Home / Fantasi / Hati liar sang Alpha / Utusan matahari yang patah.

Share

Utusan matahari yang patah.

Author: Chatrin
last update publish date: 2026-04-09 12:30:47

Selamat membaca.

Aula membeku. Pria berjubah emas pucat itu melangkah masuk tanpa izin, tanpa takut. Setiap langkahnya meninggalkan jejak cahaya redup di lantai batu, seperti matahari yang hampir padam.

Aelmon bergerak cepat, berdiri di depan Elara. “Berhenti di sana.”

Pria itu tidak berhenti. Ia hanya menatap Elara.

Tatapan itu … aneh.

Bukan penuh kekuasaan seperti Helior. Bukan dingin seperti Kaelum. Tapi kosong, seolah sesuatu dalam dirinya telah lama hilang.

“Aku menemukannya…” bisiknya lag
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hati liar sang Alpha   Perjalanan Rahasia

    Perdebatan berlangsung sampai tengah malam.Dan semakin lama, semakin kacau.“Aku ikut.”“Tidak.”“Aku bilang ikut.”“Aku bilang tidak.”Suara Aelmon dan Kaelum sudah terdengar seperti ancaman terselubung sejak satu jam lalu.Aura Alpha memenuhi aula utama sampai beberapa anggota pack memilih keluar karena sesak bernapas, sementara Kaelum tetap duduk santai dengan kaki menyilang seolah menikmati semuanya.Lira sudah hampir melempar buku.Rowan mulai memijat pelipis. Dan Lyra, nyaris meracuni semua orang dengan ramuan tidurnya.“Kita tidak mungkin membawa seluruh pack ke Solthera!” bentak Lira akhirnya.“Dan aku tidak akan membiarkan Elara pergi tanpa penjagaan,” balas Aelmon dingin.“Auramu terlalu mencolok,” sahut Kaelum santai. “Begitu kau masuk wilayah langit, seluruh Solthera akan tahu Alpha Lunaris datang.”Aelmon menatapnya seperti ingin membunuhnya saat itu juga.“Aku tetap pergi.”“Tidak.”Jawaban Aelmon langsung keluar bahkan sebelum Elara selesai bicara. Dan itu membuat Elar

  • Hati liar sang Alpha   Jalan Menuju Dunia Manusia

    Hujan belum berhenti.Kabut tipis menyelimuti Lunaris sejak pagi, membuat seluruh lembah tampak pucat dan dingin. Langit retak di atas sana masih menggantung seperti luka besar yang tidak bisa sembuh.Dan suasana pack jauh lebih buruk dibanding cuaca.Aula utama Lunaris dipenuhi ketegangan.Lyra menyebarkan gulungan tua dan botol-botol ramuan di atas meja panjang dengan wajah frustrasi. Rambut merahnya diikat asal, sementara lingkar hitam samar mulai terlihat di bawah matanya karena tidak tidur semalaman.Sylas berdiri di dekat jendela batu sambil membaca buku tua yang sudah hampir hancur.Sedangkan Aelmon, masih berdiri terlalu dekat dengan Elara.Seolah Kaelum akan menculik istrinya kapan saja jika ia lengah.Elara duduk di kursi besar dekat perapian dengan selimut gelap menyelimuti tubuhnya. Demamnya sedikit turun, namun kulitnya masih terasa panas dan cahaya samar kadang muncul di jemarinya tanpa kendali.Itu membuat Aelmon semakin gelisah.Dan Kaelum terlihat terlalu tenang melih

  • Hati liar sang Alpha   Istri Alpha atau Dewi Matahari

    Hujan turun sejak dini hari.Rintiknya membentur atap kayu Lunaris perlahan, menciptakan suara tenang yang biasanya menenangkan. Kabut tipis menyelimuti lembah, sementara langit retak di atas sana tampak lebih redup dibanding malam sebelumnya.Namun kamar Alpha justru terasa semakin sesak.Elara masih demam.Tubuh manusianya terasa lemah sejak semalam, meski Lyra sudah memaksanya meminum tiga jenis ramuan berbeda yang rasanya mengerikan.Kini ia duduk bersandar di ranjang besar Aelmon, dibungkus selimut tebal berwarna gelap. Rambut panjangnya sedikit berantakan, pipinya pucat karena panas tubuh yang belum turun sepenuhnya.Sedangkan Aelmon—Masih duduk terlalu dekat.Tangannya memegang jemari Elara sejak tadi pagi seolah takut gadis itu menghilang hanya karena ia lengah sesaat.“Aku benar-benar bisa bernapas sendiri.”Suara Elara masih sedikit serak karena demam.Kael tidak melepaskan tangannya.“Aku tahu.”“Lalu kenapa kau terus menatapku seperti pasien sekarat?”Tatapan emas Aelmon t

  • Hati liar sang Alpha   Ketakutan yang Yidak Bisa Dijelaskan Serigala

    Malam berubah menjadi dini hari.Kabut tipis turun menyelimuti Lunaris, membuat seluruh lembah tampak pucat di bawah cahaya bulan yang tertutup awan. Angin membawa aroma pinus basah dan sisa hujan dari utara.Udara semakin dingin. Dan tubuh manusia Elara mulai merasakannya.Saat kembali ke kamar Aelmon, langkah Elara sudah melambat. Pipi dan ujung hidungnya memerah karena udara malam, sementara jemarinya terasa dingin meski masih dibungkus mantel hitam milik Aelmon yang terlalu besar untuk tubuhnya.Di bawah mantel itu, Elara mengenakan gaun tidur sederhana berwarna putih pucat dengan lengan panjang tipis. Rambutnya yang panjang jatuh berantakan di bahu akibat angin malam.Sedangkan Aelmon masih mengenakan pakaian hitam khas Alpha Lunaris. Kemeja gelap dengan kerah sedikit terbuka di bagian leher, celana panjang hitam, serta mantel tebal berbulu abu gelap yang kini dipakai Elara.Dan untuk pertama kalinya, Aelmon terlihat benar-benar tenang hanya karena melihat Elara berjalan di sampi

  • Hati liar sang Alpha   Rumah yang Dipilih Hati

    Cahaya Helior perlahan menghilang bersama angin malam. Meninggalkan keheningan yang terasa aneh di antara pepohonan Lunaris.Elara masih berdiri diam. Jantungnya belum tenang, Karena kata-kata terakhir Helior terlalu manusiawi untuk seorang dewa.Aku hanya ingin menjadi rumahmu lebih dulu...Aelmon memperhatikan wajah Elara beberapa detik.Lalu tanpa banyak bicara ia melepas mantelnya dan menyampirkannya di bahu Elara pelan.Gerakan sederhana, namun cukup membuat Elara kembali sadar pada keberadaannya. Berbeda dari cahaya Helior yang terasa terlalu jauh untuk disentuh.“Kau memikirkannya.” Suara Aelmon rendah, Jelas sekali ia tidak menyukai fakta bahwa Helior berhasil meninggalkan sesuatu di pikiran Elara.Elara menunduk sedikit. “Aku cuma…” Ia kesulitan mencari kata yang tepat. Karena apa yang ia rasakan sekarang terlalu rumit.Aelmon menghela napas pelan. Lalu mendekat, “Tanya saja.”Elara mengangkat kepala perlahan, dan setelah beberapa detik ragu, “Kalau seseorang datang lebih dul

  • Hati liar sang Alpha   Yang Seharusnya Tinggal di Hatinya.

    Malam semakin larut. Namun Elara tidak bisa tidur.Kata-kata Helior terus berputar di kepalanya seperti bisikan yang tidak mau pergi.Semakin dia mencintaimu… semakin mudah dunia ini hancur.Api kecil di perapian kamar Aelon mulai mengecil, meninggalkan cahaya redup keemasan yang bergerak pelan di dinding batu.Di sampingnya, Aelmon akhirnya tertidur.Meski satu tangannya masih melingkar di pinggang Elara seolah bahkan dalam tidur pun pria itu takut dirinya menghilang lagi.Elara menatap wajahnya diam-diam, tenang, lelah dan entah kenapa itu membuat dadanya semakin sesak. Karena semua orang terus mengatakan bahwa dirinya adalah awal bencana. 'Aku bencana' batin Elara, dadanya terasa nyeri.Namun saat melihat Aelmon seperti ini, Elara justru hanya melihat seseorang yang terlalu tulus mencintainya.Pelan-pelan Elara bergerak turun dari ranjang agar tidak membangunkan Aelmon, tapi baru satu langkah suara rendah pria it

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status