LOGINHai, Author Piemar menyapa š
Peluk jauh untuk para pembaca manisku yang selalu jadi mood booster author untuk terus menulis dan melanjutkan cerita ini. Setiap komentar kalian benar-benar jadi vitamin sekaligus penyemangat buat author.
Terima kasih banyak untuk para pembaca setia yang sudah menikmati kisah Bella dan Alex sampai sejauh ini. Author juga sangat berterima kasih atas semua bentuk dukungan kalian, baik komentar positif, gem, maupun gift. Semoga Allah membalas semua kebaikan kalian dengan berlipat ganda. Aamiin.
Saran dan kritik yang membangun tentu sangat author terima dengan senang hati, ya.
Dan sebelumnya, author juga mau minta maaf karena belum bisa membalas komentar satu per satu. Saat ini author menulis menggunakan website, jadi author masih bisa membaca semua komentar kalian, tetapi cukup terbatas untuk membalasnya secara langsung. Kalau ingin membalas komentar, author harus membuka aplikasi terlebih dahulu.
Meski begitu, percayalah⦠setiap dukungan dan komentar kalian tetap author baca dan hargai sepenuh hati š«¶
Suara tangisan bayi yang baru saja terlahir seharusnya bisa membuat Alex merasa senang. Naasnya, bertepatan bayi itu lahir, Isabella tak sadarkan diri. Alex dilanda panik. Ia memekik, berusaha membangunkan istrinya. āIsabella bangun! Bangun, Sayang!ā teriaknya dengan air mata yang sudah berderai membasahi pipinya yang sedikit berjambang. Ia menoleh tajam ke arah tabib dengan tatapan yang memicing tajam. āLakukan sesuatu, Tabib!āSuara baritonnya yang menggelegar membuat semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut terkesiap. Perawat langsung membawa bayi itu dari sana untuk membersihkan bayi yang masih berlumur darah itu. Sarah mengekori wanita itu, mengawasinya dengan siap siaga. Begitupula dengan Mei Lin terus berada di sana mendampingi Isabella dengan perasaan sesak. Dengan tangan yang gemetar sang tabib segera memeriksa denyut nadi Isabella yang lemah. Seketika ia menghela napas panjang. Isabella masih bernapas meskipun lemah. āYang Mulia, Nyonya kehilangan banyak darah.
āYang Mulia, ada apa?ā bisik dayang sang ratu tatkala melihat Cecilia diam termangu, menatap lama Sophia.Cecilia meneguk salivanya sebelum menjawab. āAku harus memastikan sesuatu,ā balasnya. Tatapannya kembali tertuju pada Sophia yang masih tampak lesu. Di samping ranjang, ibunya, Maria menyuapinya bubur. āMaaf, Yang Mulia. Ini sudah waktunya Sophia makan dan minum obat.ā Ujar Maria meminta ijin. Sebuah kehormatan kedatangan sang ratu yang sudi menjenguk putrinya. Bahkan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. āSilakan, lanjutkan saja!ā ucap Cecilia sembari meneguk minumannya kembali.Namun, tatapannya masih tertuju pada Sophia, mengamati gerak geriknya secara cermat. Barulah setelah gadis itu minum obat, Cecilia memberanikan diri berbicara. āSophia. Bolehkah saya melihat bahumu? Saya hanya ingin memastikan luka. Jika tak kunjung sembuh. Istana akan mengirimkan tabib terbaik lagi untuk mengobatimu.āSophia menatap Cecilia dengan sungkan. āOh, boleh.āGadis itu kemudian menyingkap a
āBohong... ini semua bohong!ā jerit Helena histeris, tangannya mencengkeram kepalanya sendiri. Mendengar kabar tentang keluarganya, hatinya hancur berkeping-keping. Semua telah raib. Ia tidak memiliki apapun saat ini. Keluarga, suami dan harta serta harga dirinya sudah hilang. Bahkan, ia telah resmi menjadi buronan istana Ashmond! Bukan lagi putri mahkota. Pun, bukan lagi anak seorang Kepala Klan besar bernama Moreau. Helena mencengkram gaunnya dengan sorot mata yang gelap. Ia berdiri gemetar di tengah ruangan yang luluh lantak. Vas bunga, cermin hias, hingga perabotan kayu habis hancur berantakan di lantai. Perkamen maklumat kerajaan berstempel emas yang membawa kabar kematian ayahnya dan kehancuran klan Moreau lecek tercengkeram di tangannya.Napasnya memburu hebat, dadanya naik turun tak beraturan. Air mata kemurkaan dan rasa frustrasi yang membakar terus melintasi pipinya yang tirus dan pucat.āBohong... ini semua bohong!ā jerit Helena histeris seraya menyapu kasar barang-baran
āBella,ā panggil Alex bernada lembut. āAh, apa Alex?ā jawab Isabella bangun dari lamunannya. Alex menautkan jari jemarinya ke tangan istrinya. Senyum hangat masih terulas dari wajahnya. āKau suka kan aku renovasi istana ini? Meski hanya beberapa bagian saja,āIsabella menghela napas panjang. Tatapannya mengitari semua sudut bangunan tersebut. āAku suka. Nuansanya jadi beda dan lebih segarāAlex tersenyum penuh kelegaan. Akhirnya, ia bisa memboyong Isabella ke istana itu tanpa banyak drama. Tidak ada alasan lagi baginya untuk menolak. Toh, istri pertamanya yang sudah bikin dosa padanya justru memilih melarikan diri dari istana. Sudah tidak ada lagi tempat untuknya baik istana apalagi ⦠hatinya. Alex ingin memulai kehidupan barunya dengan istri satu-satunya. Tidak ada lagi istri kedua atau istri lainnya. Tiba-tiba langkah Isabella menghentikan langkah kakinya sesaat. āKenapa kau lakukan ini? Aku rasa.. Istana sudah sangat indah sebelumnya.āIsabella tidak mempermasalahkan soal temp
āEksekusi!ā titah Alex dingin, tak memberi panggung lebih lama bagi musuhnya.Algojo menekan bahu Valentin hingga leher pria itu terbaring kaku di atas balok kayu. Sang algojo kemudian mengangkat kapak perak raksasa nan tajam tinggi-tinggi ke udara.Semua orang menahan napas. Semua kepala tertuju pada satu titik. Valentin Moreau.Isabella terdiam sesaat menatap pria tua itu. Matanya melebar seketika saat melihat tanda di pergelangan tangannya. Sebuah luka melintang. Teringat percakapannya dengan Ethan, anak arsitek pelabuhan Utama Royal Ashmond. Bahwa pria dengan luka di tangannya itu adalah orang yang sama berada di ruang kerja sang ayah. Pria itu memiliki salinan Blueprint Pelabuhan Royal Ashmond.āTunggu, Alex,ā suara Isabella terdengar dingin, membuat suaminya menoleh ke arahnya. āAda apa Isabella?ā tanya Alex singkat. Ia tidak bisa menunggu waktu lagi untuk mengeksekusi pria itu. āTunggu!ā teriak Isabella hingga semua mata menoleh ke arahnya. Isabella berjalan turun dari tribu
Satu minggu telah berlalu sejak gema ledakan di penjara bawah tanah Istana Ashmond memicu perburuan besar-besaran di seluruh penjuru negeri.Sejak maklumat sayembara berstempel emas disebarkan, atmosfer di perbatasan utara kian tegang. Namun, di saat pasukan Silver Eagle milik Pangeran Alex terfokus menyisiri aliran sungai bagian timur tempat Valentin menjatuhkan diri, Johan Dubois justru menggunakan taktik yang jauh lebih licik dan agresif.Hanya dalam kurun waktu tujuh hari, Johan mengerahkan seluruh prajurit privat klan Dubois dan memanfaatkan jaringan penyelundup bahan bangunan yang pernah bekerja sama dengan klan Moreau. Ia sangat yakin pria tua yang terluka seperti Valentin tidak akan sanggup berlari jauh, melainkan bersembunyi di tempat yang paling dekat dan tak terduga, bekas tambang batu kapur milik klan Dubois yang telah ditutup di perbatasan terluar.Malam itu, hujan deras mengguyur celah-celah tebing terjal perbatasan.Dengan jubah basah kuyup dan pedang terhunus, Johan me
Helena menatap pantulan dirinya di cermin perunggu paviliun yang lembap. Rambutnya yang biasanya tertata sempurna kini sedikit berantakan, meski tak bisa ditampik matanya berbinar penuh antusias. Anne baru saja berbisik di balik pintu bahwa Duke Ronald dan keluarga besar Moreau telah berdiri di ha
Halaman istana yang biasanya tenang mendadak dipenuhi oleh derap langkah yang serempak dan dingin. Duke Ronald memimpin barisan keluarga besar Klan Moreau. Mereka tidak membawa pedang, namun pakaian formal serba hitam yang mereka kenakan. Simbol berkabung bagi mereka yang kehormatannya diinjak-inja
Paviliun Honeysuckle,Isabella mengamati setiap barisan angka yang berada dalam laporan keuangan anggaran istana Rose. Ini baru satu berkas. Masih banyak berkas laporan lainnya.
ā¦Sudah beberapa hari berlalu, Isabella terbaring di ranjang sang pangeran. Hari ke empat, demamnya berangsur turun. Kondisi tubuhnya jauh lebih baik. Namun, meskipun demikian, ia tidak lantas bisa kembali ke paviliun Honeysuckle karena Alex mengurungnya di dalam kamar dengan penjagaan yang ketat.







