Share

Hujan Berhenti Sebelum Pernikahan
Hujan Berhenti Sebelum Pernikahan
Author: Carena

Bab 1 

Author: Carena
Ketika Levi keluar, aku sedang menyeka air dari tanganku. Langkahnya terhenti sejenak.

"Kapan kamu sampai di sini?"

Aku menatapnya. "Baru saja."

Lyra mengikutinya sambil tersenyum alami. "Kak Eve, tadi kami cuma bercanda. Kamu nggak mendengarnya, 'kan?"

Lyra sengaja berdiri di sebelah kananku, tepat di sisi pendengaranku kurang bagus.

Levi mengerutkan kening dan meliriknya. "Jangan usil."

Lyra menjulurkan lidahnya. "Iya, iya, aku nggak usil lagi. Tapi, pendengaran Kak Eve kan memang kurang baik. Mulai sekarang, aku pasti akan berdiri di sebelah kirinya."

Ucapan Lyra terkesan seperti bentuk perhatian. Namun, para pengiring pengantin wanita dan pria di sekitarku tertawa.

Aku menatap Levi. Setiap kali ada yang bercanda tentang pendengaranku dulu, dia pasti akan langsung marah. Dia pernah berkata bahwa memiliki pendengaran yang kurang baik bukanlah salahku. Yang seharusnya merasa malu adalah orang yang bersikap tidak sopan.

Sekarang, dia hanya mengambil kertas berisi sumpah pernikahanku dari tangan Lyra, lalu memberikannya kepadaku. "Jangan terlalu dipikirkan. Dia ngomongnya memang ceplas-ceplos."

Aku mengambil kertas itu. Kata-kata di atasnya sudah dicoret hingga terlihat berantakan.

Awalnya, aku menulis "Terima kasih telah menjadi telinga kananku selama belasan tahun". Akan tetapi, Lyra mengubahnya menjadi "Terima kasih telah sabar menghadapi orang merepotkan sepertiku selama belasan tahun".

Aku menekan ujung jariku ke baris itu. Kertas itu sedikit basah karena tertetes air hujan.

Levi melihatnya dan hendak mengambilnya. "Aku akan minta orang untuk cetak ulang salinannya."

Aku mundur selangkah. "Nggak perlu."

Tangannya membeku di udara.

"Evelyn."

Dia memanggilku dengan nama lengkapku. Aku tahu dia tidak senang.

Lyra berdeham pelan dan berkata, "Levi, jangan begitu galak ke Kak Eve. Dia pasti berpikir aku sudah curi perhatian darinya."

Levi memijat pelipisnya.

"Memangnya yang kukatakan salah?" Lyra menatapku sambil tersenyum. "Gimanapun, ini gladi resik pernikahan kalian, tapi perhatian semua orang malah tertuju padaku. Wajar saja Kak Eve nggak senang."

Seseorang mencoba meredakan situasi dengan berkata, "Sudah, sudah. Ini cuma konflik kecil sebelum pernikahan. Evelyn, jangan marah. Levi sudah baik banget ke kamu."

Levi sepertinya sudah disadarkan oleh kata-kata itu. Dia berjalan mendekat dan menggenggam tanganku. "Ayo jalan, kuantar kamu pulang. Di luar hujan deras."

Telapak tangannya masih terasa hangat. Namun, aku tiba-tiba teringat apa yang dia katakan sebelumnya, "Undangannya sudah dikirim. Apa lagi yang bisa kulakukan?"

Ternyata, dia menikahiku bukan karena itu adalah keinginannya, melainkan karena membatalkannya akan merepotkan.

Aku menarik tanganku dengan pelan dan menjawab, "Nggak usah. Aku bisa pulang sendiri."

Levi menatap telapak tangannya yang kosong. Ekspresinya berubah muram. "Ada apa lagi denganmu?"

Lagi. Begitu mendengar kata itu, telingaku berdengung sesaat.

Lyra melangkah maju. Suaranya melembut. "Kak Eve, aku benar-benar nggak bermaksud begitu. Kalau nggak, aku minta maaf deh."

Saat berbicara, Lyra hendak membungkuk, tetapi Levi menahannya.

Lyra bersandar di lengannya, lalu mengedipkan mata padaku. "Lihat, dia masih peduli padaku."

Suasana di pintu masuk hening sesaat.

Levi segera melepaskan Lyra dan terlihat agak canggung. "Evelyn, dia cuma asal ngomong."

Aku pun mengangguk.

Levi menatapku, seolah-olah menungguku melanjutkan amukanku. Namun, aku tidak mengatakan apa-apa. Aku hanya melipat kertas berisi sumpah pernikahan itu dan memasukkannya ke dalam tas. "Aku pamit dulu."

Levi mengulurkan tangan untuk menghentikanku. "Pernikahan kita akan berlangsung seminggu lagi. Kamu malah mau merajuk sekarang?"

Aku melirik jam tangan di pergelangan tangan Levi. Itu adalah hadiah ulang tahun yang kuberikan padanya tahun lalu. Ada sebaris kalimat terukir di bagian dalam talinya.

[ Janji selamanya. ]

Saat menerimanya, Levi tertawa dan berkata kalimat itu terlalu sentimental. Namun, dia memakai jam tangan itu setiap hari. Sekarang, tangan yang menghalangi jalanku terasa seperti belenggu.

Aku berkata dengan pelan, "Levi, aku sedikit lelah."

Keningnya berkerut makin dalam. "Kalau lelah, tidurlah lagi. Jangan merajuk di saat-saat seperti ini."

Lyra menjulurkan kepala dari belakang Levi dan berujar, "Kak Eve, ada banyak hal yang harus diurus selama beberapa hari ke depan. Kalau kamu merasa nggak enak badan, aku bisa gantikan kamu naik ke panggung untuk gladi resik. Lagian, aku cukup lancar saat bacakan sumpahmu tadi."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hujan Berhenti Sebelum Pernikahan   Bab 10

    Setahun kemudian, aku berganti pekerjaan baru. Sekarang, aku bekerja sebagai perancang kurikulum di lembaga rehabilitasi pendengaran.Setiap hari, aku berinteraksi dengan banyak anak. Ada yang mudah menangis, ada yang penakut, ada pula yang menyembunyikan alat bantu dengar di saku dan menolak memakainya.Aku akan selalu berjongkok dan berbicara dengan mereka di sisi mereka dapat mendengar jelas. Aku tidak pernah mendesak mereka, atau merasa cemas.Sesekali, Kian akan menggodaku, "Sekarang, kamu lebih mirip terapis rehabilitasi daripada aku."Aku membalas candaannya sambil tersenyum, "Kalau begitu, serahkan saja posisimu padaku."Dia menyerahkan mapnya kepadaku. "Boleh saja, Bu Evelyn."Aku pun tertawa.Hari-hariku berlalu pelan dan tidak sedramatis yang kubayangkan. Suatu hari, aku hanya terbangun dan menyadari bahwa aku sudah lama tidak meneteskan air mata karena Levi.Levi pernah datang ke tempat kerjaku beberapa kali. Setiap kali, dia juga bersikap sangat sopan. Terkadang, dia meng

  • Hujan Berhenti Sebelum Pernikahan   Bab 9

    Levi tidak menyusulku lagi hari itu. Selama minggu berikutnya, dia mengirimiku pesan setiap hari. Terkadang, dia mengirim sepatah kata "selamat pagi", terkadang dia mengirim foto, seperti foto payung putih yang baru dibelinya dan foto korsase kamelia yang sudah dibuat ulang. Dia juga menyuruh orang memperbaiki sumpah yang dicoret Lyra, lalu memotretnya dan mengirimkannya kepadaku.[ Aku sudah kembalikan teks aslinya. ]Aku melihat foto itu.[ Levi, terima kasih telah menjadi telinga kananku selama belasan tahun. ]Pernyataan ini dulunya benar. Namun, semuanya sudah menjadi masa lalu.Aku tidak membalas.Pada akhir pekan, aku pergi menghadiri acara berbagi penyandang gangguan pendengaran. Kian mengundangku untuk menjadi sukarelawan. Dia mengatakan bahwa kebanyakan anak yang baru memakai alat bantu dengar takut ditertawakan oleh teman sekelas.Saat berdiri di depan pintu ruang kegiatan, aku melihat seorang gadis kecil menutup telinganya dan menangis. Ibunya berjongkok di sampingnya untu

  • Hujan Berhenti Sebelum Pernikahan   Bab 8

    Kabar pembatalan pernikahan kami tetap tersebar. Grup obrolan teman kami sudah heboh sepanjang hari. Ada yang bertanya apakah kami bertengkar, ada yang menasihatiku untuk jangan bersikap impulsif. Bahkan ada juga yang mengirim pesan kepadaku secara pribadi.[ Sebenarnya, Lyra memang agak keterlaluan waktu itu. ]Aku hanya menatap layar, tetapi tidak membalas.Sore harinya, ibu Levi meneleponku."Eve, Bibi bukan mau paksa kamu, cuma mau tanya. Apa masih ada kemungkinan di antara kamu dan Levi?"Aku yang sedang memegang gelas air menjawab, "Bibi, maaf."Dia menghela napas dan berujar, "Kamu nggak perlu minta maaf pada Bibi. Levi sudah terlalu dimanjakanmu."Aku tertegun sejenak.Dia melanjutkan, "Dulu, dia selalu merasa selama dia berbalik, kamu akan selalu berada di sana. Tapi, mana mungkin ada orang yang akan terus menunggu di tempat?"Suara Levi terdengar dari seberang telepon. "Ibu, kamu lagi telepon siapa?"Ibu Levi terdiam sejenak sebelum berkata, "Eve, jaga dirimu baik-baik."Kemu

  • Hujan Berhenti Sebelum Pernikahan   Bab 7

    Kian mengambil tasku secara alami. "Denging di telinga kananmu masih jelas nggak hari ini?"Aku menyentuh telingaku. "Sudah lebih baik dari dua hari sebelumnya."Terdengar suara Levi yang menjadi lebih dingin dari belakang. "Evelyn, siapa dia?"Aku menoleh dan menjawab, "Terapis rehabilitasiku."Kian mengangguk pada Levi. "Halo."Levi tidak menanggapinya. Matanya tertuju pada tangan Kian yang memegang tasku. "Apa seorang terapis perlu bantu kamu pegang tas?"Kian tersenyum. "Cuma sekalian."Levi menatapku. "Kamu biarkan seorang pria asing menyentuh barangmu dengan begitu saja?"Aku tiba-tiba merasa semua ini sangat absurd. Saat Lyra mengenakan gaun dan korsaseku, atau mengubah sumpahku, dia mengatakan aku berhati sempit jika aku berkomentar. Sekarang, Kian hanya memegang tasku. Namun, dia langsung mempermasalahkannya."Levi, kamu sudah terlalu banyak ikut campur."Wajahnya seketika menegang.Lyra berbicara dengan pelan, "Levi, ayo pergi. Sekarang, sudah ada yang temani Kak Eve."Levi m

  • Hujan Berhenti Sebelum Pernikahan   Bab 6

    Pada hari ketiga aku kembali ke rumah, Levi meneleponku untuk yang pertama kalinya. Aku tidak menjawab. Dia pun mengirim pesan.[ Kita tunda saja dulu pernikahannya. Setelah kamu kembali, kita baru diskusi lagi. ]Aku membalas.[ Nggak ada yang perlu didiskusikan lagi. ]Beberapa menit kemudian, dia mengirim balasan lagi.[ Evelyn, kamu harus tahu batas. ] Aku menatap empat kata itu dan tiba-tiba tertawa.Ibuku keluar dari dapur dengan membawa sup. Saat melihat ekspresiku, dia tidak menanyakan apa pun. Dia hanya meletakkan mangkuk itu di depanku. "Minumlah. Apa telingamu pernah sakit belakangan ini?"Aku menggeleng. "Nggak kok."Sebenarnya, keadaan telingaku sedang kurang baik. Saat ada perubahan emosi, telinga kananku akan terus berdengung.Dulu, Levi juga mengetahui hal ini dan akan memelankan suaranya.Belakangan ini, suasana di rumah sangat hening. Begitu hening hingga aku akhirnya bisa mendengar suara diriku sendiri.Sore harinya, aku pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemerik

  • Hujan Berhenti Sebelum Pernikahan   Bab 5

    Koordinator WO itu terdiam selama beberapa detik sebelum membalas.[ Bu Evelyn sudah yakin? ]Aku melihat permukaan payung putih yang mengintip dari kantong sampah."Ya." Setelah mengambil keputusan itu, aku tidak menangis, hanya membuka setiap kotak di ruang tamu.Aku harus mengembalikan suvenir, menyobek kartu meja, lalu menyimpan buku tamu ke laci paling bawah. Awalnya, aku juga berniat membuang album foto itu. Namun, jari-jariku berhenti bergerak ketika aku membuka halaman terakhir.Itu adalah foto yang diambil pada hari pertunangan kami. Levi berdiri di sebelah kananku dan sedang membungkuk untuk menyesuaikan alat bantu dengarku. Tatapannya di foto itu begitu lembut. Aku menatapnya selama beberapa detik, lalu menutup album itu.Terdengar suara kunci di pintu. Levi sudah kembali. Melihat kotak-kotak yang terbuka berserakan di lantai, ekspresinya berubah muram."Apa yang kamu lakukan?"Aku menutup kotak suvenir terakhir sambil menjawab, "Retur barang."Dia melangkah mendekat dengan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status