ログインJamuan pagi telah usai. Isabella keluar dari balairung istana Ashmond ditemani pelayan wanita muda bernama Mona.
Gadis itu bertugas melayaninya selama tinggal di paviliun Honeysuckel. “Nyonya, maafkan hamba tidak tahu kalau Anda sedang sakit. Jika tahu, hamba akan membuatkan minuman herbal untuk Anda,”
Alih-alih merespon Mona, Isabella mencondongkan tubuhnya, mendekatinya. “Apa benar Putri Helena tidak bisa memberi pangeran Alex keturunan?”
Mona tersentak, matanya bergerak gelisah seperti menunjukan secara tidak langsung tanda nonverbal dari seseorang yang menyembunyikan rahasia terbesarnya. Namun sedetik kemudian ia mengangguk. “Benar, Nona. Tapi … sebaiknya, Nona jangan bertanya lagi. Istana memiliki mata dan telinga.”
Isabella mendengus kesal. Di kepalanya, ia tengah menyusun potongan teka teki tentang ‘kekuasaan.’
Jika Helena memang mandul, maka rahimku bisa menjadi ancaman sekaligus aset politik terbesar di Ashmond. Hem, pantas saja Helena langsung menyingkirkanku saat aku baru saja melahirkan. Wanita bedebah memang.
Ia mempercepat langkah kakinya menaiki kereta. Di belakangnya, Mona berjalan tersuruk-suruk mengikuti langkah kakinya yang cepat sembari mengomel panjang pendek.
Akhirnya mereka pun tiba di paviliun Honeysuckle menjelang siang.
Baiklah, tak mudah untuk mengelabui Alex Harrington. Pria itu tidak hanya cerdas tetapi cerdik. Pantas saja wilayah kekuasaan Kerajaan Ashmond sangatlah luas. Raja Dominic tidak akan disebut sebagai The Conqueror tanpa bantuan putra tunggalnya, Alex Harrington.
Ketika tiba di halaman paviliun, Isabella berjalan cepat menuju dapur. Di sana seorang pelayan lain terkejut melihat kedatangannya yang secara tiba-tiba.
“Nyonya, ada yang saya bisa bantu?” tanyanya menghampirinya.
Isabella mengedarkan pandangannya ke segala arah. Lalu tatapannya tertumbuk pada lemari kayu berwarna coklat. Ia berjalan melewati pelayan dan tangannya mulai mengacak-acak bahan makanan. Ia mendengus kesal saat tidak bisa menemukan yang ia cari.
Mona menyusulnya dan langsung mengikutinya ke dapur. “Nyonya, apa Anda lapar? Anda hanya perlu memerintah kami untuk memasak. Jangan sampai orang istana melihat Anda berada di dapur.”
Isabella tergugu beberapa detik. Argh, ia lupa jika ia punya pelayan di sana. “Mona, carikan aku buah bit!” titah Isabella bernada serius.
“Untuk apa, Nona?” sahut Mona yang selalu saja penasaran dengan apa yang majikannya lakukan.
“Aku butuh itu. Kau tidak perlu tahu untuk apa. Cepat!” Titah Isabella bernada penuh penekanan.
Mona menelan air ludahnya tatkala melihat respon majikannya yang terlihat marah. Cara ia menatapnya sangat menakutkan tak ubahnya sorot mata Helena yang dingin. “Baik, Nyonya,” jawab Mona dengan suara gemetar.
Tak butuh waktu lama untuk Mona mencari buah bit seperti yang diinginkan oleh Isabella meski ia harus mencari ke kebun yang terletak lumayan jauh dari paviliun.
Akhirnya dengan kecerdikannya, Isabella bisa membuat ramuan yang menyerupai darah dengan menggunakan buah bit dan campuran bahan lainnya. Tak lupa ia menambahkan anggur putih untuk menciptakan warna merah yang tidak terlalu pekat. Untuk sementara ia akan selamat ketika seorang tabib istana datang memeriksa kesehatan dan masa tidak sucinya.
Isabella sudah tidak sabar menanti kedatangan Alex dan tabib dari ordo suci itu katanya.
Namun, satu, dua, hingga tiga jam berlalu tidak ada tanda-tanda kedatangan Alex harrington.
Waktu terus bergulir. Tak terasa malam sudah beranjak.
“Nyonya, makan malam sudah disiapkan,” Mona menghampiri Isabella. “Apa mau makan di kamar?”
Isabella memilih duduk di kamar sembari membaca kitab kuno yang berada di perpustakaan mini di sana. Ia sedang mempelajari sejarah tentang kerajaan Ashmond. Mungkin itu salah satu cara ia bertahan hidup di sana. Ia harus mendapatkan informasi tentang apapun; kehidupan istana, silsilah kerajaan hingga aliansi politik.
Ketika melihat Mona datang, Isabella langsung menutup kitab itu dengan cepat. “Tidak usah. Aku akan makan di ruang makan,”
Mona mengangguk. Namun matanya tak luput dari sosok Isabella. Ia berusaha mengamati apapun yang Isabella lakukan. Itu adalah perintah dari Helena.
Bagaimanapun, Mona adalah salah satu pelayan yang diutus Helena untuk mengawasi gerak-gerik Isabella selama tinggal di paviliun Honeysuckle selain bertugas melayaninya.
“Apa yang kaulihat?” tanya Isabella ketika memergoki Mona tengah mengamatinya.
“Um, tidak, Nyonya.” Elaknya dengan sedikit gugup. Ia buru-buru menundukan wajahnya.
Tak lama kemudian, Isabella pergi ke ruang makan dan berniat menikmati hidangan makan malam sendirian.
Hari ini, tidak ada yang istimewa dalam hidangan makan malam sebagai seorang istri ke dua pangeran Ashmond yang terkenal. Berbeda dengan kemarin. Aneh.
Malam ini menunya sama seperti menu yang disantap oleh pelayan di istana Ashmond. Pemandangan itu sungguh kontras dengan pemandangan paviliun Honeysuckle yang indah dan mewah.
Ternyata Isabella Laurent diperlakukan tak ubahnya pelayan wanita di istana. Setiap hari ia hanya dimasakan menu sederhana seperti roti keras, keju keras dan sup kental yang hanya ditaburi potongan daging yang kecil.
Padahal biasanya para bangsawan mendapat menu hidangan yang mewah, seperti daging rusa, unggas atau potongan daging merah yang besar lengkap dengan roti atau keju dengan kualitas premium.
Isabella memainkan sendok sup itu dengan gerakan malas. Ia baru sadar. Hari itu hanya ada dua pelayan yang berada di sana, tidak seperti sebelumnya. Mona yang mengurus kebutuhan dirinya dan satu lagi Jehanne—koki di sana.
“Jehan!” teriak Isabella memanggil sang koki.
Jehanne mengernyitkan keningnya tatkala mendengar suara panggilan Isabella. Ini tidak seperti rumor yang ia dengar dari istana Rose. Istri pangeran ke dua Ashmond adalah wanita polos dan mudah ditindas. Namun yang ia hadapi saat ini, wanita yang berbeda.
Gegas, ia menyingkirkan adonan roti yang sedang ia buat di atas meja dapur. Dia langsung menghampiri Isabella dengan langkah tergopoh-gopoh. “Ada yang perlu saya bantu, Nyonya?” tangannya yang penuh dengan tepung langsung dilap pada apron putih tulang yang dikenakannya.
Isabella menudingkan sendok perak ke arah wajahnya. “Aku ingin makan seperti apa yang Putri Helena makan. Paham?”
Deg,
Wajah Jehanne langsung memberengut kesal. Wajahnya memerah antara marah dan tak percaya dengan apa yang ia dengar. “Maaf, Nyonya, saya hanya menyiapkan menu sesuai dengan bahan yang dikirim dari istana Rose. Perintahnya jelas.”
Istana Rose? Argh, ia lupa, itu adalah istana di mana Helena tinggal. Semua urusan rumah tangga istana diatur olehnya.
Isabella menarik sudut bibirnya, membentuk seringai tipis yang terlihat gila tapi elegan di saat yang sama. Dulu, Isabella Laurent hanya makan apa yang tersaji di depannya. Tidak pernah protes sama sekali!
Sementara itu di belakangnya, Helena menertawakannya. Ia menganggap Isabella tak ubahnya pelayan istana. Atau … lebih parah seorang budak.
Isabella mengangguk pelan. “Baik. Aku tidak mau tahu siapa yang memberi perintah. Mulai besok, jika yang menu yang tersaji di mejaku adalah roti keras dan sup sisa, maka aku akan pastikan Pangeran Alex Harrington tahu bahwa koki paviliun Honeysuckle mencoba meracuni calon ibu dari pewarisnya dengan makanan yang tidak layak dan busuk!”
Isabella menegakan tubuhnya. Ia berjalan mendekati Jehanne, memangkas jarak di antara mereka. Seketika wajah Jehanne memucat pasi. Ia tidak punya kesempatan untuk mundur. Tubuhnya terbentur lemari di belakangnya.
Isabella menatapnya dengan tatapan intimidatif lalu berbisik ke telinganya dengan suara rendah tetapi penuh ancaman. “Pilihannya dua. Kau akan mencuri bahan mewah dari dapur utama untukku atau …”
Isabella menjeda kalimatnya.
“---Atau kau akan aku jadikan tersangka utama atas sabotase kesehatan Duchess, istri kedua Pangeran Alex. Bayangkan apa yang akan Pangeran Alex lakukan saat tahu koki paviliun sengaja memberikan makanan sampah untuk melemahkan rahim istrinya?”
Wajah Jehanne menegang hebat. Tenggorokannya tercekat udara. Ini benar-benar di luar dugaannya. Isabella Laurent bukan wanita polos. Ia benar-benar seperti iblis yang mengancam nyawa.
Ruang sidang utama Istana Ashmond terasa hening. Bahkan siapa pun akan mendengar deru napas sendiri. Atau .. mungkin beberapa menahan napas. Para bangsawan memadati sisi kanan dan kiri aula. Para kesatria Silver Eagle berdiri tegak berjajar di sepanjang dinding, sementara bendera megah bertakik lambang Kerajaan Ashmond tergantung anggun di belakang singgasana Raja Dominic.Di atas takhta, Dominic duduk dengan raut wajah mengeras. Di sampingnya, Ratu Cecilia menatap lurus ke arah pintu masuk dengan sorot mata yang diselimuti murka.Alex berdiri beberapa langkah di depan singgasana. Sementara di sisi kanan sang pangeran, Isabella duduk di kursi khusus, tubuhnya masih tampak rapuh dalam masa pemulihan usai melahirkan.Brak!Pintu aula terdorong lebar. Dua belas kesatria mengapit seorang wanita yang melangkah pelan di antara mereka.Helena Moreau masuk, berjalan tertatih. Wajahnya pucat pasi. Luka di balik gaunnya, tubuhnya masih dibalut perban tebal yang sedikit ternoda darah, sementara
Simon mendadak mencabut belati dari balik jubahnya. “Kalau begitu... aku tidak akan hidup sebagai tawanan!”Ia menerjang maju ke arah Maurice dengan mata kalap. Naasnya, ia tidak tahu siapa yang ia hadapi. Maurice adalah komandan pasukan elit milik Alex Harrington.“Jangan!” seru Matteo spontan.Sreeett!Namun semuanya terlambat. Tali busur terlepas, dan sebatang anak panah melesat cepat membelah udara.Mata Simon membelalak. Ia berhenti mendadak, menunduk perlahan menatap dadanya yang kini tertancap anak panah. Belati di tangannya terlepas dan berdenting menghantam lantai batu. Tubuhnya terhuyung beberapa langkah sebelum akhirnya roboh tak berdaya.M
Jantung Alex mendadak berdentam keras. “Bagaimana keadaan Helena?”Kesatria itu menundukkan kepala dalam-dalam. “Lady Helena berhasil melewati masa kritisnya—”Mendengar hal tersebut, perasaan Isabella sedikit lebih lega. Setidaknya, wanita yang telah menyelamatkan putranya masih diberi kesempatan untuk bertahan hidup.Tanpa sadar, ia mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan.Alex menoleh sekilas ke arah istrinya. Dari sorot mata Isabella, ia tahu wanita itu sedang berusaha memahami kenyataan yang terasa begitu bertolak belakang.“Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan,” ucap Alex pelan.Isabella menggeleng lemah. “Aku tida
Isabella tersentak mendengar ucapan Alex. Alex menyebut satu nama yang berhasil membuat bulu romanya berdiri laksana ujung candrasa. Wanita yang baru saja melahirkan itu tampak pucat pasi. Matanya berkedip dua kali. Napasnya mendadak terengah, sesak, seperti ada sesuatu yang mengendap di balik dadanya. Apakah ia tidak salah mendengar kalau seseorang yang menyelamatkan putra mereka adalah wanita yang justru sebelumnya berusaha menghabisi nyawanya?Semesta sedang bermain-main kah?Tanpa sadar, Isabella menggelengkan kepalanya ribut. “Kau pasti salah, Alex,”Alex menyentuh punggung tangan istrinya dengan lembut. “Itu memang kenyataannya. Aku juga tidak percaya dengan apa yang ku lihat.” Nada suaranya rendah tetapi berat. Ingatan beberapa saat yang lalu langsung melintas di benaknya. Helena terkapar dalam kondisi tubuh lemah dan bersimbah darah. Prajurit Damon menusukkan pedang ke arah dadanya. “Itu benar, Nyonya,” sahut Chloe menundukkan kepalanya, ikut berkomentar. “Hamba juga melih
“Helena—” bisik Alex parau.Sesaat, tubuhnya membeku. Wanita yang selama ini ia buru atas kejahatannya terkulai pasrah bersimbah darah di samping keranjang bayinya. Bahkan di saat kesadarannya menipis, jemari Helena masih mencengkeram erat tepi keranjang. Seolah-olah dengan sisa nyawanya, ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh bayi itu. Tidak boleh ada yang melukai bayi itu!Wanita itu diam, tidak merespon apapun. “Yang Mulia Pangeran Alex,”Beberapa ksatria Silver Eagle menyeruak masuk ke kebun belakang paviliun, menyusul sang pangeran. Melihat Alex yang hanya termangu, salah seorang di antara ksatria itu mendekati Helena lalu mengangkat bayi Alex dengan sangat hati-hati, lalu menyerahkannya ke dalam dekapannya.“Yang Mulia, bayi Anda selamat,”Tangisan mungil itu akhirnya pecah.Alex segera mendekap putranya erat-erat dengan perasaan berkecamuk. Perlahan bayi lelaki tampan—yang bahkan belum memiliki nama itu berhenti menangis. Matanya yang masih belum fokus membuat hati Alex
Sarah, yang menggendong bayi Isabella erat-erat, segera berlari sekencang mungkin. Ia menjalankan perintah terakhir Isabella menuju tempat persembunyian yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari. Sebuah lokasi rahasia yang diyakini paling aman untuk melindungi sang bayi. Wanita itu berlari sekuat tenaga bersama seorang perawat yang sudah kelelahan. Beberapa bidikan berasal dari senjata api menyasar mereka. Namun semua peluru itu meleset.“Kita kemana, Sarah?”“Tenang, kita akan sembunyi di sana.”Wanita itu menunjuk sebuah pagar yang tertutupi oleh pepohonan yang merambat. “Sarah, aku tidak kuat.”Perawat itu jatuh lalu tak sadarkan diri. Sektika lutut Sarah gemetar. Tinggal dirinya seorang. Dia harus bisa menyelamatkan bayi ini meski harus membayar dengan nyawanya. Wanita yang sudah pucat pasi itu terus berlari tanpa rasa kenal lelah. Naasnya … Takk!Sarah terjatuh. Sebuah anak panah melesat, bukan lagi senapan. Anak panah itu menusuk tepat di lengan kanannya. Wanita itu tersentak
Isabella menatap Cecilia dengan perasaan bersalah. “Mohon maaf, Yang Mulia, Ratu. gaun yang Anda berikan sangat indah dan mewah. Saya sangat terkesan melihatnya. Saya pikir itu gaun untuk acara pesta khusus.”Helena mendelik tajam ke arah Isabella. Gadis itu ternyata pandai bersilat lidah. Sementara
Esok hari. Kamar Paviliun Honeysuckle. Sebuah peta dari bahan kulit sapi terbentang di atas meja di dalam kamar. Isabella mengamati peta itu dengan seksama. Ia sedang mencari tahu tentang denah istana Ashmond yang sangat luas. “Baiklah, kita akan mulai mencari tahu di mana lokasi lorong rahasia is
Kalimat yang disampaikan oleh Madam Chloe terputus saat sosok pria muncul di ambang pintu masuk. Isabella terkesiap tatkala melihat siapa yang datang. Dia bukan suaminya. Dia adalah seorang pemuda bertubuh tinggi dalam balutan ksatria. Dia mengenakan pakaian zirah perak yang berkilau di bawah cahay
Cahaya matahari sudah mengintip di balik tirai, membuat Isabella membuka matanya perlahan dari tidurnya. Ia merentangkan ke dua tangannya dengan gaya bebas lalu menguap. Badannya terasa seperti habis diinjak kuda, pegal sekali. Ketika matanya benar-benar terbuka, ia tersentak saat melihat sesosok w






