Home / Romansa / Hello, Nanny! / 162. Lelaki Kuat

Share

162. Lelaki Kuat

last update publish date: 2026-05-08 18:16:48
Ucapan salam kompak sekitar 20 murid mengudara bersamaan dengan bunyi bel pulang sekolah. Beberapa detik kemudian kegaduhan anak-anak keluar kelas pun tak bisa terelakkan. Sesuatu yang biasa terjadi di jam pulang sekolah atau istirahat. Tak terkecuali di ruang kelas 3 Einstein, kelas yang Kael tempati sekarang.

Di kursinya Kael tengah membereskan alat tulis. Sesaat dia membalas kalem sapaan temannya yang keluar lebih dulu.

“Kael,” panggil guru kelasnya yang masih duduk di balik meja guru.

“Ya,
Yuli F. Riyadi

Yang ngarep Kael ketemu Kalla, nih udah aku ketemuin yaaak...yuk goyang jarinya

| 33
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (18)
goodnovel comment avatar
Anies
akhirnya... bahagia selalu ya kalian
goodnovel comment avatar
Dinaningtyas Apriy
hanya di depan Kalla anak dan bapak menjadi dirinya sendiri
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Duh iya lagi. Apa kira-kira enaknya ya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   246. Gawat! Siaga Satu!

    Kalla memilih tempat sarapan mereka di hot sea spot. Di sana dia bisa sarapan sembari menikmati views lautan yang cantik dan penampakan gugus pulau lain dari kejauhan. Pagi ini dia tampak cantik dengan rambut tergerai dan juga ikat kepala. Mengenakan kemeja biru muda tanpa lengan dengan aksen garis vertikal. Sebagai bawahan, wanita itu memilih celana pendek longgar di atas lutut. Penampilan yang sangat santai tapi tetap anggun. Reyga sendiri mengenakan kemeja warna senada, yang kancingnya terbuka. Dia mengenakan dalaman kaos putih, serta celana pendek juga. Sekali pandang saja, semua tahu kalau mereka pasangan bahagia yang sangat serasi. “Mau teh atau kopi?” tanya Kalla mengangkat pitcher kaca di sebelahnya. “Aku kopi aja, Sayang.” “Okeh.” Kalla meraih french press dan menuang cairan hitam ke cangkir putih yang tersedia. “Krimer, gula?” “Nggak.” Reyga mengucapkan terima kasih saat kopi sudah tersaji. Istrinya kembali mengangkat pitcher kaca berisi teh dan menuang ke cangkirny

  • Hello, Nanny!   245. Sensitif

    Perut lapar, makan. Mata ngantuk, tidur. Makan, tidur, main, bercinta. Empat kegiatan rutin yang Kalla lakukan selama di Pulau Cempedak. Seperti tidak ada dunia lain yang Kalla pikirkan. Reyga mengerang di atas Kalla. Dia menghantamkan pinggul beberapa kali, sebelum akhirnya ambruk di sebelah istrinya dengan napas terengah. Seperti hari sebelumnya, mereka akan bercinta hebat sebelum melakukan aktifitas pagi. “Mau ke mana?” tanya Reyga saat Kalla beranjak bangun. Wanita itu mengenakan kaos tanpa menggunakan bra. “Mau ke bawah sebentar.”Reyga mengangguk sebelum memejamkan mata lagi. Setelah tenaganya terkuras, dia membutuhkan istirahat beberapa lama lagi. Sebelum turun untuk sarapan nanti. Sementara di lantai bawah, Kalla mengutak-atik ponsel, menghubungi Kael. Saat ini masih pukul tujuh pagi, yang artinya di Jepang sana sudah pukul sembilan pagi, lantaran waktunya lebih cepat dua jam dari Waktu Indonesia Barat. Kael pasti sudah bangun. Hanya beberapa kali nada sambung terdengar,

  • Hello, Nanny!   244. Kamu ... Seksi

    Selagi Kalla masih tidur siang, Reyga duduk merebah di sunbed, menikmati matahari sore seraya membaca buku. Lama sekali dirinya tidak menemukan ketenangan seperti ini. Kerjaan yang menumpuk, ekspansi proyek, berusaha selalu memenangkan tender potensial, benar-benar menyita waktu. Perusahaan yang masih berkembang butuh banyak perhatian darinya sebagai pemimpin. Dia tidak ingin mengecewakan orang-orang yang sudah mempercayainya sebagai pengelola. Sedang seru-serunya membaca, pergerakan kaki seseorang membuat fokusnya teralihkan. Kepala Reyga otomatis memutar, saat melihat sepasang kaki telanjang tidak jauh dari tempatnya duduk. Pandangannya perlahan naik, hingga dia menemukan sang istri yang ternyata sudah bangun dari tidur. Kalla mengenakan kemeja lengan panjang miliknya, yang memanjang sampai paha. Wanita itu tidak mengenakan celana atau bawahan apa pun lagi.Rambut Kalla sedikit berantakan, dan muka bantalnya terlihat sangat menggemaskan. “Kenapa nggak bangunin aku sih?” tanya wa

  • Hello, Nanny!   243. Sempurna, Bukan?

    “Ada yang jemput kita?” tanya Kalla begitu mendarat di Bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjung Pinang“Hu-um, dari tim langsung.” Dan benar, Kalla tampak kebingungan karena yang menjemput mereka adalah tim dari Nikoi. “Bukannya kita mau ke Pulau Cempedak, kenapa yang datang dari tim Pulau Nikoi?” bisik Kalla. Dari badan mobil pribadi sampai komplimen di dalamnya tertulis brand Nikoi Island, alih-alih Cempedak Island. Reyga terkekeh seraya mengayunkan tangan Kalla. “Nikoi dan Cempedak satu manajemen. Pemiliknya sama.”Barulah Kalla mengangguk sambil ber oh-oh ria. Sepanjang jalan menuju private port dia mengedarkan pandang. Infrastrukturnya sudah lumayan bagus. Jalanannya mulus meskipun kanan-kiri masih dipenuhi pohon dan semak.Hanya memakan waktu sekitar 30 menit perjalanan, akhirnya mereka tiba di private port di daerah Kawal. Mereka transit sebentar di tempat khusus milik Pulau Nikoi dan Cempedak sebelum menuju speedboat yang sudah menunggu mereka. “Rey, ini beneran kita berdua d

  • Hello, Nanny!   242. Two Pieces?

    “Kamu terlalu keras nggak sih, Rey, sama mama?”“Biasa aja.” Sikap tak acuh lelaki itu membuat Kalla menghela napas. “Kamu masih marah sama mama?” “Nggak. Cuma…kalau mama udah bertingkah berlebihan, aku males. Seperti yang nggak pernah berbuat salah aja,” sahut Reyga, sambil membelokkan kemudi memasuki area kampung rumah ibu. SUV hitam miliknya berjalan lambat saat berada di wilayah perkampungan. “Tiap orang kan pernah berbuat salah.” “Iya, tapi nggak seketerlaluan mama.”“Ada kok yang lebih keterlaluan.” Karena tidak ingin mendebat istrinya, Reyga memilih diam sampai ban hitam kendaraannya menginjak halaman rumah ibu. “Sebaiknya kita istirahat cepat supaya besok nggak telat.”Kalla melepas seatbelt dan keluar lebih dulu. “Aku belum masukin baju kita ke koper.” “Oke, biar aku aja.” Saat memasuki rumah, ibu tampak sedang duduk di depan TV sambil memasang kancing baju jahitannya. “Kebiasaan deh. Ini kan udah malam, masih ngerjain itu aja,” protes Kalla mendekat. Dia bahkan meng

  • Hello, Nanny!   241. Jaga Mama

    Musim panas di Jepang tidak sepanas musim kemarau di Indonesia. Kalla tidak terlalu membekali Kael dengan pakaian aneh-aneh. Nyaris yang dibawa hanya pakaian sehari-hari itu pun hanya sedikit karena Kiana melarangnya membawa banyak pakaian. “Di sana banyak baju, kalau kurang tinggal beli. Kamu nggak perlu khawatir.”Kadang Kalla lupa dirinya sudah masuk ke keluarga yang gaya hidupnya jauh berbeda dengan dirinya. Jika dia harus senantiasa berhemat demi masa depan, orang-orang seperti mereka tidak memusingkan esok akan jadi apa. “Ingat apa kata mama, Kael?” tanya Kalla saat mengantar putranya ke bandara. Mereka berkumpul di lounge seraya menunggu jet pribadi milik Raven siap lepas landas. Kiana terlihat sibuk dengan anak-anak dan dua pengasuhnya. Sementara Reyga tengah berdiskusi dengan Raven. “Iya.”“Semangat dong kamu kan mau liburan. Jepang itu keren loh.”“Keren kalau ada Mama juga.”Kalla menatap putranya selama beberapa saat. Sebenarnya dia juga berat membiarkan Kael pergi libu

  • Hello, Nanny!   109. Pancakes

    Ini udah kembali ke setting setelah syukuran ya============%Hening. Sepanjang perjalanan pulang suasana terasa mencekam. Sejak keluar dari rumah besar keluarga Abimanyu tak sepatah katapun keluar. Baik dari Kalla ataupun Reyga. Kalla tahu, lelaki itu sedang marah padanya, perkara pernikahan yang

  • Hello, Nanny!   107. Keputusan Sepihak

    Sebuah tangan menyelip dari belakang membuat Kalla yang sedang mengambil cake tersentak. Hampir saja cake itu jatuh. Saat menoleh dia menemukan Rey yang tersenyum padanya. “Kamu suka hidangan syukurannya?” tanya lelaki itu. “Suka,” sahut Kalla datar lalu beranjak mengambil garpu kecil. “Mau aku a

  • Hello, Nanny!   106. All You Can Eat

    Napas lega berembus pelan ketika Kalla berhasil keluar dari toilet dengan perut kosong. Sejak dirinya belum turun dari mobil, perutnya mendadak mules. Efek rasa gugup campur takut membuat bakteri di dalam usus bergejolak. Dia membuka pintu sambil mengusap perut. Kakinya melangkah ringan keluar, s

  • Hello, Nanny!   69. Rambut Baru

    Hal yang tidak Reyga sangka, tapi harus pasrah menerima adalah hukuman yang Kalla beri. Meski ada hati yang tidak rela, dia tidak bisa menolak. Matanya melirik horor peralatan yang Kalla siapkan. Setelah tiga tahun nyaman dengan model rambut semi panjangnya ini, dia terpaksa harus merelakan rambut

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status