Home / Romansa / Hello, Nanny! / 75. Tamu VIP

Share

75. Tamu VIP

last update publish date: 2026-03-28 07:06:38
Reyga memasuki tol lingkar luar Jakarta. Terus ke arah Utara. Menyusuri jalan panjang dengan kecepatan tinggi. Mengingat jalanan yang lumayan lengang dia bermanuver dengan kendaraannya yang memang mumpuni. Tapi gara-gara itu kepala Kalla jadi pusing.

Memasuki kawasan PIK baru Reyga memelankan laju mobil. Menyeberangi perairan menuju pulau reklamasi yang sudah disulap menjadi kota indah.

Dia memutar kemudi memasuki salah satu tempat hiburan malam yang ada di sana.

“Kenapa kita ke sini?” tanya
Yuli F. Riyadi

Wima : mode kalem Reyga : mode petasan banting 😆

| 17
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Ntar mikir dia
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Duda bangsul wkwk
goodnovel comment avatar
Anies
hadeuh Reyga ada² aja sih kelakuanya.. jangan sampai bikin Kalla jadi ilfil loh Rey... makasih kak author sayaaaang
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   242. Two Pieces?

    “Kamu terlalu keras nggak sih, Rey, sama mama?”“Biasa aja.” Sikap tak acuh lelaki itu membuat Kalla menghela napas. “Kamu masih marah sama mama?” “Nggak. Cuma…kalau mama udah bertingkah berlebihan, aku males. Seperti yang nggak pernah berbuat salah aja,” sahut Reyga, sambil membelokkan kemudi memasuki area kampung rumah ibu. SUV hitam miliknya berjalan lambat saat berada di wilayah perkampungan. “Tiap orang kan pernah berbuat salah.” “Iya, tapi nggak seketerlaluan mama.”“Ada kok yang lebih keterlaluan.” Karena tidak ingin mendebat istrinya, Reyga memilih diam sampai ban hitam kendaraannya menginjak halaman rumah ibu. “Sebaiknya kita istirahat cepat supaya besok nggak telat.”Kalla melepas seatbelt dan keluar lebih dulu. “Aku belum masukin baju kita ke koper.” “Oke, biar aku aja.” Saat memasuki rumah, ibu tampak sedang duduk di depan TV sambil memasang kancing baju jahitannya. “Kebiasaan deh. Ini kan udah malam, masih ngerjain itu aja,” protes Kalla mendekat. Dia bahkan meng

  • Hello, Nanny!   241. Jaga Mama

    Musim panas di Jepang tidak sepanas musim kemarau di Indonesia. Kalla tidak terlalu membekali Kael dengan pakaian aneh-aneh. Nyaris yang dibawa hanya pakaian sehari-hari itu pun hanya sedikit karena Kiana melarangnya membawa banyak pakaian. “Di sana banyak baju, kalau kurang tinggal beli. Kamu nggak perlu khawatir.”Kadang Kalla lupa dirinya sudah masuk ke keluarga yang gaya hidupnya jauh berbeda dengan dirinya. Jika dia harus senantiasa berhemat demi masa depan, orang-orang seperti mereka tidak memusingkan esok akan jadi apa. “Ingat apa kata mama, Kael?” tanya Kalla saat mengantar putranya ke bandara. Mereka berkumpul di lounge seraya menunggu jet pribadi milik Raven siap lepas landas. Kiana terlihat sibuk dengan anak-anak dan dua pengasuhnya. Sementara Reyga tengah berdiskusi dengan Raven. “Iya.”“Semangat dong kamu kan mau liburan. Jepang itu keren loh.”“Keren kalau ada Mama juga.”Kalla menatap putranya selama beberapa saat. Sebenarnya dia juga berat membiarkan Kael pergi lib

  • Hello, Nanny!   240. Undangan Eksklusif

    Kafe yang berada di sekitar kampus itu tidak terlalu luas. Beberapa mahasiswa, Kalla tahu bekerja paruh waktu di sana. Dengar-dengar pemilik kafe itu juga alumni kampus ini, yang sengaja membuka kafe supaya bisa membantu mahasiswa yang ingin mencari part time. Kalla memesan kopi butterscotch dan Wima kopi hitam tanpa gula. Heran sekali, kenapa kebanyakan laki-laki suka minum kopi tanpa gula sih? “Pantesan hidup kamu gitu-gitu aja. Selera ngopinya jadul banget,” cibir Kalla. “Heh, apa ada yang salah dari kopi hitam? Asal kamu tau ya, ini tuh tahta tertinggi pecinta kopi .” Wima tak terima, dan melirik kopi yang Kalla pesan. “Kalau yang kamu minum itu, bukan kopi namanya. Tapi cairan susu dan gula.”“Jangan ngejek kopiku ya, ini tuh bisa bikin mood meningkat seharian.” Kalla tak mau kalah. “Kopi item gitu. Surem!”Dengan gemas Wima menyentil dahi Kalla. Membuat wanita itu terpekik seraya mengusap dahinya. Pria itu tersenyum. Hal-hal seperti ini yang kadang dia rindukan dari wanita it

  • Hello, Nanny!   239. Berhenti di Kamu

    Tangan Kalla meremas kain bantal, sesekali kepalanya menoleh ke belakang, menyaksikan bagaimana Reyga memacu dirinya. Cepat dan penuh penekanan di setiap hujaman. Entah kenapa obrolan tentang liburan malah berakhir dirinya yang kini kena bantai di atas ranjang. “This is the real honeymoon, Baby,” bisik Reyga sembari menarik tubuh sang istri agar menempel padanya. Sementara pinggulnya terus bergerak dengan ritme cepat, sesekali melambat. “Jadi, kita nggak perlu ke mana-mana?” sahut Kalla sebelum melempar kepalanya ke belakang, bersandar pada bahu Reyga lantaran pria itu meremas dadanya, sekaligus menggesekkan jarinya di area bawah sana. “Jadi dong. Di sana kamu bisa lebih puas, Sayang.” Tiga stimulasi yang Reyga berikan sekaligus membuatnya tak mampu bertahan. Kalla melenguh, sekujur tubuhnya menegang, dalam dekapan Reyga dia menuntaskan hasratnya. “Lemes aku, Rey,” keluh wanita itu, ambruk dalam posisi tengkurap. Di atasnya, Reyga terus menciumi punggungnya. “Aku belum ap

  • Hello, Nanny!   238. Nomor Dua

    “Kenapa kamu mau membujuk dia?” “Siapa tahu saja ini pertemuan terakhir mereka.” Reyga menghela napas panjang sambil terus mengawasi Ninda dan Kael dari kejauhan. Kael menolak menemui wanita itu. Namun berkat bujukan Kalla, anak itu mau menemuinya. “Mama mengawasi kamu dari sini, Nak.” Kata-kata itu yang membuat Kael akhirnya mengangguk. Di dekat pohon ketapang yang berdiri kokoh di depan gedung pengadilan, Kael menemui Ninda. Anak itu terlihat diam saja saat Ninda memeluknya, bahkan saat wajahnya disentuh Kael tidak menolak. Sesuatu yang sangat jarang terjadi karena Kael bukan jenis anak yang mudah disentuh. Jika dia sampai membiarkan orang lain menyentuhnya, artinya dia merasa nyaman dan suka dengan orang tersebut. “Kayaknya kecemasan kita nggak beralasan,” ucap Kalla ketika melihat Kael duduk tenang, tampak tengah mendengar Ninda berbicara. Entah apa yang sedang wanita itu ceritakan. “Mungkin dia benar-benar sayang sama Kael.” “Mungkin.” Reyga mengedikkan bahu. “Dia tahu

  • Hello, Nanny!   237. Terakhir Kali

    “Benar-benar tidak bisa diselamatkan!” “Arogan, dan tidak tau diri!”“Sok paling hebat lagi.”“Gue yakin sih, John udah diuleg sama bapaknya. Dijadiin perkedel.”“Perkedel mah enak. Dicacah-cacah terus dilempar jadi makanan anjing dia.”Tawa ketiga bersaudara itu lantas menggelegar puas di setiap sudut ruang kerja pribadi milik Raven. Sekretaris Raven kemudian masuk menyajikan tiga es kelapa muda sekaligus buah-buahnya. Request langsung dari Cade yang tiba-tiba ingin es kelapa muda setelah puas membuat bapak sama anak Foster tidak mampu berbuat apa-apa. “Ini es kelapa muda banget? Yang hamil Lo, apa bini Lo sih?” tanya Reyga heran, tapi tangannya menarik es kelapa itu juga. Dan langsung menyeruputnya. Rasa dingin dan segar kontan membasahi tenggorokannya yang kering. “Bini gue-lah, tapi kan gue sebagai bapaknya bisa ngidam juga,” sahut Cade asal, langsung menyesap air kelapa dingin itu banyak-banyak. “Teori dari mana tuh?”“Dari leluhur!” “Berisik kalian!” tegur Raven. Dia tengah

  • Hello, Nanny!   132. Mati

    “Kamu masih lama di sana?” “Uhm, Kak. Boleh saya izin satu hari ini? Panas Kael belum turun, mungkin efek lukanya juga.” “Oke. Kamu bisa kabari saya kalau mau pulang.” “Iya. Sekali lagi makasih.” Kalla menutup panggilan dari Wima. Dia menyimpan ponsel sebelum masuk ke kamar Kael. Anak itu se

  • Hello, Nanny!   131. Rindu Tak Terbalas

    Langkah Kalla baru menginjak lantai gedung Sagara Grup ketika mendapat pesan dari Cade bahwa Kael dilarikan ke IGD. Hatinya mencelos seketika. Dia mencoba menelepon Cade, tapi lelaki itu tidak mengangkatnya. Sampai dirinya duduk di meja pelatihan, baru Cade memberinya kabar tentang keberadaan Kael

  • Hello, Nanny!   130. IGD

    Saat Kalla keluar kamar pagi-pagi, ibu sudah ada di meja makan. Nasi uduk telur bahkan sudah tersedia. Wanita itu tahu akan banyak pertanyaan yang diajukan sang ibu. Jadi sebisa mungkin dia sudah mempersiapkan diri.“Makan dulu sebelum berangkat,” ucap ibu sambil menuang teh hangat dari teko. Kalla

  • Hello, Nanny!   129. He Hurt You?

    “Saya nggak nyangka seorang Wima Sagara punya waktu selonggar ini buat melakukan hal-hal nggak berguna sama saya.”Sudah pukul sembilan malam saat angin laut meniup helaian rambut Kalla yang tergerai. “Sesekali nggak masalah. Sekarang kan juga weekend,” sahut Wima menatap wanita itu dari samping.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status