تسجيل الدخولBeberapa hari kemudian di kamar kami, Seno baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang sedikit basah. Dia mengenakan piyama sutranya sambil menggosok-gosok handuk ke tengkuk.Aku yang lebih dulu selesai mandi dan mengenakan piyama yang senada dengannya duduk santai bersandar di kepala ranjang, sibuk mengetik balasan pesan di ponsel.“Kayaknya seru banget, lagi chat-an sama siapa kamu?” tanya Seno, melempar handuk basah ke keranjang cucian, matanya mendelik penasaran.“Teman baru,” jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari layar.Dia melangkah mendekat, duduk tepat di sampingku berusaha mengintip. Tapi aku buru-buru memiringkan ponsel dan menjauhkan benda itu sedikit dari jangkauan Seno.Seno berdecak. “Kenapa sih nggak boleh lihat dikit?”“Ini obrolan pribadi antar wanita, kamu nggak perlu tahu, Mas,” tegurku, mendorong sedikit bahunya agar menjauh.“Siapa sih? Tumben banget orang rumahan kayak kamu punya teman,” ucapnya dengan nada mengejek.Aku cemberut, mengunci ponsel dan
“Anda yakin?” Friska bertanya serius, seakan menawarkan kesempatan terakhir untukku berubah pikiran.“Tentu, apa salahnya? Lagian aku bisa dapat update terbaru soal kondisi suamiku, sekaligus dapat teman baru.” Aku mengangguk mantap. “Ayo, scan kontak kamu di sini.”Friska mengeluarkan ponselnya, dan tidak perlu waktu lama nomor kami sudah tersimpan di gadget masing-masing.“Aku nggak sabar bincang-bincang sama dokter di luar jam kerja. Dokter Friska pasti orang yang menyenangkan.” Aku memasukkan ponsel ke dalam tas, berdiri dari kursi.Friska mengangguk. “Saya juga tidak sabar, Bu. Sebuah kehormatan bagi saya bisa dekat dengan istri konglomerat seperti Anda,” ucapnya, kalimat itu terdengar terlalu dibuat tulus, hingga hampir seperti bualan.“Jangan panggil, Bu. Panggil aja kak Mia. Kalau begitu aku pergi dulu, ya.” Aku berjalan menuju pintu keluar, sebelum akhirnya berhenti sejenak di ambang pintu.Aku menoleh ke arah Friska, tersenyum tipis.“Titip suamiku ya, Dokter Friska.”***Te
“Seno Handoko, dokter pasti pernah dengar, kan?” Aku menyipitkan mata dan sedikit mencondongkan tubuh ke depan.“Oh! Iya, Pak Seno salah satu pasien saya." Friska berkata seakan baru mengingat nama seseorang yang tidak pernah dia kenal secara personal.Tapi mau bagaimana pun dia berpura-pura, aku tetap bisa menangkap kejanggalan dalam caranya menjawab. Kalimat itu terdengar terlalu cepat seakan dia sedang menutupi sesuatu, matanya juga bergerak gelisah sebelum akhirnya mengalihkan perhatian ke kertas yang dia pegang.Friska berdeham pelan. “Baik, jadi… keluhan Ibu di sini adalah sering buang air kecil di malam hari, benar?” katanya kembali bersikap profesional.“Ah, sebenarnya kondisiku nggak begitu, dok. Aku cuma cari alasan biar bisa masuk ke sini,” jawabku santai, melipat tangan di dada.Friska mengangkat wajah, dahinya mengernyit. “Maaf?”“Alasan sebenarnya aku ke sini, karena suamiku baru cerita kalau dia udah ganti dokter dan Dokter Friska yang menangani dia sekarang." Aku mende
“Kenapa kamu menahan diri?” bisikku dengan suara yang entah kenapa terdengar asing, aku sangat kesulitan mengendalikan hasratku sendiri saat ini.Bara tidak menjawab dengan kata-kata. Dia kembali menciumku, menciptakan bunyi kecupan yang penuh gairah.Bibirnya yang hangat turun perlahan menyasar rahangku dan memberikan kecupan lembut di sana, lalu dengan gerakan pelan turun ke leherku, membuatku sontak menggigit bibir menahan desahan yang nyaris keluar.“Haah... Bara,” Aku tanpa sadar memanggil namanya, tanganku mencengkeram kemejanya erat-erat mencari pegangan karena kepalaku mulai berputar.“Hm?” gumamnya di sela kecupan itu. Dia tidak berhenti, napasnya yang hangat terus turun hingga berhenti di tulang selangka, membuat setiap jengkal kulit yang dia sentuh terasa begitu panas bagai membakar.Tangannya bergerak, membuka dua kancing paling atas bajuku dengan gerakan yang begitu lihai. Dia mendorong tubuhku perlahan, menindihku di atas sofa empuk itu, berat tubuhnya terasa begitu nyam
Aku dan Bara akhirnya duduk bersisian di sofa panjang ruangan itu, ditemani sebuah film yang diputar dengan volume rendah di televisi besar sebagai latar belakang.Meja di depan kami sudah penuh dengan hidangan lezat yang menggoda, tapi kami terlalu asyik mengobrol hingga belum sempat menyentuhnya sama sekali.“Jiyeon udah lulus dari studinya dan sekarang mulai kerja di agensi periklanan,” ucap Bara sambil menyandarkan punggungnya santai ke sofa.“Oh ya? Bagus deh kalau gitu, waktu di Lisbon aku sering banget denger dia mau kerja di bidang itu.” Aku tersenyum lega.“Iya, dia excited banget pas hari pertama kerja. Sampai kirim voice note setiap sepuluh menit,” Bara terkekeh.Aku ikut tertawa. “Duh! nggak Jiyeon, nggak Jisoo. Energi mereka tuh emang selalu meluap-luap,” candaku, membayangkan si kembar yang selalu heboh dan ceria hampir setiap saat.“Aku juga punya kabar yang lebih mengejutkan, Mia.” Bara menyeringai jahil, sengaja menahan kalimatnya untuk membuatku penasaran.“Apa itu?”
Setelah insiden pencurian dan Bibi Sona beserta suaminya diseret keluar dari mansion hari itu, suasana rumah perlahan berubah.Beberapa pelayan tidak lagi memandang rendah diriku, setidaknya aku hampir tidak pernah mendengar lagi bisik-bisik tidak mengenakkan, pun beberapa terlihat segan ketika berpapasan denganku.Rasanya lebih lega, seolah beban yang selama ini menggantung menghantui banyak pelayan karena harus satu suara menentang dan menghinaku, akhirnya terangkat.Rena juga dipanggil bekerja kembali tidak lama setelah itu, kali ini dengan sambutan yang jauh lebih hangat. Bahkan Ibu Seno yang biasanya terkenal pelit sekali memberi pujian pada pelayan, mulai menunjukkan sedikit rasa menghargainya pada gadis itu.Aku pernah mendengar sekali, Ibu Seno berkata pada Rena kalau pekerjaannya cukup cekatan, dan Rena terlihat membungkuk sopan dengan kilat kepuasan kecil di matanya.“Satu halangan hilang aja bisa bikin selega ini, apalagi kalau nanti semuanya.”Aku menghela napas, menghirup







