LOGIN“Helena—” bisik Alex parau.Sesaat, tubuhnya membeku. Wanita yang selama ini ia buru atas kejahatannya terkulai pasrah bersimbah darah di samping keranjang bayinya. Bahkan di saat kesadarannya menipis, jemari Helena masih mencengkeram erat tepi keranjang. Seolah-olah dengan sisa nyawanya, ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh bayi itu. Tidak boleh ada yang melukai bayi itu!Wanita itu diam, tidak merespon apapun. “Yang Mulia Pangeran Alex,”Beberapa ksatria Silver Eagle menyeruak masuk ke kebun belakang paviliun, menyusul sang pangeran. Melihat Alex yang hanya termangu, salah seorang di antara ksatria itu mendekati Helena lalu mengangkat bayi Alex dengan sangat hati-hati, lalu menyerahkannya ke dalam dekapannya.“Yang Mulia, bayi Anda selamat,”Tangisan mungil itu akhirnya pecah.Alex segera mendekap putranya erat-erat dengan perasaan berkecamuk. Perlahan bayi lelaki tampan—yang bahkan belum memiliki nama itu berhenti menangis. Matanya yang masih belum fokus membuat hati Alex
Sarah, yang menggendong bayi Isabella erat-erat, segera berlari sekencang mungkin. Ia menjalankan perintah terakhir Isabella menuju tempat persembunyian yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari. Sebuah lokasi rahasia yang diyakini paling aman untuk melindungi sang bayi. Wanita itu berlari sekuat tenaga bersama seorang perawat yang sudah kelelahan. Beberapa bidikan berasal dari senjata api menyasar mereka. Namun semua peluru itu meleset.“Kita kemana, Sarah?”“Tenang, kita akan sembunyi di sana.”Wanita itu menunjuk sebuah pagar yang tertutupi oleh pepohonan yang merambat. “Sarah, aku tidak kuat.”Perawat itu jatuh lalu tak sadarkan diri. Sektika lutut Sarah gemetar. Tinggal dirinya seorang. Dia harus bisa menyelamatkan bayi ini meski harus membayar dengan nyawanya. Wanita yang sudah pucat pasi itu terus berlari tanpa rasa kenal lelah. Naasnya … Takk!Sarah terjatuh. Sebuah anak panah melesat, bukan lagi senapan. Anak panah itu menusuk tepat di lengan kanannya. Wanita itu tersentak
“Nyonya, kita harus pergi sekarang!” Mei Lin bersiap-siap merangkul lengan Isabella yang masih lemah. “Ada apa?” Isabella mengerjap beberapa kali. Bahkan ia tidak sanggup untuk berdiri. Kepalanya terasa berat sebab pendarahan hebat. Mei Lin terdiam, meneguk salivanya beberapa kali. Sarah mendekati Mei Lin. “Ada apa Mei? Kau jangan membuat Nyonya panik.”“Kau tidak dengar? Pasukan Damon menyerang membabi buta. Mereka mengirim pasukan bayaran dengan kemampuan yang sangat kuat. Kemungkinan Ashmond tidak bisa memukul mundur mereka. Pasukan Ashmond tidak siap. Sebelum terjadi sesuatu yang mengerikan. Kita harus segera membawa Nyonya Isabella dan bayinya keluar lewat jalur evakuasi.”“Tapi kata Sir Noah, kita harus menunggu di sini.” Sarah tampak panik. “Tidak bisa. Noah dan pasukannya kewalahan. Pangeran Alex bahkan kini terjebak di istana utama.” Bisik Mei Lin, baru pertama kalinya suaranya bergetar. Sarah mengangguk pasrah. Ke dua tangannya mencengkram rok gaunnya. Matanya tertuju p
Malam itu, Helena, ditemani dua orang kepercayaan Klan Moreau, menyusup ke wilayah Istana Ashmond melalui jalur rahasia, gua yang merupakan tempat jalur evakuasi yang sudah tidak digunakan lama tanpa sepengetahuan Felix. Di kehidupan sebelumnya, gua itu menjadi tempat pertemuan rahasianya dengan para kaki tangan yang menjalankan berbagai perintah gelap. Di sanalah transaksi racun yang ditujukan untuk membunuh Isabella Laurent pernah dilakukan.Namun, takdir kini berjalan berbeda.Rencana meracuni Isabella telah gagal.Jika dahulu ia mengincar nyawa sang duchess, rivalnya, maka kali ini targetnya telah berubah.Dengan sorot mata yang dipenuhi kebencian, Helena menatap lorong gua yang gelap.Malam ini, ia datang bukan untuk merenggut nyawa Isabella. Ia akan merampas hal yang jauh lebih berharga. Bayi yang tengah dikandung Isabella Laurent. Oh, bayi yang baru saja dilahirkan dengan penuh perjuangan. “Nona, bagaimana siap?” bisik salah satu prajurit terlatih. “Lakukan sekarang!” titahn
Suara tangisan bayi yang baru saja terlahir seharusnya bisa membuat Alex merasa senang. Naasnya, bertepatan bayi itu lahir, Isabella tak sadarkan diri. Alex dilanda panik. Ia memekik, berusaha membangunkan istrinya. “Isabella bangun! Bangun, Sayang!” teriaknya dengan air mata yang sudah berderai membasahi pipinya yang sedikit berjambang. Ia menoleh tajam ke arah tabib dengan tatapan yang memicing tajam. “Lakukan sesuatu, Tabib!”Suara baritonnya yang menggelegar membuat semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut terkesiap. Perawat langsung membawa bayi itu dari sana untuk membersihkan bayi yang masih berlumur darah itu. Sarah mengekori wanita itu, mengawasinya dengan siap siaga. Begitupula dengan Mei Lin terus berada di sana mendampingi Isabella dengan perasaan sesak. Dengan tangan yang gemetar sang tabib segera memeriksa denyut nadi Isabella yang lemah. Seketika ia menghela napas panjang. Isabella masih bernapas meskipun lemah. “Yang Mulia, Nyonya kehilangan banyak darah.
“Yang Mulia, ada apa?” bisik dayang sang ratu tatkala melihat Cecilia diam termangu, menatap lama Sophia.Cecilia meneguk salivanya sebelum menjawab. “Aku harus memastikan sesuatu,” balasnya. Tatapannya kembali tertuju pada Sophia yang masih tampak lesu. Di samping ranjang, ibunya, Maria menyuapinya bubur. “Maaf, Yang Mulia. Ini sudah waktunya Sophia makan dan minum obat.” Ujar Maria meminta ijin. Sebuah kehormatan kedatangan sang ratu yang sudi menjenguk putrinya. Bahkan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. “Silakan, lanjutkan saja!” ucap Cecilia sembari meneguk minumannya kembali.Namun, tatapannya masih tertuju pada Sophia, mengamati gerak geriknya secara cermat. Barulah setelah gadis itu minum obat, Cecilia memberanikan diri berbicara. “Sophia. Bolehkah saya melihat bahumu? Saya hanya ingin memastikan luka. Jika tak kunjung sembuh. Istana akan mengirimkan tabib terbaik lagi untuk mengobatimu.”Sophia menatap Cecilia dengan sungkan. “Oh, boleh.”Gadis itu kemudian menyingkap a
Isabella tersentak mendengar teriakan Alex. “Apa kau mau cari mati?” bentak Alex. rahang kokohnya menegang. Ia setengah berlari mendekati Isabella lalu menarik lengannya kasar, menjauh dari kuda perang bernama Apollo. “Lepaskan Alex!” Isabella berusaha memutar pergelangan tangan pria itu. Tenagany
Isabella tersentak tatkala mendapat ciuman secara tiba-tiba dari suaminya. Alex menciumnya dengan kasar, menuntut dan penuh dominasi. Namun alih-alih larut dalam ciumannya, Isabella yang merasa harga dirinya direndahkan langsung mendorong tubuh pria itu lalu mengangkat tangannya. Dan … sebuah tampa
Bab 34“Tidak mungkin! Emma jelas dibunuh. Alex, kau benar-benar menutup matamu akan kebenaran,” suara Isabella terdengar jelas di telinga Noah. Noah termangu mendengar monolog Isabella. Ia menoleh perlahan, mendapati rahang Isabella yang mengeras dan mata yang berkilat penuh amarah. Namun segera i
“Apa yang kaulakukan?” tanya Noah bernada penuh curiga. Isabella tersentak mendengar suara yang familiar. Namun segera ia mencoba menormalkan perasaannya. Beruntung ia sempat mengolesi sari arang yang dicampur minyak kacang ke wajahnya hingga menciptakan noda kusam dan bintik-bintik yang menyamark







