MasukSore belum benar-benar pergi. Bersama bunga yang mulai tumbuh. Awan kelabu masih menggantung di atas atap kastel Lunaris. Udara yang biasanya dingin terasa sedikit lebih hangat karena tungku di ruang keluarga mulai dinyalakan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama... Tidak ada teriakan. Tidak ada suara pedang, hanya keheningan yang perlahan belajar menjadi damai. Elara duduk di dekat perapian. Tatapannya masih sering kosong, tetapi kini sesekali ia menjawab pertanyaan orang lain. Itu sudah merupakan kemajuan. Tetua Maereth menghela napas lega. "Nah." Wanita tua itu duduk di belakang Elara. Tanpa meminta izin, ia menepuk pelan pahanya. "Kemarilah." Elara menoleh bingung. "Jangan menatapku seperti itu." "Kau terlalu kurus." "Duduk." Sejenak Elara ragu. Namun entah mengapa...
Hari itu masih terasa panjang.Kesedihan belum sempat menemukan tempat untuk beristirahat.Langit Lunaris tetap kelabu, sementara angin yang melewati halaman kastel membawa aroma hujan yang belum benar-benar turun. Burung-burung tidak lagi bernyanyi. Bahkan hutan Silvaris di kejauhan tampak kehilangan warna.Elara masih berada di beranda.Pandangannya kosong.Entah sudah berapa lama ia hanya menatap pepohonan tanpa benar-benar melihatnya.Aelmon berdiri di sampingnya. Tidak banyak bicara,namun kini ia memiliki satu kebiasaan baru.Setiap kali hendak meninggalkan Elara...Ia akan berhenti sejenak.Perlahan mengusap helaian rambut yang menutupi wajah istrinya.Lalu mengecup pelan dahinya. Begitu pula ketika Elara tertidur, dan ketika ia terbangun.Seolah Alpha itu sedang berusaha mengingatkan dirinya sendiri..."Dia masih di sini."Hari ini pun sama.Aelmo
Langit Lunaris tetap kelabu, seolah matahari pun kehilangan keberanian untuk muncul. Angin berembus pelan melewati beranda kastel, mengangkat beberapa helai rambut Elara yang terjatuh menutupi wajahnya.Ia belum berpindah dari tempatnya.Keheningan menjadi satu-satunya teman yang masih bertahan.Aelmon masih duduk di sampingnya. Tidak lagi memaksa, tidak lagi mengucapkan banyak kata. Ia hanya menemani, membuatkan Elara merasa nyaman dengan kehadirannya.Karena, kadang-kadang, seseorang tidak membutuhkan jawaban. Ia hanya membutuhkan seseorang yang tidak pergi."Aku boleh tetap di sini?" tanya Aelmon pelan.Elara tidak menoleh. "Kau selalu bertanya." Tapi Aelmon tidak pernah benar-benar pergi dari sisinya."Aku sedang belajar."Belajar. Satu kata yang membuat Elara tersenyum getir. "Alpha ternyata bisa belajar.""Kalau gurunya adalah istriku..." Aelmon menghela napas pelan. "...aku rela mengulang pelajaran yang sama seumur hidup."Deg! Keheningan kembali hadir. Namun kali ini tidak lag
Hari itu belum juga berakhir.Kabut tipis masih menggantung di atas Lunaris. Angin berembus pelan membawa aroma pinus yang basah, bercampur tanah yang baru saja menerima terlalu banyak air mata.Kematian Asterion masih terasa begitu dekat.Tak seorang pun di kastel berbicara lebih keras dari bisikan.Bahkan para pelayan melangkah tanpa suara, seolah takut mengganggu duka yang belum sempat beristirahat.Elara duduk di beranda kayu yang menghadap hutan. Jubah putihnya berkibar pelan, tatapannya kosong.Ia tidak sedang melihat pepohonan.Ia sedang mencari seseorang yang tidak mungkin kembali. "...Elara" Suara itu masih terngiang.Senyum tipis Asterion. Kesetiaan tanpa syarat, dan kalimat terakhirnya.Lanjutkan... tempatku. Sial kau Asterion...Elara menundukkan kepala. "Aku bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih."tap... tap... tap...Suara langkah pelan terdengar dari belakang.Aelmon. Ia berhenti beberapa langkah di belakang Elara, tidak mendekat, tidak memanggil hanya berdiri.B
Matahari menolak bergerak.Seolah waktu sendiri merasa bersalah melihat apa yang baru saja terjadi.Angin berembus pelan melewati Hutan Lunaris, membawa aroma tanah yang lembap bercampur logam dari darah yang masih hangat. Pepohonan yang dahulu menjadi tempat para serigala muda bermain kini berdiri sunyi, menjadi saksi seseorang yang memilih mati karena kesetiaan.Elara masih memeluk Asterion.Tubuh itu mulai kehilangan kehangatan. Namun Elara tidak sanggup melepaskannya, jari-jarinya justru menggenggam semakin erat, seolah dengan begitu kematian akan berubah pikiran."Asterion..."Suaranya hampir tidak terdengar."Kau pernah bilang, kesetiaan bukan berarti selalu berada di samping seseorang. Tapi berada di dalam doa yang tidak pernah berhenti." Ia tersenyum. Senyum yang lebih menyakitkan daripada tangisan. "Kalau begitu...""...mengapa doaku tidak pernah cukup?"Tidak ada jawaban.Hanya angin. Dan tubuh yang tidak lagi mampu menjawab namanya, air mata jatuh satu demi satu.Tidak dera
Hari itu terasa seolah enggan berganti.Matahari tetap tersembunyi di balik langit yang retak, sementara cahaya kelabu menggantung di atas Lunaris seperti kain duka yang tidak pernah selesai dibentangkan.Udara dipenuhi bau tanah basah, dedaunan yang terbakar, dan darah.Tidak ada seorang pun yang mampu mengatakan apakah waktu masih bergerak.Yang mereka rasakan hanyalah penderitaan yang semakin berat.***Di dalam kastel...Elara masih berlutut. Darah yang tadi dimuntahkannya belum benar-benar berhenti, noda merah membekas di lengan bajunya.Namun rasa sakit di tubuhnya kalah jauh dibandingkan sesak di dadanya.Asterion. Nama itu terus memenuhi pikirannya...Di luar sana... Ia bertarung seorang diri. Sedangkan dirinya—Terjebak."Aelmon..." Suaranya serak. "Tolong."Alpha itu berdiri membelakanginya.Bahu lebarnya tampak kaku. Tidak sekali pun ia menoleh, "Kalau kau masih memiliki sedikit saja belas kasihan...""...hentikan semua ini."Keheningan. Elara menatap punggung pria itu, ia t
Selamat membaca.Getaran itu tidak hanya mengguncang aula. Seluruh Lunaris bergetar, Dua bulan di langit senja bergetar seperti bayangan di air yang tersentuh batu. Hutan Silvaris Umbra melolong, bukan oleh serigala, melainkan oleh pepohonan hidup yang merasakan ancaman purba.Di aula, suhu turun d
Selamat berimajinasi.Ledakan itu membutakan.Cahaya emas dan bayangan hitam meledak dari titik tempat Aelmon memeluk Elara. Gelombang energi menyapu aula, menghantam dinding batu hingga retak memanjang seperti urat hidup yang terluka.Beberapa anggota pack terlempar mundur. Rowan terseret beberapa
Selamat membaca.Lolongan itu belum berhenti ketika pintu batu akhirnya terbuka dengan dentuman keras.Rowan masuk tanpa menunggu izin kali ini. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras seperti menahan sesuatu yang lebih besar dari sekadar kemarahan para tetua.Singkat, Elara bisa melihat kalau kening R
Selamat membaca.Elara terbangun dalam keheningan yang tidak alami. Bukan sunyi malam kota. Bukan juga suara kendaraan jauh atau dengung listrik, ini sunyi yang hidup.Ia membuka mata perlahan dan langsung tersentak bangun.Langit di atasnya bukan hitam. Atau biru,melainkan senja abadi berwarna hi







