Masuk"Baiklah! Besok pagi, tim kita akan berkumpul di pantai Miranda Locna. Kita akan membooking beberapa speedboat, untuk menuju ke pulau Duyung. Sementara aku dan Evan akan naik helikopter menuju ke sana!" Demikianlah rencana penyerangan ke markas Gank Shadow yang diambil Bimo. "Siap Bos..!!" seru serentak empat pimpinan Pijar Taruna, Parlan, Denta, Alimsyah, dan juga Maux. "Baik sekali Mas Bimo..!" seru Evan, merasa senang dan setuju dengan rencana Bimo. "Denta, Maux, Parlan, dan kau Alimsyah. Kalian segera tentukan tujuh orang anggota Pijar Taruna yang kalian percaya, untuk ikut penyerangan besok..! Masukkan juga Ojay dan Hendri dalam pasukkan kita!" ujar Bimo tegas, memberi pesan pada keempat orang kepercayaannya itu. "Baik Bos..! Kami akan urus dan persiapkan mereka saat ini juga..!" seru patuh Denta, mewakili ketiga rekannya. "Evan, kausiapkan saja dua orang kepercayaanmu, untuk ikut penyerangan besok. Dan besok pagi datanglah ke rumahku, kita akan berangkat dengan helikopter
"Bos sudah datang..!" seru penjaga markas yang bertugas malam itu, saat dia melihat helikopter yang dikenalinya landing di belakang markas pijar Taruna. "Mari kita sambut Bos Bimo..!" ajak Denta pada semua rekannya, yang memang telah menanti di lobi markas. Mereka semua pun bergegas berdiri, untuk menyambut kedatangan Bimo. "Tak perlu kalian repot, mari kita kembali masuk ke dalam saja," ujar Bimo yang tiba-tiba telah berada di pintu masuk markas. Ya, Bimo memang sengaja kerahkan peringan tubuhnya, dia melesat keluar dari helikopter yang tengah landing itu. Hal yang dikarenakan dia tahu para sahabatnya telah menunggu, dan Bimo juga ingin cepat membahas perihal siasat penyerangan esok hari. "Wah! B-baik Bos..! Silahkan!" seru Denta agak terkejut. Karena dia melihat helikopter di kejauhan sana belum lagi landing dengan sempurna. 'Bos telah menggunakan kemampuannya!' bathin Denta kagum. "Mas Bimo. Aku telah membawa persenjataan yang kiranya dibutuhkan untuk aksi kita besok," uja
Malam pun menjelang. "Uhhgsh..! T-terus lebih cepat lagi Mas Yoga sayang..sh!" desah keras Dewinda, seraya tangannya mencengkram sisi jendela kamar yang terbuka lebar.Semua adegan super hot itu terjadi di lantai 2 bangunan villa milik Prayoga, yang kini dijadikan markas sementara Gank Shadow.Ya, itu memang gaya favorit Dewinda dan Yoga dalam berolah asmara. Keduanya memang kerap terobsesi melakukan hal itu, sambil menikmati pemandangan indah dan udara bebas..! Edan..! Dan dari jendela kamar itu, keduanya memang bisa melihat panorama cukup indah. Mulai dari taman villa dengan aneka warna lampu, desiran angin dan suara ombak, hingga kerlip bintang-bintang di langit malam itu. "Ohsk..! Ok, Winda sayang..sh..! Sebentar lagi aku sam.. paihsk..!" erang serak Yoga, seraya terus menghantam penuh stamina, sosok setengah polos Winda dari belakang. Keduanya memang nampak masih kenakan baju atasan mereka, jika orang melihatnya dari bawah atau luar. Namun sesungguhnya bagian bawah mereka ter
"Nah Devi adikku. Mari bicara soal rencana kita bersama Mas Bimo di dalam kamarku," ajak Lidya seraya tersenyum penuh arti. Devi pun akhirnya mengikuti langkah Lidya menuju kamarnya, dengan tangannya setengah ditark oleh Lidya. Sepertinya memang Lidya yang nampak antusias sekali saat itu. Bimo yang sejak tadi memang bersifat pasif dalam pembicaraan antara istrinya dan Devi, dia pun mengikuti langkah kedua wanita cantik itu ke kamarnya. 'Hhh.. Biarlah mereka berdua membahas semuanya dengan leluasa. Aku hanya bisa menjalani garis hidupku yang aneh ini', bathin Bimo pasrah. Ya, Bimo sengaja memilih bersikap 'non aktif' dalam masalah jodohnya dengan Devi. Karena dia paham, hal itu akan menyakitkan bagi Lidya yang tengah mengandung anaknya. Dan setibanya di depan kamarnya, Bimo melihat pintu kamarnya dalam keadaan tertutup. Maka menjadi pahamlah Bimo, bahwa Lidya tak menginginkan dirinya ikut dalam pembicaraan dua wanita itu. Bimo pun memilih duduk menunggu, di kursi panjang yang ada
Claapsh..! "Aihh..!!" seruan serentak keluar dari mulut Lidya dan Devi, saat melihat mata batu hijau dari gelang dan liontin itu saling melekat erat. Seolah hendak menyatu..! Blaphss..! Mewujud seketika sosok Naga Hijau berkepala wanita yang sungguh cantik. Sebuah mahkota kencana berada di atas kepala wanita itu, dengan sosoknya yang diselimut cahaya hijau cemerlang. "Hahh..!!" kini bukan hanya Lidya dan Devi yang berseru kaget, bahkan Bimo pun ikut terkejut melihat kemunculan penghuni batu Mustika Naga Hijau itu. Hawa sejuk bukan main menebar di seantero ruangan itu, suasana ruangan itu pun bagaikan diselimuti aura magis seketika. Lengang dan sunyi, bagaikan hampa udara..! "Ehh..! A-apa itu..?! T-tolongg..!" Sontak Bi Inah berseru kaget bukan main, saat dia masuk ke ruang tengah dan langsung menyaksikan pemandangan ngeri dan hawa sejuk yang menebar.Prangkh..! Brugh! Nampan berisi sajian camilan dan minuman yang dibawa Bi Inah pun langsung lepas, dan jatuh berantakkan di lantai
"Aihh..! Ehh..!" Bimo dan Lidya yang tengah berada di ruang tengah kediaman mereka, keduanya sama tersentak pendek. Otomatis mereka pun saling tatap dengan wajah heran dan aneh. Ya, keduanya merasakan hembusan angin sejuk, yang tiba-tiba saja menerpa sekujur tubuh mereka. Dan itu dirasakan mereka, tepat saat datangnya seseorang ke rumah mereka, Devi..! Datang Bi Inah dari arah depan menghampiri kedua majikkannya itu. "Mas Bimo, Bu Lidya. Ada Mbak Devi di teras menunggu," ujar Bi Inah mengabarkan. "Baik Bi. Hayuk Mas, kita temui Devi di depan," ucap Lidya, seraya langsung mengamit lengan Bimo untuk menemui Devi. Srrssh..! 'Degh!' Bimo dan Lidya kembali merasakan sensasi hembusan energi sejuk yang semakin kuat, seiring dengan semakin dekatnya mereka menuju teras rumah. 'Kenapa hawa sejuknya persis sama, dengan saat pertama aku bertemu Lidya dulu..?' bathin Bimo bertanya-tanya. 'Sepertinya hawa sejuk ini sangat familiar dengan diriku!', bathin Lidya, seraya mengajak suaminya berjal







