LOGINAku post malam, biar kalian bisa langsung tidur abis baca. Bhahahaha
Cade di ujung telepon terpingkal mendengar curhatan sang kakak. Kemunculan Wima dan kepatuhan Kalla pada pria itu membuat Reyga jengkel. Gimana tidak, pulang kerja tiba-tiba Kalla memberinya kartu akses unit lain. Wanita itu bilang Reyga harus pindah. Dan ketika ditanya, Kalla bilang itu dari Wima. “Terus lo jawab apa?” “Ya emang gue bisa apa kalau dia udah bawa-bawa ibunya? Kampret si Sagara itu. Nggak demen banget liat gue sama Kalla akur.” “Wajar sih, Lo kan saingan dia. Ya udah sih, itung-itung Lo dapat apartemen gratis.”“Gratis what the— pengurusnya bilang belum dibayar!”Di sana Cade makin terpingkal. Membuat Reyga berdecak kencang. “Jangan cuma ketawa. Lo kasih ide apa gitu, biar si Sagara nggak recokin gue sama Kalla lagi.”Desahan Cade terdengar panjang di ujung telepon. “Apa yang Lo pusingin sih, Kak? Yang penting kan Kalla udah balikan sama Lo.”“Gue belum bisa tenang selama masih ada kunyuk itu.” “Ya udah lo ajak Kalla merit aja secepatnya. Usia dia udah pas kok bua
“Numpang sementara?”“Iya. Kalau udah nemu tempat baru, Rey bakal pindah kok.” Wima menghela napas mendengar penuturan Kalla. Dia tahu insiden kebakaran di Tirta Nadi. Tidak ada korban jiwa, tapi kondisi beberapa vila memang rusak parah. Tapi dia juga tidak polos-polos amat sampai menganggap itu sebagai alasan Reyga menumpang di apartemen Kalla. Vila lain banyak, hotel juga banyak. Dia tidak sebodoh itu dengan akal-akalan duda anak satu itu. “Aneh ya. Anda kan CEO Ganesha, masa soal hunian saja sampai numpang?” Reyga yang sedang makan salad sayur melirik Wima dengan tatapan tak suka. “Saya bukan CEO Ganesha lagi. Nggak mungkin Anda nggak tau.” Sumpitnya diarahkan ke wortel. “Oh.” Wima tampak salah tingkah. Lalu melirik Kalla yang untungnya tidak terlalu peduli. “Oke, tapi sebagai anggota keluarga Abimanyu nggak mungkin mereka membiarkan Anda kesulitan.” Hampir saja Reyga membanting sumpit jika tidak ingat Kalla masih ada di sebelahnya. “Pak Wima ini repot banget ya ngurusin urusa
“Oke, terima kasih atas kerja keras kalian.” Reyga mengakhiri sesi zoom meeting bersama beberapa stafnya di Jakarta. Mungkin dia memang sudah tidak menjadi CEO di Ganesha group, tapi dia tetap menjadi pemimpin sekaligus owner di perusahaan yang dia bangun 4 tahun lalu. Keputusan lepas dari Ganesha jelas tidak disetujui keluarga, terlebih Diyani yang memang sudah merencanakan dari awal memindahkan estafet kepemimpinan pada putra ketiganya. Namun, Reyga terlalu lelah menjadi tameng keluarga. Dia bersikeras membangun usahanya sendiri. Dengan dukungan Raven serta Cecilia Wu sebagai investor utama, dia berhasil membangun bisnisnya sendiri. Kemampuan melobi klien dan pengalaman sering memenangkan tender membuat perusahaannya naik secara signifikan, meski tentu saja keuntungan tidak bisa dibandingkan dengan Ganesha yang sudah berdiri puluhan tahun. Tapi Reyga tetap bangga karena tidak harus disetir keluarganya lagi. Tidak ada pilihan lain kecuali Cade yang mewarisi estafet sang papa.
Jemari Reyga berjalan pelan melewati bahu Kalla. Melepas cardigan yang wanita itu pakai, dan melemparnya ke sembarang arah. Ujung jari telunjuknya menyentuh dagu Kalla, mendorong ke atas hingga leher jenjang wanita itu terlihat. “Ugh.” Kalla melenguh ketika bibir Reyga mengecup basah lehernya. Matanya terpejam, bibirnya mendesis lirih. Dia bisa merasakan tangan lelaki itu mempreteli satu per satu kain kemejanya. Ketika akhirnya kain atasan itu luruh, dia membiarkan saja. Bersamaan dengan itu, Reyga menyentak tubuhnya. Secara refleks tungkai Kalla melingkari pinggang Reyga ketika lelaki itu menggendong dan membawanya bergerak menuju sofa. Di sana keduanya kembali menyatukan bibir, lebih ganas dari yang pertama. Dengan tak sabar Kalla mendorong Reyga menjauh. Lalu dirinya turun dari pangkuan lelaki itu. Di bawah tatapan buas lelaki itu, dia membuka kancing celana, menarik turun resleting, hingga celananya melonggar dan jatuh ke lantai. Dalam hati Reyga mengumpat melihat pemandang
Motor sudah berhenti, tepat di parkiran apartemen. Namun dua manusia beda jenis itu masih belum beranjak turun. Kalla diam, Reyga pun sama. Keduanya seolah sedang menikmati momen tenang bersama. Saat tangan Kalla yang melingkari perut Reyga bergeser ingin lepas, lelaki itu menahannya. “R-Rey, kita udah sampai,” ucap Kalla mendadak gugup. Akan lebih baik segera masuk karena udara luar sudah terasa dingin. “Sebentar, aku mau mastiin sesuatu dulu,” sahut Reyga, sambil tetap menahan tangan sebelah Kalla. Perlahan dia menggeser duduk, memposisikan duduk miring di depan wanita itu. “Mastiin apa?” Dada Kalla berdebar ketika tiba-tiba Reyga membawa tangannya ke pipi. Reyga mengunci tatapannya, dan dengan lembut lelaki itu membawa tangan Kalla ke bibir, mengecup mesra telapak tangannya. “Making sure that we date again.” Ah! Ternyata itu. Alih-alih menjawab, Kalla malah terdiam menyaksikan mata Reyga yang terpejam seraya terus menciumi telapak tangannya dengan gerakan pelan.
“Nanti malam boleh aku jemput? Jam sebelah kan?” tanya Reyga sebelum Kalla turun dari taksi. “Motorku ada di kantor.”“Nggak apa-apa, ntar aku bonceng kamu lagi.” “Terserah kamu deh.” Saat Kalla hendak keluar, Reyga sempat menahan tangannya. “Apa?”“Makasih ya.” “Buat?”“Your love.”“Pede! Siapa yang masih love sama kamu.”Kalla mengatakan itu sambil menyembunyikan sudut bibirnya yang berkedut. Reyga tidak mempermasalahkan sikap jinak-jinak merpati itu. Dia terkekeh dan menepuk pelan puncak kepala wanita itu. “Hati-hati kerjanya,” ucapnya lantas membiarkan Kalla turun. Dia tahan mati-matian keinginan untuk mencium wanita itu. Bukannya apa, Reyga takut Kalla kabur lagi. Kali dia harus lebih berhati-hati demi kedamaian negara dan bangsa. Wkwk.Kalla melambaikan tangan begitu taksi yang membawanya dan Reyga menurunkannya di depan gedung kantor. Siang ini wanita itu meminta Danesh untuk tidak menjemput lantaran Reyga bersikeras mengantarnya. Meski matanya masih terasa berat akibat k
Kalla cengar-cengir begitu keluar dari mobil. Di sisi kanan, Reyga juga ikut keluar. Sementara Kael memilih duduk tenang di atas car seat, tidak mau turun. Hampir pukul lima sore ketika mereka sampai di halaman rumah Kalla. “Besok mau berangkat sendiri atau dijemput Pak Sato?” tanya Reyga. Jejak
Ibu sedang berkutat di depan mesin jahit ketika mendengar suara derum mobil memasuki halaman rumah. Kepala wanita paruh baya itu lantas terjulur ke jendela, melihat siapa yang datang. Itu adalah mobil keluaran Jerman yang ibu kenali karena beberapa kali bertandang. Dia segera meninggalkan pekerjaan
Ada rasa lega menyelimuti ketika akhirnya Kalla bisa meninggalkan apartemen Reyga. Meskipun dia berat karena harus meninggalkan Kael. Besok juga dirinya libur. Tapi Cade benar, dia juga butuh istirahat. “Mau mampir ke suatu tempat?” tanya Cade menawarkan. “Mumpung kita masih di Senayan nih. Nonton
“Pizzaaa!” seru Cade saat Reyga membuka pintu. Lelaki berkulit pucat itu mendorong pintu lebar dan masuk begitu saja. Meninggalkan helaan napas panjang kakaknya yang merasa bete maksimal karena aktivitasnya terganggu. “Gue juga beli Mac and Cheese kesukaan Kael. Mana dia, Kak?” cerocos Cade seraya







