로그인Atas perintah mutlak dari Anthony, seluruh anggota keluarga dikumpulkan tanpa terkecuali.
Thomas berdiri di sisi kanan meja dengan raut wajah cemas, sementara Luna duduk kaku di sofa dengan bibir terkatup rapat.
Di samping ibunya, Rafael duduk bersedekap, matanya terus bergerak gelisah menantikan tujuan pengumpulan mendadak yang diinstruksikan langsung oleh sang patriark tua tersebut.
Namun, suasana tenang yang tegang itu seketika pecah saat langkah kaki terdengar dari ar
Tepat setelah sidang keluarga yang memuakkan di ruang tengah itu berakhir, Edgar tidak membiarkan Selina berada di rumah utama Theodore satu detik pun lebih lama.Edgar tahu betul tabiat licik Thomas dan amarah buta Rafael yang bisa sewaktu-waktu membahayakan keselamatan Selina serta janin di dalam rahimnya.Tanpa membuang waktu, Edgar menggandeng tangan Selina menuju kamar atas, menyambar tas serta beberapa barang pribadi milik Selina secara cepat, lalu menuntunnya kembali turun menuju pintu keluar.Di halaman depan kediaman Theodore, Luna berdiri mengadang dengan wajah merah padam akibat histeria yang belum reda."Edgar! Kau tidak bisa membawa wanita murahan itu pergi begitu saja!" teriak Luna histeris, melangkah maju berusaha menghentikan langkah mereka."Dia masih istri sah Rafael secara hukum! Apa kau sudah tidak punya malu membawa kabur istri keponakanmu sendiri?!"Edgar sama sekali tidak menghentikan langkahnya.Dengan satu ges
Atas perintah mutlak dari Anthony, seluruh anggota keluarga dikumpulkan tanpa terkecuali.Thomas berdiri di sisi kanan meja dengan raut wajah cemas, sementara Luna duduk kaku di sofa dengan bibir terkatup rapat.Di samping ibunya, Rafael duduk bersedekap, matanya terus bergerak gelisah menantikan tujuan pengumpulan mendadak yang diinstruksikan langsung oleh sang patriark tua tersebut.Namun, suasana tenang yang tegang itu seketika pecah saat langkah kaki terdengar dari arah lorong samping.Selina melangkah masuk ke dalam ruangan.Namun kali ini, dia tidak lagi berjalan mengekor di belakang Rafael sebagai seorang istri yang tertindas.Selina berjalan tegap, berdampingan rapat di sebelah Edgar.Yang membuat seluruh ruangan terperanjat kaget adalah fakta bahwa Edgar tanpa ragu sedikit pun mengunci rapat jemari Selina di dalam genggaman tangannya yang besar dan hangat, memperontonkan keintiman dan perlindungan mutlak tersebut tepat di had
"Duduklah, Edgar," ujar Anthony usai meminta Edgar untuk datang menemuinya di ruang kerja.Edgar melangkah masuk tanpa keraguan sedikit pun.Pria itu menyilangkan tangannya di balik punggung, lalu mendudukkan tubuh tegapnya di sofa kulit di hadapan sang ayah.Raut wajah tampannya tetap datar, tak memancarkan sedikit pun kepanikan meskipun dia tahu betul alasan di balik panggilan mendadak ini.Anthony memajukan tubuhnya, menatap Edgar dengan pandangan mata elang yang amat menekan."Tangan kananku baru saja memberikan laporan yang sangat menarik dari rumah sakit kota. Ada kejanggalan pada aktivitas medis Selina beberapa hari lalu. Dia mendatangi spesialis kandungan secara diam-diam."Anthony sengaja menghentikan kalimatnya sejenak, memberikan tekanan psikologis yang berat untuk menguji ketahanan mental anak laki-lakinya."Aneh sekali, bukan? Selina pergi tanpa didampingi Rafael. Dan yang lebih menarik lagi, kau menunjukkan perhatian yang terlalu jauh atas urusan rumah tangga mereka bela
Kepanikan luar biasa menyelimuti Thomas dan Rafael di dalam ruang kerja pribadi mereka.Keputusan Anthony membekukan seluruh aliran dana operasional Theodore Group telah menghentikan denyut finansial mereka.Tagihan utang pribadi, biaya investasi yang gagal, dan kebutuhan gaya hidup yang mendesak membuat kedua pria itu terdesak ke ujung jurang kebangkrutan."Kita tidak punya waktu lagi, Rafael!" bentak Thomas seraya menghentakkan tangannya ke atas meja kerja.Wajah paruh bayanya memerah padam."Bank menolak pengajuan kredit atas nama Theodore Group karena audit sialan dari Kakekmu itu. Kita harus mencari jaminan lain hari ini juga!"Rafael mengepalkan tangannya dengan gusar, memijat keningnya yang berdenyut nyeri."Tapi aset atas nama kita semua sudah dibekukan, Ayah. Tidak ada lagi aset bersih yang bisa kita pakai!"Thomas menyipitkan matanya, menyunggingkan senyum licik yang teramat dingin."Kau lupa pada bisnis manufaktur milik ayah Selina? Perusahaannya sekarang sudah stabil, arus
Pagi hari di kediaman utama Theodore disambut oleh atmosfer yang teramat berat dan dingin.Sinar matahari yang menembus kaca jendela ruang makan mewah tidak mampu mencairkan suasana kaku di antara para penghuninya.Anthony Theodore duduk di kepala meja makan, memimpin suasana dengan wajah tua yang keras dan penuh dominasi.Sementara Selina duduk di salah satu kursi kayu berukir di samping Rafael.Wajah Selina tampak agak pucat, dan dia harus berjuang keras menahan gejolak mual hebat yang tiba-tiba membumbung tinggi di dasar perutnya.Aroma olahan daging panggang dan mentega di atas meja makan terasa sangat menyengat, memicu gejala morning sickness yang menusuk kerongkongannya.Selina mengepalkan jemarinya di balik serbet kain di pangkuannya, mengatupkan bibirnya rapat-rapat demi meredam gejolak di lambungnya agar tidak memancing kecurigaan orang-orang di ruangan itu.Di seberangnya, Rafael duduk dengan raut wajah yang sangat keruh.Lingkaran hitam membingkai matanya, akibat stres bera
Edgar masih berdiri mematung di tengah ruangan temaram itu.Manik mata elangnya terpaku pada kertas cetakan hitam-putih di dalam genggamannya.Di sana, di bawah nama Selina yang tertera jelas, terdapat satu titik kecil sebesar biji jagung.Angka yang tertera di sampingnya seolah menghantam kesadaran Edgar dengan kekuatan penuh: usia kandungan tujuh minggu.Edgar menghitung dengan cepat di dalam kepalanya.Tujuh minggu yang lalu. Itu adalah malam pertama di mana dia pertama kali menyeret Selina ke dalam lingkarannya, malam di mana dia menanamkan benihnya tanpa ampun di rahim wanita itu.Janin ini adalah buah dari sentuhan pertamanya.Seketika itu juga, raut amarah dingin yang tadinya memenuhi wajah Edgar luntur total.Pendar matanya berubah drastis.Kilat posesif yang teramat pekat, bercampur dengan kelembutan yang tak pernah dia tunjukkan kepada siapa pun sebelumnya, menguasai seluruh raut wajah tampannya.Edgar mendongak, menatap Selina yang masih gemetar di hadapannya.Hiks...Isaka
Selina menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba menciptakan penolakan di antara deru napas mereka yang saling berkejaran. Jantungnya bertalu begitu keras hingga dia yakin Edgar bisa mendengarnya dengan jelas. Jarak yang terlampau kikis ini membuat akal sehatnya perlahan menguap, digantikan ol
Jam dinding besar di koridor menunjukkan pukul dua dini hari ketika Selina terbangun dengan tenggorokan yang terasa sangat kering dan mencekik.Selina melangkah masuk ke dapur, berniat mengambil segelas air dingin dari dispenser. Namun, baru saja kakinya menginjak lantai marmer dapur, sebuah suara
Pintu kamar tidur dibanting dengan keras hingga menimbulkan gema yang memekakkan telinga. Rafael Theodore melonggarkan dasinya dengan sentakan kasar, lalu berbalik menatap Selina yang masih berdiri mematung di dekat pintu dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya.Atmosfer di dalam kamar
Selina melangkah pelan mengekor di belakang Luna dengan langkahnya yang pincang akibat luka lebam yang belum sembuh sepenuhnya.Benar saja, begitu mereka menginjakkan kaki di ruangan luas itu, pemandangan di depannya membuat nyali Selina menciut.Di sana sudah ada Rafael yang duduk santai sambil me







