia takut Indah pernah menjadi pelanggan Beno dan sengaja menyembunyikannya. Tanpa mereka ketahui, keduanya adalah ayah dan anak. Hubungan yang seharusnya tidak mungkin terjadi seperti ini. Beno menatap Indah beberapa saat. Wajahnya terlihat tegang. Ia tidak mungkin mengakui bahwa wanita yang berdiri di hadapannya adalah putrinya. Terlebih lagi, Adrian ada d

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 2

    Indah melangkah ke luar, ia berdiri di depan pintu gerbang sesaat. Ia menarik nafas dan menghapus air matanya. Indah berjalan ke rumah yang bersebelahan dengan rumahnya, ia masuk dan melihat bibiknya sedang membersihkan halaman. "Indah?" panggilnya. "Tante," Indah langsung memeluk wanita paruh baya itu, dia adalah Kakak kandung ibunya. Ia menangis keras karena tak mampu menahan rasa sakitnya dan Tantenya tau keponakannya itu pasti sedang tidak baik-baik saja. "Kamu masuk dulu," kata wanita itu. "Ma, ngapain sih bawa dia kesini?" tanya wanita seusia Indah dia Dela, sepupu Indah sendiri dan tatapannya terlihat sinis. "Dela," tegur Arini. "Ma, dia itu cuma nyusahin, jangankan kita, Tante Ani aja nggak suka sana dia. Dia itu cuma beban tau, Ma. Pembawa sial!" cibirnya. Plak. Arini menampar mulut putrinya, ia sangat geram dengan ulah anaknya itu. "Kenapa kamu tidak punya sopan santu?!" geram Arini. "Pa," adu Dela pada Papanya. Papanya pun bangkit dan menatap tajam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status