Home / Romansa / Hello, Nanny! / 151. A Chance

Share

151. A Chance

last update publish date: 2026-05-03 10:07:09
Motor sudah berhenti, tepat di parkiran apartemen. Namun dua manusia beda jenis itu masih belum beranjak turun. Kalla diam, Reyga pun sama. Keduanya seolah sedang menikmati momen tenang bersama.

Saat tangan Kalla yang melingkari perut Reyga bergeser ingin lepas, lelaki itu menahannya.

“R-Rey, kita udah sampai,” ucap Kalla mendadak gugup. Akan lebih baik segera masuk karena udara luar sudah terasa dingin.

“Sebentar, aku mau mastiin sesuatu dulu,” sahut Reyga, sambil tetap menahan tangan
Yuli F. Riyadi

Reyga mulai panas dingin lagi, Gaes. Wkwkwk

| 15
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (11)
goodnovel comment avatar
Nindry Ayangcrut
thor aku sudah on malah habis critanya hahahahah
goodnovel comment avatar
Vhana Zen laser
awass loh gak ada lanjutannya heheee
goodnovel comment avatar
米亞·
lanjutannya mana thor, jangan lama-lama biar feel bacanya tetep dapet... haha
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   156. Tetap Kamu yang Menang

    “Kalau kamu mau tidur sama roommate-ku juga silakan.” Kalla mengangkat bahu. Sangat tidak mungkin mengajak lelaki itu menginap di kamarnya. Kening Reyga mengerut. “Sekamar berdua? Sekelas Sagara?” “Kan nggak cuma kamu yang mau hemat, Rey.”“Oke, kita buka kamar di Oshom. Bagus langsung menghadap laut.” “Di sana ada Wima by the way.” “Shit.”Reyga mendebas keras sampai rambut bagian depannya terbang. Wima Sagara benar-benar bencana. Dia benar-benar harus bersabar sampai dua minggu ke depan sebelum memukul mundur pria itu. Kalla terkekeh lantas berdiri. Tangannya terulur. “Aku lapar, tapi nggak mau makan di sini.”Menyambut uluran tangan wanita itu, Reyga turut berdiri. “Kenapa?” “Makanan di sini nggak ramah di kantong,” bisik Kalla, membuat Reyga terkekeh geli. “Meskipun bukan CEO Ganesha lagi, tapi aku masih sanggup kok bayar makan malam kita di sini.”Kepala Kalla menggeleng, dia menarik tangan lelaki itu, dan membawanya keluar dari area beach club. “Kalau cuma buat mengenyang

  • Hello, Nanny!   155. Lamaran Kedua

    Cade di ujung telepon terpingkal mendengar curhatan sang kakak. Kemunculan Wima dan kepatuhan Kalla pada pria itu membuat Reyga jengkel. Gimana tidak, pulang kerja tiba-tiba Kalla memberinya kartu akses unit lain. Wanita itu bilang Reyga harus pindah. Dan ketika ditanya, Kalla bilang itu dari Wima. “Terus lo jawab apa?” “Ya emang gue bisa apa kalau dia udah bawa-bawa ibunya? Kampret si Sagara itu. Nggak demen banget liat gue sama Kalla akur.” “Wajar sih, Lo kan saingan dia. Ya udah sih, itung-itung Lo dapat apartemen gratis.”“Gratis what the— pengurusnya bilang belum dibayar!”Di sana Cade makin terpingkal. Membuat Reyga berdecak kencang. “Jangan cuma ketawa. Lo kasih ide apa gitu, biar si Sagara nggak recokin gue sama Kalla lagi.”Desahan Cade terdengar panjang di ujung telepon. “Apa yang Lo pusingin sih, Kak? Yang penting kan Kalla udah balikan sama Lo.”“Gue belum bisa tenang selama masih ada kunyuk itu.” “Ya udah lo ajak Kalla merit aja secepatnya. Usia dia udah pas kok bua

  • Hello, Nanny!   154. Perkara Numpang

    “Numpang sementara?”“Iya. Kalau udah nemu tempat baru, Rey bakal pindah kok.” Wima menghela napas mendengar penuturan Kalla. Dia tahu insiden kebakaran di Tirta Nadi. Tidak ada korban jiwa, tapi kondisi beberapa vila memang rusak parah. Tapi dia juga tidak polos-polos amat sampai menganggap itu sebagai alasan Reyga menumpang di apartemen Kalla. Vila lain banyak, hotel juga banyak. Dia tidak sebodoh itu dengan akal-akalan duda anak satu itu. “Aneh ya. Anda kan CEO Ganesha, masa soal hunian saja sampai numpang?” Reyga yang sedang makan salad sayur melirik Wima dengan tatapan tak suka. “Saya bukan CEO Ganesha lagi. Nggak mungkin Anda nggak tau.” Sumpitnya diarahkan ke wortel. “Oh.” Wima tampak salah tingkah. Lalu melirik Kalla yang untungnya tidak terlalu peduli. “Oke, tapi sebagai anggota keluarga Abimanyu nggak mungkin mereka membiarkan Anda kesulitan.” Hampir saja Reyga membanting sumpit jika tidak ingat Kalla masih ada di sebelahnya. “Pak Wima ini repot banget ya ngurusin urusa

  • Hello, Nanny!   153. Aku-Kamu

    “Oke, terima kasih atas kerja keras kalian.” Reyga mengakhiri sesi zoom meeting bersama beberapa stafnya di Jakarta. Mungkin dia memang sudah tidak menjadi CEO di Ganesha group, tapi dia tetap menjadi pemimpin sekaligus owner di perusahaan yang dia bangun 4 tahun lalu. Keputusan lepas dari Ganesha jelas tidak disetujui keluarga, terlebih Diyani yang memang sudah merencanakan dari awal memindahkan estafet kepemimpinan pada putra ketiganya. Namun, Reyga terlalu lelah menjadi tameng keluarga. Dia bersikeras membangun usahanya sendiri. Dengan dukungan Raven serta Cecilia Wu sebagai investor utama, dia berhasil membangun bisnisnya sendiri. Kemampuan melobi klien dan pengalaman sering memenangkan tender membuat perusahaannya naik secara signifikan, meski tentu saja keuntungan tidak bisa dibandingkan dengan Ganesha yang sudah berdiri puluhan tahun. Tapi Reyga tetap bangga karena tidak harus disetir keluarganya lagi. Tidak ada pilihan lain kecuali Cade yang mewarisi estafet sang papa.

  • Hello, Nanny!   152. Binal (mature area)

    Jemari Reyga berjalan pelan melewati bahu Kalla. Melepas cardigan yang wanita itu pakai, dan melemparnya ke sembarang arah. Ujung jari telunjuknya menyentuh dagu Kalla, mendorong ke atas hingga leher jenjang wanita itu terlihat. “Ugh.” Kalla melenguh ketika bibir Reyga mengecup basah lehernya. Matanya terpejam, bibirnya mendesis lirih. Dia bisa merasakan tangan lelaki itu mempreteli satu per satu kain kemejanya. Ketika akhirnya kain atasan itu luruh, dia membiarkan saja. Bersamaan dengan itu, Reyga menyentak tubuhnya. Secara refleks tungkai Kalla melingkari pinggang Reyga ketika lelaki itu menggendong dan membawanya bergerak menuju sofa. Di sana keduanya kembali menyatukan bibir, lebih ganas dari yang pertama. Dengan tak sabar Kalla mendorong Reyga menjauh. Lalu dirinya turun dari pangkuan lelaki itu. Di bawah tatapan buas lelaki itu, dia membuka kancing celana, menarik turun resleting, hingga celananya melonggar dan jatuh ke lantai. Dalam hati Reyga mengumpat melihat pemandang

  • Hello, Nanny!   151. A Chance

    Motor sudah berhenti, tepat di parkiran apartemen. Namun dua manusia beda jenis itu masih belum beranjak turun. Kalla diam, Reyga pun sama. Keduanya seolah sedang menikmati momen tenang bersama. Saat tangan Kalla yang melingkari perut Reyga bergeser ingin lepas, lelaki itu menahannya. “R-Rey, kita udah sampai,” ucap Kalla mendadak gugup. Akan lebih baik segera masuk karena udara luar sudah terasa dingin. “Sebentar, aku mau mastiin sesuatu dulu,” sahut Reyga, sambil tetap menahan tangan sebelah Kalla. Perlahan dia menggeser duduk, memposisikan duduk miring di depan wanita itu. “Mastiin apa?” Dada Kalla berdebar ketika tiba-tiba Reyga membawa tangannya ke pipi. Reyga mengunci tatapannya, dan dengan lembut lelaki itu membawa tangan Kalla ke bibir, mengecup mesra telapak tangannya. “Making sure that we date again.” Ah! Ternyata itu. Alih-alih menjawab, Kalla malah terdiam menyaksikan mata Reyga yang terpejam seraya terus menciumi telapak tangannya dengan gerakan pelan.

  • Hello, Nanny!   30. Bar

    Kael menggerakkan jempol ke bawah mengiringi kepergian Gatra. Sementara Reyga melambaikan tangannya, merasa menang. Lalu Kalla? Dia dengan buru-buru menjauh dari Reyga, menyingkirkan lengan lelaki itu dari pinggangnya. Tindakannya kontan membuat Reyga menoleh. Lelaki itu mengangkat alis saat Kalla

  • Hello, Nanny!   29. Pecundang

    “Jadi sekarang Lo di Bali?”“Hu-um.”“Buset, belum apa-apa udah honeymoon.” “Honeymoon pale Lo.” Di ujung telepon sana Moya tergelak. “Jadi baby sitter anaknya orang tajir mah beda ya. Jalan-jalan aja pake jet pribadi. Nginepnya di vila mahal. Mana bapaknya duda lagi. Lo banyak-banyak bersyukur tu

  • Hello, Nanny!   28. Perkara Ranjang

    “Kamu ternyata masih muda. Apa Kael dan Reyga memperlakukanmu dengan baik?” Pertanyaan tak terduga meluncur dari wanita anggun itu. Kalla tersenyum kaku, matanya sempat melirik Reyga di ujung sofa yang masih saja memperhatikannya. Boleh jujur enggak sih? “Kael baik banget,” ucap Kalla sambil men

  • Hello, Nanny!   27. Duda Meresahkan

    Setelah berhasil membuat jantung Kalla mau lepas dan lutut terasa lemas, Reyga pergi begitu saja. Kurang ajar! Bahkan tangan Kalla masih gemetar. Dia sampai perlu waktu beberapa saat untuk memegang pisau lagi. Inhale-exhale. Kalla melakukan senam pernapasan sambil menyentuh dadanya yang masih bert

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status