LOGINGianna Amelia Denise Belarde. A pure innocent girl. At her age of 20 she tried to apply as an executive secretary, she's also a girl who doesn't understand yet how human reproduction works, or how people engage in sex for gratification. Will Zayne Andrius Javier, the company CEO, awaken the fire inside her, and turn her from someone innocent and inexperienced, to a woman who is not afraid to embrace her sexual desires?
View More“Cari laki-laki lain untuk menghamili kamu, Wa.”
Ucapan Kaisar pagi itu, bagaikan palu godam yang menghantam dada Djiwa. Perempuan yang masih gadis itu seketika membeliakan bola matanya. Bagaimana bisa, suaminya sendiri dengan begitu tenang memintanya untuk hamil bersama pria lain? “Ka-kamu ... serius, Mas?” bisik Djiwa tak percaya, suaranya tercekat. “Kamu gak lagi bercanda, kan? Kenapa Djiwa harus hamil sama pria lain?” Kaisar mendesah berat. “Aku sudah muak! Mami terus mendesak lagi soal ahli waris. Aku sudah muak dengan tekanan itu. Dan dia terus menanyakan kapan kamu hamil.” Djiwa menelan ludahnya susah payah. “Kalau begitu ... kenapa gak sama kamu aja, Mas? Djiwa punya suami, kenapa Djiwa harus hamil sama pria lain?” tanyanya bingung. “Kamu? Jangan bercanda! Aku gak akan mempertaruhkan malam-malamku dengan kamu!” Ucapan Kaisar kali ini benar-benar menyayat hati Djiwa. Mulut Dijwa terbuka, tapi tak ada kata-kata yang keluar dari sana. “Cari pria terhormat kalau bisa. Kalau tidak bisa, aku yang akan mencarikannya untukmu,” ucap Kaisar, suaranya tetap dingin, seakan apa pun yang ia katakan sudah final. “Aku tidak sedang bernegosiasi.” Dada Djiwa terasa menyesak—seolah diremas dari salam. Kedua tangannya terkepal erat di samping tubuh, sampai buku-buku jarinya memutih. Mulutnya sudah terbuka, hendak memprotes. Namun Kaisar lebih cepat, suaranya menampar udara lebih dulu. “Kamu harus hamil, aku gak mau tahu! Menikahi kamu aja udah bikin aku malu di depan kedua saudaraku, dan sekarang kamu masih mau mempermalukan aku dengan tidak bisa memberikan keturunan?” Kaisar menautkan tangan di depan dada, tatapan datar namun menekan. “Jadi, lakukan saja—atau biaya rumah sakit kakekmu aku cabut!” Djiwa dengan cepat menggeleng, tak terima dengan ancaman itu. “Nggak, Mas. Jangan lakuin itu ke kakek, aku mohon! Kakek butuh biaya besar untuk rumah sakit sampai sembuh, Mas.” Hembusan napas Kaisar terdengar berat, tapi bukan karena ragu. “Kalau begitu, hari ini juga kamu putuskan. Supaya aku tidak cabut biaya rumah sakit kakek kamu.” Iya atau tidak. Itu pilihan tersulit untuk Djiwa. Apalagi ini menyangkut nyawa sang kakek. Padahal pernikahan mereka baru berusia satu tahun. Dan selama itu, Djiwa baru tahu kalau suaminya selama ini tidak mencintainya. Terpaksa. Ya, Kaisar terpaksa menikahinya karena wasiat sang kakek. Karena kakeknya dulu berteman sangat dekat dengan kakek Djiwa, dan memutuskan untuk saling menjodohkan cucu mereka. Jika Djiwa tahu ini sejak awal. Sumpah demi apapun, Djiwa tidak akan pernah mau menikah dengan Kaisar. Padahal selama ini, dia mencoba mencintai sang suami. Tapi pria itu tidak pernah sedikitpun membalas usahanya. “Bagaimana?” Kaisar menaikkan satu alisnya, menunggu keputusan sang istri. Djiwa menelan ludahnya berat. “Djiwa ... Djiwa akan pikir-pikir lagi, Mas.” Tatapan Kaisar tetap dingin. “Baiklah, aku beri kamu waktu tiga hari dari sekarang,” setelah mengatakan itu, Kaisar meninggalkan kamar mereka. Sementara Djiwa terpaku di tengah-tengah ruangan tersebut. Kakinya mendadak lemas setelah mengetahui fakta mengejutkan ini. Tak hanya itu, tapi permintaan sang suami yang tak masuk akal. Djiwa menghembuskan napas pelan. “Ke mana aku harus mencari pria terhormat? Apalagi … anak itu bakal jadi pewaris keluarga Reinard,” gumamnya, terdengar bingung dan putus asa. Djiwa tersentak ketika pandangannya jatuh pada jam dinding. Sudah pukul setengah tujuh pagi—sebentar lagi waktu sarapan. “Ya Tuhan!” Panik kecil menyengat dadanya. Djiwa langsung meninggalkan kamar, hampir setengah berlari menuju dapur. Rutinitasnya sudah menunggu, menyiapkan sarapan untuk keluarga besar Reinard—yang terdiri dari ibu mertuanya, para kakak ipar, serta keponakannya. Keluarga Reinard adalah keluarga konglomerat yang keras memegang adat patrilineal. Semua tinggal dalam satu atap, mertua, anak, menantu—hierarki yang tak pernah benar-benar terlihat, tapi selalu terasa menekan. Dan Djiwa, sebagai menantu bungsu yang tak bekerja seperti dua menantu lainnya, otomatis menjadi tangan utama rumah itu. Memasak, beres-beres, memastikan semua berjalan sempurna. Ia memang tidak sendirian, ada pembantu lain membantunya. Mudah mengurus rumah semewah dan seluas ini dengan para pembantu. Tapi tak mudah bagi Djiwa yang dituntut untuk melakukan semuanya tanpa kesalahan. Ruang demi ruang seperti tak ada habisnya, dan tiap sudut menuntut kesempurnaan. Sekitar setengah jam kemudian, Djiwa bersama dua pembantu lainnya akhirnya selesai menyiapkan sarapan. Dan kini tugas Djiwa melayani ibu mertuanya dan sang suami, Kaisar. “Ini teh hijaunya, Mi,” Djiwa menyerahkan teh hangat milik sang ibu mertua ke hadapannya. “Terima kasih,” ucap Sekar datar, tanpa menoleh. Kini Djiwa giliran melayani sang suami. Tapi ketika dia hendak meletakkan roti panggang untuk Kaisar, pria itu segera menarik piringnya. “Aku bisa sendiri, kamu langsung duduk saja,” kata pria itu dengan nada dingin. Djiwa tersenyum kecil, lalu duduk di kursi sebelah kiri sang suami. Baru saja tangannya hendak meraih roti panggang, suara ibu mertuanya yang tajam memecah keheningan meja makan. “Satu tahun. Sudah genap satu tahun Djiwa menjadi menantu keluarga Reinard.” Sekar menoleh, tatapannya langsung mengarah pada menantu bungsunya. “Tapi kamu belum juga hamil.” Pelan, tangan Djiwa yang tadi terulur menggantung di udara turun kembali ke pangkuan. Ia menunduk dalam-dalam, jemarinya saling menggenggam erat. Tidak berani menatap siapapun—terutama ibu mertuanya. Bahkan ia bisa merasakan tatapan para kakak iparnya yang mencemooh dari kedua sisi meja makan, membuat dadanya sesak. Malu? Tentu saja. Keluarga suaminya benar-benar keluarga terhormat dari kalangan elit— memiliki garis keturunan Jawa dan Belanda murni. Sekar Ayunda Reinard yang berdarah Jawa, dan suaminya mendiang Diederick Von Reinard yang merupakan konglomerat Belanda. Pemilik perusahaan Grand Reinard Corporation, yang beroperasi di dalam dan luar negeri. Serta memiliki banyak anak cabang—mulai dari perusahaan industri, hotel, dan juga rumah sakit. Kekayaan itu diwarisi anak-anak mereka, si tiga bersaudara. Radja si anak pertama, Sultan si anak kedua, dan Kaisar yang merupakan anak bungsu. “Saya sudah membuat janji temu dengan dokter kandungan terbaik,” lanjut Sekar, mendorong kartu nama pada Kaisar yang duduk di sebelah kirinya—agar memberikan pada Djiwa. Pria itu dengan malas meraihnya, lalu menyerahkannya pada sang istri tanpa menoleh. Gerakannya sangat malas, seolah tak tertarik sedikitpun. Lalu Sekar menambahkan. “Saya tidak mau tahu! Kamu harus segera periksa.” “Mungkin Djiwa mandul, Mi!” Inggrit—istri Radja, si sulung—menimpali, membuat semua yang di meja makan menatap ke arahnya. Sementara Radja sendiri, sang suami, hanya meliriknya sekilas. “Bisa jadi, Mbak Grit. Sebenarnya Djiwa ini mandul, tapi dia sengaja tidak mau memberitahu Mami dan Mas Kaisar. Supaya tidak diceraikan!” imbuh Fairish—istri Sultan, anak kedua, ikut memanasi keadaan. Kedua istri kakak ipar Djiwa memang selalu merendahkannya karena perbedaan kasta mereka yang bagaikan langit dan bumi. Inggrit, merupakan lulusan S2 jurusan designer kampus ternama di Amerika. Tak hanya itu, Inggrit juga putri dari pengusaha kaya raya, dan sekarang dia mengelola butik besar. Dan istri Sultan—Fairish, merupakan lulusan S2 Hukum, dan sekarang bekerja sebagai pengacara sekaligus anak dari pemilik Firma Hukum terbesar. Sedangkan Djiwa? Hanya perempuan yang kebetulan beruntung menjadi kandidat menantu dari keluarga tersebut. Karena kakeknya adalah teman lama dari ayah Sekar yang merupakan kakek Kaisar. Pernikahan mereka terjadi karena sebuah wasiat dari tetua mereka yang sudah meninggal sekitar satu tahun yang lalu, sebelum Djiwa dan Kaisar resmi menikah. Kata ‘mandul’ itu seperti tamparan keras yang menghantam pipi Djiwa. Tuduhan itu menusuk harga dirinya yang sudah rapuh karena Kaisar tidak pernah menyentuhnya. Djiwa merasakan wajahnya memucat. Ia melirik Kaisar di sampingnya, tetapi pria itu menatap piringnya dengan ekspresi bosan—seolah mendengarkan pidato yang sudah dihafalnya. Seperti biasa, Kaisar tidak akan membelanya di depan ibu mertuanya itu. Tak bicara apapun, membiarkan Djiwa dimaki dan dihina di depan keluarganya. Djiwa mengangkat pandangannya, menatap ibu mertuanya. “Mi, Djiwa ... rahim Djiwa baik-baik saja,” ucapnya berusaha membela diri, suaranya bergetar. BRAK! Sekar menggebrak meja dengan ujung pisau selai di tangannya—membuat semua yang di meja makan terlonjak kaget, sedangkan tatapan Sekar dingin dan menusuk. “Tidak ada kata ‘baik-baik saja’, Djiwa! Lakukan apa yang saya minta, dan kirimkan hasilnya. Saya ingin memastikan sendiri!” “Lakukan saja, Wa … apa yang dikatakan Mami,” akhirnya Kaisar membuka suara, setelah sejak tadi terdiam cukup lama. Namun bukan membela, melainkan ikut intimidasi sang istri. Djiwa menelan ludahnya berat. Matanya yang merah sejak tadi tampak berkaca-kaca setelah pria yang seharusnya melindungi, justru ikut menyudutkannya. “Lagipula,” Kaisar kembali melanjutkan. “Aku yakin yang bermasalah di sini kamu. Apa salahnya untuk cek ke dokter, agar bisa tahu kamu negatif atau positif mandul.” Tangan Djiwa di atas pangkuannya sudah mulai bergetar karena menahan emosi. Mengepal erat sampai buku-buku jarinya memutih pucat. Bagaimana bisa suaminya sendiri mengucapkan itu di meja makan, di depan seluruh anggota keluarga? “Dengar baik-baik,” Sekar kembali buka suara, nada bicaranya tegas penuh perintah. “Saya beri kamu tenggat waktu tiga bulan dari sekarang. Kamu harus hamil.” Setiap katanya penuh tekanan dan menuntut, membuat Djiwa kesulitan bernapas dengan baik. Tapi tak sampai disitu saja, Sekar menambahkan dengan nada ketus. “Jika tidak, saya sendiri yang akan meminta Kaisar menceraikan kamu.” Nada Sekar merendah tajam, menusuk tanpa ampun. “Setelah itu kamu bisa pulang ke rumah gubukmu, dan menghabiskan sisa hidupmu merawat kakekmu yang sakit-sakitan itu.”“Sinabi ko bang paniwalaan mo ‘ko?” sarkastikong tugon ko sa kaniya.“Hayop ka, Zayne! Kaya mo ba talagang gawin ‘yan kay Gian? Mahal mo si Gian, Zayne! H’wag kang magpalamon sa galit mo, sa paghihigante mo! H’wag mo ‘yan gagawin kay Gian. Baka pagsisihan mo lang ‘yan, Zayne!” pag-k-kuwestiyon niya sa akin.“Gawin mo na ang dapat mong gawin, Andrius. H’wag kang magpapabilog sa babaeng ‘yan. Kompanya ang nakasalalay dito. Mamili ka! Buhay ng babaeng ‘yan o ang kompanya?” sabat pa ni Dad kaya muli akong bumaling kay Gian. “Iputok mo na, Andrius!” muli akong napalingon kay Dad.“Bilis!” nanginginig ang kamay ko habang kinakasa ang baril.“Hindi puwede!” akma ko na sanang ilalagay ang kamay ko sa trigger ng baril nang sumigaw ang kaibigan ni Gian. “H-Hindi mo siya puwedeng p-patayin Zayne d-dahil buntis si G-Gian! Buntis si Gian!” nanlaki ang mata ko sa sinabi niyang iyon na bigla ako nanlamig.“H’wag mo sabihing maniniwala ka Zayne sa babaeng ‘yan! Niloloko ka lang n’yan, nililito ka lan
“That woman doesn’t deserve your love. You don’t need to waste your time on someone who only wants you around when it fits their needs. Don’t turn a valuable rugby into a priceless gem, Zayne! Stop breaking your own heart by trying to make a relationship work that clearly isn't meant to work. Don’t lose yourself by trying to fix what's meant to stay broken. Do you understand? Now, stop! I will not give your phone back if you couldn’t realize what I mean.” Hindi niya nga binalik sa akin ang phone ko kaya nanahimik na lang ako.Nang maiuwi nila ako sa bahay ay pinalitan lang nila ako ng damit at umalis na rin sila.Nagising ako dahil sa sinag ng araw na pumapasok sa bintana dahil hindi pala nakasara ang kurtina nito. Napahawak ako sa ulo ko matapos kong maramdaman ang pananakit nito. Napansin ko pa na iba na rin ang suot ko, kaya naman inisip ko kung ano bang nangyari kagabi hanggang sa maalala ko lahat-lahat, ultimo ang sinabi ni Aiden.“That woman doesn’t deserve your love. You don't
“Ano ibig-sabihin nito, Zayne? Hindi mo na ba ako itataboy? Okay na ulit tayo?” tanong niya sa akin pagkatapos kong hugutin ang pagkalalaki ko sa kaniya.Kunut-noo akong umiling-iling sa kaniya matapos niyang itanong ‘yon. “Of course not. Avery is already pregnant. I just did it to make you stop, okay? Pinagbigyan lang kita ngayon para tigilan mo na ako. Now leave permanently and don’t you dare to come back!” sinunod naman niya ang sinabi kong umalis siya. Nang tuluyan na siyang makaalis ay pagalit kong basta-basta na lang itinapon ang laman ng mesa ko, wala akong pakialam kung ano ang mga nahagis ko na kumalat na lang sa sahig. Matapos ‘yon ay napaupo na lang ako sa swivel chair.“I’m sorry, Gian . . . I'm sorry for hurting you like this. I just can't accept the fact that you choose to make love with my brother, I just can’t accept that you do this to me. Umasa ako, eh. Umasa akong enough na ako sa ‘yo! Umasa akong ‘di mo magagawa ito dahil lang sa nagawa ko, akala ko maiintindihan
“What?!” gulat kong tanong dito. “But . . .”“No buts, Andrius! It’s important! You need to be here, as soon as possible!” hindi ko pa nasasabi ang dahilan ko ng pangunahan niya ako.Pero paano si Gian? May usapan kami, hindi puwedeng ‘di kami matuloy, hindi puwedeng ‘di ko siya puntahan, baka maghintay lang siya nang maghintay sa akin do’n. Hindi puwede ‘to!Tatawagan ko na sana si Gian kaso saktong pagbukas ko ng phone ko ay bigla na lang itong namatay. Hush! Wrong timing! Paano na ito?Lumabas na ako papunta sa parking lot para tignan kung nando’n ba sa sasakyan ko ang charger ng phone ko pero tanging nando’n lang ay ang power bank, ch-in-arge ko kaagad ang phone ko, naghintay ako ng ilang minuto para bumukas ang phone, kaso ‘yong power bank naman ang walang charge. Pinilit ko pang i-power on ang phone baka sakaling umabot pa, mabuti na lang ay nag-on pa ito. Una kong tinignan ‘yong message ni dad which is ’yong location kung saan ang meeting. Nag-t-type pa lang ako ng i-m-messag
“Who’s this girl?” I asked myself as I watched the woman walk into this elevator.“11th floor.” I utter to the elevator staff in a calm voice.“Sa floor number eleven po, Ate.” The woman spoke with me at the same time, so I automatically looked at her again with a frowned face.“Who said that you can g
“Momma! Momma!” nasa gitna ako ng pagluluto nang meryenda namin ni baby Ali ng lumapit ito sa akin hawak-hawak ang papel at lapis niya, problemado ang mukha nito na naka-pout pa at bakas sa mapupungay niyang mata ang nangingilid na luha.Pinunasan ko muna ang mga palad ko dahil sa flour
“Gian, are you still there? Please. We need you, Zayne needed you. I will message you the address, just come here when you change your mind. We desperately need you so much! I am really sorry.”Matapos ‘yon ay pinatay na niya ang tawag. Nanlulumo ako na muling bumalik at naupo sa couch.
“No! I won’t. I want to talk with her,” saad niya pabalik kay Ele na nagmamakaawa ang dating, muli siyang lumingon sa akin na, “Please, Gian? We need to talk,” mahinahong hiling nito.“H’wag kang makulit, Zayne. Lumayo ka kay Gian, layuan mo siya!” singhal ni Cali sa akin.“The way you speak. It seems






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
reviews