Home / Romansa / Hello, Nanny! / S2.50. Boneka Domba Kecil

Share

S2.50. Boneka Domba Kecil

last update publish date: 2026-07-28 23:14:52

“Ini sih best banget! Mirip yang dijual di bakery terkenal itu loh.”

“Hu-um. Aku juga suka. Kak Re, ajarin kita dong. Anniversary mama sama papa entar kita pengin kasih kejutan bikin kue sendiri.”

Senyum lebar Rere merekah ketika tahu dua kembar itu menyukai kue yang dia buat.

“Boleh. Nanti kakak ajarin ya.”

Di sebelah Kael, Cade mencebikkan bibir. “Kalian bisa menikmati kue enak ini karena Om-loh. Tapi nggak ada yang berterimakasih sama Om.”

Lior dan Kaia tertawa. Tapi kemudian mereka serent
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Anies
aaah ikut mewek kan jadinya... deg deg an sih takut baget dikit lagi tamat.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   S2.50. Boneka Domba Kecil

    “Ini sih best banget! Mirip yang dijual di bakery terkenal itu loh.”“Hu-um. Aku juga suka. Kak Re, ajarin kita dong. Anniversary mama sama papa entar kita pengin kasih kejutan bikin kue sendiri.” Senyum lebar Rere merekah ketika tahu dua kembar itu menyukai kue yang dia buat. “Boleh. Nanti kakak ajarin ya.”Di sebelah Kael, Cade mencebikkan bibir. “Kalian bisa menikmati kue enak ini karena Om-loh. Tapi nggak ada yang berterimakasih sama Om.”Lior dan Kaia tertawa. Tapi kemudian mereka serentak berseru. “Terima kasih …” Tepat ketika Cade menyambut dengan senyum manis, dua bocah itu menoleh ke arah Rere. “Kak Rere!” Senyum Cade sontak raib, dan wajah lucunya yang cemberut membuat si kembar tergelak lagi. “Dasar Kalla cilik. Awas ya, kalau kalian minta tambahan uang jajan, nggak bakal Om kasih,” balas Cade bersungut-sungut. Hingga tawa bocah itu berhenti seketika. “Iya, iya. Makasih Om Cade ganteng!” “Cih, kalau ada maunya aja.”Interaksi mereka membuat yang lain ikut tertawa baha

  • Hello, Nanny!   S2.49. Belasan Tahun Silam

    Cade berdiri di depan sebuah rumah yang dulu sering dia datangi. Terakhir datang ke sini 3 tahun lalu. Meskipun tidak jauh dari rumah sang Kakak—Reyga—dia tidak pernah mengunjungi lagi. Tepatnya sejak Mella memutuskan mundur dari hidupnya. Tiga tahun lalu saat dia datang lagi, bukan sebuah kesengajaan. Dan karena hal itu pula dirinya tahu bahwa Mella ternyata sudah meninggal. Cade sangat terpukul mendengar kabar itu. Terlebih Bu Arum—ibunya Mella—memberitahu tentang alasan sebenarnya Mella memutuskan pergi meninggalkan dirinya dulu. Rasa menyesal dan sakit kontan menggerogoti hatinya lagi, seperti belasan tahun silam. “Aku mau menikah.”Suara Mella kala itu terngiang lagi. Sesuatu yang membuat Cade semangat karena akhirnya wanita itu memutuskan hal yang tepat. “Serius, Sayang?” Tatap Cade berbinar saat itu. Tidak menyangka lamarannya akhirnya diterima. Dia sontak menggenggam tangan Mella. “Secepat mungkin aku bakal siapin semua. Seperti kata kamu, kita nggak perlu acara yang mewah.

  • Hello, Nanny!   S2.48. Kelapa

    “Terus kelapa-kelapa ini gimana, Kael?” Kael membeli empat biji kelapa muda atas permintaan Vianna. Tapi saat gadis itu pergi, dia tidak membawa satu pun dari kelapa-kelapa itu. “Kupas aja. Kita bikin es kelapa muda.” “Emang lo bisa?”“Tinggal kasih susu kental manis sama es kan? Lo ambil air sama daging kelapanya dulu gih.”Rere yang lagi menuang bubur jagung ke mangkok menatap heran. “Lagian kenapa sih beli kelapa sebanyak itu? Repot lagi, beli es kelapa yang udah jadi kan ada.”“Vianna maunya yang degan gini. Dagingnya muda dan tebal,” sahut Jaya lantas mengambil emang butir kelapa sekaligus dan dibawa ke belakang rumah. Rere sampai menghentikan kegiatan menyendok bubur mendengar itu. Jadi ini lagi-lagi soal Vianna? Gadis itu melirik Kael yang tampak lebih banyak menekuk muka sejak Vianna pulang. “Nggak usah sedih gitu kali, Bang. Kan Abang satu sekolah sama Kak Vianna. Ntar juga ketemu,” celetuk Lior yang sudah menyantap bubur jagung keju lebih dulu. “Iya. Kan masih ada Kak R

  • Hello, Nanny!   S2.47. Drian

    “Mana cowok yang namanya Kael? Gue harus ngomong sama dia.” Rere mengerutkan kening. Tapi kemudian menghela napas. Gini nih jadinya. Dari awal dia sudah menyarankan agar Kael tidak menampung Vianna. Repot urusannya. “Siapa yang nyari gue?” Bola mata Rere bergerak saat mendengar suara itu. Kael muncul dari arah pagar pintu gerbang bersama dengan Jaya. Dua lelaki itu membawa kelapa dan—eh kelapa? Rere mengerjap. Tapi benar Kael dan Jaya membawa kelapa. Kelapa degan. Lelaki yang mengaku kakak sepupu Vianna itu menoleh. Mata elangnya menyipit. Memperhatikan sosok Kael yang tengah berjalan mendekat, seperti sedang menilai. “Ada apa ini?” tanya Jaya melihat semua ngumpul di halaman. “Lo yang namanya Kael?” tanya sepupu Vianna agak nyolot. Jaya yang gampang terpancing, langsung melotot. “Iya, nape lo?” Dasar kompor bleduk. Dua-duanya malah kepancing. Sepupu Vianna malah hendak menerjang Jaya. Tapi tidak berhasil, karena dari belakang Rere menarik kerah bajunya. “Lo apaan sih

  • Hello, Nanny!   S2.46. Kakak Sepupu

    Rere bukannya tidak sadar dengan langkah kaki mendekat. Tapi dia tidak peduli. Lagi pula saat ini dirinya sedang memakai head phone. Kalau bukan si kembar yang mau iseng membuatnya kaget, paling juga Kael yang akan mengambil minuman dari kulkas. Namun selama beberapa saat tidak ada suara. Suasana tampak hening kembali. Gadis itu mengedikkan bahu, lalu lanjut mencuci jagung yang nanti bakal dia pipil. “Kamu setiap hari kesini terus?”Baru saja Rere meniriskan jagung cuciannya, dia mendengar suara lemah lembut itu. Spontan gadis itu berbalik dan menemukan Vianna sudah duduk di atas stool. “Oh, sori, gimana?” tanya Rere seraya menarik turun head phone. “Kamu … kamu tiap hari ke rumah ini terus?” Vianna mengulang pertanyaan. Jujur sejak pertama melihat gadis bernama Rere di rumah ini, dia tak suka. Tak suka ada gadis lain yang ternyata juga teman Kael. Selama ini hanya dirinya yang sering main ke rumah ini. Kehadiran Rere yang tiba-tiba muncul sedikit membuatnya terganggu. Apalagi sek

  • Hello, Nanny!   S2.45. Mimpi yang Terasa Nyata

    Dengan dua siku Mella menahan tubuhnya yang didorong setengah merebah ke belakang. Suara erangannya menggema, memenuhi ruang pribadi itu akibat ulah lelaki yang menenggelamkan kepala di antara dua pahanya. Cade selalu membuat Mella tidak berdaya dengan tingkahnya yang mengejutkan. Pemaksa dan tidak sabaran. Seperti sekarang. Bibir dan lidah lelaki itu menggasak area bawah sementara dua tangannya intens memainkan puncak dadanya. Mella tidak bisa menahan lagi ketika sesuatu di bawah perutnya kian bergejolak. “Cade…,” desahnya dengan kepala yang hampir melayang. Satu tangannya terulur, menekan rambut tebal Cade. “Stop, a-aku nggak kuat.” Namun alih-alih berhenti, Cade malah memberi ekstra stimulasi yang membuat tubuh Mella mengejang seketika. Wanita itu tidak bisa menahan diri lagi, dia menggeram, kembali menyerukan nama pria tangguh itu sebelum gelombang kepuasan itu meledak, meluluh-lantakan pertahanannya. Tubuh Mella ambruk di atas meja. Tidak peduli lagi apa yang Cade lakuka

  • Hello, Nanny!   117. Nanny Pengganti

    “Udah nemu pengganti lo?”Itulah yang sedang Kalla pikirkan. Dua kali dirinya dan Reyga membawa Kael ke penyalur. Berharap anak itu bisa menemukan seseorang yang cocok. Namun hasilnya nihil. Anak itu malah minta papanya buat mindahin sekolah ke Jepang. Gimana Kalla nggak tepok jidat?Kalla menggel

  • Hello, Nanny!   109. Pancakes

    Ini udah kembali ke setting setelah syukuran ya============%Hening. Sepanjang perjalanan pulang suasana terasa mencekam. Sejak keluar dari rumah besar keluarga Abimanyu tak sepatah katapun keluar. Baik dari Kalla ataupun Reyga. Kalla tahu, lelaki itu sedang marah padanya, perkara pernikahan yang

  • Hello, Nanny!   36. Serigala Berbulu Domba

    Kael yang duduk di atas kasur dengan wajah mengantuk, melihat papanya keluar dari kamar mandi. Matanya mengerjap. Kepalanya celingukan. “Kakak Cantik mana, Pa?” tanya anak itu yang tidak menemukan keberadaan Kael. Biasanya jika dirinya bangun tidur, Kalla akan selalu menyambutnya. “Kakak kamu lagi

  • Hello, Nanny!   35. Jalani Saja Dulu

    Gaji kerja sebagai nanny memang besar. Tapi konsekuensinya ternyata jauh lebih besar. Seperti sekarang, Kalla mengumpat dalam hati saat lagi-lagi gampang terperdaya oleh makhluk duda satu anak ini. Dia yakin kali ini bukan hanya terbawa suasana. Reyga dengan jelas menciumnya, menarik wanita itu dal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status