Share

IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN
IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN
Author: my_ladyyy

BAB 1

Author: my_ladyyy
last update publish date: 2026-02-05 12:49:20

Bau antiseptik menyusup perlahan ke dalam kesadaran Rebecca, menusuk hidungnya bahkan sebelum matanya benar-benar terbuka. Cahaya putih rumah sakit terlalu terang, menekan kelopak matanya yang bengkak dan perih. Tubuhnya terasa berat, seperti baru saja ditarik kembali dari laut setelah nyaris tenggelam. Nyeri di perut bagian bawah masih terasa tajam, jahitan bekas operasi berdenyut setiap kali ia menarik napas.

Tetapi, di balik semua rasa itu, ada satu suar yang membuatnya bertahan. Tangisan kecil... tidak keras, tidak kuat, namun hidup.

Air mata Rebecca keluar tanpa ia sadar. Tenggorokannya tercekat, dadanya terasa penuh. "Jourell..." Namanya keluar pelan, seperti doa yang terlalu rapuh untuk diucapkan dengan suara lantang. Putranya, anak yang ia bawa selama sembilan bulan penuh kecemasan, ketakutan, dan doa yang tidak pernah putus.

Di samping ranjangnya, Elion berdiri kaku, kedua tangannya merengkuh bayi itu dengan hati-hati seolah makhluk kecil dalam pelukannya bisa hancur jika ia bernapas terlalu keras. Wajah pria itu pucat, matanya merah, rahangnya menegang menahan emosi yang belum sempat keluar.

"Aku takut meremukkan nya," gumam Elion nyaris berbisik. Rebecca memaksakan senyum. Bibirnya pucat, seluruh panca inderanya seperti mati rasa, namun suaranya tetap lembut. "Pegang dia lebih erat, El. Dia bukan kaca."

Elion menurut. Tangannya menyesuaikan posisi, dan untuk sesaat, bayi itu berhenti menangis. Jari-jari mungil Jourell bergerak tanpa arah, menyentuh udara, seperti sedang mencari sesuatu yang masih asing. Elion menunduk, napasnya tertahan. "Kau hebat," katanya pelan. "Aku melihatmu hampir kehilangan kesadaran... dan aku tidak bisa melakukan apa-apa."

Rebecca tidak menjawab. Ia tahu satu hal yang pasti: bertahan hidup bukan pilihan baginya. Itu adalah kewajiban. Ia sudah pernah kehilangan segalanya sekali dan sekarang ia takkan mengulanginya.

Ponsel di meja kecil dekat jendela bergetar. Elion meraih dan membaca pesan singkat. "Orang tuamu sudah di jalan," katanya. "Lima jam lagi." Rebecca mengangguk pelan, untuk sepersekian detik, ia merasa begitu aman, terlindungi. Dikelilingi cahaya, tenaga medis, dan orang-orang yang mencintainya. Ia tidak menyadari bahwa rasa aman yang sekarang memenuhi hatinya hanyalah ilusi.

---

Di luar rumah sakit, sebuah mobil hitam terparkir tanpa lampu. Mesinnya tetap menyala hampir tanpa suara. Di kursi belakang, Roberto duduk dengan punggung tegak, memakai jas rapi dan wajahnya dingin. Tatapannya tidak kelas dari gedung rumah sakit di seberang jalan. Ia sudah berada di sana sejak Rebecca dibawa masuk ke ruang bersalin. Tujuannya bukan menjenguk, tapi menunggu.

"Tim sudah siap," lapor Darwin dari kursi depan. "Pergantian perawat malam. Jadwal longgar. CCTV koridor mati tiga menit." Roberto mengangguk pelan. "Bayinya?"

Darwin memakai sabuk pengamannya, "Di ruang perawatan." sedangkan Roberto bersiap turun. "Bagus." tidak ada emosi di suaranya. "Anak itu tetap di sana." Darwin menoleh, keraguan merayap di punggungnya, "Dan Rebecca?" Roberto menatap lurus ke depan. "Bersamaku." jawabnya tanpa ragu, tanpa bantahan.

---

Rebecca baru saja selesai menyusui Jourell saat pintu diketuk. Seorang perawat masuk sambil tersenyum ramah. "Bu Rebecca, kami perlu membawa bayi Anda untuk pemeriksaan lanjutan." Elion reflek berdiri, "Aku ikut." perawat itu menoleh, "Maaf tuan. Prosedur rumah sakit-"

Rebecca mengangguk lemah, menyentuh lengan suaminya. "Tidak apa-apa. Istirahatlah.."

Elion mencium kening istrinya sebelum menyerahkan Jourell. Pintu tertutup bersama mereka berdua. Rebecca menghela napas panjang, menatap langit-langit putih. Badannya masih gemetar efek kelelahan.

Matanya mulai menutup, tak sadar bahwa dunia telah berubah. Sayup-sayup, langkah kaki terdengar berat, pelan, dan terlalu yakin. Wanita itu membuka mata, mengetahui gejolak aneh singgah sesaat di dadanya. Rebecca membuka mata.

Seorang pria berdiri di ambang pintu. Wajahnya terlalu familiar, terlalu menghantui. Napas Rebecca memburu, dadanya terasa menyempit dan jantungnya seakan menolak berdetak. "Roberto..."

Pria itu melangkah masuk dan menutup pintu perlahan. Bunyi klik kecil terdengar seperti vonis. "Apa yang kau lakukan di sini?" suara Rebecca bergetar. Ia mencoba duduk, namun tubuhnya menolak. Ranjang ini tiba-tiba terasa seperti penjara. "Kau ikut denganku," kata Roberto tenang.

"Keluar." Rebecca menggeleng panik. "Keluar sekarang." Roberto mendekat, terlalu dekat. Tatapannya dingin, kosong, tanpa rasa. "Kau tidak sedang bisa memberi perintah."

"Aku sudah menikah!"

Roberto menunduk, menyamakan posisinya dengan Rebecca. "Kau ibu dari anakku."

Rebecca mencoba mundur meski rasa perih itu datang. "Kau menceraikanku!"

"Aku tidak pernah melepaskanmu." tangannya meraih lengan Rebecca. Tidak kasar, tapi juga tidak lembut... tepat di batas yang membuatnya mustahil melawan. "Jourell-" suaranya pecah. "Bukan urusanku."

Rebecca menjerit, tapi suara itu teredam dengan tangan Roberto. Dunia terasa berputar, cahaya lampu, pintu, dan lorong mendadak gelap.

Dalam hitungan detik, kamar itu kosong.

---

Perawat kembali 10 menit kemudian, teriakannya lolos begitu melihat kamar itu kosong. Reaksinya membuat Jourell yang tidur, dipaksa bangun hingga menangis kencang. "Ibu Rebecca?!" perawat wanita itu panik, ia meletakkan Jourell yang masih menangis di boks bayi, setelah itu membuka kamar mandi. Tapi ada bekas noda darah yang tertinggal di ranjang tapi hilang saat di lantai.

Elion kembali dan langsung berlari begitu mendengar tangisan anaknya. Ia menghampiri perawat yang menangis pelan, menimbulkan kegaduhan koridor. "Di mana istriku?!" perawat itu menggeleng, ia menunjuk ranjang. "Pak Elion... saat saya kembali, ranjang ibu Rebecca sudah kosong, bahkan ada bekas darah di sana." jawabnya takut. Elion memeriksa sendiri, ada jejak merah yang terseret di lantai granit, seolah-olah Rebecca dipaksa pergi sebelum tubuhnya benar-benar mampu menumpu beratnya sendiri. Ia juga membuka jendela kamar dan menemukan siluet mobil yang menghilang. "Rebecca!" teriaknya akhirnya, tapi apa daya semua sudah terlambat. Elion merasa dunianya runtuh dalam satu kedipan mata. Aroma Rebecca masih tertinggal di bantal, tapi pemiliknya telah lenyap ditelan kegelapan malam. Pria itu segera menelepon seseorang seperti baru saja kehilangan kewarasannya.

---

Di dalam mobil, Rebecca terbaring lemah. Napasnya tersengal, air mata mengalir tanpa suara. Roberto duduk di sampingnya, menggenggam tangannya terlalu erat. "Kau akan pulang," katanya. Rebecca menatapnya dengan kebencian. "Ke neraka."

Roberto tersenyum tipis. "Itu rumahku."

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 86

    London belum sepenuhnya bangun saat Darwin sudah berada di dalam sebuah ruangan kecil yang dipenuhi layar monitor. Ruangan yang terletak di salah satu properti milik keluarga Serphent ini difungsikan sebagai pusat pengawasan dan koordinasi keamanan. Lampu utama sengaja dimatikan, menyisakan pancaran cahaya kebiruan dari deretan monitor yang menerangi wajah Darwin yang terlihat dingin dan serius.Di hadapannya, rekaman dari beberapa kamera pengawas terpampang sekaligus dalam beberapa sudut layar. Jalan layang, persimpangan utama, pintu keluar kawasan industri—semuanya berada dalam radius beberapa kilometer dari lokasi kecelakaan Elion. Darwin bersandar di kursinya sambil mengetuk meja pelan."Putar ulang. Mundurkan rekamannya beberapa menit."Operator di sampingnya sigap menekan tombol, rekaman kembali berjalan. SUV hitam milik Elion muncul dari kejauhan. Penanda waktu di sudut layar menunjukkan beberapa menit sebelum benturan terjadi. Darwin memperhatikan kendaraan tersebut tanpa berk

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 85

    Hari berikutnya datang tanpa perubahan berarti, London masih diselimuti langit kelabu. Sisa hujan malam sebelumnya meninggalkan titik-titik air di kaca jendela townhouse, sementara udara dingin masuk melalui celah-celah balkon yang belum tertutup sempurna. Townhouse yang selama dua hari terakhir dipenuhi manusia kini terasa jauh lebih lengang. Bunga-bunga duka masih memenuhi beberapa sudut ruangan, namun suara percakapan yang sebelumnya bersahut-sahutan sudah menghilang, menyisakan keluarga dekat, beberapa pelayan dan keheningan yang terasa jauh lebih berat daripada keramaian. Di lantai atas, Christopher baru saja menyelesaikan pemeriksaan Rebecca. Wanita itu terlihat berbaring di tempat tidur dengan wajah pucat. Setelah dibujuk cukup lama, ia akhirnya menghabiskan beberapa suap bubur dan meminum obat yang diberikan Christopher. Tidak banyak, tetapi setidaknya cukup untuk membuat tubuhnya bertahan. "Untuk sementara kondisinya masih stabil," ujar Christopher ketika berdiri di amban

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 84

    Pagi berikutnya menyongsong dengan sisa-sisa embun dingin yang melekat di kaca jendela. Pintu kamar utama terdorong pelan. Henry memasuki membawa nampan berisi segelas susu hangat dan bubur gandum. Di atas ranjang, Rebecca sudah terbangun, duduk membisu menatap lantai dengan tatapan hampa. Henry meletakkan nampan itu di atas meja nakas, lalu duduk di tepi tempat tidur. Dengan lembut, pria itu merengkuh jemari dingin putrinya. "Makan sedikit ya, Nak? Demi ibu, demi Jourell..." bisik Henry lembut. Rebecca mendongak, air mata yang mengering di pipinya kembali menetes tipis. "Ayah..." Suaranya serak dan parau. "Bagaimana kalau... bagaimana kalau aku ini benar-benar menantu yang gagal?" Henry tertegun, menatap putrinya dalam-dalam, seolah ingin memastikan ia masih sanggup bertahan. "Aku tidak bisa membuat Elion bertahan," bisik Rebecca, napasnya bergetar menahan sesak yang kembali menghantam. "Aku takut Ayah Arthur dan Ibu Beatrice membenciku. Aku takut mereka menganggapku penyebab El

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 83

    Malam menyelimuti townhouse dengan kesunyian yang mencekik. Di kamar utama, lampu meja dinyalakan redup, memancarkan pendar kuning yang samar. Di atas tempat tidur berukuran king-size, Rebecca duduk bersandar pada tumpukan bantal. Wajahnya pucat pasi, matanya sembap dan hampa, menatap lurus ke arah pintu kamar yang sedikit terbuka. Di atas meja nakas, mangkuk sup bening yang dibawakan pelayan satu jam lalu sudah dingin tanpa tersentuh sedikit pun, Rebecca bahkan menolak memasukkan satu sendok pun makanan ke dalam mulutnya. Setiap kali aroma masakan tercium, perutnya mual—seolah-olah seluruh tubuhnya ikut menolak kenyataan bahwa Elion telah tertimbun tanah. Setiap mendengar langkah kaki di koridor luar, mata Rebecca akan berbinar singkat. Jantungnya berdegup kencang, mengharapkan keajaiban yang dapat membalikkan kenyataan pahit yang telah dijelaskan Christopher tadi siang. Bagaimana jika itu Elion? Bagaimana jika dia hanya terlambat pulang? Tetapi yang muncul di ambang pintu

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 82

    Bab 82Pintu utama townhouse kembali terdorong lebar. Christopher masuk dengan langkah cepat dan cekatan membawa tas medis. Bahkan jas dokternya masih terkancing rapat, pria itu baru saja menerima panggilan dari Roberto beberapa menit lalu dan langsung meninggalkan rumah sakit."Di mana Nyonya Rebecca?" tanya Christopher sigap."Di sini," sahut Margareth seraya memberi ruang. Christopher segera berlutut di samping sofa. Dengan cermat, ia memeriksa respons pupil, denyut nadi, serta irama pernapasan Rebecca.Tak lama, ia meminta salah seorang pelayan mengambil tensimetermedis. "Tekanan darahnya drop cukup drastis, namun masih dalam ambang batas aman untuk kita pantau di rumah," ujar Christopher usai melakukan pemeriksaan singkat. "Ia mengalami kelelahan fisik dan mental yang amat berat."Roberto berdiri tegap di samping sofa, menyilangkan tangannya di dada. "Ia pingsan tepat setelah mawar pertama dijatuhkan ke peti Elion." Christopher terdiam sejenak, matanya menatap wajah pucat Rebecc

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 81

    Waktu terus berputar tanpa ampun. Tepat pukul sebelas siang, sirine dan rombongan pengawal pemakaman mulai bersiap di halaman depan. Waktunya telah tiba untuk mengantarkan Elion Hale ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Guncangan emosi di rumah duka mendadak memuncak ketika peti mulai diusung keluar.Richard yang sejak tadi menempel pada Roberto tiba-tiba mulai rewel. Saat Roberto mencoba menyerahkan bocah itu kepada Emma agar ia bisa memimpin barisan pengusung peti dan mengondisikan iring-iringan, Richard memekik histeris. Jemari mungilnya mencengkeram erat jas Roberto."Tidak mau! Mau sama Daddy! Jangan pergi, Daddy!" jerit Richard, tangisnya memenuhi teras.Bocah itu belum paham apa yang terjadi, tetapi instingnya merasakan kepanikan yang luar biasa dari orang-orang di sekitarnya. Roberto mengatupkan rahangnya rapat-rapat, terjepit di antara kewajibannya memimpin prosesi dan keharusan menenangkan putranya.Margareth Serphent dengan anggun melangkah maju."Biar ibu yang mendam

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 3

    London di pagi buta selalu terasa mencekam, namun hal itu tidak berlaku bagi Henry dan Eleanor Foster. Kabut yang menyelimuti area Paddington pagi itu terasa seperti pelukan hangat. Mereka turun dari taksi hitam, membawa tas kain berisi pakaian bayi dan termos sup ayam yang masih mengepul."Pelan-p

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 6

    Luka bekas operasi itu hampir mengering, tapi rasa nyeri di bagian dalam tak bisa Rebecca tahan hingga membuatnya selalu menangis dalam diam, membiarkan rasa nyeri itu menggerogoti dirinya.Tapi yang jauh lebih menyakitkan lagi adalah rasa sesak di dadanya. Air susu yang terus berproduksi namun tid

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 5

    Keheningan yang tercipta setelah jawaban Richard seolah membekukan oksigen di ruang tamu utama. Margareth Serphent menyipitkan mata, tatapannya yang tajam bak belati kini hanya fokus tertuju pada wajah polos sang cucu. Ia bukanlah tipe wanita yang dengan mudahnya percaya pada dongeng, apalagi jika

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 4

    Cahaya matahari sore London yang pucat menembus jendela berlapis baja di kamar utama mansion Victoria. Rebecca masih terbaring lemah, matanya menatap hampa ke langit-langit kamar yang berhias ukiran rumit. Rasa nyeri di perutnya kini mulai tertutupi dengan rasa kaku dan panas dari dadanya yang kian

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status