Share

Bab 5

Author: Piemar
last update publish date: 2026-04-09 14:45:29

Jamuan pagi telah usai. Isabella keluar dari balairung istana Ashmond ditemani pelayan wanita muda bernama Mona. 

Gadis itu bertugas melayaninya selama tinggal di paviliun Honeysuckel. “Nyonya, maafkan hamba tidak tahu kalau Anda sedang sakit. Jika tahu, hamba akan membuatkan minuman herbal untuk Anda,” 

Alih-alih merespon Mona, Isabella mencondongkan tubuhnya, mendekatinya. “Apa benar Putri Helena tidak bisa memberi pangeran Alex keturunan?”

Mona tersentak, matanya bergerak gelisah seperti menunjukan secara tidak langsung tanda nonverbal dari seseorang yang menyembunyikan rahasia terbesarnya. Namun sedetik kemudian ia mengangguk. “Benar, Nona. Tapi … sebaiknya, Nona jangan bertanya lagi. Istana memiliki mata dan telinga.”

Isabella mendengus kesal. Di kepalanya, ia tengah menyusun potongan teka teki tentang ‘kekuasaan.’ 

Jika Helena memang mandul, maka rahimku bisa menjadi ancaman sekaligus aset politik terbesar di Ashmond. Hem, pantas saja Helena langsung menyingkirkanku saat aku baru saja melahirkan. Wanita bedebah memang. 

Ia mempercepat langkah kakinya menaiki kereta. Di belakangnya, Mona berjalan tersuruk-suruk mengikuti langkah kakinya yang cepat sembari mengomel panjang pendek. 

Akhirnya mereka pun tiba di paviliun Honeysuckle menjelang siang. 

Baiklah, tak mudah untuk mengelabui Alex Harrington. Pria itu tidak hanya cerdas tetapi cerdik. Pantas saja wilayah kekuasaan Kerajaan Ashmond sangatlah luas. Raja Dominic tidak akan disebut sebagai The Conqueror tanpa bantuan putra tunggalnya, Alex Harrington. 

Ketika tiba di halaman paviliun, Isabella berjalan cepat menuju dapur. Di sana seorang pelayan lain terkejut melihat kedatangannya yang secara tiba-tiba. 

“Nyonya, ada yang saya bisa bantu?” tanyanya menghampirinya. 

Isabella mengedarkan pandangannya ke segala arah. Lalu tatapannya tertumbuk pada lemari kayu berwarna coklat. Ia berjalan melewati pelayan dan tangannya mulai mengacak-acak bahan makanan. Ia mendengus kesal saat tidak bisa menemukan yang ia cari. 

Mona menyusulnya dan langsung mengikutinya ke dapur. “Nyonya, apa Anda lapar? Anda hanya perlu memerintah kami untuk memasak. Jangan sampai orang istana melihat Anda berada di dapur.”

Isabella tergugu beberapa detik. Argh, ia lupa jika ia punya pelayan di sana. “Mona, carikan aku buah bit!” titah Isabella bernada serius.

“Untuk apa, Nona?” sahut Mona yang selalu saja penasaran dengan apa yang majikannya lakukan. 

“Aku butuh itu. Kau tidak perlu tahu untuk apa. Cepat!” Titah Isabella bernada penuh penekanan.

Mona menelan air ludahnya tatkala melihat respon majikannya yang terlihat marah. Cara ia menatapnya sangat menakutkan tak ubahnya sorot mata Helena yang dingin. “Baik, Nyonya,” jawab Mona dengan suara gemetar. 

Tak butuh waktu lama untuk Mona mencari buah bit seperti yang diinginkan oleh Isabella meski ia harus mencari ke kebun yang terletak lumayan jauh dari paviliun. 

Akhirnya dengan kecerdikannya, Isabella bisa membuat ramuan yang menyerupai darah dengan menggunakan buah bit dan campuran bahan lainnya. Tak lupa ia menambahkan anggur putih untuk menciptakan warna merah yang tidak terlalu pekat. Untuk sementara ia akan selamat ketika seorang tabib istana datang memeriksa kesehatan dan masa tidak sucinya.  

Isabella sudah tidak sabar menanti kedatangan Alex dan tabib dari ordo suci itu katanya. 

Namun, satu, dua, hingga tiga jam berlalu tidak ada tanda-tanda kedatangan Alex harrington. 

Waktu terus bergulir. Tak terasa malam sudah beranjak. 

“Nyonya, makan malam sudah disiapkan,” Mona menghampiri Isabella. “Apa mau makan di kamar?”

Isabella memilih duduk di kamar sembari membaca kitab kuno yang berada di perpustakaan mini di sana. Ia sedang mempelajari sejarah tentang kerajaan Ashmond. Mungkin itu salah satu cara ia bertahan hidup di sana. Ia harus mendapatkan informasi tentang apapun; kehidupan istana, silsilah kerajaan hingga aliansi politik. 

Ketika melihat Mona datang, Isabella langsung menutup kitab itu dengan cepat. “Tidak usah. Aku akan makan di ruang makan,”

Mona mengangguk. Namun matanya tak luput dari sosok Isabella. Ia berusaha mengamati apapun yang Isabella lakukan. Itu adalah perintah dari Helena. 

Bagaimanapun, Mona adalah salah satu pelayan yang diutus Helena untuk mengawasi gerak-gerik Isabella selama tinggal di paviliun Honeysuckle selain bertugas melayaninya. 

“Apa yang kaulihat?” tanya Isabella ketika memergoki Mona tengah mengamatinya. 

“Um, tidak, Nyonya.” Elaknya dengan sedikit gugup. Ia buru-buru menundukan wajahnya.  

Tak lama kemudian, Isabella pergi ke ruang makan dan berniat menikmati hidangan makan malam sendirian. 

Hari ini, tidak ada yang istimewa dalam hidangan makan malam sebagai seorang istri ke dua pangeran Ashmond yang terkenal. Berbeda dengan kemarin. Aneh. 

Malam ini menunya sama seperti menu yang disantap oleh pelayan di istana Ashmond. Pemandangan itu sungguh kontras dengan pemandangan paviliun Honeysuckle yang indah dan mewah. 

Ternyata Isabella Laurent diperlakukan tak ubahnya pelayan wanita di istana. Setiap hari ia hanya dimasakan menu sederhana seperti roti keras, keju keras dan sup kental yang hanya ditaburi potongan daging yang kecil. 

Padahal biasanya para bangsawan mendapat menu hidangan yang mewah, seperti daging rusa, unggas atau potongan daging merah yang besar lengkap dengan roti atau keju dengan kualitas premium. 

Isabella memainkan sendok sup itu dengan gerakan malas. Ia baru sadar. Hari itu hanya ada dua pelayan yang berada di sana, tidak seperti sebelumnya. Mona yang mengurus kebutuhan dirinya dan satu lagi Jehanne—koki di sana. 

“Jehan!” teriak Isabella memanggil sang koki. 

Jehanne mengernyitkan keningnya tatkala mendengar suara panggilan Isabella. Ini tidak seperti rumor yang ia dengar dari istana Rose. Istri pangeran ke dua Ashmond adalah wanita polos dan mudah ditindas. Namun yang ia hadapi saat ini, wanita yang berbeda. 

Gegas, ia menyingkirkan adonan roti yang sedang ia buat di atas meja dapur. Dia langsung menghampiri Isabella dengan langkah tergopoh-gopoh. “Ada yang perlu saya bantu, Nyonya?” tangannya yang penuh dengan tepung langsung dilap pada apron putih tulang yang dikenakannya. 

Isabella menudingkan sendok perak ke arah wajahnya. “Aku ingin makan seperti apa yang Putri Helena makan. Paham?” 

Deg,

Wajah Jehanne langsung memberengut kesal. Wajahnya memerah antara marah dan tak percaya dengan apa yang ia dengar. “Maaf, Nyonya, saya hanya menyiapkan menu sesuai dengan bahan yang dikirim dari istana Rose. Perintahnya jelas.”

Istana Rose? Argh, ia lupa, itu adalah istana di mana Helena tinggal. Semua urusan rumah tangga istana diatur olehnya. 

Isabella menarik sudut bibirnya, membentuk seringai tipis yang terlihat gila tapi elegan di saat yang sama. Dulu, Isabella Laurent hanya makan apa yang tersaji di depannya. Tidak pernah protes sama sekali!

Sementara itu di belakangnya, Helena menertawakannya. Ia menganggap Isabella tak ubahnya pelayan istana. Atau … lebih parah seorang budak. 

Isabella mengangguk pelan. “Baik. Aku tidak mau tahu siapa yang memberi perintah. Mulai besok, jika yang menu yang tersaji di mejaku adalah roti keras dan sup sisa, maka aku akan pastikan Pangeran Alex Harrington tahu bahwa koki paviliun Honeysuckle mencoba meracuni calon ibu dari pewarisnya dengan makanan yang tidak layak dan busuk!”

Isabella menegakan tubuhnya. Ia berjalan mendekati Jehanne, memangkas jarak di antara mereka. Seketika wajah Jehanne memucat pasi. Ia tidak punya kesempatan untuk mundur. Tubuhnya terbentur lemari di belakangnya. 

Isabella menatapnya dengan tatapan intimidatif lalu berbisik ke telinganya dengan suara rendah tetapi penuh ancaman. “Pilihannya dua. Kau akan mencuri bahan mewah dari dapur utama untukku atau …” 

Isabella menjeda kalimatnya. 

“---Atau kau akan aku jadikan tersangka utama atas sabotase kesehatan Duchess, istri kedua Pangeran Alex. Bayangkan apa yang akan Pangeran Alex lakukan saat tahu koki paviliun sengaja memberikan makanan sampah untuk melemahkan rahim istrinya?”

Wajah Jehanne menegang hebat. Tenggorokannya tercekat udara. Ini benar-benar di luar dugaannya. Isabella Laurent bukan wanita polos. Ia benar-benar seperti iblis yang mengancam nyawa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Red Girl
Baru baca sampe bab ini, dan puas banget sama karakter pemeran utamanya. Cewek yg ga mudah ditindas. Lagi sebel2nya baca novel Author lain yg pemeran utama ceweknya bodoh, mudah ditindas, & ga punya harga diri,,,,, eh sekarang nemu bacaan yg karakter pemeran utamanya ok. Semoga sesuai ekspektasi q..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Author's note

    Hai, Author Piemar menyapa!Akhirnya, kita sudah berada di penghujung cerita. Saya sangat bersyukur karena bisa menyelesaikan novel ini dengan tuntas meskipun agak terlambat karena beberapa halangan/hambatan di dunia nyata. Saya ingin mengucapkan terima kasih dari lubuk hati yang terdalam kepada para pembaca setia novel ini. Terima kasih juga untuk kalian yang sudah memberikan support luar biasa bagi novel saya baik itu dalam bentuk komen, gem/hadiah. Support kalian sangat berarti untuk saya sebagai author. Semoga Allah membalas kebaikan kalian. Amin. Pun, saya ingin mengucapkan permintaan maaf, apabila novel saya tidak bisa memuaskan semua pembaca. Ada banyak kekurangan di dalamnya. Semoga ke depannya saya bisa menghasilkan novel yang lebih baik lagi. Jika berkenan, kalian bisa membaca novel terbaru saya dengan genre yang lebih segar dan lebih ringan. Kebetulan novel tersebut mengikuti salah satu ajang writing sprint yang diadakan oleh GoodNovel (Goodchamp Program).Judul Novel: Pe

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 345

    Melihat raut wajah pria tua di depannya, kepala Isabella mendadak dihantam rasa pening yang luar biasa. Jemarinya yang bergetar refleks merangkul erat lengan Alex untuk mencari pijakan.Bersamaan dengan pusing itu, potongan memori lama meledak di dalam kepalanya. Memori milik Isabella Laurent asli. Pria tua ini adalah Tuan Tabib yang dulu sering ditemuinya di tepi hutan! Pria inilah yang mengajarkannya mengenali berbagai tanaman obat, sosok yang pernah menyapanya dengan ramah di pasar desa. Pria tua ini adalah gurunya!Isabella mengingat seluruh takdir itu. Namun, dengan sekuat tenaga, ia mencoba mengendalikan dirinya dan berusaha tenang.tak berselang lama, Alex memandu Tuan Tabib untuk duduk dan menikmati jamuan istana. Usai membasahi kerongkongannya, pria tua itu meletakkan cangkirnya perlahan. Matanya yang

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 344

    “Wilayah itu sudah menjadi tanah mati sejak tragedi kebakaran besar delapan tahun lalu. Tempat itu kini diisolasi dan tidak berpenghuni.” Peringat perwira seolah sang putri mahkota tidak tahu apa-apa.Isabella mengukir senyum tipis, tetapi matanya memancarkan rasa penasaran yang tak bisa dibendung. “Aku tahu. Aku hanya penasaran. Kita hanya akan melihatnya sebentar sebelum kembali ke istana.”Mei Lin yang berada di dekat Isabella hanya memutar kedua bola matanya jengah. Ia justru setuju mengajak sang putri mahkota untuk datang ke sana sebab untuk memenuhi sekedar rasa penasaran. Ya, meskipun Isabella sadar kasus itu sudah ditutup dan tersangka dalang dari kejadian mengerikan itu juga sudah dieksekusi. Namun, entah kenapa, keinginan untuk melihat bangunan itu terasa sangat mendesak.

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 343

    “Aku mau mengunjungi Ayah,” ujar Isabella meminta izin pada suaminya.“Baiklah. Tapi aku masih harus menyelesaikan beberapa urusan takhta,” sahut Alex lembut. “Pasukan pengawal Silver Eagle yang akan mendampingi perjalananmu.”“Terima kasih, Alex.” Sahut Isabella dengan mengulas senyum manis.Alex memandang istrinya sejenak sebelum menimpali, “Kenapa kau tidak mengajak ayahmu tinggal di istana saja? Dia bisa menempati area paviliun barat agar kau tidak perlu jauh-jauh berkunjung.”Isabella mengukir senyum tipis. “Ayah hanya ingin menghabiskan sisa waktunya di rumah. Belakangan ini dia sedang sibuk mengelola perkebu

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 342

    Kedua orang tua Cecilia telah wafat sejak ia masih belia. Menurut rumor yang beredar di kalangan bangsawan, mereka dihabisi secara kejam oleh Raja Damon yang sekarang—yang tak lain adalah paman pertamanya sendiri. Dalam kepungan tragedi itu, paman keduanya bersama sang istri lantas merawat Cecilia remaja dengan penuh kasih, sebelum akhirnya peperangan besar meletus dan memisahkan mereka.“Paman Julian... masih hidup?” suara Cecilia terdengar bergetar, memecah keheningan ruangan.Madam Chloe mendongak perlahan, menatap Ratu Cecilia dengan binar terkejut. “Yang Mulia sudah mengingat semuanya?”Cecilia menarik napas panjang, mencoba menguasai gemuruh emosi di dadanya. “Aku sudah mengingat seluruhnya, Chloe. Bagaimana dengan pamanku? Di mana dia berada sekarang?”“Pangeran Julian hidup dalam pengasingan di Kerajaan Xuyang, Yang Mulia,” jawab Madam Chloe pelan, menyatukan kedua tangannya yang gemetar. “Seluruh anggota keluarganya diusir secara paksa oleh paman pertama Anda usai pertempuran

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 341

    Beberapa hari kemudian setelah hukuman Helena dijatuhkan. Cecilia menerima laporan dari mata-matanya yang menunjukan bahwa ada pengkhianat istana yang berkeliaran di sekitar ratu. Satu nama muncul dalam laporan rahasia tersebut dan berhasil membuatnya syok. Pada awalnya, ia tidak terima dengan laporan tersebut. Namun, ketika melihat ada sebuah surat bersegel dengan simbol tertentu, ia langsung memanggil nama itu. Dia adalah Madam Chloe. Tanpa membuang tempo, ke dua pengawal setia sang ratu langsung menyeret wanita itu lalu membawanya ke hadapannya. “Ampun, Yang Mulia–”Madam Chloe berlutut di hadapan Ratu Ashmond. Tubuhnya gemetar hebat dan jantungnya berdegup kencang. Cecilia melayangkan tatapan dingin kepadanya. “Jika kau tidak mengaku siapa yang mengirimmu, aku akan melaporkanmu kepada Pengadilan Ashmond. Aku akan mengatakan bahwa kaulah dalang yang membantu melarikan Mona keluar dari Wilayah Ashmond. Dan bukan hanya itu, kau juga telah berulang kali bersekongkol dengan mata-ma

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 20

    Bab 24“Pangeran apa yang kaubicarakan selarut ini?” tanya Isabella spontan dengan tatapan menuduh.Alex mendengus kasar, menyadari kesalahpahaman ini. “Bukankah kau terluka karena air panas?”Isabella terdiam sesaat. Ia meringis, menutupi kegugupannya. Kenapa juga Alex hanya menyebutkan bagian paha

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 17

    Suara erangan Isabella berhasil membuat semua orang yang berada di gazebo panik. Betapa tidak, cangkir yang digenggam Isabella retak dan air panas yang berada di dalamnya tumpah ruah mengenai kulit tangan dan paha isabella. Siapapun akan merasa kesakitan akibat luka panas. Mereka sontak berdiri kar

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 2

    “Kenapa kau terkejut, Isabella Laurent?” bisik Alex dengan nada rendah yang meresahkan. Ia mencapit dagu gadis itu hingga ke dua netra mereka bertemu. Tatapannya berpindah dari wajah pucat Isabella tertuju pada cangkir berisi anggur di meja, lalu berpindah lagi wajah gadis itu. Rambut Isabella bera

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 1

    “Nyonya, Pangeran Alex tidak akan datang malam ini.”Jemari Isabella yang tengah berjuang melepaskan mahkota di kepalanya seketika berhenti. Matanya berkedip cepat. “Pangeran Alex memutuskan akan menghabiskan malam bersama Putri Helena,” lanjut pria itu dengan nada rendah dan hati-hati seperti seda

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status