LOGINSuara dentuman musik menggema, Indah duduk di kursi bar tender. Sama seperti sebelumnya, ia ditemani dengan rokoknya.
Ia menatap layar ponselnya sejenak, lalu ia pun tersenyum. Hampir satu minggu ia tak pulang ke rumah. Tapi tak ada yang bertanya tentang dirinya. Baik Ayah ataupun ibunya mereka hanya sibuk dengan dunia mereka sendiri, ketika kembali mereka hanya menuntutnya menjadi anak baik. Miris. "Apa yang aku harapkan?" gumamnya prustasi. Lalu seseorang pun duduk di sampingnya, dan bartender pun memberikan segelas minuman. Pria itu memantik rokoknya dan menatap Indah. Indah meliriknya dari samping, lalu tersenyum, Adrian pun membalas senyuman itu. "Apa kabar?" tanya Adrian. "Baik," jawab Indah lalu menatap sekitarnya, ia mengangkat gelasnya lalu menemuinya. Diam untuk sesaat, ia menghisap rokoknya dan asap pun keluar. Jelas ia sudah terbiasa dengan itu semua. "Ada yang sedang kau tunggu?" tanya Adrian. Indah menggeleng, "Aku hanya takut istrimu melihat kita, nanti dia pikir aku plakor lagi," kata Indah terkekeh pelan. Andrian pun mengangguk paham, "Maaf untuk kejadian itu," ucap Adrian, lalu meneguk minumanya. Indah pun mengangkat bahunya santai seakan bukan masalah. Memangnya apa yang lebih buruk daripada rumah tangga orang tuanya? Ia mendesah pasrah, dan kembali minumannya. "Indah," panggil Mami. Indah pun menoleh.. "Oh, ada Tuan Adrian," katanya setelah menyadari Adrian, pria paling berpengaruh di kota ini. Adrian pun mengangguk singkat sebagai balasan. "Indah, ada tamu yang mau kamu temani," kata Mami. "Dia bayar berapa?" tanya Indah seperti biasa dan itu secara langsung tanpa nego siasi. "Tujuh puluh juta, bisa dapat bonus juga," kata Mami dengan senyuman manis, semanis keuntungan yang bisa ia dapat dari Indah. "Oke," Indah pun mengangguk setuju, ia turun dari duduknya, tapi tiba-tiba tangan Adrian menahan lengannya. Indah menoleh, bahkan Mami juga menatap bingung. Siapa yang berani bermasalah dengan pria ini. "Aku bayar tiga kali lipat," kata Adrian. Indah pun menatap Mami begitupun juga sebaliknya. "Tuan Adrian, bagaimana kalau anda besok..." kata Mami hati-hati mengajukan penawaran, ia tak ingin malam ini uang dilepas tapi ia juga tak bisa melepaskan Adrian yang begitu royal. "Empat kali lipat," kata Adrian lagi. "Oh, oke...baiklah..." Mami langsung setuju, 'anak ini sekarang adalah berlianku,' bantinnya, "Indah, kamu temani Tuan Adrian, masalah Pak Edo, Mami urus...," perintahnya dengan senyuman yang menggembang sempurna. Indah pun mengangguk paham, ia seperti barangkan? Tidak masalah karena inilah kehidupan yang ia pilih sekarang. Tidak ada yang peduli padanya, tidak ada sama sekali. Jadi anggap saja ia akan menghabiskan sisa hidupnya sebelum bosan dan nantinya ia akan memilih untuk mengakhiri saja. Selesai! "Ikut aku!" perintah Adrian, ia menarik tangan Indah ikut bersamanya. *** Adrian langsung mendorong Indah ke atas ranjang, membuat wanita itu terkapar disana. Kemudian ia pun menindihnya, namun sebelum sempat ia menyentuh bibir wanita itu tangan Indah sudah terlebih dahulu menahan bibir Adrian. "Bagaimana kalau istrimu tau?" tanya Indah. Adrian tersenyum dan malah mencium telapak tangan Indah dengan penuh hasrat. Saat itu Indah meneguk saliva, ia merasa Adrian begitu menggairahkan dan membuatnya menegang. "Jangan bahas ini, aku hanya membayarmu untuk memuaskan aku," bisik Adrian. Indah pun tersenyum, "Dengan senang hati, Tuan," balasnya. Lalu Indah pun memutar posisinya, kini ia yang berada di atas tubuh Adrian, ia tersenyum seakan tak ingin mengalah. "Pernikahan hanya formalitas, bukan begitu, Tuan?" bisik Indah. Adrian pun tersenyum mendengarnya. "Ayo kita main permainan yang seru," bisik Indah. Adrian hanya diam menatap wanita yang berada di atas tubuhnya itu, ia menunggu permainan apa yang akan dimainkan. Indan pun melepas ikat pinggang Adrian, lalu mengikat tangan pria itu dan mengarahkan ke atas. Satu tangannya menahan tangan Adrian, satu lagi melepas kancing kemejanya. Setelah sepenuhnya terbuka, jari Indah bermain disana. Jari lentik itu berjalan dengan lincah, membuat Adrian menutup mata menahan hasrat yang menggelora. Kemudian perlahan ia kembali membuka matanya, nafasnya terengah-engah. Hasrat itu kian membara merobohkan hasrat yang benar-benar ingin meluap. Lalu Indah pun semakin mendekat, lalu mengecup bibir Adrian. Urat tangan Adrian mulai terlihat seiring dengan kepalan tangannya, Indah terlalu lama dan membuatnya tak terkendali. Brak! Sekali saja hentakan itu ikat pinggang yang mengikat tangannya langsung putus. Tatapannya sangat tajam dan ingin segera memangsa wanita ini. Indah tersenyum dan kini Adrian menindihnya dengan cepat. "Permainanmu terlalu menyiksaku, Nona," bisik Adrian pada telinga Indah. Deru nafas hangat yang menyentuh membuat sang empu menggeliat. "Benarkah, Tuan?" balas Indah. Malam yang tak terkendali, hasrat yang memanas dan desah yang menggema seakan tak bisa terhentikan. Malam panjang yang penuh dengan peluh kian menuntut untuk terus berlanjut. Namun, satu hal yang semakin diyakini oleh Indah...tak ada cinta yang sempurna dan ia tidak akan pernah jatuh cinta!Suara dentuman musik menggema, Indah duduk di kursi bar tender. Sama seperti sebelumnya, ia ditemani dengan rokoknya. Ia menatap layar ponselnya sejenak, lalu ia pun tersenyum. Hampir satu minggu ia tak pulang ke rumah. Tapi tak ada yang bertanya tentang dirinya. Baik Ayah ataupun ibunya mereka hanya sibuk dengan dunia mereka sendiri, ketika kembali mereka hanya menuntutnya menjadi anak baik. Miris. "Apa yang aku harapkan?" gumamnya prustasi. Lalu seseorang pun duduk di sampingnya, dan bartender pun memberikan segelas minuman. Pria itu memantik rokoknya dan menatap Indah. Indah meliriknya dari samping, lalu tersenyum, Adrian pun membalas senyuman itu. "Apa kabar?" tanya Adrian. "Baik," jawab Indah lalu menatap sekitarnya, ia mengangkat gelasnya lalu menemuinya. Diam untuk sesaat, ia menghisap rokoknya dan asap pun keluar. Jelas ia sudah terbiasa dengan itu semua. "Ada yang sedang kau tunggu?" tanya Adrian. Indah menggeleng, "Aku hanya takut istrimu melihat kita
Pagi harinya. Indah terbangun, ia melihat pria itu sedang memakai dasinya dan Indah pun segera mendudukkan tubuhnya tak lupa menarik selimut menutupi tubuhnya. "Aku merasa kau sangat menyenangkan, bagaimana kalau aku bantu keluar dari tempat itu dan menjadi simpananku?" tanya pria itu. Simpanan? Indah bukan tersenyum getir, tapi tersenyum menahan tawa dibuatnya. Bahkan ia tak tertarik sama sekali. "Kenapa? Kau bisa melakukan apapun, tapi hanya aku yang kau layani," kata pria itu lagi. "Tuan, saat diranjang kita adalah dua orang yang penuh cinta. Tapi setelah itu kita hanya dua orang asing, itu aturan mainnya," jawab Indah sambil terkekeh kecil. "Begini saja, simpan kontakku...nanti hubungi aku kalau kau berubah pikiran," ucap pria itu. Indah pun mengangguk dan mereka bertukar nomer ponsel. "Aditia," kata pria itu menyebutkan namanya. "Oke," kata Indah dan menyimpan nomor kontak pria itu. "Ingat, jika kau setuju kau akan ikut aku setiap kali perjalanan dinas teruta
Tiga hari kemudian. Indah membuka matanya perlahan, ia pikir sudah mati setelah dikurang tanpa makan dan minum. Bahkan minin penerangan. Ternyata tidak, ia masih di dunia ini dan kini sedang dirawat di rumah sakit. Ia tersenyum getir tak mentangka hidupnya benar-benar sangat menyedihkan, ia tersenyum menatap jendela kamar. Tap tap tap... Terdengar suara langkah kaki, ternyata yang datang adalah ibunya. Ani datang dengan wajah marah, tak ada kehangatan apa lagi kekhawatiran sebagai rasa sayang yang diharapkan oleh Indah. Tatapannya penuh kebencian, penghakiman tanpa pernah bertanya tentang perasaannya. "Anak kurang ajar! Bukannya kuliah malah jual diri di klub malam! Kapan kamu bisa jadi anak membanggakan?!" geramnya. Mata Indah terasa penuh, ia menahan air mata mendengarnya. Kenapa mereka tidak pernah bertanya sesakit apa selama ini ia melewati semuanya sendiri? Melawan hari-hari yang tak pernah indah seperti namanya sendiri. Lalu. Ani melemparkan sejumlah uang
Pagi harinya, Indah terbangun. Ia masih tidur dalam posisi tengkurap, sementara Adrian tidur dengan menjadikan tubuh Indah sebagai sandaran. Indah bergerak perlahan. Gerakannya membuat Adrian ikut terjaga. Brak! Pintu kamar tiba-tiba terbuka dan menampakkan seorang wanita. Adrian langsung bangkit. Tatapannya berubah tajam melihat siapa yang berani masuk ke kamarnya tanpa izin. Sementara itu, Indah mendudukkan tubuhnya dan menatap wanita yang berdiri di ambang pintu. "Dasar pelakor!" teriak wanita itu sambil menatap Indah penuh kemarahan. Indah terkejut. Ia segera turun dari ranjang dan menatap wanita itu dengan bingung. "Adrian, kamu gila, ya?! Ternyata benar kamu selingkuh?!" ucap Tere dengan marah. Dadanya naik turun menahan emosi. Tere berjalan mendekati Adrian lalu mendorong dadanya. "Kamu jahat!" teriaknya. "Tere, cukup!" sentak Adrian. Namun Tere menggeleng, jelas tidak terima dengan apa yang dilihatnya. Ia kemudian berbalik dan berjalan menghampiri Indah.
Seseorang yang sebelumnya begitu sibuk bermesraan dengan seorang wanita tiba-tiba menoleh. Deg! Indah terkejut. Beno. Dia adalah ayahnya. Jari-jari Indah mencengkeram satu sama lain. Dadanya terasa sesak, tetapi ia berusaha tetap tenang. 'Indah, orang tuamu saja seperti ini. Lalu kenapa kamu harus berbeda?' batinnya sambil tersenyum miris. "Ya?" tanya Indah, seolah tak ada rasa takut sama sekali. Suasana di ruangan itu seketika berubah tegang. Semua mata tertuju kepada Indah seakan menanti kejadian berikutnya. "Pak Beno, apa Anda pernah ditemani oleh Indah?" tanya Fera. Jelas terlihat Fera merasa khawatir. Ia takut Indah pernah menjadi pelanggan Beno dan sengaja menyembunyikannya. Tanpa mereka ketahui, keduanya adalah ayah dan anak. Hubungan yang seharusnya tidak mungkin terjadi seperti ini. Beno menatap Indah beberapa saat. Wajahnya terlihat tegang. Ia tidak mungkin mengakui bahwa wanita yang berdiri di hadapannya adalah putrinya. Terlebih lagi, Adrian ada d
Indah melangkah ke luar, ia berdiri di depan pintu gerbang sesaat. Ia menarik nafas dan menghapus air matanya. Indah berjalan ke rumah yang bersebelahan dengan rumahnya, ia masuk dan melihat bibiknya sedang membersihkan halaman. "Indah?" panggilnya. "Tante," Indah langsung memeluk wanita paruh baya itu, dia adalah Kakak kandung ibunya. Ia menangis keras karena tak mampu menahan rasa sakitnya dan Tantenya tau keponakannya itu pasti sedang tidak baik-baik saja. "Kamu masuk dulu," kata wanita itu. "Ma, ngapain sih bawa dia kesini?" tanya wanita seusia Indah dia Dela, sepupu Indah sendiri dan tatapannya terlihat sinis. "Dela," tegur Arini. "Ma, dia itu cuma nyusahin, jangankan kita, Tante Ani aja nggak suka sana dia. Dia itu cuma beban tau, Ma. Pembawa sial!" cibirnya. Plak. Arini menampar mulut putrinya, ia sangat geram dengan ulah anaknya itu. "Kenapa kamu tidak punya sopan santu?!" geram Arini. "Pa," adu Dela pada Papanya. Papanya pun bangkit dan menatap tajam







