로그인Lunaris menjadi sunyi.Hanya suara napas berat serigala hitam besar di tengah lembah yang masih terdengar di bawah langit retak.Semua orang diam. Karena tidak ada yang pernah melihat Kael kehilangan kendali sejauh ini sebelumnya.Dan lebih tidak masuk akal lagi, hanya Elara yang bisa menghentikannya.Elara masih berdiri di depan Aelmon, tangannya menyentuh bulu hitam tebal di wajah serigala itu pelan, meski tubuhnya sendiri masih gemetar akibat tekanan aura Alpha yang belum sepenuhnya stabil. Namun perlahan, geraman rendah Aelmon mulai mereda.Mata hijau liar itu tetap menatap Elara. “Bagus…” gumam Asterion pelan dari belakang. “Terus bicara padanya.”Elara menelan ludah kecil. Lalu mengusap bulu Aelmon perlahan. “Ael…” Suaranya lembut, penuh kehati-hatian. Seolah berbicara pada sesuatu yang terluka. “Aku baik-baik saja.”Serigala besar itu bergerak sedikit mendekat. Hidungnya menyentuh bahu Elara pelan. Dan saat itu juga, tekanan mengerikan yang memenuhi seluruh lembah mulai turun
Suara retakan itu terdengar pelan. Namun cukup untuk membuat seluruh Lunaris membeku.Langit di atas mereka bergerak seperti kaca yang dipaksa pecah perlahan. Cahaya pucat di balik retakan menyebar lebih luas, memantulkan warna keemasan aneh ke seluruh lembah.Whoosh...Angin langsung berubah lebih berat, dingin dan semua serigala di wilayah Lunaris secara naluriah mengangkat kepala ke langit takut.Elara refleks menggenggam lengan Elara.Napasnya tercekat saat cahaya dari retakan itu memantul di mata hijau pria di sampingnya.“Ael…”Aelmon langsung menarik Elara mendekat ke sisinya. Tatapannya tidak pernah lepas dari langit.“Asterion!” panggil Rowan dari bawah.Dalam hitungan detik—Seluruh anggota pack mulai memenuhi area utama. Lira membawa serigala ilusi di belakangnya, mata mereka menyala seolah api biru sedang membara. Lyra masih memegang botol ramuan setengah penuh, bahkan beberapa werewolf muda terlihat pucat karena tekanan energi yang turun dari langit.Asterion muncul dari
Ruangan itu mendadak terasa sempit. Api di perapian masih menyala, namun kehangatannya tidak lagi terasa sejak kalimat Asterion jatuh di tengah mereka.Sesosok penjaga lama sedang bangun. Tidak ada yang langsung bicara, karena cara Asterion mengatakannya terlalu serius untuk dianggap bercanda.Lira yang pertama memecah keheningan. “Penjaga apa?”Asterion menghembuskan napas pelan. Tatapannya tetap tertuju pada langit di luar jendela. “Makhluk yang diciptakan sebelum pack pertama lahir.”Jawaban itu langsung membuat Rowan mengernyit. “Itu bahkan lebih tua dari para Alpha awal.”“Karena memang lebih tua.”Asterion akhirnya menoleh. Dan untuk pertama kalinya, tidak ada senyum santai di wajahnya.“Dulu,” ujarnya pelan, “para penguasa langit menciptakan penjaga untuk menjaga keseimbangan antara dunia manusia, dunia serigala, dan alam para dewa.”Elara diam mendengarkan. Sementara Aelmon tetap berdiri di dekatnya, satu tangannya masih menyentuh punggung Elara pelan seolah memastikan gadis i
Malam itu terasa terlalu tenang. Dan justru karena itulah, Sylas mulai merasa ada yang salah.Ia berdiri di menara penjaga paling utara Lunaris, memandangi langit retak yang menggantung di atas dunia mereka. Angin dingin menerpa mantel gelapnya, membawa aroma hujan dan sesuatu yang asing.Sesuatu yang membuat naluri serigalanya gelisah.Retakan itu bergerak lagi dengan pelan namun sangat jelas.Cahaya pucat di dalamnya berdenyut seperti jantung hidup.Sylas menyipitkan mata. “Ini semakin buruk…”Suara langkah terdengar dari belakang.Aelmon muncul dengan wajah tenang seperti biasa, meski aura dingin di sekitarnya membuat udara terasa lebih berat.“Asterion juga merasakannya,” ujar Aelmon.Rowan mengangguk pelan. “Energinya berubah.” Jelasnya, sambil menatap kembali ke langit. “Dan aku tidak menyukainya.”Di bawah sana, Pack Lunaris mencoba menjalani hari seperti biasa.Lyra memaksa semua orang meminum ramuan pahit buatannya. Lira sibuk mengatur ulang penjagaan wilayah, Asterion berdeb
Pagi datang perlahan.Cahaya matahari pucat menyelinap masuk melalui tirai tipis kamar, jatuh lembut di lantai kayu dan selimut yang sedikit berantakan.Udara masih dingin. Namun untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, Elara bangun tanpa rasa takut. Ia membuka mata pelan, dan langsung menyadari dirinya masih berada dalam pelukan Aelmon.Pria itu belum bangun. Satu lengannya melingkar santai di pinggang Elara, sementara napasnya terdengar pelan dan stabil di dekat rambutnya.Elara diam beberapa saat. Memperhatikan wajah Kael yang tertidur, dan lagi-lagi ia merasa aneh melihat pria itu setenang ini.Biasanya Aelmon selalu tampak waspada, tegang. Seolah dunia bisa runtuh kapan saja, namun sekarang ia terlihat damai.Tanpa sadar Elara tersenyum kecil. Lalu pelan mengangkat tangan, merapikan sedikit rambut hitam Aelmon yang jatuh di dahinya.Sentuhan itu ringan sekali. Namun alis Aelmo. langsung bergerak sedikit. Mata hijaunya terbuka perlahan. Dan begitu melihat Elara, Tatapannya lang
Kamar itu sunyi.Hanya suara angin malam yang sesekali menyentuh jendela kayu dan cahaya bulan pucat yang masuk melalui celah tirai tipis.Elara masih duduk di pangkuan Aelmon.Deg... deg...Dan itu saja sudah cukup membuat jantungnya tidak tenang.Tiba-tiba ia merasakan sentuhan dari dalam pakaiannya.“Kau sengaja.” Suara Elara terdengar pelan dari balik bahu Aelmon.Pria itu mengangkat alis sedikit. “Apa?”“Kau tahu aku tidak bisa berpikir kalau kau terus menggoda ku seperti itu.”Aelmon menahan senyum kecil. Tangannya masih berada di pinggang Elara, hangat dan stabil, seolah benar-benar tidak berniat melepasnya malam ini.“Kalau begitu jangan dirasakan.”Elara langsung mendongak. “Itu tidak mungkin. Aku normal, dan tubuhku bisa merasakan nya."“Memangnya aku mencoba melakukan kejahatan?” Nada suaranya rendah, santai. Namun justru itu yang membuat pipi Elara kembali panas.Tidak ingin kehilangan momen, Aelmon melepas pakaian luar Elara, ia melakukannya pelan sebelum ia melepas paka







