Home / Fantasi / Hati liar sang Alpha / Retakan yang dibawa pulang

Share

Retakan yang dibawa pulang

Author: Chatrin
last update publish date: 2026-04-09 09:36:25

Selamat membaca.

Elara jatuh kembali ke tubuhnya.

Rasanya seperti dihantam dari langit ke bumi, keras, berat, dan menyakitkan. Nafasnya tersengal saat matanya terbuka. Langit Lunaris kembali terlihat, senja ungu dengan dua bulan yang kini bergetar samar. Namun sesuatu telah berubah.

Udara terasa… lebih berat.

“Akhirnya,” suara Aelmon terdengar dekat, napasnya masih tidak stabil. Tangannya menggenggam bahu Elara erat, seolah memastikan dia benar-benar ada.

Elara menatapnya. “Aku kembali…”

Ia t
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hati liar sang Alpha   Matahari yang Tidak Mau Diam

    Tap... tap.. tap...Pagi yang terlalu indah untuk hati yang berduka.Langit berwarna emas lembut. Awan mengalir seperti sungai yang tenang, burung-burung cahaya melintas di antara menara kristal.Namun Elara mulai membenci keindahan itu. Karena tidak ada yang berubah, hari demi hari, minggu demi minggu. Semuanya berjalan begitu tenang hingga terasa seperti sangkar. Sangkar yang dilapisi emas tetaplah sangkar dan Elara mulai kehabisan kesabaran."Aku tidak lapar." ucapnya."Kau mengatakan itu kemarin." jawab Eryndor.Mereka sedang berada di taman matahari. Tempat favorit para dewa dahulu, kini hanya mereka berdua yang tersisa.Eryndor duduk di sampingnya membawa sarapan.Seperti biasa. Elara menatap sendok yang diulurkan kepadanya. Lalu mendesah, "Kau memperlakukanku seperti anak kecil.""Kau tidak makan kalau tidak kuawasi.""Itu bukan alasan.""Bagiku itu alasan yang cukup."Sungguh menyebalkan. Dan yang paling membuat Elara kesal—Eryndor mengatakannya dengan wajah yang benar-benar s

  • Hati liar sang Alpha   Langit yang Terlalu Sunyi.

    Saat Elara meninggalkan Lunaris, Aelmon tidak melihatnya pergi.Alpha itu telah kehilangan kesadaran.Tubuhnya masih terbaring di aula yang hancur akibat pertempuran.Belati Matahari telah dicabut. Namun luka yang ditinggalkannya belum sembuh, dan untuk pertama kalinya sejak Elara mengenalnya—Pria itu tidak mampu menghentikannya.Tidak mampu mengejarnya. Tidak mampu memanggil namanya, hal itu seharusnya membuat Eryndor puas.Namun anehnya... Tidak sepenuhnya.Perjalanan menuju langit berlangsung tanpa kata-kata.Elara berdiri di atas jembatan cahaya. Awan-awan bergerak di bawah kakinya, bintang-bintang tampak begitu dekat hingga seolah dapat disentuh.Dahulu pemandangan ini adalah rumah. Kini terasa asing, sangat asing.tap.. tap.. tap...Eryndor berjalan beberapa langkah di belakangnya.Memberikan ruang, setidaknya tampak seperti itu.Namun kenyataannya, seluruh jalan menuju langit telah ditutup.Seluruh penjaga mengawasi, seluruh gerbang terkunci.Bukan penjara, tetapi juga bukan ke

  • Hati liar sang Alpha   Harga yang Harus Dibayar

    Tidak ada yang bergerak selama beberapa detik. Seolah seluruh Lunaris menahan napas. Eryndor berdiri di tengah cahaya langit, Elara berada beberapa langkah di depannya. Sementara Aelmon berlutut di lantai, berusaha melawan luka yang terus menghancurkan tubuhnya dari dalam.Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Perang telah datang, dan kali ini bukan ramalan.Bukan ancaman yang jauh, atau nama dalam buku kuno.Perang berdiri tepat di depan mereka."Aku akan menghitung sampai tiga." ucap Eryndor, suaranya tidak keras. Namun terdengar sampai ke seluruh ruangan."Menyerahlah.""Tidak." jawab Aelmon tanpa ragu, ia bahkan tidak berpikir. Jawaban yang sama seperti ribuan tahun lalu, mata Eryndor menutup sesaat."Kau tidak pernah berubah." gumamnya."Lalu kau?" balas Aelmon. Perlahan Alpha itu berdiri, darah masih menetes dari sudut bibirnya, tubuhnya goyah, namun tatapannya tetap lurus."Kau masih menganggap semua yang bernapas di bawah langitmu sebagai milikmu."Keheningan jatuh.Untuk perta

  • Hati liar sang Alpha   Raja yang Menunggu.

    Tangisan itu perlahan-lahan berubah menjadi sebuah senyuman yang begitu aneh. Lalu...Keheningan di dalam kamar terasa menyesakkan.Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang berani berbicara.Aelmon terbaring di lantai. Darah mengalir dari sudut bibirnya, cahaya keemasan dari Belati Matahari masih menyebar di bawah kulitnya seperti retakan api.Lyra terus berusaha menghentikan kerusakan yang terjadi. Namun wajah tabib itu semakin pucat setiap detiknya. "Ini buruk." gumamnya."Tolong katakan sesuatu yang belum kami ketahui." balas Lira."Kalau begitu diam!" bentak Lyra.Lira langsung menutup mulut. Sementara itu, Elara masih berdiri membeku, ingatan lama, dan baru.Kedua kehidupan itu bertabrakan tanpa ampun.Elara sang manusia, Dewi Matahari yang pernah memimpin langit. Keduanya kini hidup dalam tubuh yang sama, dan untuk pertama kalinya sejak terlahir kembali—Ia tidak tahu dirinya siapa."Elara." Suara Ae

  • Hati liar sang Alpha   Ingatan yang Terkubur

    "AELMON!" Suara Elara pecah, tangannya gemetar saat mencoba menyentuh pria yang terbaring di lantai. Namun cahaya keemasan dari luka itu kembali menyala, mendorong jemarinya menjauh.Drap.. drap.. drap...Di luar kamar. Terdengar langkah kaki, terdengar teriakan, terdengar suara pintu yang dibuka dengan kasar.Namun semuanya terasa jauh, sngat jauh. Karena sesuatu sedang retak di dalam dirinya, bukan tubuh dan jiwanya.Melainkan segel yang selama ini menahan ingatan. "Khh..." Elara mencengkeram kepalanya. Rasa sakit meledak, tidak seperti sakit biasa.Melainkan ribuan kenangan yang menghantam bersamaan.Langit...Langit yang bukan Lunaris. Langit yang begitu luas hingga bintang-bintang tampak seperti debu, Istana emas, menara cahaya, lautan awan dan dirinya.Bukan Elara sang manusia, mlainkan seorang penguasa. Seorang dewi, Ratu dari tiga puluh empat dewa dan dewi. Pemimpin dua belas dewa inti, takhta Matah

  • Hati liar sang Alpha   Belati Matahari

    Malam itu terasa aneh.Bukan karena ada ancaman, langit yang berubah atau karena ramalan baru muncul dari arsip kuno. Justru sebaliknya, smuanya terlalu tenang.whoosh...Angin musim panas bergerak lambat di antara pepohonan Lunaris. Jangkrik bernyanyi dari balik semak, cahaya bulan menumpahkan warna perak ke seluruh wilayah pack.Sudah hampir dua minggu sejak Elara kembali, dan Aelmon masih mencoba untuk menarik pakaiannya agar lepas dari tubuhnya.Dua minggu tanpa serangan. Tanpa pelarian, hanya pertengkaran kecil.Bahkan Lira dan Asterion berhasil melewati tiga hari penuh tanpa saling melempar sesuatu. Sebuah pencapaian yang membuat Rowan hampir menangis haru.Malam itu sebagian besar anggota pack sedang beristirahat.Para penjaga berjaga seperti biasa. Lyra masih berkutat dengan ramuannya, Sylas melakukan pemeriksaan rutin di wilayah perbatasan.Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama— Elara m

  • Hati liar sang Alpha   Di Antara Nafas dan Jarak

    Langit pagi itu masih retak.Namun tidak menekan.Cahaya turun perlahan, menyelinap di sela-sela garis tipis yang membelah langit seperti luka lama yang mulai belajar sembuh. Udara dingin, tapi lembut. Angin bergerak pelan, membawa aroma tanah basah dan kayu.Elara terbangun dalam diam. Tubuhnya m

  • Hati liar sang Alpha   Garis yang Tidak Terucap

    "Tidak cukup!" Pikir Lira.***Malam turun lebih cepat dari biasanya. Langit masih retak, namun bintang-bintang tetap muncul di sela-selanya—seolah dunia berusaha terlihat normal, meski tidak benar-benar utuh. Api unggun menyala lebih besar malam itu, mungkin tanpa disadari… sebagai cara mengusir d

  • Hati liar sang Alpha   Tanda yang Memudar.

    Pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Namun sebuah cerita masa lalu membuat ikatan mereka semakin kuat.Bukan karena tidak ada suara, justru sebaliknya. Aktivitas pack tetap berjalan, langkah kaki, percakapan pelan, denting peralatan. Namun ada sesuatu yang berbeda… seperti semua orang sedang

  • Hati liar sang Alpha   Yang Memilih Berlutut.

    Pagi datang dengan cahaya yang lebih jernih.Kabut tidak setebal kemarin, hanya sisa tipis yang menggantung di antara batang-batang pohon. Embun di rumput memantulkan sinar matahari, berkilau kecil setiap kali tersentuh langkah. Udara masih dingin, namun tidak menusuk.Elara berjalan pelan di pingg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status