ホーム / Romansa / Hello, Nanny! / 163. Tak Kenal Maka Tak Sayang

共有

163. Tak Kenal Maka Tak Sayang

last update 公開日: 2026-05-09 14:57:28
Dibalik kemudi Reyga menggeram. Sesekali tatapnya melirik ke kaca spion depan. Mengintip interaksi putranya dan Kalla, yang sudah seperti kekasih lama tak jumpa.

Menjengkelkan. Mentang-mentang baru bertemu anak itu ngadi-ngadi. Kael melarang Kalla duduk di sampingnya. Reyga sudah seperti supir duo majikan yang lagi saling melepas rindu saja.

“Mau makan di mana kita, Bos?” tanya lelaki itu, menaikkan sudut bibirnya.

Kael menatap mantan pengasuhnya dengan senyum manis. “Kakak mau makan apa?”
Yuli F. Riyadi

Big love buat yang udah diem-diem kasih gem, kasih gift, juga yang tiap hari ramein di tiap bab. Berkat kalian Kalla makin banyak yang baca. Pliss, jangan bosan-bosan ya. Kalau udah 20k views, insyallah bakal aku usahakan up 3x sehari. Yuk beri aku semangattt! 😍❤️

| 29
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (15)
goodnovel comment avatar
Anies
sebahagia itu aku bacanya loh thor..
goodnovel comment avatar
Poppy Miranda
yesss..fix kita kondangan...amplop mana amplop
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Tengkyu kakak yooovv
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Hello, Nanny!   189. Dokter Charming

    “Masih ada satu destinasi lagi yang mau gue kunjungi, tapi gue pastiin sebelum acara syukuran di rumah ibu, gue udah balik.” “Lo mau ke mana lagi?”“Gue mau ke Pindul, ngeriver tubing bareng Pandu.”Moya tersenyum manis dengan ujung mata melirik ke arah Pandu yang sedang mengambil sarapan bersama Reyga. “Gue baru tahu kalau Pandu itu ternyata spesialis bedah jantung. Kacamata itu beneran pas di mukanya.” Kalla ikut memperhatikan pria di sebelah suaminya itu. “Mukanya juga bersih banget kan? Charming.” Kalla terkekeh sembari mengangguk-angguk. Charming adalah nama lain Cade. Tapi charmingnya Dokter Pandu lebih kelihatan dewasa. “Ya, itu kan tipe lo.” Setelah dua pria itu bolak-balik demi mengambil makanan yang dua wanita itu mau, mereka akhirnya bisa duduk bersama dalam satu meja. “Udah lengkap semuanya kan? Mau foto dulu sebelum makan?” tanya Reyga. Jelas itu sebuah sindiran keras. “Apaan sih?” Kalla berdecak sebal. “Bukannya kalian biasanya gitu? Sebelum makan foto dulu sama

  • Hello, Nanny!   188. Kesurupan Ramayana

    Mulut Kalla yang terbuka terus mengeluarkan desahan. Setengah berbaring satu tangannya meremas rambut tebal Reyga, sebelah lainnya dia gunakan untuk menopang badannya. Kalla melihat bagaimana lelaki itu kembali mendamba dirinya. Berada di antara dua pahanya yang terbuka, menggodanya. Kecupan, jilatan, bahkan hisapan membuat Kalla benar-benar kepayahan. “R-Rey jangan di situ. Ak-aku—ah! Brengsek!” Kalla melempar kepala ke belakang. Pinggulnya sedikit naik, lantas tubuhnya bergetar hebat. Dia mengerang, merasakan kenikmatan menjalar di setiap inci tubuhnya. Belum sempat mengatur napas, Reyga sudah membalik tubuhnya. Membuat posisi Kalla menjadi tengkurap. Tangan lelaki itu kembali merambat, menyusuri punggungnya seraya mengecup dan sesekali menggigit. “Jangan digigit!” Mata Kalla memicing sembari merintih saat merasakan gigitan yang begitu kuat. “Dasar vampir.” Dia yakin punggungnya pasti penuh bercak merah sekarang. “Kamu nggak bisa protes, Sayang. Nikmatin aja.” Reyga menyeri

  • Hello, Nanny!   187. Adik Kael

    “Kapan papa sama mama pulang?” “Uhm besok. Tapi kalau nggak bisa ya besoknya lagi, kalau nggak bisa lagi ya besoknya lagi.” Kalla menabok paha Reyga mendengar jawaban ngaco itu. Di layar, anak sambungnya itu menghela napas. Seperti sudah hapal banget kelakuan bapaknya. “Kami pulang lusa, Kael. Uhm kamu mau oleh-oleh apa?” tanya Kalla tersenyum lembut. Senyum yang langsung menulari anak sembilan tahun itu. “Kata Om Cade aku harus minta oleh-oleh spesial.” Perasaan Kalla mendadak tak enak. Begitu pun Reyga, kalau sudah bawa-bawa Cade pasti bukan sesuatu yang bagus. “Yang spesial itu kayak apa?” tanya Kalla hati-hati. “Aku nggak tau yang Om Cade bilang itu beneran atau cuma bercanda. Dia bilang … aku harus minta oleh-oleh adek bayi sama kalian.” Tuh kan! Andai Cade ada di dekatnya Kalla pasti sudah mencubit keras pahanya. Tapi di sebelahnya Reyga malah tertawa, kontras dengan wajah Kalla yang berubah jadi semerah dadu. “Jangan dengerin Om kamu. Dia ngaco,” balas Kalla.

  • Hello, Nanny!   186. Dokter Pandu

    “Kesan kamu apa habis nonton pertunjukkan tadi?” tanya Kalla begitu mereka keluar dari venue setelah sendratari berakhir. Reyga pura-pura berpikir padahal dalam hati ada yang tidak bisa diterima akal sehatnya. Seperti saat Dewi Shinta melakukan sumpah obong untuk membuktikan kesuciannya setelah setelah 11 tahun diculik Rahwana. “Rahwana kurang beruntung, Shinta bego, dan Rama… lebih brengsek daripada aku.” Kalla sukses melongo mendengar jawaban suaminya. Dia berharap ada jawaban luar biasa dari lelaki itu. Cinta sejati tak akan terpisahkan, misalnya. Ini malah yang keluar kritikan pedas buat para tokoh utama. Kalla menepuk jidatnya seraya terkekeh. “Kenapa? Pendapatku bener kan? Coba pikir deh, Sayang. Rahwana udah segitu baiknya ngetreat Shinta selama belasan tahun, eh malah dengan gobloknya tuh Shinta masih cinta sama cowok yang nyuruh dia bakar diri.” “Astaga, Rey. Rahwana itu nyulik Shinta. Artinya dia memaksakan kehendak.” “Tapi nyatanya dia sabar nungguin sampe Shinta

  • Hello, Nanny!   185. Sendratari

    “Aku pikir Ramayana dan Mahabarata itu cerita yang sama.”“Beda dong, kalau Ramayana kan cerita tentang Rama dan Dewi Shinta. Kalau Mahabarata itu perang saudara Pandawa dan Kurawa.”Reyga tersenyum seraya menatap Kalla. “Istriku ternyata pintar. Bisa bedain dua fenomenal cerita itu.” “Iya dong. Kalau enggak, mana mungkin bisa dapat beasiswa.” Kalla terkikik meningkahi pujian sang suami. Keduanya berjalan dengan bergandengan tangan menuju venue yang sudah dibuka. Pengunjung sudah berdatangan dan lumayan ramai padahal harga yang dibandrol lumayan agak mahal. “Kita nggak beli tiketnya dulu, Rey?” tanya Kalla yang bingung lelaki itu melewati pintu loket. “Udah ada yang beliin, kita tinggal masuk aja.” “Hah?” Saat itulah Kalla melihat Reyga melambaikan tangannya. Dia mencari tahu dengan siapa pria itu bertegur sapa. Sampai tatapnya menemukan seorang pria tinggi setengah berlari ke arahnya. “Loh itu bukannya… “ Kalla refleks memutar kepala saat mendapat colekan di bahu kanannya, ket

  • Hello, Nanny!   184. Sosis Solo

    Secangkir kopi dengan pemandangan Candi Prambanan membuat sore Kalla terasa mewah. Tidak banyak orang yang memiliki momen seberharga ini. Banyak yang punya uang, tapi tidak punya waktu, atau sebaliknya banyak waktu, tapi tak punya uang. Makanya tidak henti-hentinya Kalla mensyukuri apa yang dia jalani sekarang. Terlebih saat ini dirinya sudah bukan wanita single lagi. Reyga muncul membawa camilan dan bergabung duduk di sisi Kalla. “Aku pesan ini. Kamu pasti suka.” Mata Kalla melirik kudapan seperti lumpia tapi tidak tampak kering. Lumpia itu diselimuti serabut yang bisa Kalla tebak berasal dari celupan telur kocok sebelum digoreng. “Risoles?” “Bukan. Itu sosis solo.” Reyga mengambil satu dan memberikannya pada sang istri. Kalla langsung mencoba. Menggigit sepertiga bagian kue tersebut dan mengernyit bingung. Bukan karena rasanya yang tidak enak. Sumpah kue ini enak banget, tapi… “Kenapa sih yang kayak gini aja mesti bohong?” Di sisinya, Reyga yang juga tengah menikmati kue

  • Hello, Nanny!   69. Rambut Baru

    Hal yang tidak Reyga sangka, tapi harus pasrah menerima adalah hukuman yang Kalla beri. Meski ada hati yang tidak rela, dia tidak bisa menolak. Matanya melirik horor peralatan yang Kalla siapkan. Setelah tiga tahun nyaman dengan model rambut semi panjangnya ini, dia terpaksa harus merelakan rambut

  • Hello, Nanny!   65. Macaroni schotel

    Kael menggeliat, bergerak, saat merasakan ada pergerakan orang lain. Perlahan kelopak matanya terbuka. Meski pandangan masih buram, dia bisa tahu sosok di depannya itu Kalla. “Kakak?” Suara seraknya terdengar, anak itu terlihat tak sabar dan langsung bangun. “Kakak udah pulang?” tanya anak itu samb

  • Hello, Nanny!   64. Kakak-Adik

    “Terus, Kallanya mana?” tanya Cade sembari berjalan hendak masuk rumah. Namun dari belakang, Reyga menarik kerah kemejanya. “Lo mau ke mana?” “Astaga, apaan sih, Kak. Lepasin gue. Gue cuma mau ketemu ibu.” “Ibu lagi sibuk.” Dengan kencang Reyga menarik mundur adiknya, sampai lelaki itu nyaris te

  • Hello, Nanny!   62. Bricks

    Melipir ke Reyga dan Kael dulu yak. ===============Kael duduk menunduk di kursi panjang sambil mengayunkan kakinya yang menyilang. Bibirnya mencebik, mukanya tertekuk. Acara pekan seni sudah selesai setengah jam lalu. Lukisan Kael bahkan mendapat juara, tapi wajah gembiranya hanya bertahan sesaat

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status