مشاركة

Bab 7

مؤلف: Jaja
"Haha! Bagus! Benar-benar seorang pria yang setia!" Bagas tertawa gila, memberi isyarat kepada anak buahnya untuk melepaskan ikatan tali Garwita dan mendorongnya ke arah pintu kecil menuju ke area yang aman.

Garwita berlari merangkak turun dari menara gerbang kota, lalu menyerbukan dirinya ke dalam pelukan Javas sambil menangis keras.

Sementara itu, Bagas tersenyum kejam sambil melangkah mendekati Gantari yang ditinggalkan sendirian.

"Kalau begitu, selamat tinggal, Selir Agung!"

Hampir pada saat yang bersamaan, dari kegelapan di atas menara, beberapa anak panah dari busur silang meluncur deras dan menembus bagian vital Bagas, beserta beberapa anak buahnya dengan sangat tepat!

Tubuh Bagas membeku dengan sisa kegilaan dan kepuasan di matanya. Dia jatuh terlentang ke belakang. Sebelum mengembuskan napas terakhirnya, dia menggunakan sisa tenaga terakhirnya untuk mendorong Gantari dengan keras, yang setengah tubuhnya sudah tergantung di udara!

"Gantari!"

Javas menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana tubuh yang rapuh itu jatuh, dari atas menara gerbang kota yang tinggi seperti layang-layang putus!

Brak!

Suara benturan terdengar saat tubuh Gantari menghantam lantai batu di bawah menara. Tubuh Gantari kejang sedikit, lalu tidak bergerak lagi.

Javas merasa jantungnya seolah diremas keras oleh tangan tak kasat mata, hingga rasa sakitnya membuatnya hampir tidak bisa bernapas.

Dia berlari seperti orang gila ke arah sana!

"Gantari! Gantari!" Dia berlutut di tanah dan merangkul tubuh wanita itu dengan sangat hati-hati. Wajah Gantari sepucat kertas, darah mengalir dari sudut bibirnya, dan kedua matanya terpejam rapat.

Beruntung, masih ada embusan napas.

"Tabib! Cepat panggil tabib!" Dia berteriak histeris dengan rasa panik yang tak pernah dirasakannya sebelumnya.

"Yang Mulia ...." Tak jauh dari sana, Garwita mendadak mengerang pelan. Setetes darah merah pekat mengalir dari sudut bibirnya, dan tubuhnya terkulai lemas.

"Garwita?" Javas terperanjat.

Garwita mencengkeram lengan baju pria itu dengan napas sesak. "Pemberontak itu ... tadi memaksa saya minum sebutir racun. Saya tidak tahu racun apa ... Yang Mulia, apa saya ... akan mati? Jangan pedulikan saya, cepat ... cepat periksa adik saya ...."

Javas menatap Gantari yang masih bernapas di pelukannya, lalu menatap Garwita yang memuntahkan darah dan terkulai lemas tak jauh dari sana. Pergulatan batin yang hebat terjadi di matanya.

Meskipun Gantari jatuh dari menara, menara itu tidak terlalu tinggi dan wanita itu masih bernapas, yang berarti kondisinya tidak berbahaya.

Sedangkan Garwita, dia tidak tahu racun apa yang dimasukkan ke dalam tubuh wanita itu!

Pada akhirnya, Javas menggertakkan gigi, meletakkan Gantari di tanah secara perlahan, lalu berteriak kepada pengawal yang berdatangan, "Cepat! Bawa Selir Agung kembali ke istana dan panggil tabib untuk mengobatinya! Aku akan segera menyusul!"

Setelah mengatakannya, Javas menggendong Garwita dan melangkah cepat menuju ke istana terdekat sambil berteriak cemas, "Tabib! Di mana tabib?"

Gantari diusung kembali ke istananya oleh para pengawal. Tabib yang sudah menunggu sejak awal, bergegas maju untuk memeriksa dan mengobatinya.

"Beruntung menara itu tidak terlalu tinggi dan Yang Mulia Selir Agung sepertinya menahan benturan saat mendarat. Ini hanya luka luar dan guncangan organ dalam yang ringan, tidak merusak tulang." Setelah memeriksa dengan teliti, tabib itu bernapas lega. Dia mulai membalut dan menghentikan pendarahan Gantari.

Pendarahan berhasil dihentikan dengan cepat.

Baru saja tabib itu hendak mengabarkan bahwa keadaan Selir Agung sudah tidak selamat dan hanya perlu beristirahat ....

Mendadak, tanpa tanda-tanda sebelumnya, Gantari yang terbaring di atas ranjang memuntahkan darah segar dalam jumlah banyak!

Diikuti oleh muntahan darah kedua, dan ketiga ....

Darah segar mengotori pakaian tidur bersih yang baru saja diganti, serta mengotori tangan tabib itu.

"I-ini bagaimana mungkin terjadi?" Raut wajah tabib berubah drastis. Dia bergegas memeriksa denyut nadi Gantari kembali, tetapi denyut nadi di bawah jarinya terasa sangat kacau dan lemah secara mengerikan. Daya hidup wanita itu memudar dengan sangat cepat. "Kenapa denyut nadinya mendadak melemah sampai seperti ini? Padahal tadi ...."

Ruangan itu seketika menjadi kacau balau.

Para pelayan menjerit ketakutan, sementara tabib panik menusukkan jarum dan memberikan obat, tetapi semuanya sia-sia.

Kesadaran Gantari perlahan-lahan kabur di tengah rasa sakit dan dingin yang menyelimutinya.

Dia tahu, obat mati suri itu telah bekerja penuh.

Waktunya ... pas sekali.

Gantari terbaring di ranjang, menatap kelambu di atasnya saat kesadarannya makin mengabur.

Pada akhirnya, dia merasakan tangan tabib yang gemetar ditarik kembali dari pergelangan tangannya. Tabib itu perlahan berlutut di lantai dengan wajah sepucat mayat.

"Ce-cepat laporkan kepada Yang Mulia Kaisar ...."

"Yang Mulia Selir Agung ... telah wafat!"

Gantari memejamkan matanya.

Di sudut bibirnya, masih tersisa senyuman tipis.

Akhirnya ... dia bebas.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 26

    Di luar, Darya mendengar pergerakan itu dan mengintip dengan hati-hati. "Yang Mulia? Apa saya perlu mengutus seseorang ...." "Biarkan dia pergi." Dari dalam, terdengar suara Javas yang sangat parau, membawa ketenangan dari jiwa yang telah mati sepenuhnya. "Jangan ada yang menghalanginya. Utus seseorang ... secara rahasia untuk melindungi keluarga mereka meninggalkan Wilayah Dundra menuju tempat yang ingin mereka tuju. Pastikan ... mereka selamat."Mata Darya memerah dan berbicara terisak, "... Baik."Tak ada suara lagi di dalam ruangan.Darya menunggu dalam waktu lama. Rasa cemas di hatinya makin menjadi, hingga akhirnya dia memberanikan diri untuk mendorong celah pintu dan melihat ke dalam.Tampak di atas ranjang, Javas terbaring tenang di sana. Wajahnya memiliki warna pucat kebiruan yang aneh, busa darah merah tua keluar dari sudut bibirnya, matanya terpejam rapat, dan napasnya begitu lemah hingga hampir tak terasa lagi."Yang Mulia!!" Darya hampir pingsan karena terkejut. Dia meran

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 25

    Hari ketujuh, saat petang. Demam tinggi Javas sudah sedikit turun dan kesadarannya telah pulih, hanya saja tubuhnya masih agak lemas. Gantari membawa semangkuk bubur tawar dan melangkah masuk ke kamar.Pria itu tidak menerima bubur tersebut, dia hanya menatap Gantari dengan pandangan berat yang membawa sisa harapan samar terakhir."Waktunya sudah tiba." Gantari meletakkan mangkuk bubur di meja kecil sebelah tangan Javas sambil berkata dengan pelan.Cahaya di mata Javas padam sedikit demi sedikit, hingga akhirnya hanya menyisakan kegelapan mati."Kamu tetap mau pergi," ucap pria itu, suaranya sangat parau."Ya." Gantari mengangguk tanpa menghindari tatapannya."Kalau aku nggak mengizinkan?" Dia menatap wanita itu bagaikan binatang buas yang melakukan perlawanan terakhir.Gantari menatapnya dalam diam. Wanita itu mengeluarkan belati yang pernah dia tempelkan di lehernya sendiri dari balik lengan baju, lalu meletakkannya di samping mangkuk bubur."Maka yang didapatkan Yang Mulia hanya se

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 24

    Jantung Javas seolah-olah dicengkeram kuat, sangat sakit sampai membuatnya hampir sesak napas.Yang diinginkannya, bukan tindakan patuh dan penuh putus asa wanita itu saat menyetujui penawaran ini.Namun hingga tahap ini, apa lagi yang bisa dia lakukan?"Titah kaisar tidak boleh ditarik kembali." Javas berbalik membelakangi Gantari. Dia tidak menatap Gantari lagi karena takut jika melihat wanita itu sekali lagi, hatinya akan melunak dan hilang kendali.Dalam tujuh hari ini, Javas menghabiskan seluruh kelembutan dan kesabarannya seumur hidupnya.Javas menempatkan Gantari di bangunan paling indah dan nyaman di istana peristirahatan. Seluruh perabotannya, disesuaikan dengan selera wanita itu saat berada di Istana Ayodya dulu.Javas mencari kue-kue paling lezat di wilayah Dundra, serta gaun dan perhiasan paling modern untuk memenuhi kamar Gantari.Javas menemani Gantari makan, meskipun wanita itu hampir tidak menyentuh sendoknya dan hanya menundukkan mata, bagaikan boneka tanpa nyawa.Java

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 23

    Istana peristirahatan dijaga dengan sangat ketat, namun tidak ada seorang pun yang menghentikan Gantari.Langkahnya sangat lancar tanpa hambatan sedikit pun, dibimbing menuju sebuah paviliun di tepi air.Javas berdiri dengan tangan di belakang punggung di depan jendela, menatap kolam berisi sisa-sisa teratai yang layu. Mendengar suara langkah kaki, dia berbalik perlahan."Kamu akhirnya mau menemuiku," kata Javas, suaranya terdengar agak parau.Gantari berdiri tiga langkah di depannya tanpa menatap Javas. Dia mengangkat ujung gaunnya, lalu berlutut perlahan hingga dahi menyentuh lantai."Hamba memohon kebaikan hati Yang Mulia untuk melepaskan Jiwan."Javas menatap sosok Gantari yang berlutut di lantai. Sikap hormat yang penuh jarak itu, bagaikan duri yang menancap tajam hingga matanya terasa sakit.Dia maju selangkah, hendak membantu Gantari berdiri.Namun, Gantari seolah-olah tersengat panas. Dia mendadak menarik tubuhnya ke belakang untuk menghindari sentuhan pria itu, dan tetap berlu

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 22

    Javas memejamkan matanya. Saat membuka matanya kembali, gelombang dahsyat yang bergolak di matanya perlahan mereda, berubah menjadi kehampaan yang tak berdasar.Pria itu mengangkat tangannya perlahan, memberi isyarat "mundur" kepada para prajurit di sekitarnya.Para prajurit saling pandang, tetapi tidak berani membantah. Mereka mundur dengan cepat dari rumah itu, bagaikan pasang surut air, menyisakan halaman rumah yang berantakan dan udara yang membeku."Baiklah." Suara Javas sangat parau. "Aku nggak akan memaksamu."Tangan Gantari yang memegang belati tetap belum diturunkan, wanita itu menatapnya dengan waspada.Javas menatapnya, melihat kewaspadaan dan jarak yang tidak disembunyikan di mata Gantari, rasa sakit di dadanya telah lama mati."Tapi aku nggak akan menyerah." Dia menatap wanita itu. Dia mengucapkan kata demi kata, seolah bersumpah sekaligus mengutuk, "Gantari, kamu adalah milikku, seumur hidupmu akan tetap begitu. Aku memberimu waktu untuk berpikir dengan jernih.""Tapi sua

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 21

    Tidak pernah mencintai Anda.Kata-kata itu terucap begitu ringan, namun bagaikan belenggu paling berat yang memaku Javas di tempat, hingga tidak mampu bergerak sedikit pun.Javas menatap Gantari. Pria itu menatap wajahnya yang tenang tanpa emosi di bawah sinar bulan, melihat rasa dingin dan ketegasan yang jelas di matanya. Seluruh darah di tubuh Javas seolah-olah membeku menjadi es, lalu seketika bergolak membakar hingga seluruh organ dalamnya terasa melilit kesakitan.Tepat saat pikirannya terguncang hebat dan hampir tidak sanggup berdiri tegak, pintu rumah terdengar berderit terbuka.Jiwan melangkah keluar sambil membawa sebuah lentera, dengan jubah luar tersampir di bahunya. Jelas ia terbangun karena pergerakan di halaman rumah. Melihat dua orang yang sedang berhadapan di sana, keningnya mengerut. Dia melangkah dengan cepat ke samping Gantari, dan dengan sangat alami mengulurkan tangan merangkul bahu wanita itu, lalu menatap Javas dengan tatapan waspada."Gantari, sudah semalam ini,

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status