Home / Romansa / Hello, Nanny! / 153. Aku-Kamu

Share

153. Aku-Kamu

last update publish date: 2026-05-04 12:18:59
“Oke, terima kasih atas kerja keras kalian.”

Reyga mengakhiri sesi zoom meeting bersama beberapa stafnya di Jakarta. Mungkin dia memang sudah tidak menjadi CEO di Ganesha group, tapi dia tetap menjadi pemimpin sekaligus owner di perusahaan yang dia bangun 4 tahun lalu.

Keputusan lepas dari Ganesha jelas tidak disetujui keluarga, terlebih Diyani yang memang sudah merencanakan dari awal memindahkan estafet kepemimpinan pada putra ketiganya.

Namun, Reyga terlalu lelah menjadi tameng keluarga.
Yuli F. Riyadi

PoV Reyga : Cemburu tapi nggak bisa ngapa-ngapain. Nyebelin 😤

| 10
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (16)
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Rata tayange rasa rasa tayange....
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Heeey wkwkwk
goodnovel comment avatar
Poppy Miranda
wkwkwkw lucu aja sih Reyga kek bocil yg tantrum Krn cemburu buta, maklum baru dikasih "makan" Kalla haha
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   154. Perkara Numpang

    “Numpang sementara?”“Iya. Kalau udah nemu tempat baru, Rey bakal pindah kok.” Wima menghela napas mendengar penuturan Kalla. Dia tahu insiden kebakaran di Tirta Nadi. Tidak ada korban jiwa, tapi kondisi beberapa vila memang rusak parah. Tapi dia juga tidak polos-polos amat sampai menganggap itu sebagai alasan Reyga menumpang di apartemen Kalla. Vila lain banyak, hotel juga banyak. Dia tidak sebodoh itu dengan akal-akalan duda anak satu itu. “Aneh ya. Anda kan CEO Ganesha, masa soal hunian saja sampai numpang?” Reyga yang sedang makan salad sayur melirik Wima dengan tatapan tak suka. “Saya bukan CEO Ganesha lagi. Nggak mungkin Anda nggak tau.” Sumpitnya diarahkan ke wortel. “Oh.” Wima tampak salah tingkah. Lalu melirik Kalla yang untungnya tidak terlalu peduli. “Oke, tapi sebagai anggota keluarga Abimanyu nggak mungkin mereka membiarkan Anda kesulitan.” Hampir saja Reyga membanting sumpit jika tidak ingat Kalla masih ada di sebelahnya. “Pak Wima ini repot banget ya ngurusin urus

  • Hello, Nanny!   153. Aku-Kamu

    “Oke, terima kasih atas kerja keras kalian.” Reyga mengakhiri sesi zoom meeting bersama beberapa stafnya di Jakarta. Mungkin dia memang sudah tidak menjadi CEO di Ganesha group, tapi dia tetap menjadi pemimpin sekaligus owner di perusahaan yang dia bangun 4 tahun lalu. Keputusan lepas dari Ganesha jelas tidak disetujui keluarga, terlebih Diyani yang memang sudah merencanakan dari awal memindahkan estafet kepemimpinan pada putra ketiganya. Namun, Reyga terlalu lelah menjadi tameng keluarga. Dia bersikeras membangun usahanya sendiri. Dengan dukungan Raven serta Cecilia Wu sebagai investor utama, dia berhasil membangun bisnisnya sendiri. Kemampuan melobi klien dan pengalaman sering memenangkan tender membuat perusahaannya naik secara signifikan, meski tentu saja keuntungan tidak bisa dibandingkan dengan Ganesha yang sudah berdiri puluhan tahun. Tapi Reyga tetap bangga karena tidak harus disetir keluarganya lagi. Tidak ada pilihan lain kecuali Cade yang mewarisi estafet sang papa.

  • Hello, Nanny!   152. Binal (mature area)

    Jemari Reyga berjalan pelan melewati bahu Kalla. Melepas cardigan yang wanita itu pakai, dan melemparnya ke sembarang arah. Ujung jari telunjuknya menyentuh dagu Kalla, mendorong ke atas hingga leher jenjang wanita itu terlihat. “Ugh.” Kalla melenguh ketika bibir Reyga mengecup basah lehernya. Matanya terpejam, bibirnya mendesis lirih. Dia bisa merasakan tangan lelaki itu mempreteli satu per satu kain kemejanya. Ketika akhirnya kain atasan itu luruh, dia membiarkan saja. Bersamaan dengan itu, Reyga menyentak tubuhnya. Secara refleks tungkai Kalla melingkari pinggang Reyga ketika lelaki itu menggendong dan membawanya bergerak menuju sofa. Di sana keduanya kembali menyatukan bibir, lebih ganas dari yang pertama. Dengan tak sabar Kalla mendorong Reyga menjauh. Lalu dirinya turun dari pangkuan lelaki itu. Di bawah tatapan buas lelaki itu, dia membuka kancing celana, menarik turun resleting, hingga celananya melonggar dan jatuh ke lantai. Dalam hati Reyga mengumpat melihat pemandang

  • Hello, Nanny!   151. A Chance

    Motor sudah berhenti, tepat di parkiran apartemen. Namun dua manusia beda jenis itu masih belum beranjak turun. Kalla diam, Reyga pun sama. Keduanya seolah sedang menikmati momen tenang bersama. Saat tangan Kalla yang melingkari perut Reyga bergeser ingin lepas, lelaki itu menahannya. “R-Rey, kita udah sampai,” ucap Kalla mendadak gugup. Akan lebih baik segera masuk karena udara luar sudah terasa dingin. “Sebentar, aku mau mastiin sesuatu dulu,” sahut Reyga, sambil tetap menahan tangan sebelah Kalla. Perlahan dia menggeser duduk, memposisikan duduk miring di depan wanita itu. “Mastiin apa?” Dada Kalla berdebar ketika tiba-tiba Reyga membawa tangannya ke pipi. Reyga mengunci tatapannya, dan dengan lembut lelaki itu membawa tangan Kalla ke bibir, mengecup mesra telapak tangannya. “Making sure that we date again.” Ah! Ternyata itu. Alih-alih menjawab, Kalla malah terdiam menyaksikan mata Reyga yang terpejam seraya terus menciumi telapak tangannya dengan gerakan pelan.

  • Hello, Nanny!   150. Moal Gagal

    “Nanti malam boleh aku jemput? Jam sebelah kan?” tanya Reyga sebelum Kalla turun dari taksi. “Motorku ada di kantor.”“Nggak apa-apa, ntar aku bonceng kamu lagi.” “Terserah kamu deh.” Saat Kalla hendak keluar, Reyga sempat menahan tangannya. “Apa?”“Makasih ya.” “Buat?”“Your love.”“Pede! Siapa yang masih love sama kamu.”Kalla mengatakan itu sambil menyembunyikan sudut bibirnya yang berkedut. Reyga tidak mempermasalahkan sikap jinak-jinak merpati itu. Dia terkekeh dan menepuk pelan puncak kepala wanita itu. “Hati-hati kerjanya,” ucapnya lantas membiarkan Kalla turun. Dia tahan mati-matian keinginan untuk mencium wanita itu. Bukannya apa, Reyga takut Kalla kabur lagi. Kali dia harus lebih berhati-hati demi kedamaian negara dan bangsa. Wkwk.Kalla melambaikan tangan begitu taksi yang membawanya dan Reyga menurunkannya di depan gedung kantor. Siang ini wanita itu meminta Danesh untuk tidak menjemput lantaran Reyga bersikeras mengantarnya. Meski matanya masih terasa berat akibat k

  • Hello, Nanny!   149. Mie Goreng Spesial

    “Sampai kapan kamu mau nangis terus?”Mata Kalla bengkak, hidungnya merah, dan rambutnya berantakan. Penampilannya benar-benar kacau, tapi herannya Reyga suka melihat itu. Wanita itu sekacau ini karena mengkhawatirkan dirinya, peduli padanya. Gimana Reyga tidak terharu? Semua ini artinya Kalla masih sayang padanya kan? Dengan tangannya, Reyga mengusap pipi Kalla yang basah, sudut mata, bahkan hidungnya. Napas wanita itu masih tersengal-sengal, sesekali bahunya naik turun. Reyga merangkum wajah memerah itu. Lalu menyisir rambut Kalla yang berantakan dengan jemari tangannya, mengumpulkan setiap helaian secara hati-hati. “Udah ya, jangan nangis lagi,” katanya sambil terus tersenyum. Demi apapun Reyga tidak bisa menahan senyumnya melihat wanita itu begini karena dirinya. Kalla mendorong Reyga ketika lelaki itu hendak memeluknya. “Kamu gila, kamu juga membuatku seperti orang gila.” Dipukulnya dada lelaki itu dengan kesal. Lalu tangisnya kembali pecah. Reyga menahan tangan kecil yang

  • Hello, Nanny!   23. Minggu

    Bab 23 Reyga merasa lebih baik setelah semalam bisa istirahat tenang. Pagi ini dia tidak perlu keluar untuk mencari makan karena masakan dari ibunya masih sangat banyak. Mungkin cukup sampai beberapa hari ke depan. Tidak ada kabar dari rumah mama atau pun telepon dari Cade. Menandakan Kael di sana

  • Hello, Nanny!   22. Batu Betuah, Batu Betangkup

    “Kak, Lo serius jadiin dia cuma nanny Kael? Dia lulusan S1 Cumlaude loh.” Uneg-uneg yang disimpan Cade setelah tahu Kalla bekerja di apartemen kakaknya akhirnya keluar juga. Reyga itu orangnya teliti. Tidak mungkin dia tidak mengecek CV orang yang bekerja padanya. “Dia pernah ikut seleksi sekreta

  • Hello, Nanny!   21. Mantan Reyga

    Kalla menatap dua orang lelaki di hadapannya. Yang satu terbaring di ranjang, satunya lagi duduk sambil bersedekap tangan di tepian ranjang. "Apa susahnya sih pulang ke rumah mama? Malah pilih menyusahkan diri sendiri. Reyga melengos. "Males. Mama suka berlebihan.""Mama begitu karena sayang sama

  • Hello, Nanny!   20. Demam

    Bianglala dan kora-kora membuat perut Reyga bergejolak. Begitu turun dari wahana, dia memuntahkan semua isi perut. Wajahnya sudah seputih kapas. Sehingga ketika Kael menariknya lagi untuk naik cangkir putar, dia menolak. Jika bukan karena memiliki anak, Reyga tidak sudi datang ke tempat macam ini.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status