MasukSimon mendadak mencabut belati dari balik jubahnya. “Kalau begitu... aku tidak akan hidup sebagai tawanan!”Ia menerjang maju ke arah Maurice dengan mata kalap. Naasnya, ia tidak tahu siapa yang ia hadapi. Maurice adalah komandan pasukan elit milik Alex Harrington.“Jangan!” seru Matteo spontan.Sreeett!Namun semuanya terlambat. Tali busur terlepas, dan sebatang anak panah melesat cepat membelah udara.Mata Simon membelalak. Ia berhenti mendadak, menunduk perlahan menatap dadanya yang kini tertancap anak panah. Belati di tangannya terlepas dan berdenting menghantam lantai batu. Tubuhnya terhuyung beberapa langkah sebelum akhirnya roboh tak berdaya.M
Jantung Alex mendadak berdentam keras. “Bagaimana keadaan Helena?”Kesatria itu menundukkan kepala dalam-dalam. “Lady Helena berhasil melewati masa kritisnya—”Mendengar hal tersebut, perasaan Isabella sedikit lebih lega. Setidaknya, wanita yang telah menyelamatkan putranya masih diberi kesempatan untuk bertahan hidup.Tanpa sadar, ia mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan.Alex menoleh sekilas ke arah istrinya. Dari sorot mata Isabella, ia tahu wanita itu sedang berusaha memahami kenyataan yang terasa begitu bertolak belakang.“Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan,” ucap Alex pelan.Isabella menggeleng lemah. “Aku tida
Isabella tersentak mendengar ucapan Alex. Alex menyebut satu nama yang berhasil membuat bulu romanya berdiri laksana ujung candrasa. Wanita yang baru saja melahirkan itu tampak pucat pasi. Matanya berkedip dua kali. Napasnya mendadak terengah, sesak, seperti ada sesuatu yang mengendap di balik dadanya. Apakah ia tidak salah mendengar kalau seseorang yang menyelamatkan putra mereka adalah wanita yang justru sebelumnya berusaha menghabisi nyawanya?Semesta sedang bermain-main kah?Tanpa sadar, Isabella menggelengkan kepalanya ribut. “Kau pasti salah, Alex,”Alex menyentuh punggung tangan istrinya dengan lembut. “Itu memang kenyataannya. Aku juga tidak percaya dengan apa yang ku lihat.” Nada suaranya rendah tetapi berat. Ingatan beberapa saat yang lalu langsung melintas di benaknya. Helena terkapar dalam kondisi tubuh lemah dan bersimbah darah. Prajurit Damon menusukkan pedang ke arah dadanya. “Itu benar, Nyonya,” sahut Chloe menundukkan kepalanya, ikut berkomentar. “Hamba juga melih
“Helena—” bisik Alex parau.Sesaat, tubuhnya membeku. Wanita yang selama ini ia buru atas kejahatannya terkulai pasrah bersimbah darah di samping keranjang bayinya. Bahkan di saat kesadarannya menipis, jemari Helena masih mencengkeram erat tepi keranjang. Seolah-olah dengan sisa nyawanya, ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh bayi itu. Tidak boleh ada yang melukai bayi itu!Wanita itu diam, tidak merespon apapun. “Yang Mulia Pangeran Alex,”Beberapa ksatria Silver Eagle menyeruak masuk ke kebun belakang paviliun, menyusul sang pangeran. Melihat Alex yang hanya termangu, salah seorang di antara ksatria itu mendekati Helena lalu mengangkat bayi Alex dengan sangat hati-hati, lalu menyerahkannya ke dalam dekapannya.“Yang Mulia, bayi Anda selamat,”Tangisan mungil itu akhirnya pecah.Alex segera mendekap putranya erat-erat dengan perasaan berkecamuk. Perlahan bayi lelaki tampan—yang bahkan belum memiliki nama itu berhenti menangis. Matanya yang masih belum fokus membuat hati Alex
Sarah, yang menggendong bayi Isabella erat-erat, segera berlari sekencang mungkin. Ia menjalankan perintah terakhir Isabella menuju tempat persembunyian yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari. Sebuah lokasi rahasia yang diyakini paling aman untuk melindungi sang bayi. Wanita itu berlari sekuat tenaga bersama seorang perawat yang sudah kelelahan. Beberapa bidikan berasal dari senjata api menyasar mereka. Namun semua peluru itu meleset.“Kita kemana, Sarah?”“Tenang, kita akan sembunyi di sana.”Wanita itu menunjuk sebuah pagar yang tertutupi oleh pepohonan yang merambat. “Sarah, aku tidak kuat.”Perawat itu jatuh lalu tak sadarkan diri. Sektika lutut Sarah gemetar. Tinggal dirinya seorang. Dia harus bisa menyelamatkan bayi ini meski harus membayar dengan nyawanya. Wanita yang sudah pucat pasi itu terus berlari tanpa rasa kenal lelah. Naasnya … Takk!Sarah terjatuh. Sebuah anak panah melesat, bukan lagi senapan. Anak panah itu menusuk tepat di lengan kanannya. Wanita itu tersentak
“Nyonya, kita harus pergi sekarang!” Mei Lin bersiap-siap merangkul lengan Isabella yang masih lemah. “Ada apa?” Isabella mengerjap beberapa kali. Bahkan ia tidak sanggup untuk berdiri. Kepalanya terasa berat sebab pendarahan hebat. Mei Lin terdiam, meneguk salivanya beberapa kali. Sarah mendekati Mei Lin. “Ada apa Mei? Kau jangan membuat Nyonya panik.”“Kau tidak dengar? Pasukan Damon menyerang membabi buta. Mereka mengirim pasukan bayaran dengan kemampuan yang sangat kuat. Kemungkinan Ashmond tidak bisa memukul mundur mereka. Pasukan Ashmond tidak siap. Sebelum terjadi sesuatu yang mengerikan. Kita harus segera membawa Nyonya Isabella dan bayinya keluar lewat jalur evakuasi.”“Tapi kata Sir Noah, kita harus menunggu di sini.” Sarah tampak panik. “Tidak bisa. Noah dan pasukannya kewalahan. Pangeran Alex bahkan kini terjebak di istana utama.” Bisik Mei Lin, baru pertama kalinya suaranya bergetar. Sarah mengangguk pasrah. Ke dua tangannya mencengkram rok gaunnya. Matanya tertuju p
“Kenapa kau terkejut, Isabella Laurent?” bisik Alex dengan nada rendah yang meresahkan. Ia mencapit dagu gadis itu hingga ke dua netra mereka bertemu. Tatapannya berpindah dari wajah pucat Isabella tertuju pada cangkir berisi anggur di meja, lalu berpindah lagi wajah gadis itu. Rambut Isabella bera
“Nyonya, Pangeran Alex tidak akan datang malam ini.”Jemari Isabella yang tengah berjuang melepaskan mahkota di kepalanya seketika berhenti. Matanya berkedip cepat. “Pangeran Alex memutuskan akan menghabiskan malam bersama Putri Helena,” lanjut pria itu dengan nada rendah dan hati-hati seperti seda
…Sudah beberapa hari berlalu, Isabella terbaring di ranjang sang pangeran. Hari ke empat, demamnya berangsur turun. Kondisi tubuhnya jauh lebih baik. Namun, meskipun demikian, ia tidak lantas bisa kembali ke paviliun Honeysuckle karena Alex mengurungnya di dalam kamar dengan penjagaan yang ketat.
“Apa yang kau katakan tadi?” tanya Alex singkat. Tatapannya tertumbuk ke arah pengawalnya. Pengawal itu menelan salivanya sebelum menjawab. Ia mengangkat mata lalu berusaha menjawab. “Duchess Isabella tampak bahagia ketika mendengar Yang Mulia tidak akan datang malam ini.”Seketika udara terasa me







