Share

Bab 6

Author: Ipak Munthe
last update publish date: 2026-08-24 06:57:32

Pagi harinya.

Indah terbangun, ia melihat pria itu sedang memakai dasinya dan Indah pun segera mendudukkan tubuhnya tak lupa menarik selimut menutupi tubuhnya.

"Aku merasa kau sangat menyenangkan, bagaimana kalau aku bantu keluar dari tempat itu dan menjadi simpananku?" tanya pria itu.

Simpanan?

Indah bukan tersenyum getir, tapi tersenyum menahan tawa dibuatnya. Bahkan ia tak tertarik sama sekali.

"Kenapa? Kau bisa melakukan apapun, tapi hanya aku yang kau layani," kata pria itu lagi.

"Tuan, saat diranjang kita adalah dua orang yang penuh cinta. Tapi setelah itu kita hanya dua orang asing, itu aturan mainnya," jawab Indah sambil terkekeh kecil.

"Begini saja, simpan kontakku...nanti hubungi aku kalau kau berubah pikiran," ucap pria itu.

Indah pun mengangguk dan mereka bertukar nomer ponsel.

"Aditia," kata pria itu menyebutkan namanya.

"Oke," kata Indah dan menyimpan nomor kontak pria itu.

"Ingat, jika kau setuju kau akan ikut aku setiap kali perjalanan dinas terutama ke luar negri, tas, baju, sepatu, barang mahal apapun akan kau dapatkan, termasuk mobil dan rumah," kata Aditia lagi.

Indah tersenyum lalu mengangguk, "Baik, Bos akan aku pertimbangan," ucap Indah lalu ia pun memakai pakaiannya kembali.

Simpanan?

Apakah semua pria seperti ini?

Sepertinya begitu, bahkan ayahnya berpacaran dengan sahabatnya sendiri. Gila, dunia segila ini kemana akan mencari kebahagiaan yang sesungguhnya?

Ia hanya tersenyum lucu karena ia tak akan mau menjadi simpanan, ia tak mau mendapatkan masalah. Hidup penuh kemewahan namun terkurung itu sama halnya seperti sangkar emas.

Enak dipandang namun tidak dengan kenyataannya. Ia butuh kebebasan dan kesenangan sesaat, lalu mendapatkan uang dan ia bisa menyenangkan dirinya dengan uang yang ia hasilkan.

"Mau aku antar kemana?" tanya Aditia.

"Aku bisa naik taksi, Bos," kata Indah.

"Baiklah," Aditia pun lalu melangkah keluar.

Tak lama kemudian Indah juga keluar, tapi saat baru saja berdiri di depan pintu kamar sudah ada yang menyapanya dengan sinis.

"Hey, ini wanita yang waktu itukan?" tanyanya.

Indah pun mengingat wanita itu, Tere dan di sebelah Adrian suaminya. Dia adalah seorang yang pernah tidur dengan Indah.

Hanya saja Indah merasa tidak ada urusan dengan keduanya, jadi ia pun segera melangkah pergi. Mengabaikan begitu saja.

Akan tetapi tidak semudah itu, karena Tere menghalangi jalannya.

Indah pun terpaksa harus melayaninya terlebih dahulu, "Nyonya, aku mau pergi...tolong jangan halangi," kata Indah.

"Kamu lihat selingkuhanmu ini? Dia bukan hanya tidur dengamu, tapi juga dengan pria lain!" ucap Tere penuh kemenangan seakan memperlihatkan bahwa Indah hanya wanita murahan.

Andrian menatap Indah dengan datar kemudian menatap Tere, "Tidak ada hubungannya denganku!" kata Andrian.

Indah pun mengangguk setuju, dalam dunia malam setelah transaksi selesai artinya akan kembali asing. Sesuai kesepakatan bersama, sekaligus kenyataan yang ada.

"Ahahaha..." Tere tertawa terbahak-bahak mendengarnya.

Adrian pun lalu melangkah pergi tanpa bicara lagi.

Tere melipat tangannya di dada dengan angkuhnya, menatap Indah dengan remeh.

"Liatkan? Suamiku tidak pernah menyukaimu, jadi kamu harus tau diri!" katanya seolah tengah berada di puncak kemenangan.

Tapi Indah memang tak peduli, sebab ia dan Adrian memang tidak memiliki hubungan dan Tere yang salah menyimpulkan semuanya, "Mohon maaf, Nyonya...aku hanya penjual, sedangkan suami anda pelanggan...hubungan kami hanya sebatas ranjang, selebihnya tidak ada!" jelas Indah dengan tenang.

"Kamu!" Tere tak terima mendengarnya, ia pun mendorong Indah hingga mundur selangkah.

"Nyonya, sebaiknya anda jaga suami anda dua puluh empat jam penuh agar dia tidak mencari wanita malam sepertiku. Ataupun anda juga bisa mencari teman pria, kebetulan aku punya banyak rekomendasi brondong tampan," kata Indah seolah mempromosikan barang dagangan.

"Kamu!" Tere mengepalkan tangannya menahan emosi mendengarnya.

"Saya permisi, Nyonya," pamit Indah.

"Urusan kita belum selesai! Kau akan menyesal!" sentak Tere.

Tapi Indah tak peduli, ia terus melangkah pergi karena merasa ia punya urusan yang jauh lebih penting daripada mengurusi Tere.

Ponselnya berdering dan ia menjawabnya sambil melangkah tak peduli pada tatapan yang siap melenyapkan.

Hidupnya tak tentu arah, ia hanya mengikuti arah angin yang membawanya pergi. Pergi dari jalan yang benar sejauh mungkin.

"Barangnya ada?" tanya Indah melalui sambungan telepon, "aku kirimkan alamat tempat tinggal baruku," katanya dengan suara berbisik.

Kemudian ia menghentikan taksi lalu masuk, ia akan menyewa apartemen. Pulang ke rumah?

Tidak akan pernah.

Ia akan hidup bebas dan siapa yang akan peduli?

Tidak ada, orang tuanya tak akan peduli padanya sama sekali.

Tidak akan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 94

    "Bos, jangan hancurkan hubungan anda dan Ibu Indah yang sudah ada kemajuan ini," bisik Robby. Adrian pun menatap Robby sesaat, lalu berjalan masuk ke dalam vila. Robby merasa lebih tenang sekarang, sebenarnya siapa yang memiliki masalah? Kenapa ia harus sepanik ini? Ah kacau.Sang Bos yang cemburu ia ikut pusing, pusing menyelamatkan bonus bulannya. *** Indah merasa sangat lega karena untuk hari ini syuting berjalan dengan sangat lancar, dan syuting akan segera selesai. Ia berharap film ini akan meledak di pasaran. Film pertama ini tentu banyak sekali mengajarkan perjuangan awal penuh kesan. "Indah," Brian pun duduk di kursi sebelahnya. "Ya?" Indah menoleh. "Nih, cobain," Brian kembali memberikan makanan masakan yang dikirimkan sang Mama seperti yang ia katakan sebelumnya. "Wah, terimakasih," kata Indah. Brian pun mengangguk, "Indah, sebenarnya aku punya maksud sama kamu," kata Brian. "Aku?" Indah menatap bingung. Brian menggangguk lalu melihat sekitarnya, suas

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 93

    "Kenapa mukanya?" tanya Maya. Ara yang duduk bersebelahan dengan Maya pun menatapnya sinis, tapi kemudian merebahkan kepalanya pada meja tanpa ingin menjawab. Sedangkan Indah yang duduk bersebelahan dengan mereka mulai merasa malu, ia memilih mengunyah makanannya. "Kalian kenapa sih?" tanya Maya makin penasaran. "Aku nggak bisa tidur gara-gara dia," Ara menunjuk Indah. "Kenapa?" Indah tetap diam, tapi di kursi lainnya tanpa sengaja ia melihat Adrian tengah meliriknya diiringi sedikit senyuman. Ia juga membalasnya tapi kemudian ia juga kembali fokus pada makannya berpura-pura tidak ada apa-apa. Tak lama kemudian Mita pun muncul dan mengedarkan pandangan, tapi kursi kosong hanya tersisa disamping Indah saja. Terpaksa ia pun duduk di sana. "Kamu kenapa?" Tanya Maya karena keduanya teman sekamar. Tapi Mita malah terlihat tidak senang dan justru melirik Indah dengan tajam, sebab karena gagal mengerjai Indah hingga ia seperti ini. Bahkan semalaman Mita tidak bisa tid

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 92

    Di luar kamar Mita sudah memegang gagang pintu, tetapi ada tangan yang menghentikannya. Lalu ia pun menoleh. "Kak Ria?" Mita mungkin masih belum percaya bahwa sahabat Kakaknya ada di depan matanya. Kemudian ia pun menghempas tangan Rio, lalu menoleh ke samping, meminta seseorang yang ikut bersamanya segera pergi. "Tunggu!" Rio menghentikan langkah pria itu. Mita meneguk saliva susah payah, "pergi!" perintahnya cepat. Tapi saat pria itu akan melangkah lagi Rio mengambil sesuatu yang dibawa pria itu dan melihatnya. Ular. Meski tidak terlalu besar tapi tetap saja itu adalah hewan yang membahayakan. Ketika itu pria asing itu langsung melahirkan diri. Mita bingung harus bagaimana. Pergi. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk sekarang ini. Tapi Rio sudah meraih tangannya kemudian menariknya. "Kak Rio, kamu mau apa? Jangan kurang ajar!" Tapi Rio tidak peduli, ia pun membawa Mita masuk ke dalam kamarnya. Tak lupa mengunci pintu. "Kak Rio, jangan macam-macam! Kalau ak

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 91

    "Aku, permisi," Maya segera berlari menuju pintu keluar lalu pergi secepatnya. Sedangkan Ara masih berdiri ditempatnya dengan leher terasa dicekik, ia ingin ikut pergi tapi kemana? Semua kamar di vila sudah penuh, kecuali tidur di ruang tamu. Itu tidak mungkin, tali ingin menahan Maya di kamar lebih tidak mungkin. "Santai saja, lakukan yang mau kamu lakukan," kata Adrian. Hah? Bagaimana mungkin Adrian bisa bicara demikian? Ini sungguh sangat tidak mungkinkan? "I-iya," Ara mengangguk cepat lalu ia masuk ke dalam toilet, ia bisa duduk disana sambil bermain ponsel menunggu Adrian pergi. *** "Mas, kamu kok disini?" tanya Indah. Duar. Suara petir kembali menggelegar, membuatnya membeku. Adrian kembali memeluknya erat, seolah menenangkan Indah. 'Indah, kamu nggak usah lebay. Ini cuma petir, memangnya kenapa?' batinnya. "Mas, kamu pergi sana. Kenapa kesini," protes Indah. "Kenapa? Aku kangen sama kamu, aku ini suamimu. Aku sekarang mikir jika pernikahan ini nggak

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 90

    "Bos, Anda mau pergi sekarang?" tanya Robby ketika melihat Adrian sudah mengambil ponselnya. Adrian pun menatap Robby dengan sinis, "Besok!" Robby pun menundukkan wajahnya karena takut pada Adrian, 'Cuaca tidak bisa ditentukan oleh cerahnya matahari,' batinnya. Adrian melirik jam tangannya. "Masih ada waktu." "Kalau begitu, kenapa sudah siap-siap?" "Aku mau memastikan tempatnya aman." Robby mengerutkan kening. "Tempat apa, Bos?" Adrian menatapnya datar. "Bawah pohon jeruk." Oh." Robby mengangguk pelan. Ternyata bosnya benar-benar sudah tidak bisa diselamatkan. "Jangan sampai ada yang melihat," pesan Adrian. "Siap, Bos." Adrian pun keluar dari kamar dengan langkah penuh percaya diri. Sementara itu, Robby hanya bisa menggelengkan kepala. "Benar-benar puber terlambat." *** Adrian sudah berada di belakang vila. Sesuai pesannya, ia menunggu di bawah pohon jeruk yang tumbuh tidak jauh dari bangunan utama. Sesekali ia melirik jam tangannya. Sudah hampir s

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 89

    Adrian terus melangkah di lorong panjang itu, tujuannya sekarang tentu saja Indah. Tapi kemudian ia pun menghentikan langkah kakinya dan menoleh pada Robby. "Ada sesuatu, Bos?" tanya Robby was-was. "Buat dia lenyap dari industri hiburan!" perintahnya. "Hah?" Robby terkejut mendengarnya, masalah benar-benar semakin besar sekarang. Adrian kemudian kembali melanjutkan langkah kakinya dan Robby segera mengejarnya karena sudah tertinggal cukup jauh. "Bos, kalau itu terjadi bagaimana dengan film ini. Bagaimana dengan Ibu Indah?" tanyanya dengan suara nyaris berisik, bahkan matanya mengedar karena takut ada yang mendengar. Adrian pun menghentikan langkah kakinya. Robby juga tentunya ikut menghentikan langkah kakinya, tapi tentunya ada perasaan waspada sekarang. Apa yang akan terjadi padanya sekarang, 'Bu Indah, tolong...' batinnya menjerit. "Kalau begitu lupakan!" Adrian pun kembali melanjutkan langkah kakinya. Namun, Robby merasa lebih lega paling tidak ia tidak terkena

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status