بيت / Fantasi / Hati liar sang Alpha / Retakan yang dibawa pulang

مشاركة

Retakan yang dibawa pulang

مؤلف: Chatrin
last update تاريخ النشر: 2026-04-09 09:36:25

Selamat membaca.

Elara jatuh kembali ke tubuhnya.

Rasanya seperti dihantam dari langit ke bumi, keras, berat, dan menyakitkan. Nafasnya tersengal saat matanya terbuka. Langit Lunaris kembali terlihat, senja ungu dengan dua bulan yang kini bergetar samar. Namun sesuatu telah berubah.

Udara terasa… lebih berat.

“Akhirnya,” suara Aelmon terdengar dekat, napasnya masih tidak stabil. Tangannya menggenggam bahu Elara erat, seolah memastikan dia benar-benar ada.

Elara menatapnya. “Aku kembali…”

Ia t
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Hati liar sang Alpha   Tempat untuk Kembali

    Hujan belum berhenti.Air jatuh pelan di permukaan danau, menciptakan lingkaran kecil yang terus pecah satu sama lain. Kabut malam mulai turun lebih tebal, membungkus hutan dalam dingin yang sunyi.Namun di tengah semua itu, Aelmon masih memeluk Elara.Tidak bergerak. Seolah ia benar-benar takut melepaskannya.Deg... deg...Elara bahkan bisa mendengar detak jantung Aelmon.Cepat dan kacau. Tidak seperti biasanya, dan itu membuat dadanya semakin sesak oleh rasa bersalah.“Aku minta maaf…” Suaranya pelan, hampir tenggelam oleh suara hujan.Aelmon mendengarnya jelas. Pelukannya justru mengerat sedikit. “Jangan lakukan itu lagi.” pintanya dengan nada suaranya rendah.Bukan perintah Alpha. Lebih seperti permohonan seseorang yang hampir kehilangan hal terpenting dalam hidupnya.Elara menunduk. Tangannya masih menggenggam pakaian Aelmon yang basah. “Aku cuma…” napasnya bergetar, “…aku takut semua orang terluka karena aku.”Aelmon menutup mata sebentar, dan hening jatuh di antara mereka. Lal

  • Hati liar sang Alpha   Saat Alpha Kehilangan Kendali

    Danau kecil itu memantulkan cahaya retakan langit seperti pecahan kaca.Airnya bergetar pelan meski tidak ada angin. Kabut tipis mulai turun di permukaan danau, membungkus Lunae dalam dingin yang membuat ujung jarinya mati rasa.Ia masih terduduk di tanah basah. Lelah, tubuhnya terasa semakin berat. Dan di depannya, Helior berdiri diam dengan tatapan emas yang terlalu tenang.“Sudah waktunya kau memilih.”Kalimat itu menggantung di udara, berat dan menekan.Elara menatapnya lama. Lalu tertawa kecil 'haha... 'Suaranya pelan dan rapuh. “Kenapa semua orang terus menyuruhku memilih…”Suaranya hampir pecah. “Aku bahkan tidak mengerti kenapa aku ada di dunia ini.”Helior tidak langsung menjawab. Tatapannya turun pada tubuh Elara yang mulai gemetar karena suhu malam.“Karena keberadaanmu sendiri sudah menjadi pilihan.”Helior memanfaatkan tubuh Elara yang masih manusia, sehingga ia lebih mudah dikendalikan karena manusia selalu melakukan kesalahan yang sama.Jawaban itu tidak membantu, dan

  • Hati liar sang Alpha   Mereka yang Mengejar san Yang Dikejar

    Hujan turun saat malam semakin dalam.Bukan hujan deras.Namun cukup untuk membuat tanah Lunaris basah dan udara dipenuhi aroma dingin yang menusuk paru-paru. Langit retak di atas mereka memantulkan kilatan cahaya pucat setiap beberapa menit, membuat seluruh hutan terlihat asing.Aelmon berdiri di gerbang wilayah pack.Tubuhnya diam. Namun auranya tidak, tekanan Alpha menyebar liar ke seluruh penjuru lembah, membuat semua serigala di sekitar secara naluriah menundukkan kepala.Bahkan Rowan, jarang sekali melihat Aelmon seperti ini.Bukan hanya marah. Namun kehilangan sesuatu yang menjadi pusat kendalinya. Dan itu membuat Alpha mereka… berbahaya.“Aku ikut.”Suara Asterion datang dari belakang.Aelmon tidak menoleh. “Aku tidak meminta bantuanmu.”“Dan aku tidak meminta izin.”Nada suara Asterion tetap tenang. Namun matanya serius, "Lunae tidak mengenal hutan luar. Kalau dia terus berjalan tanpa arah, wilayah utara bisa menelannya hidup-hidup.”Hening.Aelmon tahu itu benar. Namun em

  • Hati liar sang Alpha   Alpha yang Kehilangan Bulannya

    Sunyi Sepi. Itu hal pertama yang dirasakan Aelmon.Bukan kepanikan atau amarah yang menjadi-jadi. Namun hening yang terlalu kosong hingga terasa menyakitkan.Matanya terpaku pada anggota pack di depannya, seolah otaknya menolak memahami kata-kata itu.Elara menghilang.Tidak.Tidak mungkin.Aelmon bergerak. Terlalu cepat hingga kursi di belakangnya terbalik menghantam lantai batu. Aura Alpha langsung meledak memenuhi aula.Tekanan liar menyapu seluruh ruangan hingga beberapa anggota pack refleks menundukkan kepala.Rowan langsung berdiri.“Aelmon..., ”Namun pria itu sudah pergi. Langkahnya bergema keras di koridor batu menuju kamar Elara.Pintu terbuka kasar. Dan untuk pertama kalinya sejak Elara datang ke Lunaris, Ruangan itu terasa benar-benar kosong.Tidak ada napas lembut, tidak ada aroma bunga liar yang selalu tertinggal di selimut Dan tidak ada suara kecil yang biasanya memanggil namanya pelan.Hanya, sunyi.Tap... tap... tap...Aelmon berjalan masuk perlahan. Namun setiap lang

  • Hati liar sang Alpha   Saat Duka dan Kehilangan Datang bersama kebahagiaan.

    Pagi itu terlalu sunyi.Tidak ada suara tawa, tidak ada teriakan Lyra yang biasanya memaksa anggota pack bekerja lebih cepat. Atau keluhan.Bahkan angin terasa bergerak lebih lambat di antara pepohonan Lunaris.Seolah seluruh lembah, menahan napas.Kael terbangun lebih dulu.Tangannya masih melingkari Elara yang tertidur di sampingnya. Gadis itu tampak lebih tenang malam tadi, napasnya pelan dan hangat di dekat dadanya. Tanpa sehelai pakaian pun.Untuk beberapa saat, Aelmon hanya diam menatapnya.Mengingat bagaimana Elara memerah setiap kali ia menggoda sedikit saja semalam. Dan bagaimana suara nafas indah itu keluar tanpa beban.Dan tanpa sadar, Senyum kecil muncul di sudut bibirnya."Arg..."Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Jeritan terdengar dari luar, Keras, penuh ketakutan. Dan langsung membuat seluruh tubuh Aelmon menegang.Elara juga ikut terbangun dari tidurnya.Beberapa menit kemudian, seluruh pack berkumpul di area bunga liar tempat Aelmon dan Elara bertukar cincin s

  • Hati liar sang Alpha   Malam yang Terlalu Sunyi

    Malam semakin larut.Api unggun di tengah Lunaris mulai mengecil, menyisakan bara merah yang berpendar pelan di antara kayu-kayu hangus. Tawa para anggota pack perlahan mereda, digantikan suara angin malam dan langkah kaki yang mulai menjauh menuju tempat istirahat masing-masing.Namun wajah Elara masih panas, sangat panas. Penyebabnya duduk tepat di sampingnya dengan ekspresi terlalu tenang.Aelmon.“Aku membencimu.” Gumaman Elara membuat Aelmon menoleh perlahan.“Karena?”“Kau sengaja mengatakan itu di depan semua orang.”Aelmon mengangkat alis sedikit. “Aku hanya membicarakan tradisi manusia.” ujarnya.“Kau membicarakannya sambil menatapku seperti itu.”“Seperti apa?” godanya menatap mata Elara, Namun sesekali menatap bibir pengantin di sampingnya itu.Deg....Elara langsung kehilangan kata-kata, karena masalahnya justru itu.Tatapan Aelmon terlalu tenang. Terlalu dalam, seolah pria itu benar-benar menikmati setiap reaksi kecil yang Elara berikan.Dan itu membuatnya semakin malu.A

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status