LOGIN
“Bagaimana ini?” Tera menggigit bibir. “Kata Mami kalau sudah jadi istri harus bisa melayani suami dan semua di mulai dari malam ini.”
Pengantin wanita itu tampak gugup. Duduk menunggu di tepi ranjang, jantungnya dag dig dug. Jemari saling meremas, dia terus menunduk. Keberaniannya terkikis setiap mengingat akan terkurung bersama Suma dalam kamar pengantin sepanjang malam. “Aku harus bagaimana?” Tera bergidik membayangkan laki-laki tampan pemilik cinta pertamanya yang telah resmi menjadi suami beberapa jam lalu. Entah mimpi apa, Suma yang dulu cuek dan tak pernah menganggap keberadaannya tiba-tiba melamar sebulan lalu. Tanpa ragu, dia mengangguk setuju saat pria itu mengajak bertemu. Akal sehat hilang, dia dibuat mabuk kepayang. Segala nasihat orang tua ditentang demi bisa bersanding dengan pria yang disayang. “Aku takut.” Suara gagang pintu menyeret Tera kembali ke dunia nyata. Lamunan berantakan, kegugupan pun menyerang dalam waktu bersamaan. Suaminya muncul, melangkah masuk dengan gagah masih dalam setelan jas pengantin hitam. “Su ... ma ....” Tera terbata-bata. Diamatinya pria yang tengah melempar jas dengan kasar ke arah sofa. Ketakutan menyerang wanita muda itu ketika melihat Suma kembali melepas vest lalu membuang ke lantai begitu saja. “Di ... dia kenapa? Perasaanku mendadak tidak enak.” Tera mengintai pergerakan Suma yang kasar dan terkesan marah. “Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia mendadak berubah?” bisik pengantin wanita itu sembari menahan crown di pucuk kepalanya agar tak terjatuh. “Kenapa tidak diganti gaunnya?” Suara berat Suma terdengar penuh penekanan. “Hah!” Tera mengangkat kepala. Tak sengaja, tatapannya bertemu dengan sepasang mata merah sang suami. “Kenapa gaun memuakkan itu masih saja dikenakan? Ah, aku lupa. Baru hari ini kamu terlihat seperti wanita. Setidaknya dari kacamataku.” Suma menyindir. Kali ini disertai dengan dengkusan kesal. Berjalan menuju ke arah koper yang teronggok di sudut kamar, mimik wajah seperti menahan amarah. “A ... ada apa?” Tera memberanikan diri bertanya. Dia bingung mendapati perubahan drastis suaminya. Suma berpamitan sesaat sebelum masuk ke kamar pengantin setelah resepsi pernikahan yang digelar di ballroom hotel. Tak lama berselang pria itu kembali dengan sikap dingin. Tidak ada senyuman seperti saat di resepsi, juga tak ada keramahan seperti saat janji suci. “Ada apa?” Tera menatap pria yang sudah membongkar koper dan terlihat mencari sesuatu. “Bisakah jangan bertanya terus, Tera? Aku muak!” Tera semakin terkejut. Suma yang sebulan belakangan dekat dengannya itu mendadak berubah. Biasanya ramah, kini jadi pemarah. “Kamu kenapa?” Tera menarik kedua sisi gaun pengantin yang masih melekat di tubuh lalu menyeret kakinya mendekati Suma untuk mencari tahu. Entah apa yang dicari suaminya sampai mengacak-acak isi koper. “Ah! Akhirnya ....” Ada nada bahagia di dalam ungkapan Suma. Buru-buru berdiri, dia terkejut dengan kehadiran Tera yang sudah berada di balik punggungnya. “Acara pernikahan sudah selesai. Pemberkatan, resepsi dan sekarang ... kita harus menutupnya dengan sebuah kesepakatan hitam di atas putih.” Suma berjalan menuju ke ranjang pengantin berselimut seprai putih dengan hamparan kelopak mawar merah membentuk hati. Dua buah selimut putih dilipat menyerupai angsa yang hendak berciuman. Tera tercengang. Dipindainya pergerakan Suma yang sudah membuka map di tangan lalu melempar kasar ke atas ranjang. “Sini, Ra. Tanda tangani kesepakatan kita.” Pinta Suma menyerupai perintah dan tak memberi ruang untuk lawan bicaranya membantah. “Ada apa?” Tera mendekat. Berdiri di samping suaminya, dia menatap selembar kertas dengan barisan kata terangkai rapi di sana. “Apa maksud semua ini?” “Baca dan tanda tangani, Ra. Semua harus jelas.” Suma berkacak pinggang. “Jelas?” Tera bingung. Suma mengangguk-angguk. “Ambil dan baca, Ra. Setelah itu tanda tangani kesepakatan kita. Aku tidak akan merugikanmu. Di dalamnya jelas ada poin-poin yang mengatur banyak hal dalam pernikahan kita.” Tera ternganga. Butuh waktu untuknya mencerna ucapan Suma sebelum akhirnya meraih secarik kertas yang terus-menerus ditunjuk Suma. Dibaca sekilas, tubuh pun bergetar hebat. “Apa maksud semua ini? Nikah kontrak?” tanya Tera, memastikan. Suma mengangguk. “Seperti yang tertulis di sana. Kita menikah selama setahun. Setelah itu ... aku atau kamu harus mengajukan gugatan perceraian.” Kepala Tera mendadak pusing. Dia kehabisan kata untuk mengungkapkan keterkejutannya. Suma dengan segala misteri sudah membuat jantungnya nyaris berhenti. “Aku jamin tidak akan merugikanmu, Ra. Oleh karena itu, tidak akan pernah ada kontak fisik selama pernikahan kita. Aku harap kamu mau bekerja sama, Ra. Aku mengenalmu sejak kecil. Kita tumbuh bersama. Jadi ....” “Karena kita teman sejak kecil, jadi kamu pikir bisa seenak-enaknya bersikap?” Tera membelalak. “Kamu gadis baik, Ra. Sayangnya, bukan tipeku. Aku sudah mencintai ....” Ucapan Suma terpotong oleh suara ketukan pintu. Serempak, pasangan pengantin baru itu menatap ke titik yang sama. “Tunggu, aku lihat dulu siapa yang bertamu.” Suma menjeda obrolannya lalu berjalan menuju ke pintu. Wajah tegangnya mencair saat mendapati siapa yang telah mengusik malam pertamanya dan Tera. “Aku tidak bisa percaya padanya begitu saja, Beb. “ Suma mencelang. “Aku tidak yakin padanya. Bisa saja dia merayumu malam ini dan kalian ....” Wanita cantik yang mengenakan gaun hitam seksi itu menggeleng. Melangkah masuk ke kamar dengan gemulai, tubuhnya yang sintal berlenggak-lenggok bak model kelas dunia sedang berjalan di atas catwalk. “Hai, Tera. Kamu masih ingat aku, ‘kan?” Kerling mata menggoda, senyuman sosok feminin itu terkesan mencibir. “Kamu?” Tera berkedip cepat. Diamatinya wanita cantik yang sudah lancang masuk ke dalam kamar pengantinnya dan Suma. “Ya. Ini aku. Mana kacamata tebalmu? Kamu tidak cocok dengan softlens abu-abu itu. Seperti bukan kamu saja, Mahana Terrania Adira Wijaya.” Suara tawa wanita itu menggema. Berjalan mendekati Suma, dia memeluk pinggang pria tampan yang juga ikut tertawa mendengar ejekan yang baru saja dilontarkannya. “Benar, ‘kan? Wanita cupu! Selamanya kamu akan jadi itik buruk rupa. Sudah pas. Penampilan kampungan, tampang pun pas-pasan. Jangan bermimpi bersanding dengan Suma. Dia menyukai wanita masa kini dengan bodi gitar Spanyol tanpa dawai. Yang bisa masuk ke dalam pergaulannya, bisa melebur dengan lingkungannya. Bukan ... culun ... ooops!” Berpura-pura menutup mulut, wanita itu tergelak hebat sembari mengeratkan pelukannya di pinggang Suma.“Ini semua karenamu, Nggit!” tuduh Suma, mengalihkan pembicaraan.Inggit mencelang. Belum hilang sakitnya cekalan di pergelangan, kini kekasihnya kembali melontarkan tuduhan yang membuat hati terasa seperti dicincang.“Beb!” Sapaan sayang itu diucapkan dengan setengah berteriak dan membentak. Kesabaran Inggit yang tinggal segaris tipis hampir habis. Dipindainya laki-laki gagah yang tengah membuang muka. Tak lagi mau memandangnya dengan sorot penuh damba.Tatapan Suma tak seteduh dulu, kata-kata pun tak lagi menenteramkan jiwa. Mata elang pria itu menciptakan jarak yang akhir-akhir terasa begitu jauh jadi makin tak tersentuh. Semua berubah sejak pernikahan itu ada. Di dalam hidup sang kekasih tak hanya ada namanya, tetapi juga terukir sebaris aksara bertuliskan Tera.“Kalau kamu bisa sedikit lebih sabar, tentunya tidak akan membuat semuanya kacau. Harusnya rencana kita sempurna. Setelah kontrak selesai, aku bercerai dan kita tinggal datang pada orang tuaku memohon restu. Aku yang seor
“Tidak perlu minta Suma memilih. Putriku dan dirimu itu beda kelas. Jadi, jelas bukan sesuatu yang bisa disandingkan bersama.” Papa Mahaka menegaskan. Kehadiran Inggit memancing amarahnya. Kesabaran yang hanya seperti seutas benang tipis diuji berulang kali. “Kalau ada cermin, tolong berkaca sebelum membandingkan diri dengan orang lain. Kalau memang tidak ada, aku akan mengirimnya untukmu.” Papa Mahaka mengomel bak sepur. Sederet kata-kata meluncur lancar seperti tak perlu dipikir dan saring lebih dulu.Tatapan tajamnya berpindah ke arah Suma. Dia menggeleng tak terima ketika pria muda yang terus menyatakan diri sebagai seorang suami itu tengah menggenggam tangan putrinya.“Lepaskan Tera dan jangan pernah menginjakkan kakimu di rumahku lagi!” tegas Papa Mahaka. “Dan, terima kasih sudah memuluskan niatku. Dengan adanya kontrak pernikahan akan makin memuluskan niatku. Pernikahan ini sejak awal sudah tidak benar. Jadi memang sebaiknya diakhiri. Dosa namanya kalau berani mempermainkan p
“Beb?” Koper yang pegangannya sempat digenggam Inggit terjatuh. Kata-kata Suma terus terngiang-ngiang. Janji yang sempat dikumandangkan pria muda itu padanya seperti bertolak belakang dengan situasi sekarang. “Bagaimana bisa?” cicit Inggit, tak terimaBerdiri beberapa meter dari posisi Suma yang tengah berdebat dengan sang mertua, dia bisa mendengar jelas permohonan kekasihnya itu agar tidak berpisah dari Tera. Seperti petir menyambar, tubuhnya persis mengenai sasaran.“Sudah, Nggit. Jangan ikut campur.” Bu Rosmi mengangkat koper yang terguling di dekat kaki anaknya. “Itu urusan para majikan. Kita hanya pelayan, jadi mendingan tutup mata dan telinga. Anggap tidak mendengar, tidak melihat.”Inggit mengentakkan kaki ke bumi berulang kali. Dia tak terima. Ucapan sang ibu takbisa dianggap angin lalu.“Ibu saja kali, aku tidak. Suma itu masih kekasihku. Mana mungkin ....” Belum hilang kekagetannya, suara langkah kaki terdengar jelas dari balik punggung. Inggit berbalik dan makin kecewa s
Beberapa anak kunci mengantung di lubang pintu. Berguncang dan gemerincing ketika saling berbenturan satu sama lain. Ada sosok bermata merah tengah meradang dengan kedua tangan bertekuk di pinggang. Tatapan tajam tertuju ke arah ranjang, memindai sepasang anak manusia yang salin mendekap di balik selimut.“RA!” Kalau panggilan sebelumnya lembut dan menentramkan, kali ini berbeda. Papa Mahaka berteriak kencang. Bukan hanya mengagetkan Suma dan Tera, tetapi juga seisi rumah. Amarah itu nyata, murka itu pun fakta.“Pa … pa?” Suma yang bangun lebih dulu tampak terkejut. Belum sepenuhnya sadar dengan keadaan di sekitar, kepingan ingatan masih berantakan. Pandangan kosongnya menyapu seisi ruangan. Asing. Namun, pria tua yang sudah rapi dengan setelah kerja itu sangat familier. Apalagi dalam posisi sedang murka seperti saat ini.“BAGAIMANA KAMU BISA ADA DI SINI?” Suara Papa Mahaka menggelegar. Menanjak, seiring dengan emosi kian memuncak.“Pa.” Suma bingung. Menggaruk-garuk kepala, rambut
“Nak, kalau kita banyak uang, banyak-banyak berbuat baik. Tapi, kalau kita tidak punya uang, lakukan yang terbaik. Berusahalah.” Bu Rosmi masih duduk di tepi tempat tidur sambil menatap sedih ke arah putrinya yang wara-wiri di depan mata membenahi barang-barang pribadi yang akan dibawa keluar dari apartemen. Kalau boleh jujur, perasaannya juga sedih. Dia ikut terluka melihat anaknya diperlakukan seperti sampah. Cinta memang sulit ditebak. Inggit memilih melabuhkan cinta pada Suma. Namun, masalah ini bukan restu semata. Sifat sang putri semata wayang takbisa dikatakan membanggakan. Sebagai ibu yang melahirkan, dia juga malu.“Ibu bisa diam, ‘kan? Kalau tidak bisa bantu, setidaknya tutup mulut. Paling tidak kerjaanku tak terhambat.” Inggit kembali berkata kasar. Membentak ibunya sudah jadi makanan sehari-hari. “Ini aku sedang berusaha jadi lebih baik. Tidak begini-begini saja hidup kita. Mau sampai kapan Ibu jadi babu?” Gadis cantik itu mulai sengit.“Nggit.” Ibu Rosmi menitikkan air
Inggit tengah merengut sembari memasukkan barang-barang pribadinya ke dalam tas. Terus menggerutu, dia tak menyadari kehadiran ibunya yang sudah membuka pintu kamar. “Apa maunya? Kenapa dia lama sekali meninggalnya. Sudah tua juga. Harusnya perusahaan sudah menjadi milik Suma.”Tak terima mendengar ucapaan buruk sang putri, Bu Rosmi mendelik.“Kenapa menyumpah, Nggit.”Suara Bu Rosmi menyela. “Selama ini Pak Tama dan Ibu Caca sudah sangat baik pada kita.” Berjalan mendekat, pandangan wanita tua itu mengedar ke sekeliling kamar. Ruangan luas itu memang terbilang mewah. Sangat jauh dibandingkan dengan kamar sepetak di belakang rumah majikannya yang menjadi tempat tinggal selama bertahun-tahun.“Ibu?” Inggit terkejut. Tas branded di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai. Sontak menarik perhatian.Bu Rosmi bermaksud memungutnya saat teriakan Inggit memekik telinga. “Jangan disentuh, Bu. Itu tas mahal. Tangan Ibu itu kotor! Gak pantes pegang barang mahal!"Urung, wanita tua itu mengge







