LOGIN“Aku termasuk bagian dari Rupa Rancang Nusantara, by the way. Emang nggak boleh aku ikut outing?”Megantara mengembuskan napas panjang. Tangannya terangkat untuk memijat pelipis yang tiba-tiba terasa berdenyut. Di hadapannya, Elvira berdiri dengan ekspresi santai seolah kehadirannya pagi itu adalah hal yang paling wajar di dunia.“El, aku—”Megantara belum menyelesaikan kalimatnya, Elvira sudah lebih dulu membuka pintu mobil lalu masuk ke kursi penumpang. Seolah semuanya sudah diputuskan.Megantara menatapnya beberapa saat. Namun akhirnya ia memilih diam. Jujur saja, ia terlalu lelah untuk berdebat dengan perempuan itu.Lalu tanpa mengatakan apa-apa lagi, lelaki itu berjalan mengitari mobil, masuk ke kursi kemudi, lalu menyalakan mesin.Mobil perlahan meninggalkan area apartemen. Menyusuri jalanan Jakarta yang mulai dipenuhi kendaraan. Sepanjang perjalanan Megantara memilih bungkam. Hanya suara pendingin udara dan sesekali bunyi klakson dari kendaraan lain di luar sana.Elvira sibuk m
Hagia baru saja tiba di depan gedung Rupa Rancang Nusantara saat suasana sudah terlihat ramai. Lima bus berukuran medium berjejer rapi di area parkir depan gedung. Beberapa karyawan tampak sibuk membawa tas masing-masing, sementara yang lain mengobrol sambil menunggu keberangkatan.Hari itu seluruh tim akan berangkat ke Bogor untuk kegiatan outing tahunan perusahaan. Kurang lebih seratus lima puluh orang ikut serta dalam perjalanan tersebut.Begitu tiba di lobi, Hagia langsung menghampiri rekan-rekan satu divisinya yang sudah berkumpul di dekat Bus 2.“Good morning, Kesayangan aku!”“Pagi…”“Tumben banget pagi ini lo kelihatan sumringah, Mbak?” cibir Arsenio. “Oh… ya? Biasa aja perasaan, Sen.” Hagia mendecak pelan. “Nggak usah mulai, deh. Masih pagi ini.”“Ranu lo tinggal nggak apa-apa, Gi?” Risa yang berdiri di sampingnya tampak penasaran.“Nggak apa-apa, Ris.” Hagia mengangguk kecil. “Gue titipin ke mantan ipar gue soalnya.”“Ooh.” Risa langsung mengangguk-angguk. “Kayaknya adem ba
“Belum balik?”Suara Kafka menarik perhatian Megantara yang sejak tadi fokus menatap layar monitornya.Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, lelaki itu melangkah masuk sambil membawa segelas kopi di tangannya. Kebiasaan yang sudah selalu lelaki itu lakukan selama bekerja bertahun-tahun bersama Megantara. Dan satu-satunya orang di kantor yang bisa melakukannya tanpa mendapat teguran.“Gue lagi ngecek desain finalisasi dari Astu Group.”Kafka langsung mengernyit. “Kerja samanya masih jalan? Bukannya lo bilang masih lo pertimbangkan?”Megantara menyandarkan tubuhnya ke kursi. Pandangan yang semula tertuju pada monitor kini beralih sepenuhnya ke arah sahabatnya.“Masih.”Kafka menarik kursi di depan meja kerja Megantara lalu duduk. “Perasaan waktu itu lo udah hampir mutusin buat cabut dari proyek itu.”“Memang.”“Terus?”Megantara mengembuskan napas pendek. “Dari pihak Astu Group akhirnya minta maaf secara resmi ke perusahaan.”Kafka terdiam. Mengingat bagaimana keruhnya situasi beberapa
“Tiba-tiba banget lo dijadiin panitia outing kantor, Mbak?” Suara Arsenio nyaris terdengar seperti bisikan. “Pak Megan lagi mode galak apa gimana, sih?”Hagia yang berjalan di sampingnya hanya mengedikkan bahu. “Nggak tahu. Gue juga heran padahal kan panitia outing-nya udah lumayan banyak per divisi.”Arsenio mengangguk mantap. “Makanya gue curiga.”“Curiga apa?”“Jangan-jangan Pak Megan ada rasa sama lo, Mbak.”Hagia mendecak sembari memutar matanya. Walaupun ia sudah bisa menebak bahwa semua ini adalah ulah Megantara. Hanya saja Hagia tidak habis pikir jika lelaki itu akan melibatkannya sejauh ini. “Nggak usah ngaco deh, Sen. Apaan, coba?”“Lho, ya mana tahu, kan? Kalaupun iya, ya nggak apa-apa. Toh kalian berdua sama-sama single juga. Iya, kan? Gue tadi sempat papasan sama ceweknya Pak Megan di lobi. Mukanya keruh banget kayak air comberan. Fixed, sih, habis ditolak mentah-mentah sama Pak Megan.”“Bukan urusan kita Sen. Udah ah, jangan ngomongin dia. Bisa berabe nanti kalau sampai
“Sumpah, gue kenyang banget hari ini. Kita perlu kopi dan semacamnya nggak, sih?”Suara Arsenio membuyarkan lamunan Hagia. Perempuan itu mengerjap beberapa kali, seolah baru saja kembali dari tempat yang jauh.Mereka baru selesai makan siang di warteg langganan dekat kantor dan kini sedang berjalan kembali menuju gedung Rupa Rancang Nusantara.Namun pikiran Hagia sama sekali tidak berada di sana. Pikirannya masih terjebak pada kejadian tadi.Tepatnya saat Hagia dan Megantara sedang berduaan di ruangan lelaki itu. Saat mereka berciuman dan saat Elvira tiba-tiba membuka pintu tanpa peringatan.Hagia mengembuskan napas. Entah apa reaksi Elvira saat setelah Hagia meninggalkan ruangan tadi. Dan justru hal itu membuatnya semakin kepikiran. “Gi, mikirin apa, sih?” Kali ini suara Risa terdengar tepat di sampingnya.Hagia menoleh. “Nggak ada, Ris. Kenapa, sih?”“Nggak ada, tapi sikap lo dari tadi tuh aneh banget tahu, nggak. Dari tadi Arsenio tuh ngajakin mampir beli kopi.”“Tahu tuh, Mbak. C
“Jadi... siapa yang kirim kopi buat kamu?”Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Megantara. Hagia yang baru masuk ke ruangan lelaki itu menghentikan langkahnya. Di tangannya ada beberapa berkas yang harus ditandatangani Megantara.“Hah?” Hagia meletakkan berkas tersebut di atas meja. “Aku nggak tahu, Mas. Aku pikir dari kamu.”Megantara menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Kenapa dari aku?”“Karena nggak banyak yang tahu kesukaan aku.” Hagia mengangkat bahu pelan. “Bahkan anak-anak kantor juga nggak terlalu tahu. Jadi aku—”Kalimatnya terputus. Karena tiba-tiba Megantara meraih pergelangan tangannya. Sebelum Hagia sempat bereaksi, lelaki itu menariknya mendekat. Dan dalam sekejap, Hagia sudah jatuh di pangkuan lelaki itu. “Mas!” Wajah Hagia seketika panik. Ia buru-buru melirik ke sekeliling ruangan. “Kamu tuh, ya!”Megantara justru terlihat santai. Seolah apa yang baru dilakukannya adalah hal paling wajar di dunia.“Kenapa?”“Ini kantor!”“Aku tahu.”“Kalau ada yang masuk gimana







