Home / Romansa / Hello, Nanny! / 133. Hilang Kepercayaan

Share

133. Hilang Kepercayaan

last update publish date: 2026-04-24 16:01:54

Hening. Hening sesaat melanda ketika Kalla meluapkan emosinya. Hidung wanita itu memerah, bahkan sewajah-wajahnya. Rasa nyeri di dadanya kembali mengusik. Dia sambar kertas tisu banyak-banyak untuk menyeka hidung.

“Ini salahku yang terlalu cepat menilai dan ambil keputusan. Padahal Cade udah ngasih aku peringatan gimana brengseknya kamu.” Kalla tertawa tanpa suara. Menatap sekilas pria di depannya yang memasang wajah nelangsa. “Bener ternyata. Pria seperti kamu nggak akan pernah cukup hidup sa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (15)
goodnovel comment avatar
Poppy Miranda
stress kan Rey?? tapi tetap tenang aja, kamu male lead kok disini, gih suap kak Yuli pakai martabak aja bakal balikan km sama Kalla ...️.........
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Keep smiling yaak
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Takut doanya manjur
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   138. Terlanjur Badmood

    “Ganesha! Iya, saya ingat? Tunangannya itu CEO Ganesha Group!” Tas yang Kalla bawa terlepas begitu saja dari tangannya. Tubuhnya mendadak lunglai, tak bertenaga. Matanya yang berkaca-kaca mengikuti pergerakan wanita oriental itu memasuki restoran. Aneh sekali. Seharusnya ini sudah tidak mempengaruhinya kan? Demi Tuhan, sudah lima tahun berlalu. Hidup terus berjalan. Banyak yang berubah. Tapi kenapa masih saja ada sesuatu yang mencubit perasaannya mendengar hal itu? “Nona, Anda baik-baik saja?” tanya staf itu bingung seraya menyerahkan tas milik Kalla yang tadi sempat jatuh. Wanita 28 tahun itu terkesiap, lantas menggeleng. “Oh, makasih,” katanya sembari menerima tasnya kembali. “Maaf ya, sepertinya saya salah tempat.” “Oh, baik, Nona. Tidak apa-apa.”Kalla segera pergi dari restoran itu. Tidak mau melihat sesuatu yang mungkin bisa menambah kacau perasaannya yang sudah lama tenang. Alih-alih menelepon Wima untuk menanyakan lebih pasti tempat dinner meeting berada, Kalla melepas h

  • Hello, Nanny!   137. Bali

    5 TAHUN KEMUDIAN ==================Meja kerja berukuran 120x80 Senti dengan kelir cokelat itu penuh dengan berkas. Laptop terbuka di salah satu sudutnya. Belum lagi kertas-kertas tak penting lainnya yang belum sempat dibereskan.Bagaimana sempat membereskan kalau satu masalah kelar muncul masalah lain? Kalla mengerang frustrasi mendengar ponselnya bergetar di tengah konsentrasinya memelototi layar laptop dan dokumen. “Halo,” sapanya malas dengan mata tak lepas dari monitor. Jarinya juga masih mengetik di atas kibor. “Kamu nggak lupa ntar malam kan?”Suara Wima. Refleks Kalla membuang napas. Perintah lelaki itu sudah dia tulis di memo mana mungkin dia lupa?!“Kenapa nggak kamu aja sih, Kak? Kerjaanku lagi banyak nih. Aku mau lembur,” keluhnya, masih berusaha agar urusan menemui klien penting bukan dia yang handle.“Nggak baik sering lembur. Kalau kamu sakit aku juga yang kena omel ibu.” “Biarin aja kamu kena omel. Emang tiap hari kerjaanmu cuma nyiksa aku kok.”Di ujung telepon l

  • Hello, Nanny!   136. Be Happy

    “You’re sure?” “Definitely yeah.”Reyga tersenyum kecil, sementara perempuan yang duduk bersebrangan dengannya masih belum terlihat puas. Bibir merahnya mencebik. “That's a pity.” Perempuan itu mendesah. Di saat yang sama pintu ganda ruangan diketuk, lalu tak lama sosok Cade muncul. Mata wanita itu sontak melebar. “Who’s he?” Cade mendekat, melempar senyum manis sebelum menyapa tamu Reyga. Agak bingung juga karena sang kakak menyuruhnya cepat datang ke ruangannya. Reyga berdiri, mengancing jas, lalu memperkenalkan adiknya. “Ceci, he’s Cade, my younger brother.” “Oh.” Wanita cantik bermata sipit itu lantas berdiri, melempar senyum pada Cade dan mengulurkan tangan. “Hello, I’m Cecilia Wu, just call me Ceci. Nice to meet you.” Meskipun ragu Cade tetap membalas uluran tangan wanita dengan riasan berani itu. Dia bisa menaksir usia perempuan itu kalau tidak seumuran dengan Reyga berarti di atasnya. Aura dewasa menggeloranya sangat terpancar. Dan Cade menyukai itu. “Jadi, apa yang bi

  • Hello, Nanny!   135. Pinky Promise

    Saat berhasil masuk kelas Kael langsung duduk, mengambil kubik di tas dan mengutak-utak benda kubus itu dalam diam. Dia ingin marah, tapi kakak cantik tidak suka dia marah. Yang bisa Kael lakukan hanya diam. Sudah lama kakak cantik tidak menemuinya, itu yang membuat Kael kecewa dan marah. Papa juga jarang tertawa dan makin sibuk. Nanny baru Kael juga tidak suka. Masakannya tidak enak. Sebenarnya Kael kangen sama kakak cantik, tapi dia tahu kakak datang untuk pergi lagi. Kael mengabaikan anak-anak lain yang bersusulan masuk dan membuat kegaduhan. Dia hanya menghela napas ketika pesawat kertas mengenai kepalanya dan mendarat tepat di atas mejanya. “Kael! Pesawatku!” teriak salah seorang teman. Namun Kael cuma melirik kertas origami itu tanpa berniat mengembalikan. ‘Kalau mau ambil saja sendiri. Siapa suruh lemparnya nggak bener’ itu kira-kira yang ada di pikiran anak 4 tahun itu. Miss Atika masuk kemudian bersama Miss Rosa. Sementara Miss Atika menghampiri Kael, Miss Rosa menertibk

  • Hello, Nanny!   134. She's Your Nanny.

    “Kael dan Reyga gimana?” Kalla yang sedang fokus mengepak pakaian menoleh. Tatapnya melihat ibu mendekat, lalu perlahan duduk di sisi tempat tidur. “Hubungan kalian benar-benar nggak bisa diperbaiki?” tanya ibu lagi. Sejak tahu Kalla putus dengan Reyga, ibu tidak terlalu kepo. Bahkan tidak menanyakan kenapa putus. Dia percaya ada alasan masuk akal yang membuat hubungan mereka tidak bisa lanjut. Dia cuma bisa mendukung meskipun dalam hati sedih juga. Ibu sudah mulai dekat dengan Kael. Sudah menganggap seperti cucunya sendiri. Dan sejak mereka putus, praktis wanita paruh baya itu tidak bisa melihat bocah ganteng itu lagi. Kalla tersenyum getir dan menggeleng. Lalu melanjutkan melipat pakaian. “Kamu nggak pamitan juga ke mereka?” “Aku nanti ke sekolah Kael.” “Reyga gimana?” Netra Kalla menatap baju yang sudah dia rapikan. Juga beberapa keperluannya selama di sana nanti. Lusa dia dan teman-temannya akan diberangkatkan ke Negeri Sakura. “Lebih baik nggak ketemu lagi, Bu.” Tarikan

  • Hello, Nanny!   133. Hilang Kepercayaan

    Hening. Hening sesaat melanda ketika Kalla meluapkan emosinya. Hidung wanita itu memerah, bahkan sewajah-wajahnya. Rasa nyeri di dadanya kembali mengusik. Dia sambar kertas tisu banyak-banyak untuk menyeka hidung. “Ini salahku yang terlalu cepat menilai dan ambil keputusan. Padahal Cade udah ngasih aku peringatan gimana brengseknya kamu.” Kalla tertawa tanpa suara. Menatap sekilas pria di depannya yang memasang wajah nelangsa. “Bener ternyata. Pria seperti kamu nggak akan pernah cukup hidup sama satu wanita.” Reyga memejamkan mata. Dia tahu rasa kecewa Kalla besar, tapi yang lebih menyedihkan dia sudah kehilangan kepercayaan orang yang dia cintai. Bagaimana? Bagaimana cara Reyga mengembalikan semuanya seperti awal? “Aku memang salah. Di matamu mungkin juga sudah buruk,” ucap Reyga menunduk. Meskipun tahu tidak ada gunanya lagi bicara. “Tapi cinta dan sayangku ke kamu tulus dan serius. Aku beneran ingin settle down di kamu. Demi Tuhan, aku nggak pernah ingin menduakan atau mempermai

  • Hello, Nanny!   29. Pecundang

    “Jadi sekarang Lo di Bali?”“Hu-um.”“Buset, belum apa-apa udah honeymoon.” “Honeymoon pale Lo.” Di ujung telepon sana Moya tergelak. “Jadi baby sitter anaknya orang tajir mah beda ya. Jalan-jalan aja pake jet pribadi. Nginepnya di vila mahal. Mana bapaknya duda lagi. Lo banyak-banyak bersyukur tu

  • Hello, Nanny!   28. Perkara Ranjang

    “Kamu ternyata masih muda. Apa Kael dan Reyga memperlakukanmu dengan baik?” Pertanyaan tak terduga meluncur dari wanita anggun itu. Kalla tersenyum kaku, matanya sempat melirik Reyga di ujung sofa yang masih saja memperhatikannya. Boleh jujur enggak sih? “Kael baik banget,” ucap Kalla sambil men

  • Hello, Nanny!   27. Duda Meresahkan

    Setelah berhasil membuat jantung Kalla mau lepas dan lutut terasa lemas, Reyga pergi begitu saja. Kurang ajar! Bahkan tangan Kalla masih gemetar. Dia sampai perlu waktu beberapa saat untuk memegang pisau lagi. Inhale-exhale. Kalla melakukan senam pernapasan sambil menyentuh dadanya yang masih bert

  • Hello, Nanny!   25. Nggak Ingin Bertemu

    Kalla kontan mencengkeram tangan Moya erat, dan mendelik seraya mendesis. “Ssst, mulut Lo jangan berisik!” tegurnya lirih. Matanya melirik kanan-kiri, memperhatikan sekitar. Banyak yang nengok ke arah mejanya. Tapi hanya sebentar. Setelah situasi kembali ke kondusif, dua sahabat itu saling tatap.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status