/ Romansa / Hello, Nanny! / 152. Binal (mature area)

공유

152. Binal (mature area)

last update 게시일: 2026-05-03 22:12:47
Jemari Reyga berjalan pelan melewati bahu Kalla. Melepas cardigan yang wanita itu pakai, dan melemparnya ke sembarang arah. Ujung jari telunjuknya menyentuh dagu Kalla, mendorong ke atas hingga leher jenjang wanita itu terlihat.

“Ugh.” Kalla melenguh ketika bibir Reyga mengecup basah lehernya. Matanya terpejam, bibirnya mendesis lirih. Dia bisa merasakan tangan lelaki itu mempreteli satu per satu kain kemejanya. Ketika akhirnya kain atasan itu luruh, dia membiarkan saja.

Bersamaan dengan itu
Yuli F. Riyadi

Aku post malam, biar kalian bisa langsung tidur abis baca. Bhahahaha

| 16
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (14)
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Bhahahhaha hahahaha
goodnovel comment avatar
Nyonya Juna
huaaaaa..apa ini...aku tersesat...aku aku...aku omo omo omo....tolongin makkkkk...
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Selagi ada kesempatan hwaaa
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Hello, Nanny!   244. Kamu ... Seksi

    Selagi Kalla masih tidur siang, Reyga duduk merebah di sunbed, menikmati matahari sore seraya membaca buku. Lama sekali dirinya tidak menemukan ketenangan seperti ini. Kerjaan yang menumpuk, ekspansi proyek, berusaha selalu memenangkan tender potensial, benar-benar menyita waktu. Perusahaan yang masih berkembang butuh banyak perhatian darinya sebagai pemimpin. Dia tidak ingin mengecewakan orang-orang yang sudah mempercayainya sebagai pengelola. Sedang seru-serunya membaca, pergerakan kaki seseorang membuat fokusnya teralihkan. Kepala Reyga otomatis memutar, saat melihat sepasang kaki telanjang tidak jauh dari tempatnya duduk. Pandangannya perlahan naik, hingga dia menemukan sang istri yang ternyata sudah bangun dari tidur. Kalla mengenakan kemeja lengan panjang miliknya, yang memanjang sampai paha. Wanita itu tidak mengenakan celana atau bawahan apa pun lagi.Rambut Kalla sedikit berantakan, dan muka bantalnya terlihat sangat menggemaskan. “Kenapa nggak bangunin aku sih?” tanya w

  • Hello, Nanny!   243. Sempurna, Bukan?

    “Ada yang jemput kita?” tanya Kalla begitu mendarat di Bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjung Pinang“Hu-um, dari tim langsung.” Dan benar, Kalla tampak kebingungan karena yang menjemput mereka adalah tim dari Nikoi. “Bukannya kita mau ke Pulau Cempedak, kenapa yang datang dari tim Pulau Nikoi?” bisik Kalla. Dari badan mobil pribadi sampai komplimen di dalamnya tertulis brand Nikoi Island, alih-alih Cempedak Island. Reyga terkekeh seraya mengayunkan tangan Kalla. “Nikoi dan Cempedak satu manajemen. Pemiliknya sama.”Barulah Kalla mengangguk sambil ber oh-oh ria. Sepanjang jalan menuju private port dia mengedarkan pandang. Infrastrukturnya sudah lumayan bagus. Jalanannya mulus meskipun kanan-kiri masih dipenuhi pohon dan semak.Hanya memakan waktu sekitar 30 menit perjalanan, akhirnya mereka tiba di private port di daerah Kawal. Mereka transit sebentar di tempat khusus milik Pulau Nikoi dan Cempedak sebelum menuju speedboat yang sudah menunggu mereka. “Rey, ini beneran kita berdua d

  • Hello, Nanny!   242. Two Pieces?

    “Kamu terlalu keras nggak sih, Rey, sama mama?”“Biasa aja.” Sikap tak acuh lelaki itu membuat Kalla menghela napas. “Kamu masih marah sama mama?” “Nggak. Cuma…kalau mama udah bertingkah berlebihan, aku males. Seperti yang nggak pernah berbuat salah aja,” sahut Reyga, sambil membelokkan kemudi memasuki area kampung rumah ibu. SUV hitam miliknya berjalan lambat saat berada di wilayah perkampungan. “Tiap orang kan pernah berbuat salah.” “Iya, tapi nggak seketerlaluan mama.”“Ada kok yang lebih keterlaluan.” Karena tidak ingin mendebat istrinya, Reyga memilih diam sampai ban hitam kendaraannya menginjak halaman rumah ibu. “Sebaiknya kita istirahat cepat supaya besok nggak telat.”Kalla melepas seatbelt dan keluar lebih dulu. “Aku belum masukin baju kita ke koper.” “Oke, biar aku aja.” Saat memasuki rumah, ibu tampak sedang duduk di depan TV sambil memasang kancing baju jahitannya. “Kebiasaan deh. Ini kan udah malam, masih ngerjain itu aja,” protes Kalla mendekat. Dia bahkan meng

  • Hello, Nanny!   241. Jaga Mama

    Musim panas di Jepang tidak sepanas musim kemarau di Indonesia. Kalla tidak terlalu membekali Kael dengan pakaian aneh-aneh. Nyaris yang dibawa hanya pakaian sehari-hari itu pun hanya sedikit karena Kiana melarangnya membawa banyak pakaian. “Di sana banyak baju, kalau kurang tinggal beli. Kamu nggak perlu khawatir.”Kadang Kalla lupa dirinya sudah masuk ke keluarga yang gaya hidupnya jauh berbeda dengan dirinya. Jika dia harus senantiasa berhemat demi masa depan, orang-orang seperti mereka tidak memusingkan esok akan jadi apa. “Ingat apa kata mama, Kael?” tanya Kalla saat mengantar putranya ke bandara. Mereka berkumpul di lounge seraya menunggu jet pribadi milik Raven siap lepas landas. Kiana terlihat sibuk dengan anak-anak dan dua pengasuhnya. Sementara Reyga tengah berdiskusi dengan Raven. “Iya.”“Semangat dong kamu kan mau liburan. Jepang itu keren loh.”“Keren kalau ada Mama juga.”Kalla menatap putranya selama beberapa saat. Sebenarnya dia juga berat membiarkan Kael pergi libu

  • Hello, Nanny!   240. Undangan Eksklusif

    Kafe yang berada di sekitar kampus itu tidak terlalu luas. Beberapa mahasiswa, Kalla tahu bekerja paruh waktu di sana. Dengar-dengar pemilik kafe itu juga alumni kampus ini, yang sengaja membuka kafe supaya bisa membantu mahasiswa yang ingin mencari part time. Kalla memesan kopi butterscotch dan Wima kopi hitam tanpa gula. Heran sekali, kenapa kebanyakan laki-laki suka minum kopi tanpa gula sih? “Pantesan hidup kamu gitu-gitu aja. Selera ngopinya jadul banget,” cibir Kalla. “Heh, apa ada yang salah dari kopi hitam? Asal kamu tau ya, ini tuh tahta tertinggi pecinta kopi .” Wima tak terima, dan melirik kopi yang Kalla pesan. “Kalau yang kamu minum itu, bukan kopi namanya. Tapi cairan susu dan gula.”“Jangan ngejek kopiku ya, ini tuh bisa bikin mood meningkat seharian.” Kalla tak mau kalah. “Kopi item gitu. Surem!”Dengan gemas Wima menyentil dahi Kalla. Membuat wanita itu terpekik seraya mengusap dahinya. Pria itu tersenyum. Hal-hal seperti ini yang kadang dia rindukan dari wanita it

  • Hello, Nanny!   239. Berhenti di Kamu

    Tangan Kalla meremas kain bantal, sesekali kepalanya menoleh ke belakang, menyaksikan bagaimana Reyga memacu dirinya. Cepat dan penuh penekanan di setiap hujaman. Entah kenapa obrolan tentang liburan malah berakhir dirinya yang kini kena bantai di atas ranjang. “This is the real honeymoon, Baby,” bisik Reyga sembari menarik tubuh sang istri agar menempel padanya. Sementara pinggulnya terus bergerak dengan ritme cepat, sesekali melambat. “Jadi, kita nggak perlu ke mana-mana?” sahut Kalla sebelum melempar kepalanya ke belakang, bersandar pada bahu Reyga lantaran pria itu meremas dadanya, sekaligus menggesekkan jarinya di area bawah sana. “Jadi dong. Di sana kamu bisa lebih puas, Sayang.” Tiga stimulasi yang Reyga berikan sekaligus membuatnya tak mampu bertahan. Kalla melenguh, sekujur tubuhnya menegang, dalam dekapan Reyga dia menuntaskan hasratnya. “Lemes aku, Rey,” keluh wanita itu, ambruk dalam posisi tengkurap. Di atasnya, Reyga terus menciumi punggungnya. “Aku belum ap

  • Hello, Nanny!   121. Bekas Lipstik

    “Ada apa?” tanya Reyga melihat Kalla tiba-tiba terpegun. Wanita itu menatapnya beberapa detik dengan wajah kaku. Membuat Reyga menaikkan alis bingung. Samar jari telunjuk Kalla terangkat, menunjuk sisi bagian kiri leher lelaki itu. “Itu … “ Secara otomatis Reyga menoleh ke bahunya. “Apa?” “Bek

  • Hello, Nanny!   120. Jejak

    Paling menyebalkan kalau weekend tapi pekerjaan malah numpuk. Sebagai pimpinan Reyga tentu tidak bisa mengabaikan hal-hal krusial yang perlu penanganannya langsung. Seperti sekarang, di saat karyawan libur dirinya masih berkutat di depan laptop. Jabatan mudah naik, tapi mempertahankannya yang sulit

  • Hello, Nanny!   119. Sabar

    “Pak, yang biasa aja!” seru Kalla ketika Wima malah memilihkannya ponsel seharga 30 juta. Yang benar saja! Dia tidak perlu beli barang semahal itu dengan fungsi sama seperti yang harganya terjangkau. “Nggak apa-apa. Ini fiturnya bagus. Bakal bantu kamu nanti. Jangan beli yang kualitasnya nanggung

  • Hello, Nanny!   118. Kantin

    Setiap hari diberi materi, arahan, praktek tipis-tipis membuat Kalla seperti sedang kuliah lagi. Dia senang menjalani hari-harinya mengikuti pelatihan. Butuh waktu minimal tiga bulan dan maksimal enam bulan sebelum diberangkatkan. Yang lebih enaknya selama masa pelatihan Kalla tetap mendapat gaji bu

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status