Share

014 || Panik

Author: Diva
last update publish date: 2026-10-07 22:27:35

“Hazel! Jangan dekati mereka!”

Mendengar teriakan ibunya, Hazel langsung menoleh. Tidak jauh dari sana, Ayunda terlihat berdiri dengan wajah pucat. Kedua tangannya ditahan oleh seorang pria yang berdiri di belakangnya. Wajah wanita itu tampak ketakutan, tetapi matanya tidak berhenti menatap Hazel.

“Ibu!”

Hazel hendak berlari menghampiri Ayunda, tetapi dua orang pria segera menghadang langkahnya. Hazel terpaksa berhenti. Ia menatap mereka dengan waspada, sementara Rodric berdiri dengan angkuh di
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • I Became the Billionaire's Fake Fiancée   017 || Kekasih Selena

    "Selena, sebelumnya aku minta ma—" "Duduk," potong Selena cepat. Dengan jantung berdegup kencang, Hazel berjalan menuju sofa di kamar Selena. Sedangkan gadis itu duduk di atas ranjang, sehingga posisi kami saling berhadapan dengan jarak satu meter. "Kau pergi kemana, Hazel?" Tatapan tajam Selena membuat Hazel kikuk. "Aku menjemput Ibu yang sedang bersama Rodric." "Kau tahu, Selena. Seberapa kejamnya Rodric, dan hari ini dia meminta uang pada Ibu. Tapi Ibu tidak memberinya, karena Ibu sudah memberikan semuanya pada Rodric beberapa hari yang lalu," lanjut Hazel menjelaskan pada Selena. "Ibu dicegat oleh beberapa preman, dan aku yang mendengar cerita Ibu lewat telepon langsung pergi ke sana." Hazel tampak kesusahan menceritakan itu pada Selena. Perasaan takut yang mendominasinya, membuat dirinya menjelaskan pada Selena dengan bertele-tele. "Aku benar-benar panik saat itu, sampai aku tidak mengingat Lucian," lanjutnya

  • I Became the Billionaire's Fake Fiancée   016 || Menolak?

    "Tidak bisa."Jawaban Lucian yang terdengar singkat membuat Hazel terdiam. Senyum tipis yang sebelumnya muncul di wajahnya perlahan menghilang. Dadanya terasa sesak, sementara pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan. Apakah Lucian marah kepadanya karena telah meninggalkannya selama berjam-jam? Atau mungkin pria itu mulai merasa ada sesuatu yang aneh dengan sikapnya?Hazel menggenggam ponselnya lebih erat. Ia hendak bertanya, tetapi Lucian lebih dahulu melanjutkan ucapannya."Aku tidak bisa bertemu denganmu besok. Aku harus pergi ke Luton untuk perjalanan bisnis. Ada beberapa urusan perusahaan yang harus kuselesaikan di sana."Hazel tertegun. Ia tidak menyangka penolakan itu sama sekali tidak berkaitan dengan dirinya. Rasa lega perlahan muncul, meskipun masih ada sedikit rasa bersalah yang tersisa di dalam hatinya."Oh ...." Hanya itu yang mampu Hazel ucapkan."Aku mungkin akan berada di Luton untuk sementara wakt

  • I Became the Billionaire's Fake Fiancée   015 || Penjelasan Hazel

    "Kalau begitu, kita harus segera pulang, Ibu."Hazel berdiri dan membantu Ayunda bangkit dari tempat duduknya. Keduanya segera meninggalkan minimarket dan berjalan ke pinggir jalan untuk mencari taksi. Hazel terus melihat ke arah jalan dengan gelisah. Pikirannya masih tertuju pada Lucian yang kemungkinan besar sudah menunggunya selama berjam-jam.Beberapa menit kemudian, sebuah taksi berhenti di hadapan mereka. Hazel segera membukakan pintu untuk Ayunda, lalu ikut masuk setelah memastikan ibunya duduk dengan nyaman."Antarkan kami ke alamat ini," ucap Hazel sambil menunjukkan alamat tempat tinggal mereka kepada sopir.Mobil mulai melaju. Hazel bersandar pada kursinya sambil menarik napas panjang. Ia kemudian kembali melihat ponselnya. Ada begitu banyak panggilan tidak terjawab dari Lucian. Bahkan beberapa pesan pria itu terus masuk.Hazel menggigit bibirnya. Ia tidak sanggup membayangkan bagaimana reaksi Selena jika mengetahui dirinya men

  • I Became the Billionaire's Fake Fiancée   014 || Panik

    “Hazel! Jangan dekati mereka!”Mendengar teriakan ibunya, Hazel langsung menoleh. Tidak jauh dari sana, Ayunda terlihat berdiri dengan wajah pucat. Kedua tangannya ditahan oleh seorang pria yang berdiri di belakangnya. Wajah wanita itu tampak ketakutan, tetapi matanya tidak berhenti menatap Hazel.“Ibu!”Hazel hendak berlari menghampiri Ayunda, tetapi dua orang pria segera menghadang langkahnya. Hazel terpaksa berhenti. Ia menatap mereka dengan waspada, sementara Rodric berdiri dengan angkuh di dekatnya.“Lepaskan ibuku!” bentak Hazel.Rodric terkekeh. “Kau bodoh atau bagaimana?”“Aku bilang, lepaskan dia!”Bukannya menjawab, Hazel justru berteriak lagi meminta orang-orang itu melepaskan Ayunda.Hazel mengepalkan tangannya. Ia ingin sekali menghampiri ibunya, tetapi jumlah mereka terlalu banyak, sementara dirinya hanya seorang diri.Ayunda menggeleng cepat. “Hazel, jangan melawan mereka. Pulanglah.”“Tidak, Ibu. Aku tidak akan meninggalkan Ibu di sini.”Rodric berjalan mendekat. “Kala

  • I Became the Billionaire's Fake Fiancée   013 || Rodric

    “Sekarang Ibu di mana? Biar Hazel jemput Ibu.”Di seberang sana, Ayunda tidak langsung menjawab. Sampai akhirnya Hazel mendengar suara bentakan seorang pria yang membuat tubuhnya seketika menegang.“Ibu, jawab Hazel. Ibu di mana? Ibu baik-baik saja, bukan?”Hazel kembali berbicara dengan bibir bergetar. Jantungnya berdegup kencang. Ia sangat panik. Bayangan tentang Rodric yang kembali menyakiti ibunya langsung memenuhi pikirannya.“Ha-Hazel, Ibu di Jalan Verdantia ....”“Ibu tunggu di sana. Aku tidak jauh dari tempat Ibu. Tolong tunggu sampai aku datang.”Setelah itu, panggilan terputus. Hazel dengan cepat menyimpan ponselnya dan berlari keluar dari tempat itu. Di dalam kepalanya, segala hal buruk tentang ibunya terus berputar.Ia bahkan tidak sempat memikirkan Lucian yang masih menunggunya di dalam akuarium. Saat ini, satu-satunya hal yang ada dalam pikirannya hanyalah Ayunda.Hazel terus berjalan cepat hingga akhirnya keluar dari gedung akuarium. Ia segera menghentikan taksi yang ke

  • I Became the Billionaire's Fake Fiancée   012 || Ayah?

    Hazel terdiam cukup lama. Pertanyaan Lucian membuat pikirannya bekerja keras. Ia sama sekali tidak tahu tempat apa yang selalu mereka datangi dahulu. Bahkan kenangan masa kecil Selena yang seharusnya sederhana terasa seperti teka-teki yang sulit ia pecahkan.Ia menatap ke dalam akuarium yang begitu luas. Berbagai jenis ikan terlihat berenang di balik dinding kaca, sementara cahaya kebiruan membuat suasana di dalam gedung terasa tenang. Hazel mencoba mengingat percakapan Selena sebelumnya, tetapi tidak ada satu pun petunjuk yang bisa membantunya. Selena tidak memberikan ingatan masa kecilnya dengan Lucian, bahkan kebiasaan kecil Lucian saja Selena tidak memberi tahu kepadanya.“Aku ....” Hazel menggigit bibirnya pelan. “Aku tidak tahu.”Lucian justru tertawa kecil. “Kau benar-benar lupa?”Hazel langsung menoleh. “Mungkin karena sudah terlalu lama.”Lucian mengangguk maklum. “Masuk akal. Kita terakhir kali datang ke sini bertahun-tahun lalu.”Hazel mengembuskan napas lega. Setidaknya Lu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status