LOGINSampai di rumah sakit,
Erfan langsung memanggil perawat. Segera beberapa perawat mambawa Brankar. Para pria langsung menggotong Pak Jaki, lalu meletakkan nya Di Brankar degan gesit para perawat membawa pak Jaki ke dalam ruang IGD. "Pak aku menunggu di luar pengen merokis, nanti kalo sudah selesai pemeriksaan, panggil saja aku," ucap Erfan. "Baik tuan muda," jawab Pak RW. 30 menit kemudian, Pak RW menghampiri Erfan, memberi tahu hasil pemeriksaan. Ternyata penyakit jantung Pak Jaki sudah sangat kronis, Entah berapa lama akan di rawat di rumah sakit. "Kalo gitu, aku akan membayar biaya rumah sakit untuk 1 minggu terlebih dahulu," ucap Erfan. "Baik, Terimakasih tuan muda," ucap Pak RW. Erfan dan Pak RW pergi ke Resepsionis rumah sakit, Erfan membayar sebesar 20 juta untuk biaya perawatan selama satu minggu. jika ada tindakan berat, tentu harus menambah biaya. Setelah membayar, Erfan menghampiri semua orang yang berada di depan ruang IGD. "Bu Resti, saya sudah membayar perawatan suami ibu selama 7 hari, dan jika belum bisa pulang dalam 7 hari, saya akan membayar biayanya lagi," ucap Erfan . "Terimakasih banyak tuan muda, jika tidak ada anda saya tidak tau bagaimana," ucap Bu Resti, terlihat kelegaan terlukis di wajahnya. "Maaf saya tidak bisa menunggu disini, saya harus pulang. Besok ada yang harus saya kerjakan, Jika ada sesuatu hubungi saja saya," ucap Erfan, dengan ekspresi minta maaf. "Tidak apa apa tuan muda, anda sudah membantu Pak Jaki begitu banyak. Urusan menunggu biar kami saja!" ucap Salah satu pria disana. "Tuan muda saya mau ikut pulang dulu, tadi saya belum sempat mengemas pakaian," ucap Bu Resti. "Baiklah. Ayo Bu!" jawab Erfan. "Pak maaf merepotkan untuk menunggu suamiku." ucap Bu Resti, dengan ekspresi tidak enak. "Tidak apa apa bu, anda bisa tenang," jawab Pak RW, sambil tersenyum. Sebelum pergi, Erfan memberi uang 500 rb kepada Pak RW untuk membeli makanan, dan kopi, untuk semua orang yang menunggu pak jaki, lalu Erfan Dan Bu Resti pergi. Semua orang sangat kagum dengan Erfan. Setelah Erfan pergi mereka terus memuji Erfan. === Erfan menyerir mobilnya, ditengah gelap malam. "Tuan muda, apakah anda tidak lelah?" tanya Bu Resti sambil melirik Erfan. "Tidak kok bu," jawab Erfan. Karena Bu Resti penasaran, tentang biaya perawatan suaminya. Dia mengambil inisiatif, bertanya kepada Erfan. "Berapa banyak yang tuan muda keluarkan untuk biaya?" tanya Bu Resti. "Memang nya kenapa bu?" tanya balik Erfan. "Saya bingung, untuk mengganti nya tuan muda," jawab Bu Resti, dengan nada lesu. "Tidak usah dipikirkan bu, dan tidak perlu diganti juga," Erfan berkata, dengan santai. "Tapi saya, tidak enak tuan muda," ucap Bu Resti, dengan nada tidak enak. "Udah yang penting, Bu Resti pekerja dengan giat itu sudah cukup mengganti semua nya," ucap Erfan sambil tersenyum. Bu Resti hanya bisa mengangguk, Bu Resti beberapa kali menatap Erfan, matanya berkelilat dengan ketegasan. Erfan menyadari tatapan Bu Resti tapi hanya mendiamkan nya. "Tuan muda, apakah anda tidak kesepian di selama di kampung mawar?" ucap Bu Resti tiba-tiba. "Maksudnya gimana bu?" tanya Erfan pura pura tidak mengerti. "Masa tuan muda tidak mengerti," ucap Bu Resti, dengan nada yang sedikit genit. Erfan menyeringai, dia tidak ingin berpura-pura lagi. Dia berkata dengan nada santai. "Tentu saja kesepian bu, di sini sulit jika ingin mencari wanita yang mau di ajak tidur," ucap Erfan. "Tuan muda belum lama saja disininya, belum mengenal banyak wanita. jika sudah banyak mengenal wanita, apalagi tuan muda punya uang, hal seperti itu sangat lah gampang,"'ucap Bu Resti, dengan nada penuh godaan. "Apa Bu Resti mau, mencarikan wanita yang mau di ajak tidur? soal harga tidak masalah berapa pun," Erfan berkata penuh harap, karena dia sudah tidak tahan ingin di puaskan, jika tidak ada wanita lain Erfan akan mengajak Bi Ayu. "Yang seperti apa? yang tuan muda suka?" tanya Bu Resti, sambil menatap Erfan dengan tatapan menggoda. "Yang penting cantik dan tubuhnya menggoda, dan aku suka dada wanita yang besar!" jawab Erfan, sambil menyeringai nakal. "Kalo Usia?" tanya Bu Resti. "Usia tidak masalah," jawab Erfan. "Aku ada beberapa wanita penyuka uang, nanti aku coba tawari mereka," ucap Bu Resti. "Oke. Tenang saja jika Bu Resti mendapatkan wanita yang sesuai keinginan ku. Aku akan memberi uang buat Bu Resti," ucap Erfan sambil tersenyum nakal. "Kalo menurut tuan muda, aku masuk gak ke tipe tuan muda," ucap Bu Resti, sambil menatap Erfan dengan tatapan penuh godaan. "Masuk sih," jawab Erfan, sambil menyeringai nakal. "Mau gak main sama aku? anggap saja sebagai ucapan terimakasih," ucap Bu Resti dengan nada genit. "Aku tidak mau, jika ibu melayani saya hanya untuk terima kasih. Tapi jika ibu menginginkan uang aku mau bermain dengan Ibu," ucap Erfan, dengan nada serius. "Ayo deh, kebetulan saya sangat butuh uang," ucap Bu Resti dengan tegas. "Berapa yang ibu inginkan?" tanya Erfan. "Gak papa 500 rb aja, tuan muda bisa main sepuasnya," ucap Bu Resti. "Mau main dimana?" tanya Erfan, tanpa banyak berpikir, karena dia sudah sangat bergairah, sudah lama dia tidak bermain. "Di mana saja, yang penting aman!" jawab Bu Resti. "Disini tidak ada hotel," ucap Erfan. "Tidak perlu hotel tuan muda, main di mobil juga bisa cari saja tempat yang sepi aja," ucap Bu Resti, dengan nada genit. Erfan pun, mencari tempat yang benar benar sepi, jauh dari jalan besar. mobil pun terhenti, di area hutan yang sangat gelap. "Ayo tuan muda, pindah ke belakang!" Bu Resti berkata sambil pindah ke bagian belakang mobil. Mereka pun langsung berpelukan, Bu Resti mengambil inisiatif melumat bibir Erfan. tentu saja Erfan melawan dengan panas. Tangan Erfan masuk ke dalam pakaian kaos Bu Resti, lalu meremas gunung Bu Resti dengan keras. "shh ahhh enak tuan muda," Bu Resti mengerang nikmat, saat bibirnya terlepas dari bibir Erfan. "Dada Bu Resti ternyata sangat besar, jika menggunakan dress pasti ibu sangat seksi," ucap Erfan dengan penuh nafsu. matanya menatap dada besar itu, dengan tatapan panas. "Saya tidak bisa membeli pakaian seperti itu tuan muda ah ah," jawab Bu Resti, sambil mengerang nikmat. "Nanti aku beliin deh," ucap Erfan, sambil terus meremas dada besar itu, sampai berubah berbagai bentuk. "Shh ahh Jika dikasih pasti ibu terima," jawab Bu Resti, tanpa ragu. Keduanya melepaskan pakaian mereka masing masing, dalam sekejap semua pakaian mereka terlepas.Erfan langsung menerkam wanita dewasa itu. Pertempuran dimulai, mobil berguncang hebat di tengah kegelapan hutan. suara sura samar rintihan terdengar luar mobil. 1 jam kemudian, mobil tersebut kembali tenang. Suasana di dalam mobil, begitu panas. Saking intens nya permainan, sampai keringat panas keluar sangat deras.Erfan hanya tersenyum, saat mendengar ocehan para wanitanya ~ yang sedang menggoda Alana. Alana tak pernah mengira, kalau ternyata ~ beberapa wanita Erfan pada awalnya punya suami. "Tuan Muda, kamu jahat banget, yah... suka merebut istri orang," ucap Alana sambil menatap Erfan dengan tatapan main-main. "Hey, aku merebut ada alasannya. Buka berati aku jahat! Aku merebut karena aku gak tega melihat wanita cantik gak bahagia," ucap Erfan dengan ekspresi wajah yang dibuat seperti orang bijak. Kemudian, dia menatap para wanitanya. "Iya gak sayang? Ucapanku benar, kan?" "Iya, iya... gimana kamu saja sayang," ucap Bu Sandra. Erfan terkekeh pelan. "Sayang, kalau Alana gak bahagia sama suaminya, apa kamu mau merebutnya juga?" tanya Jessy dengan nada main-main, sambil melepaskan lirikan menggoda ke arah Alana. "Tentu saja! Kalau dia mau... aku gak akan nolak! Sangat di sayangkan menolak wanita cantik," balas Erfan dengan berani, tanpa malu sama sekali. Mendengar itu, seketika jantung Al
Setibanya di vila, Alana langsung di buat terkejut oleh banyaknya wanita cantik di sana. Bahkan ada satu yang dia akui ~ lebih cantik dari Viona. Tentu saja, wanita itu adalah Dewi. Erfan memperkenalkan Alana kepada semua wanita. Pada akhirnya, mereka pun berkenalan dengan penuh kehangatan. Di antara para wanita Erfan, hanya dua wanita yang Alana kenali. Dua wanita itu adalah, Calista dan Tante Yurike. Setelah berkenalan, mereka pun duduk di sofa. Beberapa wanita Erfan, dengan cepat mengambil minuman dan makanan untuk di nikmati Alana dan mereka semua. "Tuan Muda, anda gak pernah berubah!" ucap Alana sambil tersenyum penuh arti. "Hahaha, aku lebih suka seperti ini... jadi buat apa berubah," balas Erfan sambil tertawa. Setelah makanan dan minuman di sajikan, Erfan menceritakan tentang persoalan Viona. Mendengar cerita itu, tentu saja semua wanita sangat terkejut. "Nona Alana, apa kamu gak be
Telepon tersambung. "Halo, Tuan Muda. Sudah lama anda tidak menelepon saya. Ada yang bisa saya bantu?" terdengar suara pria yang terdengar sangat bersemangat. "Tolong gali lebih dalam masalah Viona! Soalnya... ada hal yang gak beres," ucap Erfan dengan suara tegas. Di seberang telepon, tampak hening sejenak. Tak lama kemudian, terdengar kembali suara pria di sana. "Maaf, Tuan Muda, bak beres gimana maksudnya?" tanya pria itu dengan nada serius. "Pokoknya cari tahu saja! Kalau bisa korek informasi dari orang terdekatnya! Bagaimana pun caranya!" tegas Erfan. "Baik, Tuan Muda! Saya lakukan hari ini juga!" balas pria itu, tanpa banyak bertanya lagi. Erfan pun menutup panggilan telepon tersebut. Melihat Erfan yang langsung menelepon bawahannya, diam-diam Alana bergumam di dalam hatinya. "Dia ternyata masih sangat peduli. Vio, kalau kamu tahu, Tuan Muda Erfan masih sangat peduli sama kamu, kamu pasti merasa senang." Erfan meletakkan ponselnya, lalu menatap Alana kembali.
Erfan menghela nafas dalam-dalam, dia berusaha menenangkan kembali hatinya yang terasa campur aduk itu. "Huh, ternyata Nona teman dia! Pantas saja saya merasa familier," ucap Erfan. Dia berusaha tetap tenang, tidak menunjukkan ekspresi yang salah. Namun, tetap saja, Alana menyadari sesuatu. Dia melihat ada percikan kekecewaan di sorot mata Erfan. Bukan hanya Alana, bahkan Jessy dan Erika pun menyadari itu. Jessy dan Erika secara refleks memegang tangan Erfan. Merasakan sentuhan kedua wanita itu, Erfan merasa lebih tenang. Walau Erfan tidak ingin membahas Viona lebih jauh, namun tiba-tiba dia sangat ingin menanyakan sesuatu tentang Viona kepada Alana. "Gimana kabar dia sekarang?" Itulah yang ingin di tanyakan Erfan. Alana menghela nafas panjang. "Huh... sekarang dia sangat menyedihkan! Sejak keluarga Tuan Muda menyuruh semua perusahaan hiburan memblokirnya, dan semua asetnya di ambil sama keluarga Tuan Muda, dia benar-benar sengsara! Bahkan suaminya pun sama! Gak ada perusa
"Sayang, ada ini Nona Alana, pemilik dealer mobil auto, tempat kamu beli mobil," ucap Erika memperkenalkan. "Oh, silakan duduk!" ucap Erfan, sambil memberi gerakan mempersilakan ke arah sofa. Wanita itu mengangguk sambil tersenyum. Erfan bangkit dari kursi, lalu berjalan ke sofa. Wanita itu buru-buru mengikuti. Jessy mengikuti Erfan, sementara Erika pergi menyiapkan minuman dan camilan. Melihat Jessy yang begitu dekat dengan Erfan, sedangkan tadi Erika memanggil Erfan dengan sebutan sayang, wanita bernama Alana itu secara kasar menebak ~ bahwa semua wanita yang ada di ruangan tersebut adalah wanita Erfan. "Tuan Muda Erfan masih seperti biasa," gumam Alana di dalam hati. Setelah duduk santai di sofa, Erfan mulai berkata. "Nona Alana, ada apa datang jauh-jauh ke mari?" "Saya ke sini hanya untuk mengucapkan terima kasih kepada Tuan Muda. Soalnya, Tuan Muda sudah membeli banyak mobil mewah di dealer saya,. Saya juga mau minta maaf, karena saat Tuan Muda membeli mobil sa
Erfan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tak terlalu kencang. Di sepanjang jalan, dia terus bernyanyi dan bersiul, yang menunjukkan bahwa suasa hatinya sangat baik. Beberapa saat kemudian, dia pun sampai di vila. Mendengar ruangan mobil sport masuk ke dalam parkiran vila, para wanita yang ada di dalam vila, langsung beranjak keluar. Setelah mobil terparkir, Erfan turun dari mobil, lalu melangkah ke arah pintu masuk vila. Melihat para wanitanya berjalan cepat keluar dari vila, senyuman cerah perlahan terlukis di bibir Erfan. "Sayang..." sapa Erfan, sambil melangkah lebih cepat. "Sayang... kamu pulang," ucap para wanita itu. Erfan memeluk para wanita itu satu persatu. Bahkan, tanpa sadar ia memeluk Riana ~ yang statusnya bukan wanitanya. Saat wanita itu mendapatkan pelukan, hatinya berdebar seperti genderang perang. Seketika, wajahnya pun memerah. Namun, reaksi Riana itu tak ada yang menyadarinya. "Sayang... beli gak susu buat Serina, Dewi, sama Erlina?" tanya Bu
Tidak lama Diva kembali. Saat Erfan menatap penampilan wanita itu, api hasrat di tubuhnya semakin membara.Diva mengenakan lingerie seksi berlubang berwarna hitam, yang yang menempel erat di tubuh menggodanya itu."Sayang, apakah indah?" tanya Diva sambil berpose menggoda.Erfan menelan ludah, lalu
Dosen Erika melepaskan bibirnya dari bibir Erfan lalu mendorong Erfan sampai terlentang di atas kasur. Dosen Erika melepaskan pakaiannya dengan gerakan menggoda, tatapan panas itu terus menatap Erfan. Dalam sekejap tubuh yang dilapisi pakaian seksi tipis berongga itu terpampang jelas di
Shara menatap Erfan lalu berkata."Sayang, aku ke Dosen Erika dulu yah! siapa tahu, dia mau berangkat pake mobil kita," Shara tidak menunggu jawaban Erfan, dia menarik Yesi lalu pergi ke arah Dosen Erika.Erfan menggelengkan kepalanya tanpa daya. Wanitanya itu sepertinya sangat antusias mencarikan
Tuan Gubernur mendekat ke Erfan. "Tuan Muda, anda dan putri saya...serius memiliki hubungan?" tanyanya dengan canggung. "Ayah, kenapa kamu bayak bertanya! tentu saja benar!" Diva menyela dengan kesal. "Gadis nakal, diam!" tegur Tuan Gubernur. "Itu benar! di masa depan anda tidak perlu sungk







