Share

Bab 7

Author: Ipak Munthe
last update publish date: 2026-08-25 18:20:14

Suara dentuman musik menggema, Indah duduk di kursi bar tender. Sama seperti sebelumnya, ia ditemani dengan rokoknya.

Ia menatap layar ponselnya sejenak, lalu ia pun tersenyum. Hampir satu minggu ia tak pulang ke rumah. Tapi tak ada yang bertanya tentang dirinya.

Baik Ayah ataupun ibunya mereka hanya sibuk dengan dunia mereka sendiri, ketika kembali mereka hanya menuntutnya menjadi anak baik.

Miris.

"Apa yang aku harapkan?" gumamnya prustasi.

Lalu seseorang pun duduk di sampingnya, dan bartender pun memberikan segelas minuman.

Pria itu memantik rokoknya dan menatap Indah.

Indah meliriknya dari samping, lalu tersenyum, Adrian pun membalas senyuman itu.

"Apa kabar?" tanya Adrian.

"Baik," jawab Indah lalu menatap sekitarnya, ia mengangkat gelasnya lalu menemuinya.

Diam untuk sesaat, ia menghisap rokoknya dan asap pun keluar. Jelas ia sudah terbiasa dengan itu semua.

"Ada yang sedang kau tunggu?" tanya Adrian.

Indah menggeleng, "Aku hanya takut istrimu melihat kita, nanti dia pikir aku plakor lagi," kata Indah terkekeh pelan.

Andrian pun mengangguk paham, "Maaf untuk kejadian itu," ucap Adrian, lalu meneguk minumanya.

Indah pun mengangkat bahunya santai seakan bukan masalah. Memangnya apa yang lebih buruk daripada rumah tangga orang tuanya?

Ia mendesah pasrah, dan kembali minumannya.

"Indah," panggil Mami.

Indah pun menoleh..

"Oh, ada Tuan Adrian," katanya setelah menyadari Adrian, pria paling berpengaruh di kota ini.

Adrian pun mengangguk singkat sebagai balasan.

"Indah, ada tamu yang mau kamu temani," kata Mami.

"Dia bayar berapa?" tanya Indah seperti biasa dan itu secara langsung tanpa nego siasi.

"Tujuh puluh juta, bisa dapat bonus juga," kata Mami dengan senyuman manis, semanis keuntungan yang bisa ia dapat dari Indah.

"Oke," Indah pun mengangguk setuju, ia turun dari duduknya, tapi tiba-tiba tangan Adrian menahan lengannya.

Indah menoleh, bahkan Mami juga menatap bingung. Siapa yang berani bermasalah dengan pria ini.

"Aku bayar tiga kali lipat," kata Adrian.

Indah pun menatap Mami begitupun juga sebaliknya.

"Tuan Adrian, bagaimana kalau anda besok..." kata Mami hati-hati mengajukan penawaran, ia tak ingin malam ini uang dilepas tapi ia juga tak bisa melepaskan Adrian yang begitu royal.

"Empat kali lipat," kata Adrian lagi.

"Oh, oke...baiklah..." Mami langsung setuju, 'anak ini sekarang adalah berlianku,' bantinnya, "Indah, kamu temani Tuan Adrian, masalah Pak Edo, Mami urus...," perintahnya dengan senyuman yang menggembang sempurna.

Indah pun mengangguk paham, ia seperti barangkan? Tidak masalah karena inilah kehidupan yang ia pilih sekarang.

Tidak ada yang peduli padanya, tidak ada sama sekali. Jadi anggap saja ia akan menghabiskan sisa hidupnya sebelum bosan dan nantinya ia akan memilih untuk mengakhiri saja.

Selesai!

"Ikut aku!" perintah Adrian, ia menarik tangan Indah ikut bersamanya.

***

Adrian langsung mendorong Indah ke atas ranjang, membuat wanita itu terkapar disana. Kemudian ia pun menindihnya, namun sebelum sempat ia menyentuh bibir wanita itu tangan Indah sudah terlebih dahulu menahan bibir Adrian.

"Bagaimana kalau istrimu tau?" tanya Indah.

Adrian tersenyum dan malah mencium telapak tangan Indah dengan penuh hasrat.

Saat itu Indah meneguk saliva, ia merasa Adrian begitu menggairahkan dan membuatnya menegang.

"Jangan bahas ini, aku hanya membayarmu untuk memuaskan aku," bisik Adrian.

Indah pun tersenyum, "Dengan senang hati, Tuan," balasnya.

Lalu Indah pun memutar posisinya, kini ia yang berada di atas tubuh Adrian, ia tersenyum seakan tak ingin mengalah.

"Pernikahan hanya formalitas, bukan begitu, Tuan?" bisik Indah.

Adrian pun tersenyum mendengarnya.

"Ayo kita main permainan yang seru," bisik Indah.

Adrian hanya diam menatap wanita yang berada di atas tubuhnya itu, ia menunggu permainan apa yang akan dimainkan.

Indan pun melepas ikat pinggang Adrian, lalu mengikat tangan pria itu dan mengarahkan ke atas.

Satu tangannya menahan tangan Adrian, satu lagi melepas kancing kemejanya. Setelah sepenuhnya terbuka, jari Indah bermain disana.

Jari lentik itu berjalan dengan lincah, membuat Adrian menutup mata menahan hasrat yang menggelora.

Kemudian perlahan ia kembali membuka matanya, nafasnya terengah-engah. Hasrat itu kian membara merobohkan hasrat yang benar-benar ingin meluap.

Lalu Indah pun semakin mendekat, lalu mengecup bibir Adrian.

Urat tangan Adrian mulai terlihat seiring dengan kepalan tangannya, Indah terlalu lama dan membuatnya tak terkendali.

Brak!

Sekali saja hentakan itu ikat pinggang yang mengikat tangannya langsung putus.

Tatapannya sangat tajam dan ingin segera memangsa wanita ini.

Indah tersenyum dan kini Adrian menindihnya dengan cepat.

"Permainanmu terlalu menyiksaku, Nona," bisik Adrian pada telinga Indah.

Deru nafas hangat yang menyentuh membuat sang empu menggeliat.

"Benarkah, Tuan?" balas Indah.

Malam yang tak terkendali, hasrat yang memanas dan desah yang menggema seakan tak bisa terhentikan. Malam panjang yang penuh dengan peluh kian menuntut untuk terus berlanjut.

Namun, satu hal yang semakin diyakini oleh Indah...tak ada cinta yang sempurna dan ia tidak akan pernah jatuh cinta!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 94

    "Bos, jangan hancurkan hubungan anda dan Ibu Indah yang sudah ada kemajuan ini," bisik Robby. Adrian pun menatap Robby sesaat, lalu berjalan masuk ke dalam vila. Robby merasa lebih tenang sekarang, sebenarnya siapa yang memiliki masalah? Kenapa ia harus sepanik ini? Ah kacau.Sang Bos yang cemburu ia ikut pusing, pusing menyelamatkan bonus bulannya. *** Indah merasa sangat lega karena untuk hari ini syuting berjalan dengan sangat lancar, dan syuting akan segera selesai. Ia berharap film ini akan meledak di pasaran. Film pertama ini tentu banyak sekali mengajarkan perjuangan awal penuh kesan. "Indah," Brian pun duduk di kursi sebelahnya. "Ya?" Indah menoleh. "Nih, cobain," Brian kembali memberikan makanan masakan yang dikirimkan sang Mama seperti yang ia katakan sebelumnya. "Wah, terimakasih," kata Indah. Brian pun mengangguk, "Indah, sebenarnya aku punya maksud sama kamu," kata Brian. "Aku?" Indah menatap bingung. Brian menggangguk lalu melihat sekitarnya, suas

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 93

    "Kenapa mukanya?" tanya Maya. Ara yang duduk bersebelahan dengan Maya pun menatapnya sinis, tapi kemudian merebahkan kepalanya pada meja tanpa ingin menjawab. Sedangkan Indah yang duduk bersebelahan dengan mereka mulai merasa malu, ia memilih mengunyah makanannya. "Kalian kenapa sih?" tanya Maya makin penasaran. "Aku nggak bisa tidur gara-gara dia," Ara menunjuk Indah. "Kenapa?" Indah tetap diam, tapi di kursi lainnya tanpa sengaja ia melihat Adrian tengah meliriknya diiringi sedikit senyuman. Ia juga membalasnya tapi kemudian ia juga kembali fokus pada makannya berpura-pura tidak ada apa-apa. Tak lama kemudian Mita pun muncul dan mengedarkan pandangan, tapi kursi kosong hanya tersisa disamping Indah saja. Terpaksa ia pun duduk di sana. "Kamu kenapa?" Tanya Maya karena keduanya teman sekamar. Tapi Mita malah terlihat tidak senang dan justru melirik Indah dengan tajam, sebab karena gagal mengerjai Indah hingga ia seperti ini. Bahkan semalaman Mita tidak bisa tid

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 92

    Di luar kamar Mita sudah memegang gagang pintu, tetapi ada tangan yang menghentikannya. Lalu ia pun menoleh. "Kak Ria?" Mita mungkin masih belum percaya bahwa sahabat Kakaknya ada di depan matanya. Kemudian ia pun menghempas tangan Rio, lalu menoleh ke samping, meminta seseorang yang ikut bersamanya segera pergi. "Tunggu!" Rio menghentikan langkah pria itu. Mita meneguk saliva susah payah, "pergi!" perintahnya cepat. Tapi saat pria itu akan melangkah lagi Rio mengambil sesuatu yang dibawa pria itu dan melihatnya. Ular. Meski tidak terlalu besar tapi tetap saja itu adalah hewan yang membahayakan. Ketika itu pria asing itu langsung melahirkan diri. Mita bingung harus bagaimana. Pergi. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk sekarang ini. Tapi Rio sudah meraih tangannya kemudian menariknya. "Kak Rio, kamu mau apa? Jangan kurang ajar!" Tapi Rio tidak peduli, ia pun membawa Mita masuk ke dalam kamarnya. Tak lupa mengunci pintu. "Kak Rio, jangan macam-macam! Kalau ak

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 91

    "Aku, permisi," Maya segera berlari menuju pintu keluar lalu pergi secepatnya. Sedangkan Ara masih berdiri ditempatnya dengan leher terasa dicekik, ia ingin ikut pergi tapi kemana? Semua kamar di vila sudah penuh, kecuali tidur di ruang tamu. Itu tidak mungkin, tali ingin menahan Maya di kamar lebih tidak mungkin. "Santai saja, lakukan yang mau kamu lakukan," kata Adrian. Hah? Bagaimana mungkin Adrian bisa bicara demikian? Ini sungguh sangat tidak mungkinkan? "I-iya," Ara mengangguk cepat lalu ia masuk ke dalam toilet, ia bisa duduk disana sambil bermain ponsel menunggu Adrian pergi. *** "Mas, kamu kok disini?" tanya Indah. Duar. Suara petir kembali menggelegar, membuatnya membeku. Adrian kembali memeluknya erat, seolah menenangkan Indah. 'Indah, kamu nggak usah lebay. Ini cuma petir, memangnya kenapa?' batinnya. "Mas, kamu pergi sana. Kenapa kesini," protes Indah. "Kenapa? Aku kangen sama kamu, aku ini suamimu. Aku sekarang mikir jika pernikahan ini nggak

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 90

    "Bos, Anda mau pergi sekarang?" tanya Robby ketika melihat Adrian sudah mengambil ponselnya. Adrian pun menatap Robby dengan sinis, "Besok!" Robby pun menundukkan wajahnya karena takut pada Adrian, 'Cuaca tidak bisa ditentukan oleh cerahnya matahari,' batinnya. Adrian melirik jam tangannya. "Masih ada waktu." "Kalau begitu, kenapa sudah siap-siap?" "Aku mau memastikan tempatnya aman." Robby mengerutkan kening. "Tempat apa, Bos?" Adrian menatapnya datar. "Bawah pohon jeruk." Oh." Robby mengangguk pelan. Ternyata bosnya benar-benar sudah tidak bisa diselamatkan. "Jangan sampai ada yang melihat," pesan Adrian. "Siap, Bos." Adrian pun keluar dari kamar dengan langkah penuh percaya diri. Sementara itu, Robby hanya bisa menggelengkan kepala. "Benar-benar puber terlambat." *** Adrian sudah berada di belakang vila. Sesuai pesannya, ia menunggu di bawah pohon jeruk yang tumbuh tidak jauh dari bangunan utama. Sesekali ia melirik jam tangannya. Sudah hampir s

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 89

    Adrian terus melangkah di lorong panjang itu, tujuannya sekarang tentu saja Indah. Tapi kemudian ia pun menghentikan langkah kakinya dan menoleh pada Robby. "Ada sesuatu, Bos?" tanya Robby was-was. "Buat dia lenyap dari industri hiburan!" perintahnya. "Hah?" Robby terkejut mendengarnya, masalah benar-benar semakin besar sekarang. Adrian kemudian kembali melanjutkan langkah kakinya dan Robby segera mengejarnya karena sudah tertinggal cukup jauh. "Bos, kalau itu terjadi bagaimana dengan film ini. Bagaimana dengan Ibu Indah?" tanyanya dengan suara nyaris berisik, bahkan matanya mengedar karena takut ada yang mendengar. Adrian pun menghentikan langkah kakinya. Robby juga tentunya ikut menghentikan langkah kakinya, tapi tentunya ada perasaan waspada sekarang. Apa yang akan terjadi padanya sekarang, 'Bu Indah, tolong...' batinnya menjerit. "Kalau begitu lupakan!" Adrian pun kembali melanjutkan langkah kakinya. Namun, Robby merasa lebih lega paling tidak ia tidak terkena

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status