Se connecter"Mereka... mereka bersama secepat ini?" ucap sosok tersebut. "Tuan Muda, pesonamu benar-benar sangat besar," lanjutnya. Sosok tersebut, adalah Riana, sang dokter cantik. Tadinya dia ingin mengambil air minum di dapur. Namun, di perjalanan, dia mendengar suara langkah kaki dan obrolan pria dan wanita. Dia mengenal suara si wanita apalagi si pria. Jadi, dia memutuskan kembali ke kamarnya, untuk mengintip di sana. === Erfan dan Alana masuk ke dalam kamar. Kemudian, Alana menutup pintu dan menguncinya. Setelah itu, Alana berbalik, lalu menarik Erfan ~ mengajaknya ke tempat tidur. Sampai di sisi tempat tidur, Alana mendorong Erfan sampai pria itu terbaring di tempat tidur. Tanpa banyak bicara, Alana langsung melepaskan pakaiannya. Dalam sekejap, pakaian itu terlepas ~ tubuh indah yang hanya tertutup pakaian dalam renda hitam terpampang di mata Erfan. Hasrat Erfan seketika mencuat, sampai batangnya menegang hebat, saat melihat pemandangan tubuh yang begitu menggairahkan itu.
Karena tak ada sedikitpun penolakan fisik dari Alana, tindakan Erfan selanjutnya tentu lebih berani lagi. Dia melingkarkan tangannya di pinggang Alana, lalu menarik tubuh wanita itu, sampai payudara wanita itu menekan dadanya. Alana merasa sedikit terkejut dengan tindakan yang jauh lebih berani dari Erfan. "Tuan Muda, kamu..." sebelum dia sempat menyelesaikan perkataannya, Erfan meletakkan jari telunjuknya di bibir merah wanita itu. "Sstt... kamu yakin mau nolak aku?" tanya Erfan dengan nada main-main. Sorot matanya tampak sangat panas. Alana tampak linglung. Saat ini, perasaan di dalam hatinya sedang bertarung hebat. Rasa ingin menyerah dan rasa penolakan itu terus beradu hebat. "Alana, masa sih kamu selingkuh! Tapi... pesona Tuan Muda ini benar-benar sangat besar! Aku enggan menolaknya," gumam Alana. "Gimana? Kamu mau nolak, gak? Kalau kamu gak jawab, aku anggap kamu gak nolak," ucap Erfan dengan nada menggoda. Tangannya tampak sudah berkeliaran di tubuh wanita itu. "Ak
Karena rasa penasarannya, Alana ingin mengorek lebih banyak informasi tentang seberapa perkasa Erfan. "Aku sangat penasaran. Kalian kan sangat banyak, terus setiap berapa minggu sekali kalian dapet jatah di ranjang," ucap Alana. "Kita semua pasti dapat jatah setiap minggu juga. Pria nakal ini sangat kuat, bahkan dia mampu tidur sama kami semua," ucap Dewi sambil mencubit pipi Erfan. Mendengar itu, Alana benar-benar di buat tercengang. "Kamu jangan berbohong!" "Eh, siapa yang bohong. Buat apa aku berbohong," ucap Dewi. "Itu kenyataan, Alana! Kalau gak percaya, kamu coba langsung saja," ucap Calista dengan nada main-main. Satu persatu wanita Erfan, mulai menyatakan seberapa kuatnya Erfan. Pada akhirnya, Alana pun percaya, kalau semua itu adalah kenyataan. Sebuah perasaan aneh, mulai menyebar di hati wanita itu. Selain Alana, ada wanita lain yang memiliki perasaan tak karuan saat ini. Wanita itu adalah Riana. Setelah tinggal di vila selama dua hari, wanita perasaannya ter
Erfan hanya tersenyum, saat mendengar ocehan para wanitanya ~ yang sedang menggoda Alana. Alana tak pernah mengira, kalau ternyata ~ beberapa wanita Erfan pada awalnya punya suami. "Tuan Muda, kamu jahat banget, yah... suka merebut istri orang," ucap Alana sambil menatap Erfan dengan tatapan main-main. "Hey, aku merebut ada alasannya. Buka berati aku jahat! Aku merebut karena aku gak tega melihat wanita cantik gak bahagia," ucap Erfan dengan ekspresi wajah yang dibuat seperti orang bijak. Kemudian, dia menatap para wanitanya. "Iya gak sayang? Ucapanku benar, kan?" "Iya, iya... gimana kamu saja sayang," ucap Bu Sandra. Erfan terkekeh pelan. "Sayang, kalau Alana gak bahagia sama suaminya, apa kamu mau merebutnya juga?" tanya Jessy dengan nada main-main, sambil melepaskan lirikan menggoda ke arah Alana. "Tentu saja! Kalau dia mau... aku gak akan nolak! Sangat di sayangkan menolak wanita cantik," balas Erfan dengan berani, tanpa malu sama sekali. Mendengar itu, seketika jan
Setibanya di vila, Alana langsung di buat terkejut oleh banyaknya wanita cantik di sana. Bahkan ada satu yang dia akui ~ lebih cantik dari Viona. Tentu saja, wanita itu adalah Dewi. Erfan memperkenalkan Alana kepada semua wanita. Pada akhirnya, mereka pun berkenalan dengan penuh kehangatan. Di antara para wanita Erfan, hanya dua wanita yang Alana kenali. Dua wanita itu adalah, Calista dan Tante Yurike. Setelah berkenalan, mereka pun duduk di sofa. Beberapa wanita Erfan, dengan cepat mengambil minuman dan makanan untuk di nikmati Alana dan mereka semua. "Tuan Muda, anda gak pernah berubah!" ucap Alana sambil tersenyum penuh arti. "Hahaha, aku lebih suka seperti ini... jadi buat apa berubah," balas Erfan sambil tertawa. Setelah makanan dan minuman di sajikan, Erfan menceritakan tentang persoalan Viona. Mendengar cerita itu, tentu saja semua wanita sangat terkejut. "Nona Alana, apa kamu gak be
Telepon tersambung. "Halo, Tuan Muda. Sudah lama anda tidak menelepon saya. Ada yang bisa saya bantu?" terdengar suara pria yang terdengar sangat bersemangat. "Tolong gali lebih dalam masalah Viona! Soalnya... ada hal yang gak beres," ucap Erfan dengan suara tegas. Di seberang telepon, tampak hening sejenak. Tak lama kemudian, terdengar kembali suara pria di sana. "Maaf, Tuan Muda, bak beres gimana maksudnya?" tanya pria itu dengan nada serius. "Pokoknya cari tahu saja! Kalau bisa korek informasi dari orang terdekatnya! Bagaimana pun caranya!" tegas Erfan. "Baik, Tuan Muda! Saya lakukan hari ini juga!" balas pria itu, tanpa banyak bertanya lagi. Erfan pun menutup panggilan telepon tersebut. Melihat Erfan yang langsung menelepon bawahannya, diam-diam Alana bergumam di dalam hatinya. "Dia ternyata masih sangat peduli. Vio, kalau kamu tahu, Tuan Muda Erfan masih sangat peduli sama kamu, kamu pasti merasa senang." Erfan meletakkan ponselnya, lalu menatap Alana kembali.
Sampai di sebuah jalan yang sangat jelek, Pak RW menyarankan untuk menyimpan mobil di tempat jalan tersebut saja. "Tuan muda, mobil nya simpan saja di sini! soalnya jalan ke depan sangat rusak, dan sulit untuk parkir tuan muda," ucap Pak RW."Baiklah," jawab Erfan, lalu menghentikan mobilnya.Mere
Erfan kembali ke vila terlebih dahulu. Sampai di vila, Erfan langsung berganti pakaian, lalu pergi ke perusahaan. Erfan tidak mampir untuk sarapan di warung Bu Susan, karena dia sudah sarapan tadi bersama Dewi.Sampai di perusahaan, Erfan seperti biasa saling sapa dengan para karyawan perusahaan.
Tiba-tiba di luar, terdengar Sirene mobil polisi. Beberapa polisi langsung menyerbu masuk ke dalam rumah Wandi yang semakin membuat ketakutan Lusi.Para warga kampung tersebut, berdatangan, termasuk keluarga Lusi, karena mereka di beri tahu oleh warga, ada polisi yang mencari Wandi. "Sialan, lepas
Wandi mengumpat, di sebuah ruangan kosong, yang berdekatan dengan toilet. Saat Serina keluar dari toilet, Wandi langsung menariknya masuk, ke dalam ruangan kosong itu, Serina ingin berteriak, tapi Wandi langsung menutup mulutnya."Emp emp," Serina memberontak, sambil menatap Wandi dengan







