Share

Bab 5

Author: Ipak Munthe
last update publish date: 2026-08-24 05:33:00

Tiga hari kemudian.

Indah membuka matanya perlahan, ia pikir sudah mati setelah dikurang tanpa makan dan minum. Bahkan minin penerangan.

Ternyata tidak, ia masih di dunia ini dan kini sedang dirawat di rumah sakit.

Ia tersenyum getir tak mentangka hidupnya benar-benar sangat menyedihkan, ia tersenyum menatap jendela kamar.

Tap tap tap...

Terdengar suara langkah kaki, ternyata yang datang adalah ibunya.

Ani datang dengan wajah marah, tak ada kehangatan apa lagi kekhawatiran sebagai rasa sayang yang diharapkan oleh Indah.

Tatapannya penuh kebencian, penghakiman tanpa pernah bertanya tentang perasaannya.

"Anak kurang ajar! Bukannya kuliah malah jual diri di klub malam! Kapan kamu bisa jadi anak membanggakan?!" geramnya.

Mata Indah terasa penuh, ia menahan air mata mendengarnya.

Kenapa mereka tidak pernah bertanya sesakit apa selama ini ia melewati semuanya sendiri? Melawan hari-hari yang tak pernah indah seperti namanya sendiri.

Lalu.

Ani melemparkan sejumlah uang ke mukanya.

Indah tersentak.

"Uang? Kamu butuh uang?" Ani menunjuk lembaran uang yang kini berserakan di ranjang, "ambil! Awas kalau aku tau kamu jadi wanita murahan lagi!" sentak Ani lalu pergi begitu saja.

Indah pun menatap punggung ibunya, ia menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakitnya.

Bahkan untuk bertanya tentang keadaannya saja tidak, apakah ia harus mati dulu baru dua orang ini mengerti bahwa ia adalah anak mereka?

Apakah setelah ia mati dulu baru kedua orang tuanya puas?

Baik!.

Indah pun menatap pisau buah di atas meja nakas lalu mengambilnya, ia menatap pisau itu lalu mengarahkan pada nadinya.

"Indah!" teriak seseorang.

Indah pun tersadar, ia melihat sahabatnya yang berjalan masuk dengan cepat.

"Indah, apa yang kamu lakukan?" Mita cepat mengbil pisau di tangan Indah lalu melemparkan sejauh mungkin.

Lalu punggung Indah bergetar dan air matanya kembali menetes, Mita pun memeluk sahabatnya itu dengan cepat.

Ia tahu apa yang dirasakan oleh Indah sekarang, ia tahu Indah hanya ingin kebahagiaan tapi tak pernah ia dapatkan.

***

Tiga hari kemudian.

Indah pun kembali ke klub malam, ia duduk di bartender sambil menghisap rokoknya. Ia terlihat tenang seolah-olah hidupnya baik-baik saja dan seperti biasa, rokok menjadi teman setianya.

Meskipun musik berdentum keras, dan penuh dengan orang-orang tapi bagi Indah ia tetap sendiri dengan rasa sepi yang tak pernah dimengerti oleh siapun.

"Halo, Sayang," sapa Fera dan duduk di sebelahnya.

Indah pun tersenyum menyapa.

Fera meletakkan gelas ditangannya pada meja dan menatap Indah.

"Sudah seminggu baru muncul lagi, kemana saja?" tanya Fera.

"Sibuk kuliah, Mi," jawabannya berbohong, tanpa tahu apa yang ia alami beberapa hari ini.

Ia tak akan menceritakan apapun tentang dirinya, ia tak ingin ada yang tahu apa lagi sampai mengasihani dirinya.

Tidak perlu, jika orang tuanya saja sibuk dengan diri mereka sendiri lantas orang mana yang peduli padanya?

Tak ada..

Tak ada kesempatan dan waktu untuk menjual kesedihan.

"Oh," Mami mengangguk mengerti, "kamu masih mau mendapatkan uang cepat tidak?" tanya Mami penuh arti.

Indah langsung mengerti, "Dia bayar berapa?" tanya Indah lagi.

Di dunia yang kelam ini tak ada kebahagiaan, yang ia cari sekarang hanya ketenangan satu malam. Mari bersenang-senang.

"Lima puluh juta, kalau dia puas kamu dapat bonus," kata Mami lalu.

Indah pun mengangguk paham, ia turun dari kursinya.

"VVIP Room berapa?" tanya Indah langsung.

"Tidak sayang, dia menunggumu di hotel...supir yang akan mengantarmu," kata Mami.

Indah mengangguk paham.

Mami pun mengerakan jarinya memanggil pria bertubuh kekar, "Antarkan dia!" perintahnya.

"Siam, Mi," jawab pria itu tanpa ragu.

Indah pun mengikutinya hingga kemudian tiba di hotel, ia tak berbicara sama sekali sepanjang perjalanan.

Ia turun dari mobil dan langsung masuk ke lobi dan menuju kamar hotel tempat seseorang menunggunya.

Ting.

Ia memencet bel.

Tak lama kemudian pintu terbuka, seorang pria bertubuh kekar pun tampak di hadapannya.

Pria itu menatapnya dari atas sampai bawah berulangkali, ia tampak tergoda dan tak bisa beralih sama sekali.

Pinggan Indah pun ditarik, pindu ditutup oleh kaki pria itu. Lalu tubuhnya dihempaskan ke atas ranjang dan langsung menindihnya.

Indah berada di bawah tubuh pria itu, ia melingkarkan tangannya pada tengkuk leher pria itu.

"Ternyata Fera tidak berbohong, kenapa aku baru tau ada gadis segar di clubnya?" tanya pria itu.

"Bos, anda puas dengan pelayananku tentunya sebuah kebanggaan," balas Indah.

"Wanita yang manis," bisik pria itu lalu hendak melumat bibir Indah.

"Bos, bermain bersamaku ada peraturannya," ucap Indah.

"Aturan?"

"Iya, jangan pernah menyentuh bibirku. Kalau anda setuju tidak ada permainan bibir kita lanjut, bagaimana?" tanya Indah memberikan persyaratan.

"Baiklah," kata pria itu lalu mengecup tengkuknya, dan menikmati malam yang penuh damba dan kehangatan yang membara.

Di ranjang ini yang dicari hanyalah sebuah kepuasan, kenikmatan dan pelampiasan. Jadi jangan harap ada seorang pangeran yang tiba-tiba datang lalu menyelamatkan.

Tidak ada.

Ini dunia nyata dan di kehidupan ini ada dua jenis manusia, kuat dan lemah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 7

    Suara dentuman musik menggema, Indah duduk di kursi bar tender. Sama seperti sebelumnya, ia ditemani dengan rokoknya. Ia menatap layar ponselnya sejenak, lalu ia pun tersenyum. Hampir satu minggu ia tak pulang ke rumah. Tapi tak ada yang bertanya tentang dirinya. Baik Ayah ataupun ibunya mereka hanya sibuk dengan dunia mereka sendiri, ketika kembali mereka hanya menuntutnya menjadi anak baik. Miris. "Apa yang aku harapkan?" gumamnya prustasi. Lalu seseorang pun duduk di sampingnya, dan bartender pun memberikan segelas minuman. Pria itu memantik rokoknya dan menatap Indah. Indah meliriknya dari samping, lalu tersenyum, Adrian pun membalas senyuman itu. "Apa kabar?" tanya Adrian. "Baik," jawab Indah lalu menatap sekitarnya, ia mengangkat gelasnya lalu menemuinya. Diam untuk sesaat, ia menghisap rokoknya dan asap pun keluar. Jelas ia sudah terbiasa dengan itu semua. "Ada yang sedang kau tunggu?" tanya Adrian. Indah menggeleng, "Aku hanya takut istrimu melihat kita

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 6

    Pagi harinya. Indah terbangun, ia melihat pria itu sedang memakai dasinya dan Indah pun segera mendudukkan tubuhnya tak lupa menarik selimut menutupi tubuhnya. "Aku merasa kau sangat menyenangkan, bagaimana kalau aku bantu keluar dari tempat itu dan menjadi simpananku?" tanya pria itu. Simpanan? Indah bukan tersenyum getir, tapi tersenyum menahan tawa dibuatnya. Bahkan ia tak tertarik sama sekali. "Kenapa? Kau bisa melakukan apapun, tapi hanya aku yang kau layani," kata pria itu lagi. "Tuan, saat diranjang kita adalah dua orang yang penuh cinta. Tapi setelah itu kita hanya dua orang asing, itu aturan mainnya," jawab Indah sambil terkekeh kecil. "Begini saja, simpan kontakku...nanti hubungi aku kalau kau berubah pikiran," ucap pria itu. Indah pun mengangguk dan mereka bertukar nomer ponsel. "Aditia," kata pria itu menyebutkan namanya. "Oke," kata Indah dan menyimpan nomor kontak pria itu. "Ingat, jika kau setuju kau akan ikut aku setiap kali perjalanan dinas teruta

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 5

    Tiga hari kemudian. Indah membuka matanya perlahan, ia pikir sudah mati setelah dikurang tanpa makan dan minum. Bahkan minin penerangan. Ternyata tidak, ia masih di dunia ini dan kini sedang dirawat di rumah sakit. Ia tersenyum getir tak mentangka hidupnya benar-benar sangat menyedihkan, ia tersenyum menatap jendela kamar. Tap tap tap... Terdengar suara langkah kaki, ternyata yang datang adalah ibunya. Ani datang dengan wajah marah, tak ada kehangatan apa lagi kekhawatiran sebagai rasa sayang yang diharapkan oleh Indah. Tatapannya penuh kebencian, penghakiman tanpa pernah bertanya tentang perasaannya. "Anak kurang ajar! Bukannya kuliah malah jual diri di klub malam! Kapan kamu bisa jadi anak membanggakan?!" geramnya. Mata Indah terasa penuh, ia menahan air mata mendengarnya. Kenapa mereka tidak pernah bertanya sesakit apa selama ini ia melewati semuanya sendiri? Melawan hari-hari yang tak pernah indah seperti namanya sendiri. Lalu. Ani melemparkan sejumlah uang

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 4

    Pagi harinya, Indah terbangun. Ia masih tidur dalam posisi tengkurap, sementara Adrian tidur dengan menjadikan tubuh Indah sebagai sandaran. Indah bergerak perlahan. Gerakannya membuat Adrian ikut terjaga. Brak! Pintu kamar tiba-tiba terbuka dan menampakkan seorang wanita. Adrian langsung bangkit. Tatapannya berubah tajam melihat siapa yang berani masuk ke kamarnya tanpa izin. Sementara itu, Indah mendudukkan tubuhnya dan menatap wanita yang berdiri di ambang pintu. "Dasar pelakor!" teriak wanita itu sambil menatap Indah penuh kemarahan. Indah terkejut. Ia segera turun dari ranjang dan menatap wanita itu dengan bingung. "Adrian, kamu gila, ya?! Ternyata benar kamu selingkuh?!" ucap Tere dengan marah. Dadanya naik turun menahan emosi. Tere berjalan mendekati Adrian lalu mendorong dadanya. "Kamu jahat!" teriaknya. "Tere, cukup!" sentak Adrian. Namun Tere menggeleng, jelas tidak terima dengan apa yang dilihatnya. Ia kemudian berbalik dan berjalan menghampiri Indah.

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 3

    Seseorang yang sebelumnya begitu sibuk bermesraan dengan seorang wanita tiba-tiba menoleh. Deg! Indah terkejut. Beno. Dia adalah ayahnya. Jari-jari Indah mencengkeram satu sama lain. Dadanya terasa sesak, tetapi ia berusaha tetap tenang. 'Indah, orang tuamu saja seperti ini. Lalu kenapa kamu harus berbeda?' batinnya sambil tersenyum miris. "Ya?" tanya Indah, seolah tak ada rasa takut sama sekali. Suasana di ruangan itu seketika berubah tegang. Semua mata tertuju kepada Indah seakan menanti kejadian berikutnya. "Pak Beno, apa Anda pernah ditemani oleh Indah?" tanya Fera. Jelas terlihat Fera merasa khawatir. Ia takut Indah pernah menjadi pelanggan Beno dan sengaja menyembunyikannya. Tanpa mereka ketahui, keduanya adalah ayah dan anak. Hubungan yang seharusnya tidak mungkin terjadi seperti ini. Beno menatap Indah beberapa saat. Wajahnya terlihat tegang. Ia tidak mungkin mengakui bahwa wanita yang berdiri di hadapannya adalah putrinya. Terlebih lagi, Adrian ada d

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 2

    Indah melangkah ke luar, ia berdiri di depan pintu gerbang sesaat. Ia menarik nafas dan menghapus air matanya. Indah berjalan ke rumah yang bersebelahan dengan rumahnya, ia masuk dan melihat bibiknya sedang membersihkan halaman. "Indah?" panggilnya. "Tante," Indah langsung memeluk wanita paruh baya itu, dia adalah Kakak kandung ibunya. Ia menangis keras karena tak mampu menahan rasa sakitnya dan Tantenya tau keponakannya itu pasti sedang tidak baik-baik saja. "Kamu masuk dulu," kata wanita itu. "Ma, ngapain sih bawa dia kesini?" tanya wanita seusia Indah dia Dela, sepupu Indah sendiri dan tatapannya terlihat sinis. "Dela," tegur Arini. "Ma, dia itu cuma nyusahin, jangankan kita, Tante Ani aja nggak suka sana dia. Dia itu cuma beban tau, Ma. Pembawa sial!" cibirnya. Plak. Arini menampar mulut putrinya, ia sangat geram dengan ulah anaknya itu. "Kenapa kamu tidak punya sopan santu?!" geram Arini. "Pa," adu Dela pada Papanya. Papanya pun bangkit dan menatap tajam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status