แชร์

Bab 6

ผู้เขียน: Piemar
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-09 14:46:20

“Apa? Dia meminta menu yang sama seperti menu yang aku makan?” Helena mendengus kesal setelah mendapat laporan dari Jehanne. 

Koki itu pergi melapor pada Helena di istana Rose saat malam ketika Isabella sudah tertidur. Ia merasa takut karena ancaman Isabella yang terlihat serius dan tidak main-main. Dan, ia tidak mau mengambil resiko mencuri bahan makanan yang berada di dapur utama. Oleh karena itu, ia memilih jujur pada Helena. 

Wajah Helena menegang. Otot-otot rahangnya terlihat jelas. Gigi geliginya gemeretak pertanda dia menahan kemarahan yang luar biasa pada Isabella. 

Ia membelakangi Jehanne, menatap jendela dengan tatapan yang membunuh. Ia menatap pantulan wajahnya yang tampak dingin dengan perasaan yang berkecamuk. Tidak terpikirkan olehnya sosok istri ke dua pangeran Alex ternyata tak ubahnya para wanita pada umumnya—para mistress raja atau kaum bangsawan di istana. 

Ya, kerajaan Barat memang tidak mengenal selir. Mereka biasanya menganut monogami, hanya menikahi satu istri kecuali jika istri pertama mandul, hal itu kasuistis. Namun sudah menjadi rahasia umum, para raja dan pangeran memiliki wanita simpanan atau mistress yang ditempatkan di paviliun belakang jauh dari istana utama. 

Namun, Alex Harrington adalah anomali. Ia sama sekali tidak berminat memiliki simpanan. Tentu saja ini tidak ada kaitannya dengan menjaga prinsip moral yang kaku. Alasan sederhana ia tidak memiliki simpanan adalah ia malas direpotkan oleh urusan wanita.

Helena menatap Jehanne dengan mimik muka yang kembali normal. “Ikuti saja keinginannya.”

Jehanne mengangkat mata lalu meresponnya dengan perasaan bersalah. “Yang Mulia, apa Anda ingin memberi pelajaran langsung padanya? Dia bahkan seminggu berada di lingkungan istana tetapi sudah menuntut banyak.”

Helena tersenyum samar, langsung menyela. “Padahal … aku sedang mendidiknya. Tapi … sudahlah, sekarang kita tahu sifat asli Duchess Isabella yang sebenarnya.”

Jehanne mengangguk. 

“Pergilah! Sajikan apa yang diminta olehnya.” Helena mendekat. Diselipkannya sebuah botol kecil ke balik telapak tangan Jehanne. 

Jehanne tersenyum puas. Lalu ia beranjak pergi dari sana dengan wajah yang sumringah. 

Ketika pintu tertutup, Helena mengenyahkan bokongnya di atas kursi empuk. Ia menyilangkan kaki, menatap tajam ke depan. “Kau mau bermain-main denganku, Isabella Laurent? Kau ingin diperlakukan yang sama denganku? Dimulai dari … makanan … lalu mungkin pakaian … dan selanjutnya kau ingin merebut Alex dariku!”

Tatapannya mengeras. “Jangan harap! Itu hanya mimpi.”

Ke dua tangannya mengepal di atas pangkuannya. 

Keesokan paginya, Isabella sudah bangun lebih awal seperti sebuah kebiasaan dirinya sejak masih kuliah. Di kehidupan sebelumnya, Isabella adalah mahasiswa Kriminologi minat Psikologi tingkat tiga. 

Dia sudah terbiasa menjalani rutinitasnya bangun pagi, berolahraga ringan lalu menyiapkan sarapan di apartemen tipe studio yang ditempatinya—sebuah unit apartemen pemberian dari salah satu detektif swasta terkenal di kota London. Ia pernah beberapa kali membantunya dalam mengungkapkan kasus pembunuhan.

Ketertarikannya pada dunia detektif muncul sejak ia masih kecil. Dia suka membaca novel karangan Agatha Christie, Sir Arthur Conan Doyle hingga penulis Jepang Akiyoshi Rikako. 

Apalagi setelah ayahnya yang meninggal karena dibunuh oleh perampok. Instingnya sebagai seorang detektif semakin membuncah. Ia bertekad ingin mencari pembunuh ayahnya meski nihil karena ia selalu menemukan titik buntu. 

Suara ketukan pintu di ruang makan terdengar pelan, mengenyahkan semua ingatan masa lampaunya. Mona berbicara di balik pintu. “Nyonya, sarapan sudah siap,”

“Aku akan segera datang.” Jawab Isabella berjalan menuju pintu lalu pergi menuju ruang makan. Di sana, hidangan sarapan pagi sudah siap. Mengejutkan, menunya seperti menu yang dihadirkan di istana utama. 

Isabella menarik kursi hingga menimbulkan suara decit yang cukup keras dan terasa agak lamban. Namun ia tidak langsung memakan makanan yang dihidangkan. 

Uap yang membumbung—berasal dari sup kental di dalam mangkuk mencuri atensinya. Entah kenapa, ia merasa ada sesuatu yang salah. Sebagai seorang mahasiswa Kriminologi yang sudah terlatih menangkap hal detail yang mencurigakan di sekitarnya. 

Ia menemukan sedikit lapisan minyak yang tak wajar di sekitar permukaan kaldu. Ini adalah ciri khas racun alkaloid yang belum larut sempurna menurut hematnya. 

Tatapannya langsung menajam, naik lalu tertumbuk pada sosok Jehanne yang masih berdiri kaku di sana. Mata Jehanne tak lepas dari sendok yang digenggam oleh Isabella. 

“Ada lagi yang Anda butuhkan?” tanya Jehanne dengan sedikit cemas. Semoga saja Isabella tidak menyadari jika makanan yang tersaji di sana sudah dibubuhkan racun dengan dosis ringan. 

“Kau memasak ini dengan baik sekali, Jehan,” puji Isabella, suaranya terdengar lembut tetapi tetap saja bagi Jehanne itu seperti suara bisikan setan. 

Isabella menaruh sendok peraknya ke tempat semula. “Ah, ya, aku lupa, kau bekerja keras sejak dini hari,”

Suasana mendadak menegangkan. 

Jehanne berusaha mengatur napasnya yang terasa sesak tiba-tiba. Namun ia berusaha kuat untuk tetap terlihat normal, tidak terintimidasi. “Sudah tugas saya, Nyonya,”

Isabella berdiri lalu dengan gerakan anggun ia mendorong mangkuk porselen ke arah sang koki. “Aku akan merasa sangat bersalah jika makan sendirian semua hidangan di sini. Ini … sepertinya terlalu banyak. Kau bisa ikut mencicipinya bersamaku,”

Jehanne seketika membelalak. “Tidak perlu, Nyonya. Saya k-kenyang. Saya sudah makan.”

Isabella mendesis pelan. “Aku tidak suka penolakan,”

Tak lama kemudian, ia menyendok sup itu lalu menyorongkannya tepat ke arah mulut Jehanne. “Buktikan kalau makanan ini layak untukku! Makanlah! Sekarang!”

Tubuh Jehanne bergetar hebat. Tatapannya tertuju pada sendok yang berada di tangan Isabella. 

Tidak ada pilihan lain. Dengan tangan gemetar hebat, Jehanne membuka mulutnya. Satu suapan pun masuk dengan sempurna. 

Satu detik, dua detik, tiga detik

Isabella sedang menunggu detik demi detik reaksi Jehanne. 

Tak lama kemudian …

Jehanne mencengkram lehernya sendiri. Ia terbatuk beberapa kali hingga tubuhnya melemah kemudian ambruk ke lantai. Ia mulai kejang-kejang.

“Nyonya, apa yang kaulakukan pada Jehan?” Sekonyong-konyong Mona datang menghampiri mereka. Tatapannya tertuju Jehanne lalu pada Isabella,”

“Mona, kau—” suara Isabella tertahan. 

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Red Girl
Aaaaa.. Aku juga suka baca komik Detektif Conan & novel2 Agatha Christie. Karakter utama novel ini sesuai yg kusuka. Cewek tegas, cerdas, & ga mudah ditindas. Aku lanjut baca ya.. Semoga sesuai ekspektasiku. . Semangat, kak Author..
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Author's note

    Hai, Author Piemar menyapa!Akhirnya, kita sudah berada di penghujung cerita. Saya sangat bersyukur karena bisa menyelesaikan novel ini dengan tuntas meskipun agak terlambat karena beberapa halangan/hambatan di dunia nyata. Saya ingin mengucapkan terima kasih dari lubuk hati yang terdalam kepada para pembaca setia novel ini. Terima kasih juga untuk kalian yang sudah memberikan support luar biasa bagi novel saya baik itu dalam bentuk komen, gem/hadiah. Support kalian sangat berarti untuk saya sebagai author. Semoga Allah membalas kebaikan kalian. Amin. Pun, saya ingin mengucapkan permintaan maaf, apabila novel saya tidak bisa memuaskan semua pembaca. Ada banyak kekurangan di dalamnya. Semoga ke depannya saya bisa menghasilkan novel yang lebih baik lagi. Jika berkenan, kalian bisa membaca novel terbaru saya dengan genre yang lebih segar dan lebih ringan. Kebetulan novel tersebut mengikuti salah satu ajang writing sprint yang diadakan oleh GoodNovel (Goodchamp Program).Judul Novel: Pe

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 345

    Melihat raut wajah pria tua di depannya, kepala Isabella mendadak dihantam rasa pening yang luar biasa. Jemarinya yang bergetar refleks merangkul erat lengan Alex untuk mencari pijakan.Bersamaan dengan pusing itu, potongan memori lama meledak di dalam kepalanya. Memori milik Isabella Laurent asli. Pria tua ini adalah Tuan Tabib yang dulu sering ditemuinya di tepi hutan! Pria inilah yang mengajarkannya mengenali berbagai tanaman obat, sosok yang pernah menyapanya dengan ramah di pasar desa. Pria tua ini adalah gurunya!Isabella mengingat seluruh takdir itu. Namun, dengan sekuat tenaga, ia mencoba mengendalikan dirinya dan berusaha tenang.tak berselang lama, Alex memandu Tuan Tabib untuk duduk dan menikmati jamuan istana. Usai membasahi kerongkongannya, pria tua itu meletakkan cangkirnya perlahan. Matanya yang

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 344

    “Wilayah itu sudah menjadi tanah mati sejak tragedi kebakaran besar delapan tahun lalu. Tempat itu kini diisolasi dan tidak berpenghuni.” Peringat perwira seolah sang putri mahkota tidak tahu apa-apa.Isabella mengukir senyum tipis, tetapi matanya memancarkan rasa penasaran yang tak bisa dibendung. “Aku tahu. Aku hanya penasaran. Kita hanya akan melihatnya sebentar sebelum kembali ke istana.”Mei Lin yang berada di dekat Isabella hanya memutar kedua bola matanya jengah. Ia justru setuju mengajak sang putri mahkota untuk datang ke sana sebab untuk memenuhi sekedar rasa penasaran. Ya, meskipun Isabella sadar kasus itu sudah ditutup dan tersangka dalang dari kejadian mengerikan itu juga sudah dieksekusi. Namun, entah kenapa, keinginan untuk melihat bangunan itu terasa sangat mendesak.

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 343

    “Aku mau mengunjungi Ayah,” ujar Isabella meminta izin pada suaminya.“Baiklah. Tapi aku masih harus menyelesaikan beberapa urusan takhta,” sahut Alex lembut. “Pasukan pengawal Silver Eagle yang akan mendampingi perjalananmu.”“Terima kasih, Alex.” Sahut Isabella dengan mengulas senyum manis.Alex memandang istrinya sejenak sebelum menimpali, “Kenapa kau tidak mengajak ayahmu tinggal di istana saja? Dia bisa menempati area paviliun barat agar kau tidak perlu jauh-jauh berkunjung.”Isabella mengukir senyum tipis. “Ayah hanya ingin menghabiskan sisa waktunya di rumah. Belakangan ini dia sedang sibuk mengelola perkebu

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 342

    Kedua orang tua Cecilia telah wafat sejak ia masih belia. Menurut rumor yang beredar di kalangan bangsawan, mereka dihabisi secara kejam oleh Raja Damon yang sekarang—yang tak lain adalah paman pertamanya sendiri. Dalam kepungan tragedi itu, paman keduanya bersama sang istri lantas merawat Cecilia remaja dengan penuh kasih, sebelum akhirnya peperangan besar meletus dan memisahkan mereka.“Paman Julian... masih hidup?” suara Cecilia terdengar bergetar, memecah keheningan ruangan.Madam Chloe mendongak perlahan, menatap Ratu Cecilia dengan binar terkejut. “Yang Mulia sudah mengingat semuanya?”Cecilia menarik napas panjang, mencoba menguasai gemuruh emosi di dadanya. “Aku sudah mengingat seluruhnya, Chloe. Bagaimana dengan pamanku? Di mana dia berada sekarang?”“Pangeran Julian hidup dalam pengasingan di Kerajaan Xuyang, Yang Mulia,” jawab Madam Chloe pelan, menyatukan kedua tangannya yang gemetar. “Seluruh anggota keluarganya diusir secara paksa oleh paman pertama Anda usai pertempuran

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 341

    Beberapa hari kemudian setelah hukuman Helena dijatuhkan. Cecilia menerima laporan dari mata-matanya yang menunjukan bahwa ada pengkhianat istana yang berkeliaran di sekitar ratu. Satu nama muncul dalam laporan rahasia tersebut dan berhasil membuatnya syok. Pada awalnya, ia tidak terima dengan laporan tersebut. Namun, ketika melihat ada sebuah surat bersegel dengan simbol tertentu, ia langsung memanggil nama itu. Dia adalah Madam Chloe. Tanpa membuang tempo, ke dua pengawal setia sang ratu langsung menyeret wanita itu lalu membawanya ke hadapannya. “Ampun, Yang Mulia–”Madam Chloe berlutut di hadapan Ratu Ashmond. Tubuhnya gemetar hebat dan jantungnya berdegup kencang. Cecilia melayangkan tatapan dingin kepadanya. “Jika kau tidak mengaku siapa yang mengirimmu, aku akan melaporkanmu kepada Pengadilan Ashmond. Aku akan mengatakan bahwa kaulah dalang yang membantu melarikan Mona keluar dari Wilayah Ashmond. Dan bukan hanya itu, kau juga telah berulang kali bersekongkol dengan mata-ma

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 9

    Jamuan pagi telah usai. Isabella keluar dari balairung istana Ashmond ditemani pelayan wanita muda bernama Mona. Gadis itu bertugas melayaninya selama tinggal di paviliun Honeysuckel. “Nyonya, maafkan hamba tidak tahu kalau Anda sedang sakit. Jika tahu, hamba akan membuatkan minuman herbal untuk A

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 7

    “Apa yang kau katakan tadi?” tanya Alex singkat. Tatapannya tertumbuk ke arah pengawalnya. Pengawal itu menelan salivanya sebelum menjawab. Ia mengangkat mata lalu berusaha menjawab. “Duchess Isabella tampak bahagia ketika mendengar Yang Mulia tidak akan datang malam ini.”Seketika udara terasa me

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 20

    Bab 24“Pangeran apa yang kaubicarakan selarut ini?” tanya Isabella spontan dengan tatapan menuduh.Alex mendengus kasar, menyadari kesalahpahaman ini. “Bukankah kau terluka karena air panas?”Isabella terdiam sesaat. Ia meringis, menutupi kegugupannya. Kenapa juga Alex hanya menyebutkan bagian paha

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 17

    Suara erangan Isabella berhasil membuat semua orang yang berada di gazebo panik. Betapa tidak, cangkir yang digenggam Isabella retak dan air panas yang berada di dalamnya tumpah ruah mengenai kulit tangan dan paha isabella. Siapapun akan merasa kesakitan akibat luka panas. Mereka sontak berdiri kar

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status