LOGINPagi harinya, Indah terbangun. Ia masih tidur dalam posisi tengkurap, sementara Adrian tidur dengan menjadikan tubuh Indah sebagai sandaran.
Indah bergerak perlahan. Gerakannya membuat Adrian ikut terjaga. Brak! Pintu kamar tiba-tiba terbuka dan menampakkan seorang wanita. Adrian langsung bangkit. Tatapannya berubah tajam melihat siapa yang berani masuk ke kamarnya tanpa izin. Sementara itu, Indah mendudukkan tubuhnya dan menatap wanita yang berdiri di ambang pintu. "Dasar pelakor!" teriak wanita itu sambil menatap Indah penuh kemarahan. Indah terkejut. Ia segera turun dari ranjang dan menatap wanita itu dengan bingung. "Adrian, kamu gila, ya?! Ternyata benar kamu selingkuh?!" ucap Tere dengan marah. Dadanya naik turun menahan emosi. Tere berjalan mendekati Adrian lalu mendorong dadanya. "Kamu jahat!" teriaknya. "Tere, cukup!" sentak Adrian. Namun Tere menggeleng, jelas tidak terima dengan apa yang dilihatnya. Ia kemudian berbalik dan berjalan menghampiri Indah. Plak! Tamparan keras mendarat di pipi Indah. Indah memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan itu. Wajahnya sempat menoleh ke samping, tetapi beberapa detik kemudian ia kembali menatap Tere dengan tajam. "Tere, cukup... kita pergi!" kata Adrian. "Pergi? Nggak! Aku mau bunuh wanita ini!" Tere membalas dengan penuh amarah. Ia kembali mengangkat tangannya, hendak menampar wajah Indah. Namun, Adrian dengan cepat menahan tangan Tere. "Tere!" Tere semakin geram. Ia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Adrian. "Wanita jalang, murahan! Beraninya kamu goda suamiku, aku bersumpah hidupmu tidak akan tenang!" ucap Tere penuh ancaman. "Nyonya, aku ini bukan selingkuhan suami Anda," kata Indah dengan tenang. "Aku cuma menemaninya tidur. Dia bayar, urusannya selesai." Tere terdiam sejenak, menatap Indah seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Sedangkan Indah kini menatap Adrian, "Tuan, pekerjaankj selesai...permisi," pamitnya, kemudian segera pergi. "Jalang! Tunggu, urusan kita belum selesai!" teriak Tere. Akan tetapi Indah tak peduli sama sekali, ia terus melangkah pergi. Ia memiliki lift dan tersenyum miring, "Wanita bego, sudah tau suaminya berkhianat tapi masih saja dipertahankan. Ternyata semua lelaki didunia ini hanya seorang bajingan," katanya lagi lalu melangkah keluar dari lift. Ia pun tiba di lobby lalu keluar dari gedung hotel, ia berdiri di sisi jalan dan menunggu taksi yang lewat. Tetapi tiba-tiba ada dua orang pria yang menariknya masuk ke dalam mobil hitam. Mobil pun melaju cepat, mulutnya di tutup, matang juga ditutup dan tangannya terikat ke belakang membuatnya tak bisa meloloskan diri sampai akhirnya sampai dan ia kembali di bawa turun. Tak lama kemudian penutup matanya di buka, ia melihat sekitarnya. Ternyata ada di rumah, rumah? Rumah ini hanya gedung saja, tidak ada kehangatan ataupun tempatnya pulang. Kemudian ia melihat ayahnya berdiri di hadapannya. Plak! Plak! Tamparan pun mendarat di wajah Indah hingga membuatnya terkapar di lantai dengan tangan yang masih terikat ke belakang. "Anak tidak tahu malu, tidak tahu diuntung, bukannya kuliah dengan benar malah menjadi wanita murahan!" sentak Beno. "Ahahaha..." Indah tertawa mendegar ucapan Ayahnya, apa katanya tadi? Kuliah dengan benar? Miris. "Apa anak ini sudah gila?!" gumam Beno. Indah pun berusaha untuk bangkit dengan susah payah, sudut bibirnya berdarah dan menatap ayahnya dengan kebencian. "Kuliah dengan baik?" tanyanya. "Kenapa kau berbicara seperti itu padaku?" tanya Beno. "Papa, bilang kuliah yang baik? Papa pikir cukup hanya dengan ucapan itu aku bisa kuliah dan pulang dengan keadaan sukses?" tanya Indah dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, lalu ia menggeleng cepat. "Kamu memang anak tidak tau diuntung, lihat Dela! Dia adalah anak baik. Pintar, penurut dan yang paling penting selalu membanggakan orang tua. Kenapa kamu tidak bisa seperti dia?!" tanya Beno dengan berteriak. Indah kembali menahan sesak, seharusnya ia sudah biasa dibandingkan seperti ini. Tapi kenapa rasanya tetap saja sakit dan hatinya tidak bisa menerima. "Kenapa Papa terus membandingkan kami? Kenapa Papa tidak pernah melihat diri Papa seperti apa?!" tanya Indah. Plak! Tamparan Beno kembali melayang di wajah Indah, rasa sakitnya jangan pernah ditanya lagi. Apa lagi hatinya. Tak ada yang lebih sakit dari ini. Percayalah ia sudah seringkali mendapatkan hal seperti ini, dan awalnya ia ingin membuat orang tuanya sadar. Tapi ternyata dimara mereka ia tak pernah ada artinya sama sekali. "Kamu akan mendapatkan hukuman sampai kamu sadar!" kata Beno kemudian menarik Indah masuk ke dalam gudang bawah tanah. Ini bukan pertamakalinya pula ia dimasukkan ke tempat itu, tapi sudah untuk kesekian kalian dan ia tau sekalipun memohon ia tak akan dilepaskan. "Setelah ini jangan ulangi hal ini lagi!" kata Beno dengan penuh amarah. Pintu tertutup, Indah menunduk dalam kegelapan dan kesunyian. Punggungnya bergetar dengan dada yang terasa sesak. Dalam diam dan gelap ia selalu bertanya, jika hanya untuk menderita lantas untuk apa ia dilahirkan kedunia ini?Suara dentuman musik menggema, Indah duduk di kursi bar tender. Sama seperti sebelumnya, ia ditemani dengan rokoknya. Ia menatap layar ponselnya sejenak, lalu ia pun tersenyum. Hampir satu minggu ia tak pulang ke rumah. Tapi tak ada yang bertanya tentang dirinya. Baik Ayah ataupun ibunya mereka hanya sibuk dengan dunia mereka sendiri, ketika kembali mereka hanya menuntutnya menjadi anak baik. Miris. "Apa yang aku harapkan?" gumamnya prustasi. Lalu seseorang pun duduk di sampingnya, dan bartender pun memberikan segelas minuman. Pria itu memantik rokoknya dan menatap Indah. Indah meliriknya dari samping, lalu tersenyum, Adrian pun membalas senyuman itu. "Apa kabar?" tanya Adrian. "Baik," jawab Indah lalu menatap sekitarnya, ia mengangkat gelasnya lalu menemuinya. Diam untuk sesaat, ia menghisap rokoknya dan asap pun keluar. Jelas ia sudah terbiasa dengan itu semua. "Ada yang sedang kau tunggu?" tanya Adrian. Indah menggeleng, "Aku hanya takut istrimu melihat kita
Pagi harinya. Indah terbangun, ia melihat pria itu sedang memakai dasinya dan Indah pun segera mendudukkan tubuhnya tak lupa menarik selimut menutupi tubuhnya. "Aku merasa kau sangat menyenangkan, bagaimana kalau aku bantu keluar dari tempat itu dan menjadi simpananku?" tanya pria itu. Simpanan? Indah bukan tersenyum getir, tapi tersenyum menahan tawa dibuatnya. Bahkan ia tak tertarik sama sekali. "Kenapa? Kau bisa melakukan apapun, tapi hanya aku yang kau layani," kata pria itu lagi. "Tuan, saat diranjang kita adalah dua orang yang penuh cinta. Tapi setelah itu kita hanya dua orang asing, itu aturan mainnya," jawab Indah sambil terkekeh kecil. "Begini saja, simpan kontakku...nanti hubungi aku kalau kau berubah pikiran," ucap pria itu. Indah pun mengangguk dan mereka bertukar nomer ponsel. "Aditia," kata pria itu menyebutkan namanya. "Oke," kata Indah dan menyimpan nomor kontak pria itu. "Ingat, jika kau setuju kau akan ikut aku setiap kali perjalanan dinas teruta
Tiga hari kemudian. Indah membuka matanya perlahan, ia pikir sudah mati setelah dikurang tanpa makan dan minum. Bahkan minin penerangan. Ternyata tidak, ia masih di dunia ini dan kini sedang dirawat di rumah sakit. Ia tersenyum getir tak mentangka hidupnya benar-benar sangat menyedihkan, ia tersenyum menatap jendela kamar. Tap tap tap... Terdengar suara langkah kaki, ternyata yang datang adalah ibunya. Ani datang dengan wajah marah, tak ada kehangatan apa lagi kekhawatiran sebagai rasa sayang yang diharapkan oleh Indah. Tatapannya penuh kebencian, penghakiman tanpa pernah bertanya tentang perasaannya. "Anak kurang ajar! Bukannya kuliah malah jual diri di klub malam! Kapan kamu bisa jadi anak membanggakan?!" geramnya. Mata Indah terasa penuh, ia menahan air mata mendengarnya. Kenapa mereka tidak pernah bertanya sesakit apa selama ini ia melewati semuanya sendiri? Melawan hari-hari yang tak pernah indah seperti namanya sendiri. Lalu. Ani melemparkan sejumlah uang
Pagi harinya, Indah terbangun. Ia masih tidur dalam posisi tengkurap, sementara Adrian tidur dengan menjadikan tubuh Indah sebagai sandaran. Indah bergerak perlahan. Gerakannya membuat Adrian ikut terjaga. Brak! Pintu kamar tiba-tiba terbuka dan menampakkan seorang wanita. Adrian langsung bangkit. Tatapannya berubah tajam melihat siapa yang berani masuk ke kamarnya tanpa izin. Sementara itu, Indah mendudukkan tubuhnya dan menatap wanita yang berdiri di ambang pintu. "Dasar pelakor!" teriak wanita itu sambil menatap Indah penuh kemarahan. Indah terkejut. Ia segera turun dari ranjang dan menatap wanita itu dengan bingung. "Adrian, kamu gila, ya?! Ternyata benar kamu selingkuh?!" ucap Tere dengan marah. Dadanya naik turun menahan emosi. Tere berjalan mendekati Adrian lalu mendorong dadanya. "Kamu jahat!" teriaknya. "Tere, cukup!" sentak Adrian. Namun Tere menggeleng, jelas tidak terima dengan apa yang dilihatnya. Ia kemudian berbalik dan berjalan menghampiri Indah.
Seseorang yang sebelumnya begitu sibuk bermesraan dengan seorang wanita tiba-tiba menoleh. Deg! Indah terkejut. Beno. Dia adalah ayahnya. Jari-jari Indah mencengkeram satu sama lain. Dadanya terasa sesak, tetapi ia berusaha tetap tenang. 'Indah, orang tuamu saja seperti ini. Lalu kenapa kamu harus berbeda?' batinnya sambil tersenyum miris. "Ya?" tanya Indah, seolah tak ada rasa takut sama sekali. Suasana di ruangan itu seketika berubah tegang. Semua mata tertuju kepada Indah seakan menanti kejadian berikutnya. "Pak Beno, apa Anda pernah ditemani oleh Indah?" tanya Fera. Jelas terlihat Fera merasa khawatir. Ia takut Indah pernah menjadi pelanggan Beno dan sengaja menyembunyikannya. Tanpa mereka ketahui, keduanya adalah ayah dan anak. Hubungan yang seharusnya tidak mungkin terjadi seperti ini. Beno menatap Indah beberapa saat. Wajahnya terlihat tegang. Ia tidak mungkin mengakui bahwa wanita yang berdiri di hadapannya adalah putrinya. Terlebih lagi, Adrian ada d
Indah melangkah ke luar, ia berdiri di depan pintu gerbang sesaat. Ia menarik nafas dan menghapus air matanya. Indah berjalan ke rumah yang bersebelahan dengan rumahnya, ia masuk dan melihat bibiknya sedang membersihkan halaman. "Indah?" panggilnya. "Tante," Indah langsung memeluk wanita paruh baya itu, dia adalah Kakak kandung ibunya. Ia menangis keras karena tak mampu menahan rasa sakitnya dan Tantenya tau keponakannya itu pasti sedang tidak baik-baik saja. "Kamu masuk dulu," kata wanita itu. "Ma, ngapain sih bawa dia kesini?" tanya wanita seusia Indah dia Dela, sepupu Indah sendiri dan tatapannya terlihat sinis. "Dela," tegur Arini. "Ma, dia itu cuma nyusahin, jangankan kita, Tante Ani aja nggak suka sana dia. Dia itu cuma beban tau, Ma. Pembawa sial!" cibirnya. Plak. Arini menampar mulut putrinya, ia sangat geram dengan ulah anaknya itu. "Kenapa kamu tidak punya sopan santu?!" geram Arini. "Pa," adu Dela pada Papanya. Papanya pun bangkit dan menatap tajam







