LOGINSiapa yang tidak mempermasalahkan harta? Jika bukan karena kekayaan keluarga Xiu yang mengalir ke kediaman ini, apakah aku sudi bertahan di sisi pria kasar sepertimu?Semakin dipikirkan, semakin panas dadanya.Ye Jinjing memang pandai berpura-pura. Sejak awal, ia tahu cara memanfaatkan kelemahan Tian Ming. Pria itu menyukai wanita yang tampak lembut, penurut, dan tidak serakah. Karena itulah selama ini ia selalu mengenakan topeng kesederhanaan.Tetapi kenyataannya, melihat Xiu Jie dengan mudah menyebutkan akan menarik kembali seluruh mahar pernikahannya membuat jantung Ye Jinjing berdebar cemas.Jika semua kekayaan itu benar-benar ditarik kembali, lalu apa yang akan tersisa?Kediaman megah ini?Perhiasan mahal yang selama ini ia kenakan?Para pelayan yang melayani setiap kebutuhannya?Bahkan kehidupan mewah yang telah dinikmatinya selama bertahun-tahun bisa runtuh dalam sekejap.Meski hatinya dipenuhi kecemasan dan amarah, Ye Jinjing tetap mempertahankan senyum lembut di wajahnya. Ia
Xiu Jie tidak menunjukkan sedikit pun rasa gentar ketika suara Jenderal Tian Ming menggema keras di aula utama. Nada suaranya yang penuh kemarahan cukup untuk membuat para pelayan di sekitar menundukkan kepala dan menahan napas. Namun, wanita itu tetap berdiri tegak di tempatnya. Punggungnya lurus, dagunya sedikit terangkat, dan sorot matanya tenang seolah tidak ada sesuatu pun yang mampu mengguncang harga dirinya. Tatapan Xiu Jie menyapu wajah Tian Ming dengan sikap datar. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak, tidak pula kesedihan yang terlihat. Justru ketenangan itulah yang membuat suasana menjadi semakin menekan. "Xiu Jie, kau tidak perlu takut jika barang itu direbut oleh Ye Jinjing." Tian Ming mengangkat dagunya dengan nada penuh pembelaan. "Dia wanita yang berkepribadian sederhana. Dia tidak gila harta maupun kedudukan sepertimu." Mendengar pujian itu, Ye Jinjing segera memasang ekspresi polos. Dengan langkah kecil, ia bersembunyi di belakang punggung Tian Ming, seolah-olah
Lamunan Xiu Jie buyar saat para pelayan kekaisaran mulai menata hadiah-hadiah tersebut di atas meja panjang yang telah disiapkan.Kotak-kotak kayu cendana dibuka satu per satu.Seketika, halaman kediaman Jenderal Tian Ming dipenuhi kilauan yang membuat mata silau.Dua mutiara laut selatan berukuran hampir sebesar telur merpati memantulkan cahaya lembut kebiruan. Sepuluh tusuk konde giok Hentian tersusun rapi di atas bantalan sutra merah, memancarkan kemewahan yang hanya bisa dimiliki keluarga kerajaan.Belum lagi vas porselen Qinghua dengan pola awan dan naga yang digambar begitu hidup seolah bisa terbang keluar dari permukaannya kapan saja.Para pelayan di sekitar mereka tanpa sadar menahan napas.Bahkan beberapa pengawal yang biasanya berwajah datar tampak melirik diam-diam ke arah hadiah tersebut."Ya Tuhan..." gumam Lie Mei.Pelayan kecil itu sampai menutup mulutnya sendiri."Seumur hidupku aku belum pernah melihat barang semahal ini."Ye Jinjing yang berdiri tidak jauh dari sana
Lie Mei menggaruk kepalanya yang tidak gatal, masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Pandangannya kemudian beralih pada Xiu Jie, dan ia menyadari sesuatu yang aneh. Wajah majikannya itu tampak agak pucat."Nona, kenapa wajahmu pucat sekali?" tanya Lie Mei heran.Xiu Jie langsung tersentak. Kepanikan jelas tergambar di wajahnya."Aku... aku cuma kurang tidur semalam," sahut Xiu Jie cepat, suaranya agak bergetar. "Lagipula aku lupa minum sup buah longan, makanya kelihatan pucat. Sudahlah, mending sekarang kamu buatkan aku sup buah longan sama olahan hati biar wajahku segar lagi. Kalau aku pucat begini, gimana bisa aku mempertahankan posisi sebagai nyonya jenderal?"Xiu Jie terus mengoceh, sengaja tidak memberi kesempatan bagi Lie Mei untuk membalas."Baik, Nona." Baru saja Lie Mei hendak beranjak, seorang pelayan lain datang terburu-buru."Maaf, Nona. Ada utusan kekaisaran datang membawa titah kaisar. Nona diminta segera ke halaman depan. Jenderal Tian Ming sudah menunggu
"Kau sudah bangun?" tanya Xiu Jie lembut, mengabaikan kekesalannya pada Kaisar sejenak."Kenapa saya bisa tidur di sini, Nona? Bukankah seharusnya saya berjaga?" tanya Lie Mei lagi, merasa bersalah karena telah menempati ranjang majikannya."Semalam kau terlihat sangat mengantuk dan kelelahan. Karena tidak tega membangunkanmu, aku memindahkanmu ke ranjangku agar kau bisa tidur nyenyak," jawab Xiu Jie, berbohong demi menenangkan pelayannya.Padahal, kenyataannya jauh dari kata lembut. Ia masih ingat betul saat Tuan Shen Zhibai datang untuk membawanya menghadap Kaisar, pria itu tanpa ragu memukul tengkuk Lie Mei hingga gadis malang itu jatuh pingsan seketika. Xiu Jie terpaksa menyembunyikan kenyataan pahit itu agar Lie Mei tidak merasa ketakutan atau merasa gagal menjaganya.****Kembali ke kediaman Selir Xie Yue, suasana di Paviliun Barat kini tampak sibuk namun penuh dengan ketenangan yang dibuat-buat. Ye Jinjing kini sudah terbaring di atas tempat tidur mewah milik paviliun tersebut,
Di kediaman Jenderal Tian Ming, kabar kedatangan Selir Xie Yue langsung sampai ke telinga Ye Jinjing. Tanpa membuang waktu, ia dan Xiao Bo segera melancarkan rencana mereka. Keduanya bergegas menuju Paviliun Barat."Kali ini, aku harus bisa mengambil hati Selir Xie Yue," batinnya penuh ambisi. "Dengan begitu, menyingkirkan perempuan jalang itu akan jadi urusan mudah."Sekitar lima belas menit berjalan, mereka tiba di halaman kediaman Selir Xie Yue. Dari kejauhan, Ye Jinjing menangkap sosok sang selir yang sedang bersantai bersama Lin Meiling."Xiao Bo, itu mereka," bisik Ye Jinjing sambil mengedikkan dagu tipis."Ayo, Nona. Kita mulai sekarang," sahut Xiao Bo menyemangati. Ye Jinjing mengangguk pelan. Sepasang matanya bergerak liar menyisir sekitar, mencari posisi paling strategis agar aksinya tertangkap jelas oleh mata Selir Xie Yue."Di sana, sepertinya pas." Ye Jinjing dan Xiao Bo melangkah menuju taman yang letaknya tak jauh dari sang selir. Sejurus kemudian, tubuh Ye Jinjing limb
Di keheningan ruang baca Istana Bai Li Yuan, di mana aroma dupa cendana berbaur dengan wangi tinta dan gulungan kitab kuno, Jin Yu tengah bertukar pikiran dengan Shen Zhibai, He Shen. Cahaya senja yang merayap masuk melalui jendela berukir menerangi wajah-wajah mereka yang tekun. Namun, ketenangan
Kegelapan pengap menyelimuti ruang bawah tanah yang dingin dan lembap. Aroma anyir darah bercampur bau tanah menyeruak menusuk hidung. Di tengah remang cahaya obor yang menari-nari di dinding batu, sosok XIU JUAN tampak mengenaskan. Gaun tahanan putih lusuhnya compang-camping, menampakkan kulitnya
Di bawah rembulan pucat yang menggantung rendah di atas cakrawala kota yang gemerlap namun terasa dingin, Shen Jin dan Kaisar Yuan bertukar pandang. Kilatan samar lampu-lampu lentera memantul di mata mereka, seolah merefleksikan percakapan sunyi yang baru saja terjadi. Detik kemudian, sebelum tata
Kabut pagi yang menyelimuti penginapan di kedai teh Senja perlahan tersibak, memperlihatkan siluet lima sosok yang bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Jin Yu, dengan jubah putihnya yang berkibar tertiup angin, memeriksa pedang pusakanya, . Di sampingnya, Shen Zhibai, sang tabib muda dengan aura t







