تسجيل الدخولPagi datang perlahan.Cahaya matahari pucat menyelinap masuk melalui tirai tipis kamar, jatuh lembut di lantai kayu dan selimut yang sedikit berantakan.Udara masih dingin. Namun untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, Elara bangun tanpa rasa takut. Ia membuka mata pelan, dan langsung menyadari dirinya masih berada dalam pelukan Aelmon.Pria itu belum bangun. Satu lengannya melingkar santai di pinggang Elara, sementara napasnya terdengar pelan dan stabil di dekat rambutnya.Elara diam beberapa saat. Memperhatikan wajah Kael yang tertidur, dan lagi-lagi ia merasa aneh melihat pria itu setenang ini.Biasanya Aelmon selalu tampak waspada, tegang. Seolah dunia bisa runtuh kapan saja, namun sekarang ia terlihat damai.Tanpa sadar Elara tersenyum kecil. Lalu pelan mengangkat tangan, merapikan sedikit rambut hitam Aelmon yang jatuh di dahinya.Sentuhan itu ringan sekali. Namun alis Aelmo. langsung bergerak sedikit. Mata hijaunya terbuka perlahan. Dan begitu melihat Elara, Tatapannya lang
Kamar itu sunyi.Hanya suara angin malam yang sesekali menyentuh jendela kayu dan cahaya bulan pucat yang masuk melalui celah tirai tipis.Elara masih duduk di pangkuan Aelmon.Deg... deg...Dan itu saja sudah cukup membuat jantungnya tidak tenang.Tiba-tiba ia merasakan sentuhan dari dalam pakaiannya.“Kau sengaja.” Suara Elara terdengar pelan dari balik bahu Aelmon.Pria itu mengangkat alis sedikit. “Apa?”“Kau tahu aku tidak bisa berpikir kalau kau terus menggoda ku seperti itu.”Aelmon menahan senyum kecil. Tangannya masih berada di pinggang Elara, hangat dan stabil, seolah benar-benar tidak berniat melepasnya malam ini.“Kalau begitu jangan dirasakan.”Elara langsung mendongak. “Itu tidak mungkin. Aku normal, dan tubuhku bisa merasakan nya."“Memangnya aku mencoba melakukan kejahatan?” Nada suaranya rendah, santai. Namun justru itu yang membuat pipi Elara kembali panas.Tidak ingin kehilangan momen, Aelmon melepas pakaian luar Elara, ia melakukannya pelan sebelum ia melepas paka
Malam kembali turun di Lunaris dengan tenang.Api unggun di tengah lembah menyala kecil, sementara sebagian besar anggota pack sudah kembali ke tempat masing-masing setelah hari panjang penuh keributan kecil dan ancaman Lyra pada siapa pun yang tidak minum obat tepat waktu.Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, tidak ada perang, tidak ada kematian, dan yang terpenting, tidak ada suara Helior. Hanya malam yang dingin dan damai.Elara sedang duduk di dekat jendela kamar saat Aelmon masuk—ia tenggelam dalam pikirannya, ia menyesal saat pergi dari Aelmon hati itu.Ia baru selesai memeriksa penjagaan wilayah bersama Rowan dan Asterion. Mantel hitamnya masih sedikit basah oleh embun malam, rambut gelapnya berantakan karena angin.Whoosh...Dan begitu masuk, ratapannya langsung mencari Elara. Selalu begitu, seolah nalurinya otomatis memastikan gadis itu masih ada.“Kau menatapku lagi.” Suara Elara membuat Aelmon mengangkat alis sedikit.“Aku memang sedang melihatmu.”“Itu berb
Pagi di Lunaris datang lebih lembut setelah malam panjang itu.Kabut tipis masih menggantung di sekitar lembah, sementara cahaya matahari pucat menembus sela pepohonan tinggi. Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari penuh kekacauan, suasana pack terasa… lebih ringan.Tidak sepenuhnya tenang. Namun cukup untuk membuat semua orang bernapas sedikit lega.Elara terbangun perlahan. Dan langsung menyadari satu hal, Aelmon masih memeluknya.Lengan pria itu melingkar di pinggangnya dengan erat, sementara wajahnya sedikit tersembunyi di dekat rambut Elara.Napas hangatnya terasa pelan di lehernya, hal itu membuat Elara membeku sesaat.Karena biasanya Aelmon sudah bangun lebih dulu.Namun kali ini, Ia masih tertidur.Dan itu terasa baru.Elara memperhatikan wajahnya diam-diam, tanpa aura Alpha yang menekan Ael terlihat jauh lebih muda saat tidur.Seolah tubuhnya akhirnya menyerah setelah menahan terlalu banyak emosi semalam.Dan saat Elara melihat lingkar gelap samar di bawah matanya, dada
Hujan belum berhenti.Air jatuh pelan di permukaan danau, menciptakan lingkaran kecil yang terus pecah satu sama lain. Kabut malam mulai turun lebih tebal, membungkus hutan dalam dingin yang sunyi.Namun di tengah semua itu, Aelmon masih memeluk Elara.Tidak bergerak. Seolah ia benar-benar takut melepaskannya.Deg... deg...Elara bahkan bisa mendengar detak jantung Aelmon.Cepat dan kacau. Tidak seperti biasanya, dan itu membuat dadanya semakin sesak oleh rasa bersalah.“Aku minta maaf…” Suaranya pelan, hampir tenggelam oleh suara hujan.Aelmon mendengarnya jelas. Pelukannya justru mengerat sedikit. “Jangan lakukan itu lagi.” pintanya dengan nada suaranya rendah.Bukan perintah Alpha. Lebih seperti permohonan seseorang yang hampir kehilangan hal terpenting dalam hidupnya.Elara menunduk. Tangannya masih menggenggam pakaian Aelmon yang basah. “Aku cuma…” napasnya bergetar, “…aku takut semua orang terluka karena aku.”Aelmon menutup mata sebentar, dan hening jatuh di antara mereka. Lal
Danau kecil itu memantulkan cahaya retakan langit seperti pecahan kaca.Airnya bergetar pelan meski tidak ada angin. Kabut tipis mulai turun di permukaan danau, membungkus Lunae dalam dingin yang membuat ujung jarinya mati rasa.Ia masih terduduk di tanah basah. Lelah, tubuhnya terasa semakin berat. Dan di depannya, Helior berdiri diam dengan tatapan emas yang terlalu tenang.“Sudah waktunya kau memilih.”Kalimat itu menggantung di udara, berat dan menekan.Elara menatapnya lama. Lalu tertawa kecil 'haha... 'Suaranya pelan dan rapuh. “Kenapa semua orang terus menyuruhku memilih…”Suaranya hampir pecah. “Aku bahkan tidak mengerti kenapa aku ada di dunia ini.”Helior tidak langsung menjawab. Tatapannya turun pada tubuh Elara yang mulai gemetar karena suhu malam.“Karena keberadaanmu sendiri sudah menjadi pilihan.”Helior memanfaatkan tubuh Elara yang masih manusia, sehingga ia lebih mudah dikendalikan karena manusia selalu melakukan kesalahan yang sama.Jawaban itu tidak membantu, dan







