로그인Wima : mode kalem Reyga : mode petasan banting 😆
“Sepupuku nikahan, Rey.”“Terus kamu lebih milih datang sama laki-laki lain daripada aku?” Kalla membawa Reyga masuk ke rumah demi menghindari keributan antara lelaki itu dan Wima. Tidak enak kalau dilihat tetangga. Wanita itu menghela napas panjang menghadapi pacarnya yang lagi tantrum. Dia memutuskan minta bantuan Wima karena mempertimbangkan kondisi Reyga semalam. Dia saja tidur sampai siang hingga tidak mengikuti prosesi ijab qobul sepupunya. “Ya aku pikir kamu pasti sedang nggak enak badan habis mabuk semalam.” “Aku nggak selemah itu.” Nyaris saja Kalla memutar bola mata. Nggak selemah itu kok teler. “Aku udah telat, Rey. Aku bakal dicincang ibu kalau nggak segera sampai.” “Ya terus kenapa harus sama Wima? Apa nggak ada orang lain yang bisa kamu mintai tolong?”Rasanya percuma menjawab. Apapun alasan yang akan Kalla beri, pasti tidak bakal Reyga terima. Hati lelaki itu sudah terlanjur ngebul melihat kemunculan Wima. “Kamu pergi sama aku,” putus Reyga, tampak tidak ingin di
Reyga terkejut ketika membuka mata dan menemukan dirinya berada di kamar apartemen. Dia bangun cepat, tapi meringis ketika merasakan sakit mendera kepalanya dengan sangat. Sesuatu yang harus dia pastikan membuatnya terpaksa meninggalkan ranjang tidur. Dia mencari analgesik untuk meredakan sakit kepala sebelum meraih ponsel. Lelaki itu menghubungi Kalla segera. Malam tadi wanita itu bersamanya, kenapa sekarang malah bangun sendirian? Panggilan terhubung, tapi di sana Kalla tidak mengangkatnya. Tiga hingga lima kali dirinya mencoba, tetap tidak ada jawaban. Kesadarannya berangsur pulih. Kejadian semalam hingga dirinya tertidur. Sekarang dia benar-benar mengkhawatirkan Kalla. Bagaimana dirinya bisa sampai ke apartemen, dan bagaimana dengan wanita itu? “Sial!” umpat Reyga saat Kalla belum juga mengangkat panggilannya. Dia bergegas ke kamar mandi. Sepanjang kegiatannya yang dilakukan buru-buru, lelaki itu terus mengumpat. Tepatnya mengumpati dirinya sendiri yang bodoh. Rasa bersalah
Reyga mengibas-ngibaskan kepala saat pandangannya agak buyar. Kalla di depannya seperti terbelah jadi tiga. Efek alkohol, menguasai telak isi kepalanya. Pusingnya reda, tapi kepalanya melayang-layang. Di depannya Kalla menatap malas lelaki itu. Sesekali mendorong bahu lebar itu ketika Reyga akan jatuh bersandar padanya. Dibilangin ngeyel, sok kuat tapi berakhir mabuk berat. “Sekarang gimana kita pulangnya kalau kamu teler gini?” tanya Kalla mengomel. Dua lengannya melipat di dada dengan sebal. “Sebenarnya kamu punya masalah apa sih?”“Ayo, saya antar kamu pulang.” Kalla menoleh mendengar suara itu. Matanya mengerjap ketika menemukan Wima menjulang di depannya. Tidak menyangka pria itu masih ada di sini.“Kak Wima belum pulang?” tanya wanita itu agak kaget. Pria di depannya menengok pergelangan tangan, melihat jarum jam yang sudah menunjuk nyaris ke angka dua. “Seharusnya sudah. Tapi saya khawatir lelaki di samping kamu mabuk. Kamu nanti tidak bisa pulang.” Kalla menarik napas. Me
Reyga memasuki tol lingkar luar Jakarta. Terus ke arah Utara. Menyusuri jalan panjang dengan kecepatan tinggi. Mengingat jalanan yang lumayan lengang dia bermanuver dengan kendaraannya yang memang mumpuni. Tapi gara-gara itu kepala Kalla jadi pusing. Memasuki kawasan PIK baru Reyga memelankan laju mobil. Menyeberangi perairan menuju pulau reklamasi yang sudah disulap menjadi kota indah. Dia memutar kemudi memasuki salah satu tempat hiburan malam yang ada di sana. “Kenapa kita ke sini?” tanya Kalla begitu Reyga berhasil memarkirkan mobilnya. “Buat ngilangin pusing,” sahut lelaki itu mengerlingkan mata, lalu beranjak membuka pintu mobil. “Ngilangin pusing tuh minum bodreks bukan ke kelab,” decak Kalla yang akhirnya mengikuti pacar dudanya itu. Terakhir ke kelab dia teler dan melakukan tindakan bodoh. Kalla bersumpah kali ini tidak mau menyentuh minuman laknat yang bikin dia tak sadarkan diri lagi. Menggandeng tangan Kalla, Reyga menembus lautan manusia. Musik mengentak kencang. O
Berat yang sejak dari apartemen Kalla tahan akhirnya bisa lepas ketika dia sampai rumah. Beberapa menit lalu mobil Reyga sudah meninggalkan halaman rumah setelah mengantarnya pulang. Kalla beranjak duduk di lantai teras dengan wajah murung. Terngiang lagi ucapan mama Reyga yang tidak sengaja dia dengar. Ya, Kalla mendengar semuanya. Bagaimana dirinya disebut murahan dan peliharaan karena tidak setara dengan mereka. Sakit, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Kenyataannya memang dirinya tidak selevel dengan mereka. Dia cuma pengasuh yang kebetulan disukai majikan. Kalla menghela napas panjang. Tidak seharusnya dia melambungkan harapan pada hubungannya dan Reyga. Sudah seharusnya Kalla membuka mata lebar-lebar. Tahu diri. Tidak mungkin perempuan biasa seperti dirinya bisa bersanding dengan putra mahkota keluarga konglomerat itu. “Astaghfirullah, Kalla! Malam-malam bengong di teras. Kesambet baru tau rasa Lo!” Suara cempreng itu mengusik lamunan Kalla. Dia melirik Moya yang tahu-t
Adonan yang tercetak sudah dimasukkan ke dalam oven ketika Reyga kembali ke unit setelah mengantarkan ibunya. Dia melihat Kalla dan Kael ber-high five, misinya membuat cookies sudah hampir selesai. Setelah pusing menerima banyak wejangan dari sang mama, melihat pemandangan itu membuat sakit kepalanya berangsur mereda.“Udah selesai?” tanya Reyga mendekat. “Udah, Pa. Tinggal tunggu cookiesnya matang,” sahut Kael girang. “Wow, papa nggak sabar pengin tau rasanya.”Pangkal alis Kael kembali menukik. Dia tidak ingin berbagi dengan orang yang sudah mengacaukan kegiatannya. “No, Papa. Nggak ada. Papa nggak kebagian. Semua buat aku. Papa udah makan banyak chocochips,” ujar anak itu sembari menggoyang-goyangkan telunjuk. “Serius papa nggak dikasih?” Reyga pura-pura kaget, lalu berakting menangis. “Papa kan juga pengin makan kukis buatan anak papa.” Anak empat tahun itu menghela napas lalu menggelengkan kepala. Persis orang dewasa. “Apaan sih, Pa. Kayak anak kecill aja.” Mendengar itu Ka







