Share

ISTRI 365 HARI
ISTRI 365 HARI
Author: Casanova

BAB 1

Author: Casanova
last update publish date: 2026-09-11 07:57:48

“Bagaimana ini?” Tera menggigit bibir.  “Kata Mami kalau sudah jadi istri harus bisa melayani suami dan semua di mulai dari malam ini.” 

Pengantin wanita itu tampak gugup. Duduk menunggu di tepi ranjang, jantungnya dag dig dug. Jemari saling meremas, dia terus menunduk. Keberaniannya terkikis setiap mengingat akan terkurung bersama Suma dalam kamar pengantin sepanjang malam.

“Aku harus bagaimana?” Tera bergidik membayangkan laki-laki tampan pemilik cinta pertamanya yang telah resmi menjadi suami beberapa jam lalu.

Entah mimpi apa, Suma yang dulu cuek dan tak pernah menganggap keberadaannya tiba-tiba melamar sebulan lalu. Tanpa ragu, dia mengangguk setuju saat pria itu mengajak bertemu. Akal sehat hilang, dia dibuat mabuk kepayang. Segala nasihat orang tua ditentang demi bisa bersanding dengan pria yang disayang.

“Aku takut.” 

Suara gagang pintu menyeret Tera kembali ke dunia nyata. Lamunan berantakan, kegugupan pun menyerang dalam waktu bersamaan. Suaminya muncul, melangkah masuk dengan gagah masih dalam setelan jas pengantin hitam.

“Su ... ma ....” 

Tera terbata-bata. Diamatinya pria yang tengah melempar jas dengan kasar ke arah sofa. Ketakutan menyerang wanita muda itu ketika melihat Suma kembali melepas vest lalu membuang ke lantai begitu saja.

“Di ... dia kenapa? Perasaanku mendadak tidak enak.” Tera mengintai pergerakan Suma yang kasar dan terkesan marah. “Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia mendadak berubah?” bisik pengantin wanita itu sembari menahan crown di pucuk kepalanya agar tak terjatuh.

“Kenapa tidak diganti gaunnya?” Suara berat Suma terdengar penuh penekanan.

“Hah!” Tera mengangkat kepala. Tak sengaja, tatapannya bertemu dengan sepasang mata merah sang suami.

“Kenapa gaun memuakkan itu masih saja dikenakan? Ah, aku lupa. Baru hari ini kamu terlihat seperti wanita. Setidaknya dari kacamataku.” Suma menyindir. Kali ini disertai dengan dengkusan kesal. Berjalan menuju ke arah koper yang teronggok di sudut kamar, mimik wajah seperti menahan amarah.

“A ... ada apa?” 

Tera memberanikan diri bertanya. Dia bingung mendapati perubahan drastis suaminya. Suma berpamitan sesaat sebelum masuk ke kamar pengantin setelah resepsi pernikahan yang digelar di ballroom hotel. Tak lama berselang pria itu kembali dengan sikap dingin. Tidak ada senyuman seperti saat di resepsi, juga tak ada keramahan seperti saat janji suci.

“Ada apa?” Tera menatap pria yang sudah membongkar koper dan terlihat mencari sesuatu.

“Bisakah jangan bertanya terus, Tera? Aku muak!” 

Tera semakin terkejut. Suma yang sebulan belakangan dekat dengannya itu mendadak berubah. Biasanya ramah, kini jadi pemarah. 

“Kamu kenapa?” 

Tera menarik kedua sisi gaun pengantin yang masih melekat di tubuh lalu menyeret kakinya mendekati Suma untuk mencari tahu. Entah apa yang dicari suaminya sampai mengacak-acak isi koper.

“Ah! Akhirnya ....” 

Ada nada bahagia di dalam ungkapan Suma. Buru-buru berdiri, dia terkejut dengan kehadiran Tera yang sudah berada di balik punggungnya. 

“Acara pernikahan sudah selesai. Pemberkatan, resepsi dan sekarang ... kita harus menutupnya dengan sebuah kesepakatan hitam di atas putih.” 

Suma berjalan menuju ke ranjang pengantin berselimut seprai putih dengan hamparan kelopak mawar merah membentuk hati. Dua buah selimut putih dilipat menyerupai angsa yang hendak berciuman.

Tera tercengang. Dipindainya pergerakan Suma yang sudah membuka map di tangan lalu melempar kasar ke atas ranjang.

“Sini, Ra. Tanda tangani kesepakatan kita.” Pinta Suma menyerupai perintah dan tak memberi ruang untuk lawan bicaranya membantah.

“Ada apa?” Tera mendekat. Berdiri di samping suaminya, dia menatap selembar kertas dengan barisan kata terangkai rapi di sana. “Apa maksud semua ini?”

“Baca dan tanda tangani, Ra. Semua harus jelas.” Suma berkacak pinggang.

“Jelas?” Tera bingung.

Suma mengangguk-angguk. “Ambil dan baca, Ra. Setelah itu tanda tangani kesepakatan kita. Aku tidak akan merugikanmu. Di dalamnya jelas ada poin-poin yang mengatur banyak hal dalam pernikahan kita.”

Tera ternganga. Butuh waktu untuknya mencerna ucapan Suma sebelum akhirnya meraih secarik kertas yang terus-menerus ditunjuk Suma. Dibaca sekilas, tubuh pun bergetar hebat.

“Apa maksud semua ini? Nikah kontrak?” tanya Tera, memastikan.

Suma mengangguk. “Seperti yang tertulis di sana. Kita menikah selama setahun. Setelah itu ... aku atau kamu harus mengajukan gugatan perceraian.”

Kepala Tera mendadak pusing. Dia kehabisan kata untuk mengungkapkan keterkejutannya. Suma dengan segala misteri sudah membuat jantungnya nyaris berhenti.

“Aku jamin tidak akan merugikanmu, Ra. Oleh karena itu, tidak akan pernah ada kontak fisik selama pernikahan kita. Aku harap kamu mau bekerja sama, Ra. Aku mengenalmu sejak kecil. Kita tumbuh bersama. Jadi ....”

“Karena kita teman sejak kecil, jadi kamu pikir bisa seenak-enaknya bersikap?” Tera membelalak.

“Kamu gadis baik, Ra. Sayangnya, bukan tipeku. Aku sudah mencintai ....” 

Ucapan Suma terpotong oleh suara ketukan pintu. Serempak, pasangan pengantin baru itu menatap ke titik yang sama.

“Tunggu, aku lihat dulu siapa yang bertamu.” Suma menjeda obrolannya lalu berjalan menuju ke pintu. Wajah tegangnya mencair saat mendapati siapa yang telah mengusik malam pertamanya dan Tera.

“Aku tidak bisa percaya padanya begitu saja, Beb. “ 

Suma mencelang.

“Aku tidak yakin padanya. Bisa saja dia merayumu malam ini dan kalian ....” 

Wanita cantik yang mengenakan gaun hitam seksi itu menggeleng. Melangkah masuk ke kamar dengan gemulai, tubuhnya yang sintal berlenggak-lenggok bak model kelas dunia sedang berjalan di atas catwalk.

“Hai, Tera. Kamu masih ingat aku, ‘kan?” Kerling mata menggoda, senyuman sosok feminin itu terkesan mencibir.

“Kamu?” Tera berkedip cepat. Diamatinya wanita cantik yang sudah lancang masuk ke dalam kamar pengantinnya dan Suma.

“Ya. Ini aku. Mana kacamata tebalmu?  Kamu tidak cocok dengan softlens abu-abu itu. Seperti bukan kamu saja, Mahana Terrania Adira Wijaya.” 

Suara tawa wanita itu menggema. Berjalan mendekati Suma, dia memeluk pinggang pria tampan yang juga ikut tertawa mendengar ejekan yang baru saja dilontarkannya.

“Benar, ‘kan? Wanita cupu! Selamanya kamu akan jadi itik buruk rupa. Sudah pas. Penampilan kampungan, tampang pun pas-pasan. Jangan bermimpi bersanding dengan Suma. Dia menyukai wanita masa kini dengan bodi gitar Spanyol tanpa dawai. Yang bisa masuk ke dalam pergaulannya, bisa melebur dengan lingkungannya.  Bukan ... culun ... ooops!” Berpura-pura menutup mulut, wanita itu tergelak hebat sembari mengeratkan pelukannya di pinggang Suma.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ISTRI 365 HARI   BAB 7B

    Ayo, kita bicara ke depan.” Jejak luka di wajah Tera terbaca Britania. Gadis cantik itu merengkuh lengan lawan bicaranya tanpa permisi lalu menuntun ke arah taman yang sore itu dipenuhi anak-anak dan para penghuni apartemen. Jantung Tera berdetak dua kali lebih kencang. Kaki melangkah mengikuti Britania, tetapi pikirannya menerawang jauh. Entah alasan apa yang akan diberikan. Tidak mungkin berterus-terang. Akan tetapi, dia juga takbisa memberi alasan yang masuk akal pada gadis muda berstatus mahasiswi universitas ternama tersebut. Duduk di bangku taman, dua wanita muda itu saling berhadapan. Sore yang indah, suara anak-anak riuh rendah. Kilau keemasan meneduhkan dari sudut barat cakrawala. “Kak Tera bertengkar dengan Kak Suma?” tanya Britania, penasaran. Selain sepupu Suma, mereka juga bertetangga. “Kamu ke sini dengan siapa, Bri?” Tera mengalihkan topik pembicaraan. Tak mau pembahasan mengenai hubungannya dan Suma terus berlanjut. “Jangan mengalihkan pembicaraan. Apa yang terja

  • ISTRI 365 HARI   BAB 7A

    Duduk menatap dua lembar tiket, Tera berulang kali menarik turun kaus Suma yang kebesaran di tubuhnya. Duduk di sisi kanan sofa, dia sengaja menghindari pria yang mengisi ruang kosong di sebelah kiri kursi empuk tersebut. Dia risi berpenampilan seksi meski suami sendiri. “Aku dan Inggit akan ke Bali selama seminggu.” Suma menegaskan. “Hah!” Tera membeliak. Tak lama, rona kekagetan itu berubah jadi kesedihan. Sepasang kekasih liburan berdua, pasti banyak hal terjadi. Pemandangan dia yang harus terusir dari kamar di malam pertama kembali berputar ulang. Sedih? Sudah pasti. Kecewa? Jangan ditanya. Tidak ada seorang istri pun di muka bumi ini akan baik-baik saja diperlakukan seperti ini. Jari-jari Tera saling menjalin di atas pangkuan. Digigitnya bibir kencang-kencang untuk mengempas kecewa yang terus berdatangan dari segala arah. Dikira, menikah itu indah seperti di sinema-sinema. Ternyata, jauh dari harapannya. Suami yang harusnya menjaga dan melindungi, bertanggung jawab untuk m

  • ISTRI 365 HARI   BAB 6

    Suma masuk lebih dulu, Tera menyusul di belakang dengan kepala tertunduk. Takut, ragu, dan canggung membaur jadi satu. Kamar mandi yang tidak terlalu luas itu makin terasa sesak.Berhenti melangkah di depan meja wastafel, Suma menggerutu kesal saat punggungnya ditabrak seseorang. Benturan tak terhindarkan, suasana tambah tak mengenakkan. “Apa-apaan, sih, Ra?” omel Suma. Berbalik, tangannya bertekuk di pinggang. Sepasang matanya bak bola api yang berkilat-kilat.“Ma ... af, Sum. Kamu berhenti mendadak.” Tera menjawab ragu-ragu.“Kenapa ikut-ikutan?” tanya Suma, membentak. “Aku mau mandi. Kenapa ikut masuk ke dalam?” tanyanya dengan nada meninggi.Belum menjawab, suara ketukan di pintu mengejutkan keduanya. Suara cempreng Mama Caca mengingatkan pasangan pengantin baru tersebut.“Jangan lama-lama mandinya. Nanti sarapan keburu dingin.” Suma dan Tera saling bertukar pandang.“Kalau mau dilanjutkan, nanti malam saja. Anggap pemanasan dulu, biar memancing penasaran.” Suara Mama Caca seper

  • ISTRI 365 HARI   BAB 5

    “Bulan madu?” Suma terkejut melihat dua tiket pesawat yang disodorkan mamanya di atas meja. Beralih menatap Tera, wajahnya tampak datar.“Ya. Mama dan Mama Nay sepakat menghadiahkan tiket bulan madu ke Bali. Ya, anggap saja hadiah pernikahan dari kami.” Mama Caca tersenyum bahagia. Melirik besan yang duduk di sebelahnya, wajah wanita paruh baya itu berbinar bahagia.“Untuk apa?” Suma bingung.Mama Caca dan Mama Nayala saling bertukar pandang. Tak lama, keduanya berseru dengan kompak.“Untuk pengantin baru.” “Tapi, Ma. Ini berlebihan.” Pria muda itu mulai melancarkan keberatannya. Dia akan menggunakan alasan apa saja untuk bisa menolak rencana kedua wanita di hadapannya.“Ish!” Mama Caca merengut. “Berlebihan bagaimana? Kecuali aku memberimu tiket ke bulan atau ke kutub utara, baru bisa dikatakan berlebihan. Ini hanya ke Bali, Nak. B … a … l ... i. Pejam mata sekejap, melek sudah mendarat di Ngurah Rai.”Suma menyenggol lengan Tera yang sejak tadi diam. Berharap, wanita muda itu mau

  • ISTRI 365 HARI   BAB 4

    Tanpa kacamata, pandangan Tera mengabur. Akan tetapi, dia masih bisa mengenali di mana keberadaannya kini. Jemari yang terus digenggam erat oleh Suma mampu mengaburkan sedikit kecewa karena perlakuan kasar pria itu semalam.Berdiri di dalam ruangan yang harusnya menjadi kamar pengantin mereka, Tera memicingkan mata saat mendapati sosok di atas ranjang dan tengah bergelung di dalam gulungan selimut. Dia tersentak ketika genggaman pada jemarinya terurai. Sang suami sudah melangkah mendekati ranjang dengan langkah cepat dan lebar-lebar.“Sweetheart!”Sapa yang semalam terdengar lembut, tiba-tiba pagi ini terdengar kasar. Suma mengguncang pelan tubuh Inggit yang masih terlelap di atas ranjang. Ya, setidaknya itu yang tampak oleh penglihatan tanpa kacamata.“Inggit! Bangun! Kenapa tidurmu mengalahkan kerbau!” umpat Suma, kesal. Di saat genting, sang kekasih malah sulit diajak kompromi.Umpatan Suma memantik senyuman Tera. Diam-diam, dia merasa kekecewaannya semalam terbalaskan. Perempuan y

  • ISTRI 365 HARI   BAB 3

    “Nah, begitu ‘kan manis.” Inggit tersenyum lega ketika Tera akhirnya setuju menandatangani kesepakatan tanpa banyak protes. “Setidaknya, kalau tidak good looking, harusnya smart thinking. Kalau begini ‘kan sama-sama enak.”Tera hancur. Hatinya menjerit pilu ketika menyetujui kesepakatan yang disodorkan untuknya. Namun, dia tak berdaya. Suma dan Inggit membuatnya kehilangan semua dalam sekejap. “Sudah tanda tangan di atas materai, urusan selesai. Kamu boleh keluar. Aku dan Suma sudah menyiapkan kamar untukmu di sebelah. Kami bukan orang jahat. Tidak akan menelantarkanmu kalau memang bisa diajak bekerja sama.”Pandangan Inggit mengedar, mencari sesuatu. Dia tersenyum mendapati koper merah teronggok di dekat koper hitam Suma yang sudah terbuka dan isi terburai berantakan.“Ah, di sini.” Inggit buru-buru menyambar koper tersebut dan menyerahkannya pada Tera. “Oh ya, ini cardlock kamar sebelah. Selamat malam, Tera.” Didorongnya pelan koper tersebut dan membiarkan wadah penyimpanan pakaia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status